
Saskia memasuki pintu toko buah, melihat sekeliling dan ramai yang ada disana, ia melihat buah yang ada di dipajang di keranjang yang dekat dinding. Beragam jenis buah disana ia mengambil keranjang buah, setelah itu melihat sekitar. Pandangannya menangkap seseorang yang ia kenal melewatinya, ia langsung memanggilnya.
"Sefira!"panggil Saskia.
Sefira yang sudah melewati seseorang yang ia kenal, menghentikan langkahnya, menoleh sekilas ke arah Saskia lalu ia pergi.
Saskia yang tau jika sefira pura-pura tak mengenalinya, langsung mengejarnya menarik rambut sefira yang ingin membuka pintu toko.
Dan akhirnya Sefira memekik merasakan rambutnya tertarik, ia melepaskan pegangan pintu menarik rambutnya ternyata Saskia yang menariknya.
"Hei lepaskan rambutku!!"
"Kau harus kembali dulu!"geram Saskia yang masih menarik rambut sefira memaksa untuk kembali.
"Tidak, aku ingin pulang!!"jerit sefira yang meraba tangan Saskia, ia sangat geram rasanya dengan ulah Saskia kali ini.
"Dasar keras kepala!!"tangkas Saskia menahan tangannya lagi yang belum melepaskan rambut Saskia.
Sefira menangkap tangan Saskia yang masih menarik rambutnya lalu mengambil rambutnya menghempaskan tangan Saskia dengan kasar.
"Kau! Kau merusak rambutku! Apalagi yang kau mau?"hardik sefira melihat Saskia yang masih bersikeras berjumpa dengannya.
"Aku menegurmu tetapi kau tak menyahutnya sama sekali!"
"Memangnya itu menjadi masalah bagimu?"
"Iya, sangat menjadi masalah bagiku!"
Sefira berdecak kesal"Dibayar berapa kau untuk mengurusi urusanku?!!"
"Sudah lebih baik kita damai saja, tenang dan redam emosimu. Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan."bujuk Saskia menenangkan, mungkin itu membuat sefira tenang dan tidak emosian, ia juga tak merasa jika ada kesalahan dengan sefira. Menurut sefira kesalahan sosok wanita berambut hitam bergelombang didepannya ini sangat gemar menaikkan emosinya.
"Kenapa kau mengaturku?"tanya sefira yang wajahnya masih cemberut.
"Kau tak ingin berdamai denganku?"
"Apa untungnya berdamai denganmu? Bukankah kau telah berhasil merebut dalvino dariku?"kelakar Sefira, ia terkejut menyadari ucapannya sendiri, menurutnya itu salah, sangat salah!!
"Ah tidak-tidak, maksudku ... Bukan seperti itu."sambungnya tenang.
"Jadi bagaimana?"tanya Saskia panik.
"Ehem, sudah lupakan, aku ingin pulang sekarang!"sefira beranjak pergi.
"Tunggu dulu!!"Saskia menggapai tangan sefira, tetapi seperti tadi, sefira menghempaskan tangan saskia.
"Apalagi?! Apalagi yang kau mau?!"
Sefira menatap tajam Saskia, mengingat ucapan Saskia yang menyuruhnya menarik nafas dalam-dalam mengikuti saran Saskia menarik nafas berat lalu mengeluarkannya dengan lega. Tapi sefira bukan menghela dengan nafas lega, tetapi dengan kesal.
__ADS_1
"Apa?!"tanya sefira melipat tangannya.
"Kenapa kau tidak bekerja?"
Sefira mengerutkan keningnya, mencoba berfikir apa yang harus dijawab agar Saskia terdiam.
"Kenapa kau terdiam?"tanya saskia panik mendengar sefira yang kunjung tak menjawab.
"Aku boleh minta tolong padamu?"tanya sefira.
"Apa itu?"
"Aku ingin pergi, aku ingin cepat pulang ke rumah, ibuku sudah menunggu, jadi sekarang aku harus pulang cepat, okey?"
"Iyaa kau kan sekertaris yang sangat dibutuhkan di perusahaan Abraham GRUP, kau libur hari ini?"
"Iya aku libur,"jawab sefira singkat.
"Tetapi aku dengar kau dipecat dari sana? Apakah itu benar?"tanya Saskia.
Menurutnya Saskia menguak kisah itu kali ini, mungkin dalvino telah mengatakan hal itu kepada Saskia, ia mencoba menutupinya"Sebaiknya kau jangan percaya, untuk apa kau percaya dengan kata-kata itu jika itu salah,"
"Iyaa, kau masih menyukai dalvino?"tanya Saskia.
"Tolong jangan menanyakan hal itu, mungkin kita bisa berbicara yang lain, hal yang lain juga ada, kecuali bertanya tentang Chandra lagi."
"Aku ingin keluar tetapi tunggu saja kapan tiba waktunya,"
"Karena gajimu lebih dua kali lipat disana kan?"
"Tidak juga, dari awal aku juga ingin menghindar."
"Karena aku?"
