
Hari ini tibanya Fakhri wisuda, semua keluarga fakhri sudah ikut hadir juga keluarga Dania.
Kini mereka berfoto bersama Fakhri, dimulai dari keluarga fakhri hingga keluarga Dania.
Dan juga Dania akhirnya bertemu lagi dengan istri kakaknya, yakni Afifah yang ikut serta hadir hari ini.
Walaupun terasa teringat dengan hal-hal yang dulu lakukan Dania dengan Afifah, tetapi Afifah juga turut bahagia melihat Dania yang sudah menjadi seorang istri Fakhri juga mempunyai anak.
"Ya ampun Dania, yang bersama fakran itu anak-anak mu?"tanya Afifah melihat fidi, feya, Fara dan juga Fakhri mengajak tukang foto untuk berfoto.
"Iya, mereka anak-anakku,"jawab Dania menoleh sekilas ke anak-anaknya.
"Ya ampun tak terasa sudah besar ya, semoga kamu sabar ya menghadapi anak-anak!"ujar Afifah memegang bahu Dania.
"Iya kak, itu pasti!"jawab Dania dengan tersenyum, mungkin perlahan dirinya sudah melupakan tentang masa-masa Dania tinggal dirumah kakaknya dan satu rumah dengan Afifah.
Afifah langsung memeluk Dania sekilas"Kamu tuh nakal banget, disuruh kuliah juga sama si Fakhri malah gak mau, kalo mau mungkin kamu udah wisuda juga,"
"Udah gak apa-apa kak, kalo Dania enggak kuliah juga dapat ilmu dari Fakhri, ya gak?"ujar Dania juga lalu melihat ke Fakhri.
Fakhri yang tepat masih disebelah Dania langsung menoleh, dan ia pun mendengar juga ucapan Dania, tersenyum"Oke sayaaaangkuuu,"
"Dih, kirain gak denger tadi!"ucap Dania kaget mendengar suara Fakhri.
Fakhri langsung tertawa kecil juga Afifah.
Setelah berfoto, mereka pergi ke restoran untuk makan bersama, juga mereka sudah lama tidak berkumpul bersama dari kedua belah pihak. Ditambah lagi kehadiran fidi, feya dan Fara membuat mereka selalu tertawa dan menjadi pusat perhatian mereka.
Saat sudah sampai ditempat duduk, Fakhri pamit ke toilet untuk buang air kecil. Namun saat sudah keluar dari toilet, Fakhri berjumpa dengan seseorang yang pernah ia lihat, dan akhirnya Fakhri mendatangi bapak itu, menegur lalu menyalaminya.
"Eh bapaknya asya kan? Apa kabar pak?"tanya Fakhri sembari menyalami ayah asya.
"Iya bener, kayaknya juga muka bapak kagak berubah dari dulu, habis darimana?"tanya bapak itu sedikit tertawa, berada tepat didepan Fakhri yang ikut berdiri juga membalas salaman fakhri, yakni ayah asya.
"Ah iya baru keluar dari kamar mandi, bapak disini dengan siapa?"tanya Fakhri juga.
"Bapak kesini dengan ibunya asya, juga kami habis jalan-jalan, eh apa kabar? Baik kan?"tanya ayah asya, juga ibu asya yang menoleh ke Fakhri sembari tersenyum sekilas.
"Baik pak baik."
"Rapi banget tuh? Mau kemana Fakhri?"tanya ibu asya.
"Ah iya habis wisuda pak tadi, singgah dulu ke restoran sekalian makan siang, soalnya laper juga habis dari acara wisuda,"
"Oh selamat ya, semoga ilmunya berkah untuk Fakhri dan bermanfaat, masih jurusan yang kemarin kan? Enggak pindah jurusan gitu,"
"Enggak buk masih yang sama kayak dulu, jurusan hukum,"
"Fakhri, ayok duduk dulu, 5 menit aja berbincang-bincang sebentar, ntar paling dipesankan juga sama istrimu,"
"Ah iya pa, eh tapi bentar dulu ya pak mau kesana dulu bilangkan pesan aja dulu,"
__ADS_1
"Memangnya meja nomor berapa punya Fakhri?"
"Meja nomor 5 pak, disana,"
"Udah jauh banget telpon aja dari sini,"
"Enggak bawa handphone sih pak,"
"Udah duduk aja dulu palingan dipesankan,"
"Masa iya sih teganya istri kamu gak pesankan suaminya,"
"Iya gak mungkin aja tuh, pasti dipesankan,"
"Iya pak ya, hehehe mungkin Fakhri aja yang parnoan takut pas kembali gak ada makanannya,"
Dania menunggu Fakhri, juga daftar menu yang sudah tersedia di meja, ditambah lagi tinggal dirinya dan Fakhri yang belum pesan makanan. Dania berdecak kesal kenapa Fakhri belum kembali juga, padahal izin hanya sebentar.
