3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
kembali menjadi kisah romantis


__ADS_3

Diruang yang sepi dengan cahaya minim, perlahan tangan asya bergerak, ia siuman dari pingsannya. Namun pandangannya gelap, ia tak melihat apapun, menggerakkan tangannya juga kakinya, malah terikat dengan tali dan juga mulutnya yang diberikan perekat, ia kebingungan entah siapa yang melakukannya, ingin menangis tetapi itu tidak akan bisa.


Arka, yang duduk di sudut menanti asya tersadar langsung tersenyum, mendengar sayup-sayup suara asya yang meronta-ronta meminta dilepaskan. Ia mengira mungkin hari ini adalah hari terakhir mengintai asya kemana saja dan dengan siapa saja. Jika dengan tugas skripsinya, ia sudah menyelesaikannya secara tuntas tanpa galau dan gelisah tentang asya, menurutnya mengikuti langkah asya diam-diam saja sudah cukup untuk mengetahui apa saja yang dilakukan asya.


Namun yang belum hilang sampai sekarang adalah rasa amarahnya ketika melihat asya bersama lelaki yang bernama Fakhri, ingin rasanya arka menghabisi lelaki itu tetapi selalu saja dibela dengan asya. Fikirnya seberapa berharganya lelaki itu sampai asya membelanya, dan berapa banyak jasa lelaki itu sampai asya mempertahankan lelaki itu menjadi sahabatnya.


Mendengar ucapan asya kemarin memohon tetap bersama Fakhri menurutnya sangat jijik, itu sangat jijik.


Menurutnya juga jika sudah merusak masa depan asya kemungkinan asya akan bertambah dekat dengannya dan selalu membutuhkannya. Tetapi tidak, asya selalu menciptakan amarah arka.


Asya merasakan perlahan penutup matanya dibuka, tetapi mulutnya masih tertahan, penasaran siapa yang membuka kain ini.


Dan penutup mulutnya juga dibuka, tetapi dari belakang, asya merasakan sentuhan tangan kekar itu, menebak siapa yang membukanya dan apa maksudnya. Jika orang itu membunuhnya dia bersedia, tidak ada lagi yang peduli di hidupnya.


Arka ingin melihat wajah asya yang ditahannya sekali lagi, melihat rambut yang ingin dibelainya sekali lagi, saat pingsan arka juga mencium rambut asya yang sangat lembut dan khas wanginya yang ia rindukan, ia ingin meminta maaf tetapi belum bisa melawan rasa amarahnya.


Dirinya bertanya dalam hati, apakah ini saatnya ia bisa bersama asya tanpa Fakhri, ditambah lagi saat Fakhri pergi menurutnya ini waktu yang sangat tepat, teringat saat bertemu dengan Fakhri yang ingin menghindar dari asya tapi tidak pernah, ia hampir tak mempercayai kata-kata Fakhri dan tetap mengintai Fakhri, sampai akhirnya mendengar jika Fakhri menunda wisudanya.


Arka melangkah ke depan asya, menatap asya yang merunduk dengan matanya terpejam, menurutnya asya tidak berubah dan tetap seperti dulu.


Asya juga melihat sepatu lelaki itu, lalu terus ke badan dan matanya, ia menatap lekat dan intens menurutnya  dirinya sangat kenal dengan lelaki itu.


"A  arka? Arka? Ka kau it—"


Arka menyuruhnya diam dengan telunjuknya di bibi asya, menatap lekat mata asya.


"Kukira kau meninggal, jadi aku bisa mengambil organmu dan menjualnya,"


"Terserahmu saja,"ucap asya pasrah.

__ADS_1


Arka duduk lalu memegang dagu asya, menatap lekat asya lagi"Lupakan Fakhri!!"ketusnya dingin.


"Jika aku melupakannya apa yang kau lakukan? Apakah kau akan bersumpah tetap berada di sisiku?"tanya arka.


Arka berdiri, menatap asya dengan kesal"Kenapa kau tidak bisa mempunyai teman perempuan?! Selalu saja lelaki itu yang di dekatmu! Sudah kukatakan padamu jika kau harus menjauhi lelaki itu! Tapi kenapa? Kau selalu saja tak memikirkan perasaanku dan tetap kekeuh dengan pendirianmu! Aku ini siapa di hidupmu?!"


Asya menangis, mungkin ia menyesali dosa-dosanya kepada arka. Namun sebelum itu ia teringat ucapannya saat memohon kepada arka pindah di kelasnya.


