
Asya duduk di bangku halaman kampus, sedari tadi memandang layar handphonenya ia berharap chatnya dibalas, melihat Fakhri yang aktif tadi sempat membuat asya mencoba chatnya walaupun tak kunjung dibalas, sudah banyak asya mengirimkan chat ke Fakhri namun kunjung tak terbalas, ia merasa kali ini sudah sangat depresi melihat tingkah Fakhri yang menurutnya diluar perkiraannya.
Melihat sekelilingnya, banyak orang yang berlalu lalang dan sesekali menegurnya, tetapi tidak mendekatinya. Asya merasa semenjak ia dekat dengan Fakhri tak ada teman sekelasnya lagi yang mendekatinya terkecuali ada maunya seperti meminta hospot sebentar, meminjam pulpen, dan penghapus.
Terlintas dipikirannya ingin pergi ke kantor prodi, menanyakan kepada ketua prodi jurusan di kampusnya, yaitu jurusan hukum, mengingat sudah diambang sidang dan butuh banyak berlatih saat menghadapi dosen, ia juga mengingat apakah Fakhri sudah mendaftar sidang dan apakah skripsinya sudah selesai. Sekarang ia merasa frustasi ia sudah menganggap Fakhri adalah sahabat sejatinya saat kuliah. Namun sekarang kenapa begitu tega meninggalkan dirinya begitu saja, terlintas dipikirannya apakah Fakhri menunda skripsinya serta wisudanya dahulu?
Jika asya menelpon, dia sedang diambang bingung masih penasaran kenapa Fakhri sampai tak ingin membalas chatnya juga tak ingin mengangkat telponnya. Jika mengangkat telpon hanya sekali dan itupun bukan Fakhri, melainkan Dania.
Asya menghela nafas berat bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat kantor prodi, mungkin dari situ ia bisa mengetahui apa alasannya tidak balik ke kampusnya karena dirinya merasa Fakhri sudah lama tak kembali.
"Hai asya, kau ingin kemana?"tanya seseorang dari belakang.
Langkahnya terhenti mendengar suara tersebut, ia menoleh ke sumber suara dan ternyata teman sekelasnya, Hana.
"Hai, kamu mau kemana?"tanya Hana tersenyum, memandangi wajah asya yang masih kaget.
"Oh kau. Hai juga, aku ingin pergi ke ruang prodi."jawab asya menoleh Hana dengan sekilas, ia melanjutkan berjalan mungkin ia harus menuruti perintah hati kecilnya yaitu bergegas pergi ke kantor prodi.
"Aku juga ingin kesana,"tanya Hana mengikuti langkah asya yang buru-buru pergi ke ruangan itu.
Asya tersenyum tertawa kecil "Ah iya, kau ingin mencari siapa disana?"
"Aku ingin mendatangi dosen pembimbing skripsiku, aku sudah mendapatkan dosen pembimbing, sudah mengetahui dosen siapa yang kuhadapi nanti saat disidang. Tapi dosen pembimbing skripsiku menyuruh datang kesini soalnya saat ia periksa ada yang salah."
Langkah asya terhenti mendengar skripsi, ia teringat Fakhri saat mengajarkannya tata cara membuat skripsi, juga proposal. Tapi akhirnya ia sendiri yang membuat semua itu tanpa bantuan Fakhri, ia merasa dirinya terlalu lama untuk mengerti yang diajarkan Fakhri, kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
Hana yang sempat heran dengan sikap asya langsung ikut menghentikan langkahnya. Saat melihat asya pergi ia langsung mengikuti lagi.
Sampai di ruang prodi, banyak mahasiswa yang harus mengantri didepan dosen jurusannya masing-masing.
Asya yang sudah memasuki pintu masuk langsung mundur.
"Ah ternyata sangat ramai disini, kita menunggu di kantin saja yuk!"ajak Hana.
Asya tak menoleh ke Hana, ia melihat ke bawah"Sebaiknya kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi kita bisa masuk."ucap asya datar.
__ADS_1
Hana menaikkan sebelah alisnya, mengikuti apa yang asya ucapkan"Baiklah, eh tapi kemana Fakhri? Biasanya tuh aku sering lihat kamu sama Fakhri, kamu udah putus ya sama Fakhri?"tanya Hana dengan penasarannya.
"Fakhri pulang kampung, aku enggak pacaran sama dia."jawab asya menoleh ke wajah Hana.
"Ah ga mungkin lah, ini kan kita lagi sibuk-sibuknya mau wisuda, masa iya pulang, kecuali dia ambil perpanjang skripsinya baru bisa pulang kampung."ujar Hana dengan sepengetahuannya.
Asya menoleh ke sekitar lalu wajah Hana"Aku juga bingung dengannya, tidak ada kejelasan, makanya itu aku kesini ingin bertanya kepada kepala prodi apakah Fakhri ada melapor sesuatu, kurasa Fakhri sudah perpanjang skripsinya makanya ia pulang."
"Iya, lagian kalian kenapa pisah, bukannya kalian Deket banget kayak dodol dan kulitnya?"ujar Hana dengan menahan tawanya mengingat saat masih kuliah dulu.
Sedangkan asya yang mengingat itu ingin rasanya ia mengulang semua itu agar terlihat indah, menurutnya saat ia awal berkuliah adalah masa yang sangat bodoh untuk bisa tunduk kepada arka, takut arka pergi tetapi kenyataannya arka benar-benar meninggalkannya dengan alasan benci dengan Fakhri.
