3 Anak Genius Mencari Ayah

3 Anak Genius Mencari Ayah
Calon mantu?


__ADS_3

Di mobil, sefira dan Chandra kembali terdiam, sebenarnya Chandra ingin bertanya lagi tentang sefira yang agak begitu tidak mengerti tentang bagaimana resiko mencintai, walaupun dirinya pernah ditinggal tunangan, tapi dari situlah sudah membuat Chandra jera untuk mencintai wanita, tapi saat ia bekerja di ABRAHAM GRUP, melihat sefira, kenapa hatinya kembali jatuh cinta dengan sefira? Ditambah lagi saat melihat wajah sefira hatinya terasa nyaman.


Namun setelah mengetahui anak bos nya ingin menikah dengan sefira, ia mundur dan berusaha ikhlas, namun sama saja, dalvino mencoba menghindari wanita itu tapi wanita itu tetap ingin bersama dengan dalvino, yakni sefira.


Sefira melihat handphonenya, agar betah didalam mobil, juga Chandra yang sudah mengantuk menunggu macet yang tak usai sedari tadi.


Sesekali Chandra menoleh ke sefira yang masih bermain handphone, tangannya dengan lancar mengetik lalu tertawa, ia berfikir mungkin sefira sudah memiliki kekasih baru untuk pengganti dalvino atau sudah move on tapi rasa penasarannya memuncak melihat sefira yang masih betah dengan handphone nya.


Chandra berdehem"Kau sudah menemukan pengganti untuk dalvino? Dan, apa yang membuatmu jatuh cinta dengan dalvino? Sedangkan dalvino tidak mencintaimu."tanya Chandra.


"Kau tak perlu bertanya tentang itu."jawab sefira masih melihat ponselnya.


"Kurasa sebentar lagi dalvino akan menikah dengan Saskia, kudengar pernikahan mereka sebentar lagi terlaksana, apakah kau—."


"Oh ya! Untung saja aku sudah menemukan pasangan untuk pergi kesana!"Tekas sefira memotong ucapan Chandra.


"Benarkah? Buktinya kuperhatikan hari-hari mu selalu murung, selalu ingin kesibukan saja, lagian tidak pernah kulihat ada lelaki yang menjemputmu pulang kerja."ujar Chandra.


"Ya, sebenarnya aku ingin keluar namun perusahaan itu masih membutuhkanku, lagian selagi aku masih bisa pergi sendiri, kenapa aku tidak pergi sendiri saja? Selagi masih sehat aku masih bisa kesana dan kesini juga—,"


"Mendekati dalvino?"tanya Chandra memotong ucapan sefira.


"Apa imbalannya jika kau bisa membantuku melupakan dalvino?"tanya sefira bosan, menyimpan ponselnya dan melipat tangannya.


Chandra mengernyit heran, kata-kata seperti itu tak terduga baginya, ia bertanya-tanya sendiri kenapa bisa sefira berkata seperti itu? Layaknya seperti mimpi tapi nyata ia dengar dari telinganya, ia terdiam berfikir keras, antara tak percaya dan mencari cara agar sefira bisa melupakan dalvino, jika menikah dengannya itu percuma, karena sefira sudah mengatakan kepada dirinya kalau melihat dirinya sefira seperti teringat dengan dalvino.


Padahal Chandra juga naksir kepadanya namun siapa sangka hal itu akan terjadi, dan sefira tak bisa membedakan dalvino dan Chandra, ia terdiam dan perlahan juga kemacetan berkurang, dan mobil perlahan bisa berjalan dan tak lama macet pun usai, Chandra mengemudikan mobil laju menuju rumah sefira dulu, karena tuan Abraham sudah bertanya, dan mengingat itu, Chandra ingin tertawa melihat sefira.


"Kau menuju rumahku dulu kan?"tanya sefira tak menoleh ke Chandra.


"Pagar rumahmu terbuka lebar untukku kan?"tanya Chandra yang bertanya balik.


"Terserah mu saja."jawab sefira datar.


Chandra tertawa kecil"Kau sudah kehabisan kata-kata pedas untuk menghindar dariku?"


"Mungkin, cepatlah kurasa AC di mobil mu kurang terasa nyaman bagiku."


Chandra tertawa sedikit mendengar ucapan sefira"Maaf tuan sefira, rencana juga aku ingin membeli mobil Alphard, tapi aku harus mengumpulkan uang mahar dulu."


"Uang mahar? Kau ingin menikah?"tanya sefira spontan dan menoleh ke Chandra.


"Tidak, jika menikah aku sudah ada uangnya, tidak buru-buru mengumpulkan uang lagi, dan jika aku membeli mobil itu bisa saja, tapi aku harus memikirkan masa depanku."


