
"Ayah, fakran mau tidur!"rengek fakran kemudian menguap, ia mengucek matanya yang sayu.
Fakhri menoleh ke fakran dan tersenyum"Pangeran ayah sudah lelah? Ya sudah ayo, ibu tidak diajak?"
Fakran yang bangkit menoleh ke Dania yang masih menonton TV"Ibu, fakran ngantuk,"
Dania menoleh ke fakran"Fakran sudah mengantuk, baiklah ayo ke kamar,"Dania berjalan mendekati fakran"Ibu juga menunggu fakran untuk tidur, soalnya sudah lewat jam."Dania tersenyum mengingat saat tidak ada Fakhri, fakran tidur di jam 8 malam, dan kini saat Fakhri ada dirumah sering tidur saat jam 9.
Fakran mengangguk, lalu berjalan menuju kamar diiringi dengan Fakhri disampingnya, dan Dania dibelakang.
Sampai dikamar, fakran tidur di kamar yang sudah Dania siapkan sejak awal fakran datang, dan ditemani dahulu dengan Fakhri.
Dania masuk ke kamarnya, melihat kalender dan tertuju ke tanggal yang ia tandai dengan tinta pulpen berwarna hitam, yakni jadwal ia lahiran, Dania duduk di bibir tempat tidur mengambil handphonenya terlintas dipikirannya tentang nasihat dokter jika kontraksinya sudah terjadi tepat waktunya itu bertanda anaknya akan lahir, tetapi ia mengingat sedari siang tidak ada terasa apapun.
Bersandar di dinding kamar, melihat perutnya yang sudah semakin besar, lalu mengelus perutnya"Hey, kau ini bayi laki-laki atau perempuan? Jika salah satu dari kalian ada yang berbeda, aku tetap menjaga kalian semua."ucap Dania kemudian tersenyum.
Mendadak ia merasakan panas ditubuhnya, Dania langsung mengambil remote AC yang terletak dimeja sebelah tempat tidur, menaikkan suhu AC yang menurutnya cocok, tetapi tidak juga, Dania menekan ke suhu paling tinggi namun ia terasa gerah, ia mematikan AC lalu beranjak ke jendela, membuka gorden jendela dan kaca, Dania menghirup udara segar menikmati semilir angin yang menerpa dirinya.
"Kau kenapa?"tanya seseorang dari belakang, Dania terkejut lalu menoleh ke belakangnya.
Fakhri tersenyum manis saat Dania menoleh ke dirinya, Dania pun menghela nafasnya dan tersenyum juga.
"Kenapa belum tidur?"tanya Fakhri lagi, duduk di bangku yang berada didepan jendela itu.
"Hawa badanku terasa panas, aku sudah menghidupkan AC sampai suhu tinggi tapi tetap gerah juga."jawab Dania dengan gelisah.
"Apakah itu suatu pertanda?"tanya Fakhri intens tatapannya tak lekat dari perut Dania.
Dania menoleh ke arah Fakhri melihat"Maksudmu? Aku kan lahiran?"
Fakhri menganggukkan kepalanya, memastikan itu benar namun itu hanya tebakannya saja.
"Jika aku akan lahiran, aku pasti merasakan dari ... Tunggu aku ke kamar mandi dulu."Dania langsung pergi ke kamar mandi, merasa sesak ingin buang air kecil.
Fakhri masih berfikir, firasatnya bertuju kepada kehamilan Dania, ia juga tak ingin pulang ke Jakarta dahulu karena tebakannya Dania akan lahiran, dan dia sudah berjanji kepada Dania akan menemani sampai Dania lahiran.
Sedangkan Dania, ia yang baru keluar dari kamar mandi, merasakan seperti ada gumpalan yang keluar tetapi terasa seperti air yang keluar, ia memegang perutnya yang perlahan menyakitinya, menoleh sekeliling kamar yang sudah ada ibunya yang menoleh ke dirinya.
"Dania, apakah sudah keluar tanda?"tanya ibu Dania khawatir.
Wajah Dania panik, ia mengangguk, mengelus perutnya yang menurutnya ini adalah waktunya untuk lari kerumah sakit.
"Ibu, kurasa ini sudah waktunya."lirih Dania.
*****
Para suster mengiringi brankar membawa ke ruang bersalin dengan Dania yang sudah terbaring di brankar, Dania sudah merasakan kontraksi hebat di perutnya, ia tak menyangka padahal tadi siang tak merasakan apapun, dan dimalam ini dia merasakannya.
__ADS_1
Fakhri dan juga ibu Dania mengikuti dari belakang, sampai diruang bersalin Fakhri dan ibu Dania dilarang masuk.
Ibu Dania berdoa berharap anak bungsunya sehat dan bayinya juga sehat.
Dan Fakhri juga begitu, ia berharap Dania tetap sehat juga dengan bayinya.
****
Di perusahan pak Abraham, dalvino duduk di kursi jabatannya dengan memainkan bolpoin di jarinya, ia fokus berfikir dengan maksud yang dimimpikannya semalam, jika diceritakan pada ibunya juga ayahnya, makan dalvino akan dihusir dari rumah, dan tepat saja seseorang yang ia tunggu akhirnya datang juga, yakni Chandra. Teman tempat ia bercerita apapun yang ingin dalvino sampaikan.
"Permisi, waktunya tanda tangan untuk boss ..."
"Tunggu dulu! Cepat duduk di depanku!!"perintah dalvino menyuruh Chandra duduk didepannya yang sudah tersedia kursi juga meja.
