
Saat sampai Fakhri dirumah keluarga pak ramdi, Fakhri tak menyangka jika dirinya sampai disini, Fakhri sembari membawa kopernya matanya tak henti menatap sekeliling rumah pak ramdi, juga Dania yang mengiringinya menuju kamarnya.
"Aku, merasa seperti mimpi, kukira saat aku tiba disini, kau tak ikut, ternyata kau ikut, itu penipuan yang sangat menyeramkan."ucap Fakhri menyindir halus melihat Dania yang berjalan.
"Bicaranya nanti saja saat masuk kamar, rasanya aku tak kuat untuk berjalan, dan kau harus cepat menggeret kopernya, aku tidak kuat."balas Dania tanpa menoleh ke wajahnya.
Fakhri tertawa kecil mendengar ucapan Dania.
Sampai dikamar, Dania menyuruh Fakhri menyusun bajunya di lemarinya dan Dania hanya duduk, dan bersandar di sandaran tempat tidur.
"Sudah berapa bulan bayi yang kau kandung itu?"tanya Fakhri duduk disamping Dania.
"Sudah 7 bulan, kau sudah selesai? Aku ingin USG hari ini, rasanya aku tak percaya dengan hasil USG kemarin."tanya Dania yang kemudian mengeluh.
Fakhri heran"Kenapa? Apa yang membuatmu tak percaya?"
Dania menoleh ke Fakhri yang masih penasaran"Kau percaya bayi yang ku kandung ini kembar 3? Aku tak percaya tapi benar, mereka memfoto hasil USG ku, namun aku tak membawanya pulang."
"Karena kau tidak percaya?"
"Ya, aku tak menyangka jika seperti itu, tapi kurasa aku juga tak kuat untuk berjalan."jawab Dania.
"Jadi bagaimana? Kau mau tetap disini saja atau mencoba USG lagi?"tanya Fakhri.
"Bagaimana kalau USG, aku rasa kau harus tau hasil anak ini seperti apa."
"Tapi dengan dirimu?"
"Sebentar ya, aku tidur dulu."keluh Dania.
Fakhri tersenyum melihat Dania yang terbaring di tempat tidur, Fakhri keluar kamar ingin melihat fakran.
Di dapur, fakran mengambil toples yang berisi kue dan ingin pergi, namun saat sampai di ruang tamu ia jumpa dengan Fakhri yang tepat berdiri di hadapannya.
"Hey, mau kemana?"tanya Fakhri menatap fakran, lalu menggendongnya"Tak terasa kau tambah berat saat disini."
"Ayah!! Turunkan aku! Aku ingin makan kue yang di toples ini, ayah mau rasa kue ini?! Fakran sangat suka sekali kue ini!"
"Oh ya! Bagaimana jika hari ini kau tidak usah memakan kue itu, dan makan kue yang lain saja, bagiamana?"tanya Fakhri dengan bercanda.
"Boleh, tetapi aku harus makan kue apa? Nenek membeli kue hanya ini saja,"rengek fakran.
"Baiklah, tapi fakran mau ikut papa? Papa mau keluar dengan mama."
__ADS_1
"Papa mau kemana?"
"Mau temani mama ke rumah sakit, sebentar lagi fakran akan punya adik."
"Mama ga pernah bilang sama fakran kalau mau punya adik, adik itu apa pa?"tanya fakran polos dengan menatap Fakhri dengan mencomot kue di toples yang sudah terbuka.
"Adik itu teman fakran untuk bermain, biar fakran tambah asyik bermain."
"Tapi pa, kalau fakran lama-lama bermain, nenek marah, kata nenek fakran tidak boleh main lama-lama."ujar fakran.
"Kau disini rupanya, ayo kita kerumah sakit,"ajak Dania yang tepat berdiri di samping Fakhri.
"Tenaga mu sudah penuh? Kau yakin kita pergi kerumah sakit sekarang?"tanya Fakhri tak melihat Dania yang mengajaknya keluar.
"Sebelum malas menyerang, kita harus bergerak sekarang."
"Jika tiba-tiba nanti sifat malasmu menyerang? Bagaimana?"
"Tidak pernah kualami seperti itu, jika ada pukul saja kepalaku, aku tak pernah melakukan seperti itu."jawab Dania duduk disamping Fakhri, melihat fakran yang lahap memakan kue.
****
Sampai dirumah sakit, dan tepat diruang USG, Fakhri menerima hasil USG yang diberikan dokter, ternyata benar yang dikatakan Dania, anak yang dikandungnya kembar, Fakhri tersenyum dan bahagia, tapi bagaimana dengan Dania? Apakah menerima atau tidak mempercayainya.
Dania perlahan duduk dengan dibantu Fakhri, lalu bersandar di sandaran tempat tidur itu.
