
Arka yang kini sudah menjadi menantu dirumah keluarga asya, ia mempersiapkan dirinya pergi bekerja dengan baju seragam kerjanya, lalu bercermin memperhatikan dirinya, menurutnya mungkin hari ini dia memulai hidup baru, tanpa mengintai asya diam-diam lagi dan memikirkan bagaimana caranya memusnahkan lelaki yang selalu berada didekat asya.
"Wah, ganteng banget! Udah buruan berangkat, ntar telat,"ucap seseorang dari belakang arka, yakni asya.
Arka langsung menoleh sembari tersenyum, mendekati asya.
"Kamu belum mandi?"tanya arka dengan senyumnya yang masih mengembang.
"Udah, kalo enggak mandi mungkin udah diteriakin mama dari bawah suruh mandi dulu, baru bangun masak,"jawab asya.
Arka mengusap rambut asya"Memangnya kamu bisa masak?"
"Yaa belajar dong,"jawab asya mencubit kedua pipi arka dengan gemas.
"Eh eh udah udah, ntar telat, aku berangkat dulu ya!"seru arka pamit lalu memberikan tangannya.
Asya mencium tangan arka takzim, lalu menatap arka dengan tersenyum.
Hal seperti inilah yang ditunggu kan mereka sedari dulu, adem dan damai, tidak ada pertengkaran diantara mereka lagi.
"Eh tunggu dulu, kamu jadi mau cari kerjaan?"tanya arka menatap intens wajah asya.
"Rencana, tapi kalo udah ada dedek bayinya disini pasti sulit sih mau kerja,"asya mengusap perutnya yang datar, lalu kembali melihat arka lagi.
"Ya udah biar aku aja yang kerja, kamu belajar masak aja gih, ntar kalo kita udah pindah rumah—"
"Lah kita mau pisah sama mama sama papa?"tanya asya spontan, panik dengan ucapan arka.
Arka mengangguk yakin"Kan enggak selamanya kita hidup dengan orangtua sayang, ntar kita juga sesekali kesini kok, kenapa? Kok panik banget?!"
"E enggak, enggak apa-apa, kirain kita selamanya disini aja,"ucap asya melihat kebawah lalu ke arka.
"Enggak sayang, masa iya kita mau hidup bareng orangtua aja,"
"Iya bener, ya udah hati-hati ya sayang."
Arka mengacungkan jempolnya, lalu mengambil tangan asya mengajaknya pergi keluar hingga sampai halaman dan pagar rumah.
__ADS_1
"Sayang, kalo enggak naik mobil papa aja,"pinta asya dengan khawatir.
"Udah ga apa-apa, naik gojek aja, ntar pulang aku bawa motor,"sahut arka yang sudah keluar pagar rumah dan memesan gojek, sesekali melemparkan senyuman manis nya ke asya.
"Kalo enggak aku antar aja, biar pulangnya bisa ambil motor,"saran asya lagi, ia masih khawatir lagi dengan arka.
"Ntar kamu ada apa-apa gimana? Katanya mau ngidam, kalo orang ngidam itu ga boleh banyak gerak,"tutur arka menoleh ke asya.
"Ya udah deh, hati-hati ya,"jawab asya memelas.
Tak lama gojek yang dipesan arka datang, dan arka langsung menaiki gojek itu lalu melambaikan tangannya ke asya.
Asya masih melihat arka sampai hilang dari pandangannya, lalu ia masuk ke dalam rumah, terlintas fikirannya dengan Fakhri, lelaki yang sering diajaknya kerumahnya, sampai ayahnya juga akrab dengannya. Ditambah lagi Fakhri juga pernah seperti itu, persis seperti arka tadi saat berangkat bekerja. Tetapi Fakhri pulang kerumah, ia tak mau menyusahkan asya.
Hal yang terberat ia rasakan sekarang ini adalah tentang bagaimana melupakan Fakhri, sampai-sampai asya juga tak mengatakan jika Fakhri dulunya sering kerumahnya, itu akan membuat arka tambah cemburu.
Saat asya masuk rumah, terlihat ayah dan ibu asya duduk diruang tamu, mereka tertawa riang dengan ayah asya yang menggombal nya.
Asya tersenyum melihat orangtuanya, jarang sekali ia melihat pemandangan seperti ini, tertawa riang bersama orang tuanya. Ia langsung segera duduk didepan ayah dan ibunya di bangku seberang.
"Papa dan mama bicara apa?! Asik banget kayaknya?"tanya asya riang yang sudah duduk di depan ayah dan ibunya.
"Arka sudah berangkat kerja?"tanya ayah asya mengambil kopinya yang terletak dimeja ruang tamu.
"Iya, asya mau antar tadi tetapi arka melarangnya,"jawab asya melihat ayah ibunya lalu menunduk, ia merasa heran kenapa saat dirinya datang, orangtuanya tak menjawab ucapannya tadi? Malah terdiam dan menatap lekat.
"Jadi kapan arka membawamu untuk mengontrak rumah?"tanya ibu asya dingin.
"Katanya Minggu ini ma, mama dan papa gak nyuruh asya disini aja? Tinggal disini bersama papa dan mama?"
