3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Hak untuk rasa tanggung jawab


__ADS_3

Saat pulang sekolah, para anak paud dijemput dengan orangtuanya, dan ada yang hanya dijemput dengan pak sopir saja.


Tetapi ketika sudah sunyi, seorang siswa paud memberanikan ke pagar memastikan orangtuanya sudah menjemput atau tidak, tetapi satpam disana melarangnya keluar.


"Hey nak, kau kan yang sering dijemput paling lama, sopir mu belum menjemput, jadi tunggu didalam saja, oke?!!"tutur satpam itu melihat fidi lalu mendekatinya.


"Iya, biasanya pak sopir cepat menjemput, tumben saja terlambat."keluh fidi melihat pasar.


Satpam itu tertawa kecil"Iya, baiklah tetapi kau harus menunggu didalam jika diluar kau akan diculik orang lain, sabar ya."


Fidi bertanya-tanya mengapa pak sopir lama sekali menjemputnya membuat ia bosan menunggu.


Sebuah mobil berwarna merah masuk ke halaman sekolah, lalu keluar seorang lelaki memakai jas dengan kacamata hitamnya.


Fidi menoleh ke lelaki itu, ia mengamati dengan serius merasa mengenalinya"Om dalvino!!"


Dalvino berjalan mendekati fidi yang juga berlari ke arahnya, lalu menggendong fidi.


"Om, mama belum jemput, rasanya sedih sekali,"ucap fidi murung.


"Om dalvino!! Om dalvino ngapain kesini?"tanya feya dengan Fara yang mendekatinya.


Dalvino menoleh ke feya dan Fara lalu tersenyum"Menjumpai kalian, hey kemana mama kalian kenapa lama menjemput?"


"Iya pak sopir entah kemana, lama sekali menjemput kami."ujar fidi cemberut.


"Kalau begitu biar om saja yang mengantar."dalvino menurunkan fidi dan membuka pintu mobil yang dibelakang.


"Om, jalan-jalan dulu yuk!!"pinta feya.


"Oke bisa, ayo masuk!"suruh dalvino.


Fidi masuk duluan dengan disusul feya dan Fara juga, dalvino menutup pintu mobil lalu disusul dengannya masuk ke mobil, membawa mobil ke taman.


"Om, kami sangat keeesal sekali dengan papa kami."celetuk fidi resah.


"Hey suuuuut jangan berbicara seperti itu dengan orang lain!!"sahut Feya yang berada disebelah kanan fidi memelankan suaranya agar tak didengar dalvino.


"Iyaa tapi aku merasa ayah tak pernah menjemput kita."


"Memangnya papa kalian kemana?"tanya dalvino tak menoleh ke mereka.


Fidi, feya juga fara terkejut mendengar suara dalvino.

__ADS_1


"Kaaaan ini gara-gara kak fidi!! Jangan mengeluh didepan orang lain!"ketus feya yang masih memelankan suaranya lagi.


"Aku sangat kesal dengan ayah."keluh fidi melipat tangannya di dada, bersandar di sandaran kursi mobil.


"Kakak sangat egois!!"feya melipat tangannya di dada.


"Sebaiknya jangan berbicara disini!!"sambung feya tak menoleh ke fidi.


"Iyaa dirumah saja."sahut Fara juga yang mulai membuka suara.


"Sudahlah diam saja."sanggah Fara.


"Ayo kita pulang saja nanti ibu mencari kita."ajak fidi membuat kedua adiknya melihatnya dengan tidak suka.


Dalvino tersenyum kecut mendengar ucapan ketiga bocah dibelakangnya.


Tak lama mereka terdiam dalam lamunan masing-masing.


"Ayo turun dulu, kita sudah sampai!"ucap dalvino membuat ketiga bocah itu tersadar dari lamunannya.


"Wah cepat sekali! Perasaanku masih dijalan saja."ucap feya lalu menoleh ke fidi yang mencoba membuka pintu.


"Om ini kok payah banget buka nya?"tanya fidi berusaha membuka pintu mobil.


"Oh ternyata om menguncinya dari dalam, dan baru membukanya."keluh fidi menoleh pintunya lalu keluar.


Setelah mereka keluar, ketiga bocah itu seperti menganggap dalvino ayahnya sendiri, membeli es krim bersama, membeli jajan bersama, dan duduk di rerumputan hijau yang tepat berada dibawa pohon.


"Om, es krimnya enak banget! Jadi males mau pulang!"celetuk feya memuji es krim yang dibelikan dalvino.


Dalvino tersenyum melihat Feya lalu memakan es krim lagi.