"Sebenarnya kemana sih Fakhri? Kok belum balik? Mana bingung juga mau pesan apa untuk Fakhri, kalo nasi goreng, gak pas banget soalnya untuk makan siang bukan sarapan pagi, kalau nasi putih plus ayam geprek takut gak sesuai porsi sama Fakhri, soalnya Fakhri kalo makan banyak juga,"
"Dania, ayo pesan makanannya, keburu sore nih, keburu kelaparan nanti,"
"Iya, kamu bingung mau pesan apa?"
"Emm iya, bingung Fakhri suka makanan apa kalo di restoran,"
"Loh selama berumah tangga gak pernah pergi kesini?"
"Ya ampun hemat banget kalian,"
"Iya, lagian anak-anak kalian gak pernah minta, sesuai kemauan ibunya aja,"
Dania hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya dan ibu Fakhri, lalu menceritakan masing-masing peran mereka dalam berumah tangga.
"Emm kak, ya udah ayam geprek jumbo 2 porsi kak, tapi nasi nya tambah lagi ya,"
"Oke kak, minumnya apa kak?"
"Minumnya jus jeruk aja,"
"Oke kak silahkan menunggu sebentar."
"Oke."sahut Dania menganggukkan kepalanya sembari melihat waiters itu telah pergi meninggalkannya.
Dan akhirnya saat Fakhri sudah balik, semuanya sudah selesai makan, sampai-sampai anak-anaknya juga mengeluh saat makan Fakhri tidak berada disana bersamanya.
"Papa, kenapa papa lama banget kekamar mandinya?"
"Iya, papa kayak enggak ke kamar mandi deh,"
"Iya papa lama banget,"
__ADS_1
"Untung aja dipesankan mama, kalo enggak papa enggak makan,"
Fakhri hanya tersenyum mendengar ucapan anak-anaknya, ia langsung duduk disebelah Dania, melihat wajah Dania yang seperti kesal dengannya.
Dania hanya diam saja sembari minum jus, pura-pura tak melihat Fakhri yang sudah duduk disebelahnya.
Fakhri juga masih curi-curi pandang dengan Dania yang sudah selesai minum, juga memakan penutup, Dania tetap pura-pura tidak tahu.
Mendadak penasaran dengan Fakhri terlintas di pikiran dania, ia langsung bertanya.
"Darimana saja tadi? Jumpa dengan teman-teman lama? Kenapa gak bilang dari tadi,"
"Aku tidak membawa telpon, bagaimana aku menelponmu?"
Dania mengerutkan keningnya, mengingat Handphone Fakhri berada di tasnya, membuatnya urung menuduh Fakhri untuk beralasan.
"Jadi? Kenapa lama?"tanya Dania yang masih tak menoleh ke wajah Fakhri.
"Tatap mataku dulu,"bisik Fakhri mendekati Dania.
"Aku sibuk, aku sudah berdiskusi dengan mataku untuk menatapmu, tetapi mataku enggan untuk menuruti permintaanmu,"cibir Dania tak menoleh ke wajah Fakhri.
"Aku bertemu orangtua asya, dia menawarkan sesuatu kepadaku?"
"Apa? Untuk menjadi suami anaknya yang kedua?"
"Dania ingat perkataan itu adalah doa, jadi setidaknya—,"
"Maafkan aku, Baiklah aku sudah meminta maaf,"potong Dania dengan ucapan Fakhri yang menggantung.
Fakhri tersenyum kecut lalu menyeruput jus nya yang sama rasanya dengan Dania.
"Kenapa rasa jus punyaku sama denganmu?"
"Aku bingung mau memilih rasa apa, aku tak sempat berfikir rasa jus apa yang kau suka jadi aku memilih itu saja,"
"Tapi tadi ayah asya menawarkan aku pekerjaan, dan yang herannya kenapa dia tak meletakkan menantunya yang bekerja disana? Kenapa harus aku? Aku juga bingung kenapa ayah asya begitu baik, memang seharusnya aku berterimakasih tetapi membuatku berburuk sangka juga,"
"Karena?"tanya Dania spontan.
"Karena, aku dulu, sering diajak kesana, juga orangtuanya sangat ramah denganku, sampai-sampai dia mengatakan dia lebih suka denganku daripada dengan menantunya,"
"Sudahlah nanti kita bicarakan dirumah, disini ramai,"
"Hei kalian ini bicarakan apa?"tanya ibu Fakhri yang juga berada didepan Fakhri.
"Tampaknya berbisik-bisik juga nek."sahut fakran dengan ibu Fakhri.
"Mungkin merencanakan punya adik lagi,"balas ibu Fakhri, membuat fakran yakin jika itu benar.
Lalu fakran tertawa geli juga ibu Fakhri yang melihat mereka sedari tadi berbicara, juga duduk bersebelahan.
__ADS_1
Saat pulang, Dania mengendarai mobil dengan sedang, juga didalam mobil itu ada orangtua Fakhri juga.