3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Dimanfaatkan?


__ADS_3

Dirumah keluarga pak afiyan, asya menunggu kedua orangtuanya pulang, ia bertanya tanya kenapa lama sekali orangtuanya pulang? Sesekali ia melihat handphone tetapi masih terlintas pertanyaan kenapa orangtuanya belum pulang juga.


Tak lama pintu terbuka, dan akhirnya pak afiyan juga istrinya yang memasuki rumah, yakni orangtua asya.


Asya langsung mendekati ayah ibunya, lalu mencium tangan orangtuanya dengan takzim.


"Mama dan papa kemana saja?"tanya asya panik.


"Tidak perlu ragu dengan kami, kami baik-baik saja,"jawab ibu asya yang ingin pergi tetapi asya menahannya.


"Tunggu dulu ma! Pa! Asya mau cerita!"rengek asya menahan orangtuanya pergi.


"Ada apa asya? Apa lagi yang kau pinta?"tanya ibu asya heran melihat tingkah asya.


"Besok asya ingin pindahan, mama dan papa ngasi asya pindah kan? Asya dan arka mau mandiri, nanti kami juga sesekali main-main kesini,"


"Ya sudah, jadi kamu sudah mendapatkan rumahnya?"


"Lagian kemana arka? Kenapa hanya dirimu saja yang mengatakan seperti itu? Apa arka tidak mau pindah juga?"


"Bukan, dia sedang menyusun baju di koper,"


Ibu Dania ingin bertanya lebih detail tentang kenapa asya mendadak ingin pindah dan ingin mandiri, ia mengenal betul anak semata wayangnya itu, sangat manja  kurang mandiri, juga keras kepala, membuat ibu asya urung untuk bertanya lebih detail.


"Jadi kenapa tidak kau saja yang menyusun baju di koper?"


Asya ragu ingin bertanya apa, saat mereka berinisiatif untuk pindah, arka mengambil alih untuk menyusun baju, dan asya yang menyampaikan kepada orangtuanya bahwa mereka ingin pindah.


"Baiklah, kalian sudah mendapatkan rumah yang akan ditempati nanti?"


"Kata arka kami menyewa di daerah kompleks yang dekat dengan rumah orangtuanya, hanya beda 2 kilometer saja dari rumah orangtuanya,"


"Jadi begitu, teman ayah juga ada yang menjual rumah, dan rumah itu kelihatan bagus dan cocok untuk kalian, tidak terlalu kecil dan pas untuk kalian, memangnya asya bisa tidur tanpa AC?"


Asya mengangguk yakin"Asya bisa pa, asya akan belajar tidur tanpa AC, walaupun awalnya tak bisa tidur."


"Kalau begitu biar papa beli saja rumah untuk kalian,"


"Terimakasih pa."ujar asya memeluk ayahnya.


Menurut pak afiyan, asya seperti masih kecil, walaupun sudah besar dan menikah, ia tetaplah seperti anak kecil dengan segala tingkahnya yang membuatnya hampir tak setuju jika menikah dengan arka.


Esoknya saat asya dan arka pindah, mereka menempati rumah yang dibeli pak afiyan untuk mereka, rumah yang cukup mewah dengan halaman yang lumayan luas. Tetapi tidak dengan pak afiyan, ia berkali-kali berdoa semoga asya tidak kenapa-kenapa walaupun firasatnya tidak baik, sudah berulang kali juga pak afiyan mengatakan itu kepada istrinya, tetapi istrinya hanya menyuruhnya untuk berdoa saja semoga tidak ada hal aneh yang terjadi di kehidupan asya yang baru.


Ditambah lagi dengan fasilitas rumah yang lengkap, yang tidak ada hanya sofa, tempat tidur, lemari pakaian.


Orangtua arka juga ikut membantu untuk pindahan arka dan asya. Ditambah lagi mereka membuat acara sekaligus makan-makan disana dengan biaya dari orangtua arka semua.

__ADS_1


Tak lama setelah acara pindahan, orangtua asya pamit undur diri serta mendoakan asya dan arka rukun dalam rumah tangga.


"Semoga dalam rumah tangga kalian, dilimpahkan banyak rejeki dan sehat selalu untuk kalian,"ucap pak afiyan didepan arka dan asya.


"Iya dan jangan lupakan orangtua, karena orangtua yang paling utama, kalo kalian bahagia tentu saja orangtua ikut bahagia."sahut nyonya afiyan, yakni ibu asya.


"Iya ma, makasih ya ma, asya akan jadi wanita yang patuh dan baik ke arka, juga belajar masak lagi."ucap asya terharu lalu memeluk ibunya dengan erat.


Nyonya afiyan juga membalasnya, lalu melepaskan pelukan, mencium kening asya juga pipinya, tersenyum sembari melihat asya.


Lalu dilanjutkan dengan pak afiyan, menatap putrinya lekat lalu mengusap rambut asya.


Asya langsung memeluk pak afiyan dengan erat juga"Asya akan selalu merindukan papa, juga mama."ucapnya lalu melepas pelukan, mencium tangan ayahnya dengan takzim.


Setelah itu pak afiyan dan istrinya bersalaman dengan orangtua arka, kemudian pulang.


Dan kini tinggal orangtua arka, melihat-lihat rumah asya yang menurut mereka cukup mewah.


"Wah mewah sekali, berapa ratus juta harganya?"tanya pak Arga, yakni ayah Arka.