"Sebentar lagi pulang ya, nanti mama khawatir kalo kita pulang lama banget."imbuh Fara menoleh ke dalvino.


"Om coba liat jamnya, udah jam berapa?"tanya fidi menoleh ke dalvino.


Dalvino melihat jamnya yang sudah menuju jam 11 siang, melanjutkan memakan es krimnya lagi ditambah lagi dengan ketiga bocah itu yang masih candu memakan es membuatnya ingin memakan lagi.


Dirumah, Dania sudah menunggu di pagar, resah kenapa ketiga anaknya tidak pulang-pulang. Dirinya langsung mencari nomor Fakhri lalu menelponnya.


Fakhri yang berada dikampus langsung tersadar dengan handphonenya yang berdering, kemudian mengangkatnya.


"Halo Dania, ada apa?"

__ADS_1


"Kau harus mencari dimana mereka, feya, fidi dan fara belum juga pulang!! Sudah 2 jam mereka tidak kembali! Seharusnya mereka kembali jam 10 tadi, ini sudah jam 12 belum pulang juga!"


"Kau sudah menelpon pak sopir?"


"Dia selalu bilang kalau dijalan macet! Kurasa aku akan memecatnya nanti saat dia pulang! Aku tak betah rasanya! Dia selalu tak beres!!"


"Sabar ya, memang tadi pagi juga macet. Mungkin juga mereka ada kelas ekstrakurikuler makanya pulang lama."


"Aku sangat ingat dan sangat tau kapan hari mereka ada kelas ekstrakurikuler, kenapa tidak kau saja yang menjemputnya!!"ketus Dania lalu menoleh ke pasar, sebuah mobil berhenti tepat didepan pagarnya.


Tak lama keluar seorang lelaki berjas hitam dipadu celana hitam, lalu membuka pintu mobil dibelakang, setelah dibuka keluar fidi juga yang lainnya.


Dania melihat wajah lelaki itu, mengingat siapa dia, setelah dia ingat Dania membulatkan matanya merasa yang dirinya takutkan telah terjadi.


"Mama!! Fidi pulang!"ucap fidi yang baru keluar mobil disusun yang lain juga. Bocah lelaki itu tersenyum gembira disusul dengan 2 bocah perempuan dari belakang.


Dania membuka pagarnya, bertekuk lutut menyambut anaknya dengan pelukan.


"Ma, kami diantar sama om baiiik banget! Namanya om dalvino!"seru fidi dengan yang lainnya disusul anggukan juga.


"Syukurlah kalian pulang dengan selamat, ya sudah ayo masuk ganti baju!"sambut Dania lalu ketiga bocah itu pergi masuk ke dalam rumah.


Dania bangkit menoleh ke dalvino, rasa hatinya marah lalu menoleh ke sekelilingnya.


"Untuk apa kau menjemput mereka?"tanya Dania menatap tajam manik mata dalvino.


"Aku sudah tau kalau mereka adalah anak kandungku."jawab dalvino menatap Dania juga.


"Mereka adalah anakku dari suamiku."ucap dania tenang, berusaha tak terima dengan ucapan dalvino.


"Apa salahnya kau jujur denganku? Aku masih tak percaya dengan ucapanmu, bahkan ayahmu juga tau jika mereka adalah anakku, tetapi kau terlalu memaksa."sanggah dalvino.


"Aku memang dulu bersungguh-sungguh ingin menggugurkan kandunganku, tetapi suamiku melarangnya hingga mereka bisa lahir."Dania Terkejut merasa ucapannya salah. Namun ia sudah terlanjur mengucapkan itu membuat dalvino semakin percaya.


"Apa salahnya jika kau membiarkan mereka bersamaku? Bukankah mereka anakku juga kan?"tanya dalvino memastikan.


"Jadi kau mencoba mengambil hak asuhmu?"tanya dania dingin menatap tajam manik mata dalvino.


Dalvino tersenyum"Melihat mereka selalu bahagia denganku itu sudah cukup, aku juga lebih mengerti dengan perasaanku, aku sudah mencarimu tetapi kau selalu menghindar. Baiklah aku pergi, jaga dirimu dan keluargamu."ujar dalvino lalu berjalan menuju mobilnya. Mendadak menghentikan langkahnya, ia berfikir ada yang ingin diucapkannya.


"Aku menyayangi mereka, terimakasih."sambung dalvino.


Dania terdiam mendengar ucapan dalvino barusan, ia lelah ingin menjawab.

__ADS_1


Hal yang paling penting di hidupnya adalah kenapa ia tak berisi keras untuk benar-benar menggugurkan kandungannya hingga mereka sudah besar?


__ADS_2