3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
jangan suuzon dulu


__ADS_3

"Jadi gimana? Kamu jadi kerja di toko ayah asya?"tanya Dania yang sedang menyuci piring.


Fakhri mendengar pertanyaan Dania, termenung sejenak bimbang harus datang atau tidak kesana, ia takut itu adalah jebakan ayah asya merasa jika ayah asya akan melakukan sesuatu dengannya ditambah lagi ayah asya lebih suka dirinya daripada arka, membuatnya ingin bekerja ditempat lain saja.


Dania menoleh ke arah Fakhri yang termenung membuatnya tersenyum kecut, dengan iseng ia menepuk pundak Fakhri yang bisa-bisanya saat dia bertanya tidak dijawab.


"Fakhri!"celetuk Dania menepuk pundak Fakhri ditambah lagi dengan tangannya yang basah.


Fakhri langsung tersentak merasakan tangan Dania juga panggilannya, ia langsung menoleh.


"Hei, tanganmu basah!"ujarnya mengerutkan alisnya.


"Hehehe, soalnya kamu ditanya tadi malah bengong, ngomong dong biar aku tahu, yaa aku juga dulu pernah bekerja walaupun sebentar, tetapi harus dirasakan,"


"Karena itu makanya kau bisa terjebak dengan lelaki itu?"tanya Fakhri cepat.


Dania mengangguk, lalu kembali menyuci piring yang sedikit lagi siap"Kata ibuku setelah kejadian itu, bencana tidak ada yang tau, tak menentukan diri kita siap atau tidaknya, yang terpenting kita harus kuat dalam menghadapi masalah itu, dan syukurnya juga kau mengizinkanku merawat mereka ditambah lagi dengan penuh kasih sayang,"Dania sudah selesai menyuci piring, meletakkan piring di lemari piring, lalu duduk di samping Fakhri.


"Ya, aku tidak tega melihat anak-anak itu, lagian tidak ada salahnya kita menjaga selagi kesempatan itu ada, karena mereka tidak berdosa,*


"Bagaimana dengan fakran? Apakah ibunya ada mencarinya?"


"Tidak, aku tak memberikan ibunya untuk menemui fakran,"


Dania mengerutkan keningnya"Kenapa?" Bukannya itu anak kandungnya?"


"Karena, aku takut saat itu ayah asya akan menikahkanku dengan anaknya,"


Dania menganggukkan kepalanya, mengerti dengan ucapan Fakhri.


"Tapi kemarin saat kita datang di acara pernikahannya, dia hanya biasa-biasa saja kan? Aku juga memperhatikan raut wajah mereka saat fakran menyalami mereka, terlihat biasa saja,"


"Ya benar,"ucap Fakhri kemudian ia terdiam lagi.


"Fakhri, jadi bagaimana dengan pekerjaan itu? Kau serius tak ingin bekerja disana?"


Fakhri memijit pelipisnya mengingat tawaran ayah asya"Kurasa lebih baik aku bekerja di perusahaan kak Fadhil saja daripada harus berhadapan dengan ayah asya,"


"Bagaimana jika ayah asya benar-benar melakukan sesuatu ditambah lagi melihat kau tidak bekerja ditempatnya, apakah itu tidak menyinggung perasaannya?"


"Dania, sedikitpun aku tidak ada ingin bekerja disana, saat dia menawarkan didepanku, aku sudah meminta izin jika aku tak berjanji menerima tawaran ayah asya,"rengek Fakhri tak menoleh ke Dania, ia masih memijat pelipisnya.

__ADS_1


Dania tersenyum kecil"Baiklah, tetapi ... Jika ditempat kak Fadhil tidak ada lowongan pekerjaan, kau mau melamar dimana lagi?"


Fakhri menghela nafas panjang, menoleh ke Dania sembari bersandar di sandaran kursi"Kuharap kau membantuku mencari kerja untuk seharian ini,"


"Bagaimana jika menjadi guru BK di sekolah, atau kerja di kantor DPD atau  bupati, soalnya jurusanmu kan hukum, tau tentang pasal-pasal dalam undang-undang dan—"


"Makanya itu kau harus menemaniku!"rengek Fakhri dengan memelas.


Dania menaikkan alisnya sebelah"Boleh juga, tetapi rasa malasku menyerang, bagaimana ini?"


"Aku tahu itu hanya bercanda,"ucap Fakhri memejamkan matanya masih berada di sandaran kursi.


"Tetapi apa kau merasa tidak enak nanti saat menolak tawaran ayah asya? Kenapa tidak dicoba dulu? Kau tau berprasangka buruk itu tidak baik, lebih baik dicoba saja dulu siapa tau kau diperlakukan dengan baik."jelas Dania melihat Fakhri yang memelas.


"Jadi ... Aku harus mencoba dulu?"


"Iya sayang,"ucap Dania dengan nada lembut.


Fakhri tertawa merasa geli dengan panggilan baru Dania, setelah 5 tahun mereka 6 tahun mereka menikah, ia tak pernah mendengar Dania mengatakan itu, juga saat diawal mereka bersama, merasa jika hubungan mereka hanya simpatik, ia juga merasa jika ada perasaan dengan Dania, tetapi ia ubah menjadi bukti kesetiaannya.


