
Pagi ini Saskia dan dalvino pergi ke rumah sakit, berniat ingin periksa dengan kesehatan Saskia, ditambah lagi ibu Saskia menuntut mempunyai momongan, membuat mereka tak fokus bekerja dan selalu memikirkan hal itu.
"Aku kira kau tak memikirkannya."ucap Saskia dengan mengendarai mobil.
"Sebenarnya aku tak peduli tetapi kakak iparku sangat mendukung kita untuk bisa periksa tentang kesuburan mu."
"Sudah aku katakan jangan mendengar ucapan mereka! Tetapi kau selalu saja meladeni ucapan mereka! Kau harus mendengarkan ku! Rumah tangga kita ini hanya kita yang menjalani, orang lain tidak boleh ikut campur!! Jika kau tidak mampu memblokir nomornya maka aku saja yang memblokirnya."
"Sudah cukup jangan emosi terus, itu hanya menambah depresi saja, itu tidak baik untuk kesehatanmu."
"Baiklah setelah kita periksa kau harus tau gejala apa yang terjadi."
"Ya kurasa anak itu tergantung rejeki kita masing-masing."
Saskia menghentikan mobilnya, merasa geram dengan ucapan dalvino yang membuatnya emosi"Jadi, apa kau ada mengatakan seperti itu?"
"Aku baru terfikir tadi."jawab dalvino dengan santai.
Saskia menepuk jidatnya dan menoleh lagi ke dalvino"Bagaimana jika aku mandul? Tidak bisa memberimu keturunan?"
Dalvino langsung keluar dari mobil dan menolong anak kecil yang hampir tertabrak motor, lalu memarahi pengendara motor itu.
Saskia yang menoleh ke arah dalvino tersenyum sendiri, hampir saja ia curiga jika dalvino tak ingin mendengar ucapannya tetapi nyatanya dia menolong anak kecil.
Dalvino melihat anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu"Kamu tidak apa-apa?"tanya dalvino kemudian tersenyum.
"Enggak om, tadi hampir aja fidi ketabrak, yang bawa motor ga lihat-lihat tuh!"sungut anak kecil itu yang bernama fidi.
"Oh namamu Didi? Didi atau fidi?"tanya dalvino merasa salah dengar dengan nama anak kecil itu.
"Namaku fidi om, F I D I, fidi! Aslinya Fidian El Fakhri!"tukas fidi dengan bangga.
__ADS_1
"Wah nama mu bagus ya, oh ya kau sekolah disana?"
"Iya om, ayo om kesana aja takut ini jalanan nanti om yang kena tabrak bukan fidi."sanggah fidi menunjuk ke trotoar.
Dalvino berdiri dan mengiringi fidi yang berjalan menuju trotoar.
"Makasih ya om udah bantu kakak kami, tadi feya ga sengaja lempar gelang Fara tadi, soalnya Fara aja yang dapat hadiah itu, feya enggak."
"Lain kali kalo ada 1 buang aja mainannya, kakak gak suka!"rengek fidi, membuat adiknya saling bersahutan lagi.
Sedangkan dalvino tersenyum melihat mereka.
Saskia yang kini berada disamping dalvino tersenyum melihat tingkah ketiga anak-anak itu dan memandangi wajah mereka, sangat mirip dengan Dania.
"Emm dalvino, coba kau perhatikan wajah mereka, mereka sangat mirip seperti wanita yang pernah kau tiduri itu."
"Bukankah kau sudah bilang kemarin jika dia bisa saja menggugurkan kandungannya?"
Dalvino kembali bertekuk lutut lagi"Hey kalian, om mau nanya lagi nih."
Fidi langsung menoleh ke dalvino"Mau nanya apa om?"
"Nama ibu kalian siapa?"
"Namanya Dania om!"Jawab gadis kecil berkucir satu, namanya feya.
"Iya om,"
"Kalian satu ibu?"
"Iyaa kami kembar om, dan kata mama yang paling besar kak fidi."sahut feya dan Fara hanya mengangguk yakin.
__ADS_1
"Kalian mau om traktir jajan?"
"Mau om mau!!"sahut ketiga bocah itu, membuat Saskia dan dalvino tersenyum merasa lucu didekat anak-anak itu.
Dirumah, Dania duduk diruang tamu menunggu ketiga anaknya pulang, ia rasa waktunya hampir lewat tetapi Dania tetap sabar menunggu.
Dania mencoba menelpon sopir yang biasa mengantar dan menjemput ketiga anaknya pulang dan akhirnya telponnya diangkat.
"Halo pak udah sampai mana?"tanya Dania.
"Masih dijalan nih non, masih mau jemput 3f, tapi sekarang terjebak macet."
"Baiklah semoga anak-anak itu ..."
Fidi, feya dan Fara sampai dan mereka berlari menuju rumah tanpa sopir yang ia telpon sekarang, dirinya langsung bertanya-tanya siapa yang telah mengantar anak-anak itu.
"Mamaaaaa!!!"teriak 3 bocah itu.
Dania bangkit dari duduknya dan berjalan ke teras, anak-anaknya memeluknya lalu Dania mencium pipi ketiga anaknya.
"Dengan siapa kalian pulang?"tanya Dania khawatir melihat baju anak-anaknya juga wajah polosnya.
"Kami diantar om ganteng tadi ma."jawab feya.
"Om ganteng? Siapa namanya?"tanya Dania penasaran.
"Namanya om dalvino ma!"jawab fidi spontan.
"Iya tadi kami ditraktir banyaaak banget jajan! Oom itu baik banget!"Sahut Fara.
"Akhirnya dalvino berhasil jumpa dengan mereka, aku benci pulang disini!!"umpat Dania dalam hati.
__ADS_1
Karena Fakhri ingin mengurus wisudanya Dania ikut pulang juga serta anak-anaknya, dan mendaftarkan sekolah anaknya dari fakran sampai 3f, sejak sebelum ia pulang ke Medan hal yang ia takutkan adalah ketika 3f jumpa dengan dalvino dan akhirnya bertemu.