"Aku haus, aku mau minum."ucap Dania melihat Fakhri, lalu Fakhri langsung memberikan air minum ke Dania, dan dalam 1 botol air minum dibotol itu habis, Dania memberikannya ke Fakhri.
"Dania, kau benar tak percaya jika anak yang kau kandung memang kembar?"tanya Fakhri pasti menatap Dania.
"Kau sudah melihatnya?"
"Sudah."jawab Fakhri.
"Baiklah, semoga aku bisa menjaga mereka."
"Dan semoga Mereka selalu membuat ibunya bahagia."
"Iya, sebentar lagi kau wisuda kan?"
Fakhri mengangguk mantap"Aku khawatir kau tak bisa hadir saat aku wisuda."
"Tidak apa-apa, Vidio call saja aku, walaupun tidak ada disana tapi aku disini tak sabar melihatmu memakai baju wisuda."ujar Dania menenangkan suasana.
__ADS_1
Sampai dirumah, Fakhri mengiring jalan Dania yang pelan dan juga fakran yang mengikuti Fakhri sedari pulang dari rumah sakit.
"Papa beli kue apa untuk Fakhri?"
"Yang pasti kue nya berbeda dan rasanya lebih lezat."
Fakran terus mengajak Fakhri untuk masuk ingin merasakan kue yang dibelinya, Dania terus tersenyum tak sanggup membalas apa yang dikatakan fakran, karena fakran sangat bersemangat melihat Fakhri pulang dan suasana dirumahnya juga ramai.
*"*"*"*"*
Saat malam, Fakhri masih berkutat dengan laptopnya, sesekali ia melihat Dania yang sudah terlelap, yang awalnya masih bersandar di sandaran tempat tidur menjadi tertidur.
Namun mendadak Fakhri lapar, ia langsung keluar kamar dan mematikan laptopnya, ia pergi ke dapur mencari makanan, lalu duduk ke ruang tv, dan disana terlihat pak ramdi duduk juga disana sembari menonton tv.
"Fakhri, belum bisa tidur?"tanya pak ramdi kemudian menoleh sekilas ke Fakhri.
"I-iya pa, soalnya udah terbiasa tidur di atas jam 12 malam."
"Jangan dibiasakan, soalnya nanti bisa cepet lelah kalo siang."ujar pak ramdi.
"Iya pa, bagaimana keadaan Dania selama disini? Tidak meresahkan papa?"
"Cukup meresahkan juga tapi papa pasrah saja, mungkin dia nanti akan sadar, papa biarkan saja dia apa maunya, soalnya katanya saat dirumah kakaknya, dia tak bebas, selalu dimarahin oleh kakak iparnya, mereka selalu berseteru dan sulit satu frekuensi."
"Iya pa, saat Fakhri belum kuliah Dania juga sering tidur dirumah, kadang malas pulang, kalau pulang saat ditelpon kakaknya."
"Papa juga bingung dengan kemauan Dania, di sini dekat urusan kantor dia bisa, dan apa yang dilakukan direktur juga tahu, dan tidak ada takut dengan siapapun, tapi kenapa disana seperti kurang bersemangat?"
"Katanya dia rindu mama, maksudnya ibu Siti, Dania saat ditinggal dengan papa juga mama, dia sebenarnya tak siap ditinggal tapi bagaimana lagi, ia harus terima walaupun dia sebenarnya tak bisa."
"Tapi papa hanya percaya saja jika dia bisa, dan oh ya, bagaimana dengan kandungan Dania? Sehat kan?"
"Sehat pa, tetapi ... Kembar pa, jenis kelaminnya juga seingat Fakhri 2 perempuan dan 1 laki-laki, tapi Dania tak memungkiri itu, pasrah dan tidak percaya."jawab Fakhri.
Pak ramdi mengangguk"Semoga dengan adanya anak di hidup Dania, ia bisa berubah menjadi ibu yang lebih kuat dan baik. Tapi wisuda Fakhri sebentar lagi kan? Kalau papa sehat dan tidak ada halangan papa akan kesana."
"Papa akan pulang kampung saat Fakhri wisuda nanti? Dan bagaimana dengan Dania?"tanya seseorang dari belakang, dan suaranya persis seperti suara Dania, pak ramdi dan Fakhri menoleh ke Dania lalu duduk di bangku tepat samping Fakhri.
"Kau terbangun?"
"Iya, aku terbangun saat melihat kau tidak ada di bangku meja belajar,"Dania menoleh ke ayahnya"Mama sudah tidur pa?"tanya Dania menoleh ke pak ramdi.
"Mama mu seperti biasa, kalau fakran minta tidur, mama mu ga akan mengelak, pasti ikut tidur juga."
__ADS_1