"Semoga cepat diberi momongan ya,"


"Aku belum menikah, dan calonnya juga belum ada, jadi jangan menyangka kalau aku ingin menikah."ujar Chandra.


"Terserah mu saja, semoga cepat terkabul."ucap sefira dingin.


...****************...


Sampai dirumah sefira, Chandra mengklakson rumah sefira, dan akhirnya pagar terbuka, Chandra langsung memasukkan mobilnya ke halaman rumah sefira, mewah dan megah, namun terlihat sepi.

__ADS_1


Sefira membuka pintu mobil Chandra, namun tidak bisa.


Chandra dengan menahan tawanya menekan tombol kunci pintu mobil, dan akhirnya sefira keluar dengan buru-buru, ia seperti tak ingin Chandra mengikutinya juga, dan akhirnya Chandra menunggu dimobil sambil bersandar melihat ponselnya.


Saat sefira membuka pintu rumah, terlihat nyonya dan tuan munaldi, yakni ayah dan ibu sefira, langsung saja sefira menyalami ayah ibunya.


"Cepat sekali pulang? Dan sepertinya tergesa-gesa, ada apa?"tanya nyonya munaldi penuh selidik.


"Iya ada berkas yang tertinggal dirumah,"jawab sefira melihat wajah ibunya, namun rasa dihatinya ingin cepat pergi dari pertanyaan ibunya.


"Dengan siapa kau pulang?"tanya nyonya Munaldi, namun sefira sudah pergi ke kamarnya.


Sampai dikamar, sefira langsung membuka lemari bukunya, dan mengambil berkas yang ia cari, sefira langsung keluar dari kamar membawa berkas itu.


Namun sampai di ruang tamu, masih ada nyonya dan tuan Munaldi disana.


"Pa, ma, sefira berangkat kerja dulu ya!"ucap sefira menoleh sekilas ke ayah ibunya sekilas.


"Tunggu dulu!"ucapan itu langsung membuat sefira berhenti, menoleh ke asal suara, ternyata nyonya sefira.


Sefira langsung menghela nafasnya berjalan ke orangtuanya.


"Papa lihat didepan ada mobil, mobil siapa itu?"


"Mobil temanku pa, dia menemaniku mengambil berkas ini, jadi dia tadi sefira ajak masuk kerumah tapi dia tak mau!"jawab sefira spontan, ia tak ingin membicarakan Chandra yang menunggunya dan kejadian saat ia ingin naik gojek.


"Bukan laki-laki?"tanya tuan Munaldi.


"Tidak pa! Ya udah sefira berangkat ya, takutnya telat!"


"Jika sefira tak betah disana keluar saja, tidak usah dipaksa bekerja disana!"ketus tuan Munaldi.


"Oke pa, aman!!"ucap sefira langsung pergi.


"Papa, kenapa ngomong seperti itu kepada sefira, seharusnya biar kita lihat saja sampai mana sefira betah disana, mana tau papa masih marah dengan keluarga Abraham, tapi mereka tak mau kehilangan sekertaris diperusahaan mereka, jika mereka kehilangan, naman perusahaan mereka bertambah tidak baik."


"Terserah mama saja!"ketus papa sefira, dan watak tuan Munaldi sangat persis seperti sefira, namun karena iming-iming kehilangan sekertaris diperusahaan pak Abraham, sefira masih disana walaupun dalvino tak jadi dengan sefira.


...****************...


Dan tempat berikutnya adalah rumah Chandra, sampai dirumah Chandra sefira ikut turun, ia merasa gerah tak nyaman didalam mobil Chandra.


Chandra juga sudah keluar mobil, ia menoleh ke sefira yang mengibaskan rambutnya yang terasa gerah, ia terus memandanginya seperti pemandangan yang jarang ia temui.


Sefira merasa lebih baik ditambah dengan hembusan angin perlahan menerpa dirinya, ia menoleh ke Chandra yang melihatnya dengan termenung, ia langsung panik dan menepuk pundak Chandra dengan berkas ditangannya.


"Eh, kau ingin masuk?"tanya Chandra didepan sefira dengan tangannya sudah menenteng sebuah plastik besar berisi 5 kotak susu untuk ibunya.


"Enggak! Disini aja."jawab sefira ketus.


Namun seseorang melihat mereka berdua dari belakang mereka.


"Chandra? Kenapa kau pulang?"tanya seseorang dari belakang mereka, dan ternyata itu adalah kakak Chandra, Caca.

__ADS_1


"Eh kakak,"chandra langsung menyalami kakaknya, kakaknya juga tersenyum melihat Chandra, lalu pandangan kakaknha tertuju ke sefira yang kini berada dibelakang sefira.


"Dia siapa? Calon mantu untuk mama?"tanya Caca menunjuk sefira yang masih panik.