"Kau ... Kau juga tak ingin mengalah denganku, apakah aku masih salah, apakah aku salah, kenapa kau tidak mengalah?"tanya asya menunduk, ia terus menangis seharusnya ini rindunya yang harus ia lepaskan hari ini bersama arka namun tidak, hari ini adalah drama yang buruk menurutnya.


"Kau masih mencintaiku?"tanya arka.


Asya belum menjawab, ia masih terdiam.


Arka membuka tali yang mengikat tangan asya juga kakinya, mungkin memang benar dimulai hari ini dirinya tak akan meninggalkan asya lagi, dia berjanji kepada dirinya akan terus berada di sisi asya.


"Kau janji tidak akan meninggalkanku? Kau janji tak akan pergi tanpa pamit?"tanya asya menatap arka serius.


Arka mengusap air mata asya, kemudian memeluknya"Maaf jika aku terlalu egois, hatiku tertutup dengan egoisku, aku juga sulit mengendalikan emosiku, makanya aku menjauh, aku takut akan terjadi hal yang lebih menyakitkan kepada dirimu."ucap arka lembut mengusap belakang asya dengan tulus, ia benar-benar sangat rindu bersama seorang gadis pujaannya itu.


"Bagaimana dengan bayi yang aku lahiran semalam? Kau tak ingin melihatnya? Kau tak ingin—"


"Suuutttt, biarlah anak itu bersama lelaki bajingan itu, yang penting kita harus bahagia! Jangan fikirkan anak itu, fikirkan kita! Aku melakukan itu untuk peringatan bagimu tetapi kau tak peduli."imbuh arka memotong ucapan asya.


Asya ragu dengan ucapan arka. Tetapi dia juga sangat ingin seperti ini lagi, ia juga tau kesalahannya dengan Fakhri, mungkin hari ini adalah hari spesial buatnya kepada arka. Dirinya tertawa memandang wajah arka mengingat firasatnya seperti ada yang mengintainya, selama arka jauh dengannya terasa sangat kehilangan, bingung mencari dimana arka berada tetapi ia merasakan arka mengintainya, ada disekitarnya tetapi menurut asya itu firasatnya saja.


"Kau mau menikah denganku?"tanya arka.


Mata asya membulat sempurna, is terkejut mendengar ucapan arka"Kalau ngomong itu disaring, jangan asal bicara saja."

__ADS_1


"Urusanku di kampus ini sudah selesai, dan aku juga tinggal sidang lalu wisuda."


"Kau sudah memahami isi dari skripsi mu?"


"Tenang, isi dari skripsi itu adalah dokumentasi selama KKN, aku sudah mendapatkan ide itu sejak lama,"


"Judul skripsimu dari dosen atau dari dirimu sendiri?"


"Dari diriku sendiri, dosen pembimbing skripsiku setuju dengan judulku, jadi selagi aku mengerjakan skripsi aku juga bisa menjadi tau apa isi dari skripsi itu dari halaman awal sampai akhir."


"Tetapi aku takut tidak hafal dari isi skripsiku."ucap asya ragu.


"Kau masih saja seperti dulu, selalu ketakutan. Hey sayang percayalah kau pasti bisa."arka kembali memegang erat tangan asya, mencium kembali dengan lembut tangannya.


Asya tersenyum"Baiklah, aku ... Aku mau menikah denganmu."jawab asya tersipu malu, ia merasa arka berubah demi dirinya, dirinya meyakini itu.


"Kamu inget gak saat awak kita bertemu dulu? Ga nyangka ya kita bisa pacaran, saling percaya padahal kita beda jurusan."ucap arka yang masih menatap asya.


"Inget banget, kamu culun banget pas itu, emosian, tapi pas kamu ngambek wajah kamu tambah imut, tambah gemes."sahut asya kemudian tertawa.


"Iya, dari situ makanya kamu suka banget becandain aku, tapi akunya kebawa perasaan."


"Keluar yuk, aku lapar."lirih asya merunduk, memegang perutnya.


"Ya udah yuk keluar,"arka bangkit lalu tangannya meraih tangan asya, mengajak asya keluar.


"Walaupun beda jurusan jangan sampai kita berpisah."ucap asya menggenggam erat tangan arka.


Arka juga tak mau kehilangan asya, tetapi karena emosinya yang meledak-ledak juga Fakhri yang selalu dekat dengan asya membuat arka menjauhi asya. Tetapi ia tetap mengintai asya kemanapun asya pergi.

__ADS_1


__ADS_2