
Dania menghela nafas panjang melihat Fakhri yang tak mengangkat telponnya, padahal Fakhri sudah berjanji sesibuk apapun dia akan meluangkan kesempatan untuk menelpon dania. Namun kini nihil, Dania terus menelponnya hingga sampai 20 kali, nomornya berdering namun tidak diangkat.
Kini sudah yang ke 21 kali, Dania berharap penuh jika Fakhri mengangkat telponnya namun tidak juga, ia resah dengan Fakhri.
Dan soal dari chat, Dania sudah 100 kali juga Fakhri tak merespon, ia mengabaikannya.
"Dania, Fakhri tak mengangkat telponnya?"tanya ibu Dania yang mendekati Dania lalu duduk disampingnya.
"Tidak Bu, padahal ... Dia sudah berjanji sesibuk apapun dia akan mengangkat telponnya, menghubungiku, tapi tidak Bu, Fakhri berbohong,"jawab Dania bingung.
"Semoga tak terjadi apa-apa dengan Fakhri."ucap ibunya turut khawatir.
Dania merasa kepalanya sangat pusing memikirkan dimana Fakhri dan juga dimana handphone nya, kenapa dia seperti ini.
****
Sedangkan Fakhri, di taman dekat kampusnya, hampir dalam 1 harian disibukkan dengan hal asya, yakni teman 1 prodi juga 1 kelas, padahal asya sudah punya pacar dan tetap juga ingin dekat dengan Fakhri. Sebenarnya Fakhri sudah risih dengan asya yang sangat suka mendekati Fakhri.
"Fakhri, jika penulisan proposal ini salah, bagaimana? Aku takut salah, semalam aku sudah menulis isi proposal ini sebagian, tapi aku ubah lagi, coba beritahu deh apalagi yang harus diisi, lagian aku males nulis terlalu panjang, soalnya kau tau kan tentang diriku, hal yang banyak seperti ini hanya membuat kepalaku pusing."tanya asya sedikit manja.
"Jika pusing kenapa kau tidak mencari arka saja?"tanya Fakhri tak menatap asya.
Asya terkejut dan langsung mencubit paha Fakhri yang berada disebelahnya.
Fakhri langsung terasa kesakitan, rasanya ingin menghindar secara permanen atau tak sampai melihat wajahnya lagi daripada dekat dengan asya.
"Fakhri, aku enggak tau soal ini, bener-bener ga tau, kalo aku tau aku gak perlu nanya ke kamu."tekas asya menggerutu.
"Kalo kamu ga tau kenapa kamu ada bilang ada? Sampai separuh isi lagi, jadi kenapa harus bertanya denganku?"tanya Fakhri menoleh sekilas ke asya.
"Kau ingin kemana? Kenapa seperti ingin menjauhiku?"tanya asya murung.
Fakhri menoleh ke asya lalu mendekatkan wajahnya ke asya yang menatapnya juga"Kau kemarin mengatakan sangat mencintai arka, apa kau tak takut dengannya, atau jika arka tau kau bahagia melihat aku babak belur dengannya? Sudah cukup tentang yang kemarin asya!!"ketusnya dingin.
Asya terkejut dan heran melihat tingkah Fakhri yang seperti benar-benar menghindar darinya.
__ADS_1
"Aku, aku memang mencintai arka, tapi ... Aku membutuhkanmu."
Fakhri menjauh sedikit dan melihat sekitar, menghela nafas panjang"Kau tidak pernah bertanya dengan arka? Menurutku arka tau hal seperti ini, bahkan dia juga tau jika kau masih dekat denganku."
Asya merasa sangat tersinggung dengan omongan Fakhri, mencoba menahan air matanya yang ingin menetes. Namun tidak, asya akhirnya menangis disebelah Fakhri dan terus menghapus air matanya.
"Untuk apa kau menangis? Bukankah omonganku benar?"tanya Fakhri, ia meraba kantongnya mencari handphone nya, namun tidak ada. Merasa jika dia meletakkan handphonenya di kantongnya.
"Arka benar-benar menghilang! Dia mengganti nomor WhatsApp nya! Memblokir akun Instagram ku, aku bingung mencarinya kemana! Aku memang mencintainya tapi ..."
"Asya, kau ada melihat handphone ku?"
Asya terkejut berusaha pura-pura tak mengetahui dimana handphone Fakhri, nyatanya ia yang menyembunyikannya.
Fakhri mencari di tasnya namun tidak ada, ia langsung ingin ke kost nya"Aku pergi ke kost ku ya, nanti aku kesini lagi!",
"Tunggu dulu, ajarkan aku cara mengisinya!Atau tidak jika kau ajarkan aku, akan ku traktir makan di restoran! Kau bisa memesan apapun yang kau mau!"bujuk asya melihat Fakhri yang sudah berdiri beranjak pergi, namun ditahan asya.