"Eh iya kak, namanya sefira Munaldi, dipanggil sefira."jawab Chandra yang memperkenalkan sefira yang kini disampingnya.


"Em kak saya bukan calon, saya teman kerjanya Chandra, saya sekertaris di tempat kerja Chandra."sahut sefira yang kemudian menyalami Caca dan raut wajahnya tetap panik.


Caca tertawa"Tidak apa-apa, calon juga ga apa-apa, karena Chandra ini lama banget dapat pacar baru setelah diselingkuhin sama mantannya, yaa mana tau kamu yang jadi penggantinya, ya kan?"


"Eh enggak kok kak! Saya cuma temen bukan pacar dia!"seru sefira masih tak mengakui dirinya pacar Chandra.


"Ga apa-apa, kakak juga dulu ya seperti itu, pertamanya temen kerja malah jadi temen hidup, kan jodoh ga ada yang tau! ya kan! Ya udah yuk masuk!"ajak Caca mengajak Chandra dan sefira masuk rumah.


Sefira yang merasa terjebak terus merasa dirinya bodoh dan sangat keterlaluan, merasa menyesal sudah ikut dengan Chandra.


Sefira melihat rumah Chandra yang tampak sederhana namun mewah, memiliki halaman lumayan luas dan berbeda dengan rumahnya, ia membayangkan jika dirumah Chandra pasti panas dan pengap tapi dia tak bisa menolak ajakan dari kakak chandra, ia merasa kakak Chandra sudah membuatnya bertekuk lutut menuruti permintaannya.


Sampai didalam rumah Chandra, tampak ada seorang wanita paruh baya duduk di depan ruang tv, memakai kursi roda dan bersandar, sefira yang berjalan disebelah Chandra melihat wanita itu, tampak tenang dan Chandra mengajaknya ke wanita itu.


Setelah didepan wanita itu, ia tersenyum melihat Chandra yang menyalaminya juga sefira yang ikut menyalami.


Wanita itu tersenyum melihat sefira dan menggenggam tangan sefira"Cantik, kau pacar Chandra? Kau pasti wanita baik."ucap wanita itu yang juga bertanya, senyumnya masih mengembang melihat sefira yang memasang wajah datar didepannya.


Senyuman sefira langsung merekah mendengar ucapan wanita itu"Saya bukan pacar Chandra Bu, saya hanya teman."


Chandra yang tersenyum melihat ibunya tersenyum senang melihat sefira menjadi murung mendengar ucapan sefira, rasa hatinya ingin mengatakan sefira pacarnya menjadi urung karena sefira sudah mengatakan itu.


Wanita itu tetap tersenyum"Tidak apa-apa, cinta bisa muncul tiba-tiba dan menghilang secara tiba-tiba, intinya kita siap untuk mengikhlaskannya."


Sefira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ibu, ini susunya, Chandra membeli banyak stok biar tidak bolak-balik membeli susu."


Wanita itu menoleh ke Chandra"Ya ampun ini susunya mahal kenapa banyak yang dibeli? Nanti berkurang tabungan Chandra kalau beli banyak?"


"Chandra pengen beli banyak untuk ibu, dan sekarang sudah terwujud, Chandra pengen ibu sehat seperti dulu lagi,"jawab Chandra.


Sefira menoleh sekilas ke Chandra lalu menoleh ke wanita itu lagi, ia mengetahui jika itu adalah ibu Chandra dan juga baru tahu jika Chandra pernah putus tunangan dan hampir sama seperti dirinya, tetapi dirinya Batal menikah.


"Ibu, Chandra izin ya mau pergi bekerja lagi, nanti kalau ada terjadi apa-apa telpon aja Chandra."


"Ga usah, nanti ganggu kamu, mending kamu kerja aja cari uang yang banyak untuk menikah, iya kan sefira?"ucap ini Chandra lalu bertanya dengan sefira.


Sefira merunduk langsung tersenyum menoleh ke ibu Chandra, ia langsung mengangguk.


"Sudah ya Bu, kami balik ya!"seru Chandra lalu menyalami ibunya dengan takzim.


Setelah Chandra menyalami ibunya sefira juga menyalami ibunya Chandra.


"Hati-hati ya."sahut ibu Chandra.


"Oke Bu!"jawab Chandra bersemangat.

__ADS_1


...****************...


Di jalan, sefira termenung teringat tentang dirinya saat gagal menikah dengan dalvino, pertunangan itu sudah disetujui orangtua kedua pihak tetapi tidak dengan dalvino, ia merasa putus asa ingin keluar dari perusahaan ayah Dalvino, rasanya kapan lagi ia bebas dengan merebut dalvino dari Saskia, tetapi ia ingin tak ada orang yang tau selain Windi juga pak Abraham.


__ADS_2