"Tidak, sudah tidak ada cerita lagi, aku sudah hampir melupakan semuanya."ucap sefira tenang, menurutnya berbicara penuh ketenangan dengan Saskia seperti saat Chandra menyuruhnya ke kafe disaat Saskia menyiramnya dengan jus. Jika diingat-ingat bahkan sampai sekarang pun dia masih geram dengan sikap Saskia.
"Aku rasa aku tak percaya jika kau akan mengundurkan diri dari perusahan ABRAHAM GRUP."ujar Saskia lagi, layaknya seperti memancing seorang singa untuk mengamuk.
Sefira menghela nafas kesal, berkacak pinggang"Yang menyuruhmu untuk percaya siapa? Aku hanya memberitahumu, dan jangan ungkit lagi masalahku dengan dalvino!!"
"Hey kau itu mahluk kesayangan disana, bagaimana caranya kau bisa dipecat dari sana?"tanya Saskia dengan santai.
Baiklah menurut sefira mungkin saat ini jika ia melupakan emosinya itu tidak masalah, mungkin orang yang didepannya ini sudah membuatnya cukup, cukup marah"Kau ini iri atau apa?! Sudah kubilang dari awal kau tak perlu mencampuri urusanku?! Apakah aku punya hutang denganmu? Apalagi yang kau cari? Dari awal bukan aku yang memancing masalah ini semakin lebar, kaulah yang memancingnya, apalah untungnya bagimu?!"sefira langsung mengambil langkah cepat meninggalkan Saskia disana.
Semua orang yang ada disekitar sana menoleh ke Saskia, berbisik pelan seolah menceritakan mereka yang bertengkar di dalam toko itu.
"Mbak mbak!! Gimana sih kronologinya kok bisa bertengkar? Korban kdrt ya?!"tanya seseorang didekat Saskia.
Saskia langsung menoleh ke sampingnya yang sudah ada orang memegang handphone seolah merekam kejadian mereka lalu bertanya"Maaf saya permisi!"ketus saskia langsung meninggalkan toko dengan cepat.
__ADS_1
Perusahaan ABRAHAM GRUP
Di kantor, Chandra melihat-lihat laptop, pak Abraham memintanya untuk sementara menggantikan posisinya dahulu juga posisi dalvino. Karena dalvino berada di perusahaan cabang dan jauh dari sana.
Seketika suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya, melirik pintu, lalu menoleh ke laptop kembali.
"Masuk!"ucapnya.
Saskia masuk dengan ditangannya 1 plastik putih berisi 1 cup salad buah.
"Makanlah ini, mungkin bisa meredam pusingmu,"ucap Saskia meletakkan plastik itu dimeja.
"Iya letakkan saja dulu disitu,"jawab Chandra yang masih melihat laptop.
Saskia menoleh ke sekeliling kantor, ada sedikit perubahan, dari cat, kain jendela, juga posisi meja. Tetapi ada 1 yang membuatnya heran yaitu foto tabel pekerja, tidak ada foto sefira lagi disana, atau tidak sefira di cabang perusahaan.
"Sefira pindah ke cabang? Atau berhenti?"tanya Saskia yang masih menoleh ke foto tabel itu.
Chandra melirik foto tabel itu juga"Ya, dia sudah berhenti."ujarnya lesu.
"Maka sebab itu kau seperti kurang bersemangat?"
"Tidak juga."jawab Chandra menutupi kebohongannya.
"Sefira sudah tidak bekerja disini lagi? Aku rasa aku tak percaya tetapi benar adanya, aku juga masih melihat ada rasa cemburu di hatinya ditambah lagi dia juga tau aku sudah menikah dengan dalvino."pungkas Saskia merenung, ia juga tak memaksa dalvino agar mencintai sefira, tetapi malah sebaliknya, ia seperti terjebak di kisah cinta itu.
"Iya sudah kubilang berapa kali ke dirimu, jangan jumpa dengannya lagi walaupun itu kebetulan, jika tau tuan dalvino kau pasti dihukum dengannya."ujar Chandra menoleh ke laptop.
"Dalvino tak menghukum ku, dia hanya merahasiakannya, sampai aku saja tak tahu kalau dia sudah mengeluarkan sefira disana,"
"Kau benar tak mengetahui jika sefira sudah tidak lagi bekerja disini?"
Saskia menghela nafas panjang"Dalvino itu, jika ada masalah, dia menyimpannya dengan rapat, tetapi jika digali masalah itu, barulah ia mengatakan sedetailnya,"
"Iya, sebenarnya juga kisahnya masih menggantung,"
"Kisah apa?"
"Kisah ... Eh cerita tentang sefira pergi dari sini,"
"Dia tak mengatakannya denganmu jika itu adalah rencananya?"
"Iya, dia mengatakannya,"
"Karena kau juga tak ingin dia pergi dari sana?"
"Ya, benar."
Chandra dan Saskia terdiam, berfikir tentang sefira yang pergi dari sana. Namun hal yang membuatnya kesal adalah mengapa dalvino tak menceritakannya.
__ADS_1