"Enggak asya, kamu itu udah berumah tangga, ga sepantasnya tinggal dengan orangtua, harus tinggal sendiri, harus mandiri, kalo enggak kayak gitu kapan mandirinya?"tanya ibu asya.
"Ya, walaupun asya anak semata wayang disini, asya harus mandiri, berlatih mandiri, mama kamu dulu juga gitu, papa bawa kesini biar bisa mandiri, dan akhirnya mandiri,"
"Iya pa,"ucap asya menganggukkan kepalanya, merunduk merasa tak mau pisah dengan orangtuanya.
Ibu asya menatap anaknya lekat, seperti ada rasa tak rela untuk asya pergi dari rumah itu, ia rindu Senda gurau dengan asya. Namun semuanya hilang saat asya menghilang semalaman dengan lelaki yang sekarang sudah menjadi suami asya.
__ADS_1
"Tapi, kali ini, papa ingin bercerita denganmu, papa tak sanggup untuk menyimpannya sendiri, asya harus mengingatnya nanti dan jika merasakan itu juga, pergilah ke papa, biar papa urus surat perceraian kalian."ucap ayah asya. Tapi belum selesai ayah asya bercerita, asya sudah memotong ucapan ayahnya.
"Tidak pa tidak!! Asya mencintai arka! Arka tidak mungkin berbuat yang aneh, dia orangnya jujur dan sayang banget dengan asya,"kilah asya tak terima dengan ucapan ayah asya.
"Iya iya papa tau, kau ingin tau apa tidak? Belum selesai papa cerita udah dipotong aja, pantang kayak gitu sama orangtua,"titah ayah asya kesal melihat asya.
"Iya pa,"balas asya menganggukkan kepalanya.
"Papa, merasakan firasat tidak enak dari awal arka melamar asya, sampai menikah, papa sudah mengizinkan asya menikah dengan lelaki itu. Tetapi di lubuk hati yang paling dalam, ayah merasakan tidak enak,"
"Seperti kau tidak langgeng dengan lelaki itu, dan dia juga seperti bukan seorang lelaki yang pantas untuk asya."
"Jadi menurut papa asya lebih cocok dengan Fakhri?"tanya asya ceplos, yang paling utama muncul dikepala ya adalah Fakhri, ia langsung menyebutnya.
Kedua orangtua asya terdiam, sebenarnya benar yang diterka asya, Fakhri lah orangnya.
"Fakhri udah nikah pa!! Fakhri udah nikah! Ga mungkin kan asya menjadi istri kedua Fakhri sedangkan asya juga punya pacar, punya kekasih, dan sekarang udah jadi suami asya! Fakhri ninggalkan asya pa!"asya langsung menangis, ia memang sangat rindu dengan Fakhri, tetapi Fakhri sudah pergi meninggalkannya.
"Baiklah kalau begitu,"
"Apa papa enggak merestui asya menikah dengan arka? Apa papa ga suka dengan arka?"
"Tidak, papa tidak benci dengannya, apa yang menjadi menurut asya baik, makan menurut papa juga,"jawab ayah asya berbohong, sebenarnya ia sangat tidak suka dengan asya.
"Memang, sebelum menikah, asya yang memaksa papa dan mama untuk merestuin asya nikah dengan arka,"ucap asya.
"Sudah, tenanglah nak, papa dan mama merestuin asya, hanya saja ada satu kesalahan yang membuat papa dan mama sedikit marah dengan lelaki itu,"
"Apa, apa itu ma?"
"Saat kau pergi dengannya, dia tak mengatakan kepadamu untuk pulang malam itu juga! Dia membawamu sampai mama bolak balik menanyakanmu kenapa tidak pulang-pulang, dan yang membuat mama kesal saat dia datang kesini mengantarmu, dia dengan santai dan tidak meminta maaf dengan papa dan mama setelah dia membawamu!! Apakah kamu tidak merasa bahwa itu kesalahan?!!!!"perjelas ibu asya dengan sedikit bentakan.
Asya terkejut mendengar ucapan ibunya, ia teringat dengan kejadian saat menginap di tempat wisata penginapan, ia juga teringat arka tak mengatakan jika ingin menginap karena asya saat itu mabuk dan menuruti perintah arka sampai memberikan mahkotanya yang dijaga untuk suaminya kelak. Setelah sadar asya terkejut melihat dirinya yang sudah hanya dibalut selimut dan tubuhnya tanpa sehelai benang, dari situlah asya mulai mengandung anak yang Fakhri jaga, yakni fakran.
"Asya, apakah kau mendengarkan mama? Asya?"tanya ibu asya.
"Ma ma maafkan asya ma, jika arka tak sempat meminta maaf dengan mama dan papa, biar asya aja yang menggantikannya,"ucap asya memohon, menangkupkan tangannya seperti memohon agar orangtuanya memaafkannya.
__ADS_1
"Tidak asya, kau adalah anakku, bagaimana pun kau tetaplah anakku, tetap dimaafkan, tetapi lelaki itu yang harus meminta maaf dengan mama dan juga papa."ucap ibu asya dingin, menatap tajam ke arah asya.
Asya kembali merunduk, ia sudah melakukan sangat banyak dosa kepada ayah ibunya, mungkin setelah ia berpisah rumah dengan orangtuanya, ia akan merasakan apa yang dirasakan orangtuanya ketika mempunyai anak.