"Asya aku ingin mencari handphone ku dulu! Contoh proposalnya ada di handphone ku, biar aku kirimkan biar kau tau,"Fakhri mencoba untuk pergi secara halus dengan alasan mengirim contoh namun nihil, asya sangat menahannya.
Fakhri resah dengan sikap asya yang tak tau bagaimana dengan sifat pacarnya namun ia tak peduli, seperti berusaha keras agar Fakhri tak pergi sebelum proposalnya selesai.
"Kau seperti tak tau dengan sifat arka! Arka itu tidak suka jika aku mendekatimu!!"
Dan lagi-lagi asya menahan Fakhri.
"Iya aku tau, tetapi dia tidak ada disini! Dia pergi menjauhiku!! Aku juga tidak tau kapan dia ada di dekatku lagi!!"
"Dia mengancam ku!! Dia ada dimana-mana, dia bisa tau kapan aku mendekatimu!"
"Jika memang tau kenapa dia tidak datang kesini! Aku juga membutuhkannya kenapa dia menjauh!!"
"Itu karena aku!! Karena aku asya!"ketus Fakhri menunjuk dirinya.
Asya merasa tak percaya dengan yang dikatakan Fakhri, padahal asya memang sangat membutuhkan Fakhri namun semenjak ada arka, kedekatannya dengan Fakhri seolah-olah hancur, tapi jika arka menghargainya sebagai pacar, kenapa tak pernah datang saat dia butuh.
__ADS_1
Fakhri kembali duduk didekat asya, dan melihat asya yang murung merasa tak habis fikir dengan apa yang dikatakan Fakhri.
Asya mengambil tasnya, mengambil sesuatu dan ternyata itu handphone Fakhri.
Fakhri menyungging senyum diwajahnya yang tau jika asya memang mencarinya namun berusaha menahan Fakhri agar tak pergi, terus menemani asya bagaimana cara membuat proposal.
Asya memberikan handphone Fakhri, dan menatapnya"Darimana kau mendapatkan contoh proposal?"
"Dari internet."Jawab Fakhri singkat, namun kali ini penuh pertanyaan dibenaknya saat menatap wajah asya kali ini.
"Apa yang kau fikirkan saat ini? Kenapa semuanya terbengkalai, dulu kau sangat giat dan sangat bisa untuk menyiapkan tugas, kukira kau sudah selesai membuat proposal itu, ternyata dugaanku tidak!! Aku merasa dirimu berbeda, sangat jauh berbeda seperti yang dulu."
Asya terdiam, ia tau apa yang Fakhri katakan, merunduk lagi.
"Kau memikirkan Fakhri? Dia sudah berusia 3 tahun, dan dia baik-baik saja denganku, dan kau mau tau kenapa dia tak pernah kuizinkan bertemu denganmu? Karena jika aku memberikan dia bertemu denganmu, kalian takkan bisa berpisah lagi, dan jika denganmu, kau kamu menikah disaat seperti ini? Atau ini siasat mu dengan arka, menikah sembari kuliah, soalnya kau dan arka ..."
"Cukup Fakhri, cukup!!"potong asya yang masih tak menatap wajah Fakhri, dihati asya, ia merasa tak ingin jumpa dengan anaknya lagi, ia menyesali perbuatannya namun dia belum tau kapan arka bertemu dengan Fakhri.
"Kapan kau bertemu dengan arka? Dimana?!"sambungnya dengan menanyakan arka.
"Aku bertemu dengannya di kampus, dia mengancam ku, tapi pacarnya seolah-olah tak pernah memikirkan kapan pacarnya cemburu."
"Aku sudah menanyakan dia tentangmu!! Boleh atau tidak aku dekat denganmu!! Dia hanya diam dan tak peduli."
"Tapi jika aku mengatakan jika kau mendekatiku lagi apa kau tak peduli dengan perasaannya? Dan sekarang kau masih merasa masih dicintai dengan arka atau tidak?! Kau pernah melihat dia cara dia mencintaimu atau tidak?! Jika kau tidak tau kapan dia cemburu, itu sangat mencurigakan, bisa saja ..."
"Bisa saja arka mendekatiku hanya pelampiasan atau bukan prioritasnya!!! Iya kan?!!!"kilah asya menatap wajah Fakhri dengan penuh amarah, ia sangat kesal.
"Jika kau tau ya sudah,"balas Fakhri menatap asya dengan geram, lalu cuek.
"Siapa itu Dania?"tanya asya tak menoleh ke Fakhri.
"Dia itu istriku."balas Fakhri.
Asya terkejut dan tak pernah mengira jika Fakhri tak memberitahu jika sudah menikah, tapi jika Dania mengatakan kalau Fakhri berbohong itu tidak bisa, karena Fakhri selalu jujur dan tak pernah sedikitpun berbohong selama dekat dengannya.
__ADS_1
"Selamat menempuh hidup baru ya, semoga sampai anak cucu."