Dania mengerutkan keningnya menatap heran Fakhri yang tertawa.


"Hey? Kenapa tertawa? Ucapanku salah?"tanya Dania penasaran.


"Jadi? Jadi apa yang membuatmu tertawa?"


"Kau, kau memanggilku dengan sebutan itu? Sebutan apa tadi?"


"Apa? Sayang?"


"Iya sayang,"jawab Fakhri dan ia tertawa lagi.


Dania mengerucutkan bibirnya"Menyebalkan! Ya sudah ayo aku antar ke tempat kerja ayah asya! Nanti kau terlambat! Setidaknya hari pertamamu!"


Mendengar ucapan Dania, Fakhri seketika kembali murung, ia bingung lagi harus menerima atau tidak tawaran ayah asya tetapi ia tak berjanji jika benar-benar akan bekerja disana.


"Kau ingin pergi sendiri kesana?!"tanya Dania jutek menoleh Fakhri yang murung, menurutnya sekarang ia yang gantian tertawa, menertawakan ekspresi Fakhri yang mendadak murung saat ia menyuruh berangkat.


"Iya,"Fakhri menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan kasar, menoleh ke Dania"Kau benar-benar memang mengizinkanku kerja disana?" Atau kau tak merasakan hal aneh mendengar tawaran itu?"


"Sekarang ... Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa jika itu adalah rejeki, maka ambillah,"

__ADS_1


Fakhri berdecak kesal lalu menggaruk kepalanya dengan resah, merasa tak terima dan ingin mencari pekerjaan lain.


"Dania kumohon, aku ingin bekerja ditempat lain, aku tidak suka!"rengek fakhri.


Menurut Dania, saat Fakhri merengek sedari tadi hingga sekarang, persis seperti anak kecil, ia ingin tertawa tetapi ia tak ingin melihat Fakhri bertambah merengek.


"Coba saja dulu, aku yakin itu tidak ada marabahaya sedikitpun, anggap aja ayah asya berbaik hati kepadamu."saran Dania lagi, mungkin ini saran Dania yang entah keberapa kali ia ucapkan ke Fakhri sampai Fakhri bergerak untuk pergi ke tempat kerja yang ditawarkan ayah asya.


"Baiklah."Fakhri langsung bangkit, menuju garasi untuk mengambil motor yang Dania beli untuk Fakhri, Dania juga sudah menawarkan mengajari Fakhri mengendarai mobil. Tetapi pria itu bersikukuh tak ingin mau belajar.


Saat sore, Dania melihat ke depan rumahnya tepatnya di pagar, belum kelihatan Fakhri pulang, dan juga anak-anaknya yang menunggu Fakhri pulang, Dania mengamankan anaknya diruang tv agar menonton bersama walaupun awalnya sempat rebutan tv, tetapi Dania dengan sigap membujuk mereka semua untuk bisa menonton satu acara saja, dan akhirnya mereka menurut.


Dan jam juga masih pukul 5 sore, Dania duduk di teras depan rumahnya, menunggu bagaimana perasaan Fakhri pertama kali bekerja.


"Mama, papa lama lagi pulangnya?"tanya fakran yang mendekati Dania dan berdiri dihadapannya.


"Iya, kenapa lama banget ma?"tanya fidi juga yang kini disamping Dania.


"Kalian udah rindu sama papa?"tanya Dania menoleh ke fakran lalu fidi.


"Ah enggak ma! Fidi cuma nanya aja!"seru fidi.


Dania mengangguk sembari tersenyum, menoleh ke pagar dan akhirnya orang yang ia tunggu sampai.


Fakhri membawa motornya langsung ke garasi juga dengan fidi dan Fakran yang bersorak gembira melihat Fakhri sudah pulang.


Setelah meletakkan motornya di garasi, Fakhri dengan semangat berjalan ke fidi juga Fakran, lalu mencium kedua pipinya.


"Ayo masuk udah sore, udah mau Maghrib ngapain keluar!"ujar Fakhri menoleh ke fidi dan Fakran.


"Katanya menunggu papanya belum pulang!"


"Iya pa bener!"jawab fidi dan Fakran serentak.


"Ya udah ayo masuk!"suruh Fakhri.


Dania juga mengikuti Fakhri yang masuk rumah.


"Hei bagaimana dengan pekerjaan barumu? Menyenangkan?" Tanya Dania sembari berjalan mengiringi fakhri.


"Yaa begitulah, aku sebagai tukang check barang yang sudah terjual di toko, tetapi tetap aku ingin bekerja ditempat lain." Jawab Fakhri menoleh sekilas Dania.

__ADS_1


Dania menghela nafas panjang"Terserah dirimu saja."balas Dania tanpa menoleh ke Fakhri, menurutnya Fakhri sangat keras kepala hari ini, biasanya dirinya yang sering sekali keras kepala, dan sekarang kenapa mendadak Fakhri yang seperti itu.


__ADS_2