"Iya, sebenarnya aku ..."
"Eh kenapa ga tanya sama temen-temen Fakhri yang lain aja? Kamu kan penasaran kenapa Fakhri perpanjang skripsinya, tuh kayak si Fahmi sama Abiya, sama ... Deri juga, itu kan temen-temennya Fakhri. Elu sih suka banget ga bisa lepas dari Fakhri jadinya mereka ga suka Deket sama Fakhri, kayaknya sebaiknya kamu nikah aja sama Fakhri daripada kayak gini terus."cerocos Hana memotong ucapan asya.
Asya yang terlihat galau kembali lagi mengingat saat ia tak disisi Fakhri, dirinya juga tau kalau orang yang disebutkan Hana sering dekat dengan Fakhri apalagi saat pulang kampus, di kost Fakhri sering dikunjungi mereka. Namun asya selalu saja datang ke kost Fakhri lalu mengajak Fakhri keluar.
Hana yang melihat asya bengong langsung menepuk pipinya"Woi kok bengong!!"
"Eh! Ya ampun hana!"ketus asya menoleh ke Hana.
"Emm kamu ada nomor wa si Fahmi ga? Mana tau Fakhri ada bilang sama dia ya kan?"
"Dia, ada ga ya."Hana merogoh tasnya pandangannya melihat ke dalam ruangan kantor prodi, pandangannya menangkap seorang lelaki yang ia kenal, dan pas saja lelaki itu keluar dengan temannya, Hana langsung menegurnya.
"Woi abiyaa!!! Lu udah daftar sidang?"teriaknya memanggil seseorang, berharap lelaki yang ditegurnya menoleh.
Lelaki yang ditegur Hana tersebut langsung menoleh ke sumber suara, ia tersenyum ketika pandangannya tepat menoleh ke Hana.
"Eh Hana, dah lama ga jumpa makin cantik aja ya."ucap lelaki tersebut bernama Abiya, yang dikenal juga teman Fakhri. Abiya bersalaman dengan Hana juga asya.
"Oh iya berarti kita bareng dong sidangnya, kamu jam berapa disuruh Dateng kesini?"
"Tadi bapak itu bilang sih pagi,"
__ADS_1
"Nah nah siapa nama bapaknya?! Siapa-siapa?!!!"
"Pak Ilham."jawab Abiya.
"Nah berarti kita bareng!!"teriak Hana kegirangan.
"Woi suara!!"Tekas Abiya menyuruh Hana memelankan suaranya.
"Iya iya."sahut Hana cengengesan.
"Eh Abiya, kita bisa bicara sebentar ga?"tanya asya.
Abiya langsung menoleh ke arah asya, ia menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan asya.
Asya langsung mendekati Abiya"Fakhri ada bilang sama kamu ga kalo dia pergi? Trus alasannya apa?"
"Oh tau, dia ada cerita sama aku juga sama Deri, kalo dia udah rencana mau pulang, kamu gak tau alasan dia pulang kenapa?"
Asya menggeleng cepat mengakui jika dia benar-benar tidak tau alasan Fakhri pergi.
"Iya katanya istrinya mau lahiran, trus dia udah bilang sama dosen kalo dia tunda wisuda dulu. Gitu ceritanya."
"Gitu aja? Pendek amat!"sahut Hana.
"Ih siapa yang nyahut ya?! Asya kamu denger ga suara itu?"tanya Abiya pura-pura tidak mendengar suara Hana, padahal Hana tepat berada dibelakang mereka.
Asya tertawa kecil"Oh berarti gitu aja ya, ya udah aku pamit duluan ya."asya menoleh ke Abiya juga Hana, kemudian berlari meninggalkan mereka.
Dari jauh seseorang memerhatikan mereka, dengan jaket hitamnya serta matanya yang tajam, melihat asya pergi ia langsung mengikuti kemana asya pergi.
Asya pergi menuju gedung fakultas hukum, berlalu pergi ke gedung paling atas, fikirannya kacau juga hatinya yang tak henti-hentinya berbicara, memaki juga menuduh semua orang tak pernah mengerti dengan perasaannya, mungkin rasanya hari ini ia mengakhiri hidupnya di gedung paling atas kemudian jatuh, berharap nyawanya hilang.
Sampai di gedung paling atas, ia berdiri di ujung menangis sejadi-jadinya lalu berteriak histeris, mengatakan sumpah serapah yang menurutnya puas, lututnya gemetar mungkin hari ini hari terakhir ia hidup. Tak peduli dengan orang tuanya yang mencarinya ia merasa hilang semangat.
Tetapi tidak dari bawah sana, sudah ramai orang mengatakan turun, mengatakan jangan jatuh, mereka berteriak melihat asya yang tak peduli dengan suara mereka.
__ADS_1
Air mata asya masih mengalir di pipinya, ia pusing merasakan badannya melayang hendak menjatuhkan dirinya kebawah, ia terhuyung. Tapi tidak seseorang menarik rambut panjangnya dan terjatuh di pangkuannya.
Mata asya terpejam, mungkin ia tak sadar diri, lelaki yang mengangkat asya tersebut langsung membawanya pergi. Ia adalah akra, kekasih asya.