"Oke!! Kutebak kau pasti ada masalah! Kenapa? Saskia hamil?"
"Tidak, aku bermimpi aneh semalam."
"Apa? Apa isi dari mimpi itu?"
"Isinya, aku melihat 3 bayi, bayi yang wajahnya mirip dengan wanita itu,"
"Dania? Dania melahirkan?"
"Kurasa dia sudah melahirkan anakku."
"Kurasa tidak, dia tak ingin menunjukkan wajahnya didepanku,"dalvino bersandar di sandaran kursi"Tapi kuharap walaupun Dania tak menunjukkannya kepadaku, anak-anak itu dengan sendirinya datang kepadaku."harap dalvino mengingat mimpi itu.
"Bagaimana dengan kabar Saskia? Dia sudah mengandung atau belum?"tanya Chandra.
"Bagaimana dengan sefira? Apakah dia setuju untuk menikah denganmu?"tanya dalvino menatap intens Chandra.
Mendengar pertanyaan itu Chandra langsung tertawa, ia tak menyangka dalvino akan menanyakan hal itu kepadanya, ia tertawa terbahak-bahak mengingat pertanyaan yang dilontarkan dalvino.
"Jika aku sudah berhasil melamarnya, aku akan memberitahukan mu, aku sangat mengenalmu dalvino, jika ada pertanyaan yang kulontarkan kepadamu, lalu kau bertanya balik berarti jawabannya tidak atau belum!"Chandra kembali tertawa lagi.
Dalvino tersenyum kecut melihat tingkah Chandra yang hafal dengan sifat dirinya.
"Bisa saja anak dari benihmu itu sudah ia gugurkan? Soalnya dia kan orang kaya, jika ada hal seperti itu dia bisa saja menggugurkannya dengan cepat."sambung Chandra lagi.
Dalvino terdiam, dia termenung ada benarnya juga yang dikatakan Chandra, kapanpun bisa saja digugurkan.
"Bisa juga, ya sudah mana yang ingin ditanda tangani?"
"Seperti biasa."jawab Chandra.
Dalvino mengurungkan niatnya ingin menandatangani surat itu, ia menoleh ke samping dan mengambil air minum.
__ADS_1
Chandra yang memandangi ulah dalvino langsung mencari bagian mana yang ditandatangani, lalu menunjuk"Nah disini, disini."
Dalvino pura-pura acuh perlahan ia mengambil bolpoin lalu menandatanganinya.
Chandra bangkit lalu mengambil surat itu yang sudah ditandatangani dalvino"Oke terimakasih, selamat bersenang-senang!"Chandra pamit menunduk, lalu pergi ke pintu meninggalkan dalvino.
*****
Dokter keluar dari ruangan bersalin, dan mendekati Fakhri"Dari keluarga Dania pak?"tanya dokter itu.
Fakhri langsung menoleh ke asal suara, langsung mengangguk"Iya, saya dari keluarga Dania buk, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, ibunya sehat, dan bayinya sudah sehat."jawab dokter dengan tersenyum.
Ibu Dania juga Fakhri mengucapkan Alhamdulillah, dan disusul dengan ayah Dania yang baru sampai.
"Bagaimana kabar Dania? Dia sehat?"tanya pak ramdi menoleh ke Fakhri dan ibu Dania.
"Alhamdulillah sehat pa, anak kita sehat,"ucap ibu Dania bahagia lalu memeluk suaminya.
"Lalu saya ingin menyampaikan hal lagi, bahwa Dania juga lahiran dengan normal, tidak Caesar, dan ketiga anaknya sehat-sehat."ucap dokter bahagia.
Fakhri, dan juga ayah ibu Dania tercengang, saat USG dokter hanya memberitahu jika anak Dania hanya kembar 2, tetapi kenapa 3?
"Buk, buk dokter? Ibu ga salah bilang?"tanya Fakhri dengan penasaran.
"Tidak pak, silahkan masuk pak."ucap dokter itu kemudian mempersilahkan Fakhri masuk ke ruangan bersalin Dania, ayah ibu Dania juga mengikuti dari belakang.
Dan benar saja, bayi yang dilahirkan Dania ada 3, dan sepertinya jenis kelaminnya juga ada yang berbeda.
Fakhri menoleh ke papan nama di tempat tidur bayi itu, sudah tertulis nama dari ketiga anaknya.
Di Paling pertama, bertuliskan nama Fidian El Fakhri. Kedua bertuliskan nama Farasya El Fakhri, dan yang ketiga Feyadhria El Fakhri.
Fakhri tak menyangka jika Dania sudah mempersiapkan nama-nama mereka dan di ujung nama anak itu ada nama dirinya. Ia terharu lalu menoleh ke dania yang sedang tersenyum melihat dirinya.
"Kau terkejut?"tanya Dania dengan infus yang masih terpasang di nadi tangannya.
Fakhri mendekati Dania lalu menggapai tangan Dania lalu menciumi tangan itu.
"Aku sangat bersyukur kau selamat, aku sangat bersyukur Tuhan masih mempertemukan kita,"
"Kau kira aku ..."
"Sudah-sudah, jangan mengatakan yang tidak-tidak!!"seru Fakhri memotong ucapan Dania, ia mengira pasti Dania akan mengatakan membuatnya tambah kehilangan.
Dania tertawa lalu menoleh ibunya yang terharu melihat dirinya.
__ADS_1