"Yang tau hanya orangtua asya pa, kami sangat berterimakasih sekali dengan papa asya."


"Iya pasti-pasti benar sekali,"ucap pak Arga menganggukkan kepalanya.


Asya pergi ke dapur untuk mengambil air minum yang habis, juga kue yang dihidangkan di meja sudah habis. Tetapi sampai didapur asya hanya melihat air putih saja dan kue sudah tidak ada.


"Alah kamu gak perlu sok ragu dengan mertuamu itu! Mertuamu kan kaya, mana mungkin hartanya bisa habis, lagian dia juga orang penting juga! Udah gak apa-apa kalo mau minjem uang sama dia! Lagian palingan enggak ditagih, dibiarin aja."gerutu pak Arga yang duduk di sofa, dan disampingnya arka.


"Tapi pa, uang arka dengan papa kan cukup banyak, ada sisa juga! Setidaknya dari hasil kerja arka itu arka rasa cukup pa!"kilah arka ingin menghindarkan ayahnya meminjam uang dengan pak afiyan.


"Ah enggak enggak! Buktinya kalo cukup kenapa papa masih mau minta dengan papa mertuamu? Kalo enggak papa langsung aja ya!"


"Enggak pa enggak! Biar arka yang menemuinya!"


"Arka!! Kamu ini saya besarkan memang untuk penerus pekerjaan ayah, tapi pekerjaan papa bangkrut!!"


"Tapi ayah dulu sangat bangga banget kan dengan kerjaan papa itu!! Walaupun kadang gak ada hasilnya!! Sia-sia pa, lebih baik buka ladang aja daripada nanam saham!"


Asya terkejut dengan ucapan arka, ia tak menyangka jika pekerjaan mertuanya menanam saham, ia tahu pekerjaan itu pasti sangat merugikan jika kalah.


"Baiklah kalo kayak gitu, dalam 3 hari ini kalo gak dapet uangnya, papa langsung kerumah mertua kamu aja!"


"Dengan alasan apa pa?"


"Alasan minjem dong, kan orang kaya! Lagian kayaknya gak berlaku lagi deh minjam, kayaknya dikasi aja tuh!"


"Kalo kayak gitu mending arka gak usah nikah sekalian, mending masih sendiri aja sih pa kalo akal papa masih kayak gitu, janjinya papa mau berubah! Tapi enggak!!"

__ADS_1


Asya terkulai lemas, ia bersandar di dinding perlahan merosot menjadi duduk, ia sangat terkejut dengan ucapan arka.


"Arka! Seharusnya kau turuti saja keinginan papa,"


"Tapi gajiku sudah banyak pa, enggak perlu lagi meminjam uang lagi dengan papa asya!"


"Ah kamu ini!!! Percuma punya mertua kaya tapi ga bisa diajak kompromi!!"


"Jadi kenapa papa gak ngomong pas orangtua asya disini tadi?!"


"Yaa namanya papa belum kepikiran, baru sekarang terfikirnya. Jadi gimana?!!"


"Ya udah nanti asya usahakan,"


"Kalo gak kamu usahakan, ya udah semua gajimu dari bulan besok papa pakai untuk modal tanam saham lagi."


"Papa gak jera-jera walaupun udah rugi 50 juta?"


"Uang kamu kan banyak! Uang mertua kamu juga banyak!! Jadi ngapain pusing-pusing!"ketus pak Arga, terdengar suara nada dering handphonenya, pak Arga langsung mengambil handphonenya lalu mengangkat telpon itu.


Sedangkan asya terdiam, berasa jika omongan arka dengan pak Arga adalah mimpi baginya, ditambah lagi ia terngiang-ngiang dengan ucapan arka yang mengatakan lebih baik tidak usah menikah daripada menikah tetapi ayahnya memanfaatkan uangnya saja.


Setelah ayah arka pulang, asya duduk ditempat tidur, bersandar sembari memberikan minyak kayu putih ke pinggir keningnya, lalu hidungnya.


"Asya? Kamu kenapa?"tanya arka yang masuk ke kamarnya.


Asya tetap diam, ia bingung mau cerita darimana, ia masih teringat jelas bagaimana ucapannya dengan pak Arga membuatnya ingin mencaci makinya.


Arka duduk didepan asya, menggelitik kaki asya.


Asya melipat kakinya kemudian cuek, masih terdiam.


"Sayang, kamu marah?"tanya arka.


"Tadi bicara apa dengan papa kamu? Kok pake marah-marah gitu? Bicara soal mau minjam uang ke papa ya?"tanya asya tanpa menjawab pertanyaan arka.


Arka terdiam, yang asya katakan benar, ia mendadak bingung ingin jujur atau berbohong, tanpa banyak pertanyaan yang muncul difikirannya, arka langsung bertanya lagi.


"Aku boleh minjam uang ke papa kamu?"


"Kalau menikah denganku hanya terpaksa, lebih baik talak aja aku hari ini,"jawab asya murung.


Arka langsung mendekati asya sehingga tak ada jarak, meletakkan jari telunjuknya ditengah bibir asya.


"Suuuuut sayang gak boleh ngomong kayak gitu, gak boleh, aku cinta sama kamu, gak akan ada yang misahkan kita."arka langsung memeluk asya, meletakkan kepalanya di ceruk leher asya.


Asya juga mengerti jika arka mencintainya, tatapan arka yang tidak berbohong ia membuang firasat buruknya tentang tadi.

__ADS_1


__ADS_2