
*John prov*
"Cih..... tak sudi aku diajarkan Max, apa derajat ku nantinya? kalau tak ada Aisha udah kupukul dia?" kesalku sambil membuka pintu mobil pergi menuju apartemen
Saat menunggu di lampu merah, aku membuka kembali kotak makan siang ku
"Enggak sabaran aku makan mie ayam buatan mu Aisha, ya walaupun udah dingin tapi menurutku pasti lebih enak" kataku sembari tersenyum
Sesampainya di apartemen, aku langsung masuk ke dalamnya menuju dapur mengambil sendok dan garpu
"Maaf tuan, makanan sudah siap di meja depan" kata salah satu pelayan ku
"Untuk kalian saja, kalau tak mau buang!" jawabku dengan nada tinggi
Ku raih kursi di meja dapur dan ku duduki sembari membuka kotak makan ku, ku hirup aroma sedap mie ayam
"Hmmmm.... enak banget aromanya, udah deh ah makan aja langsung enggak usah pake dipanaskan segala!" kataku dan langsung memelintir mie ayamnya dengan garpu dan ku makan
"Hmmmm..... rindu aku makan mie buatannya, kok enak banget yah buatannya?" kataku sambil terus memakan mie ayam
*Max prov*
Selama di perjalanan menuju rumah, aku selalu bersiul siul sambil memegang kotak makan siang Aisha yang sudah jadi milikku
Sesampainya di rumah, akupun langsung ke dapur mengambil sendok dan garpu lalu duduk di depan TV
Adikku Tara, menghampiriku
"Kak, kok lambat pulang sih?" tanyanya sambil duduk di samping ku
"Oh, tadi kakak bantu teman kakak jualan" jawabku sambil menyuap mie ayamnya
"Teman? siapa kak? pacar?" tanyanya lagi hingga membuatku tersedak
"Uhuk.... uhuk....! jangan sembarang ngomong? namanya itu Aisha, dia bukan pacar kakak" kataku tanpa melihat matanya
"Cie.... kakak bohong yah?" tanyanya lagi sambil melihat mie ku
"Enggak lah, ngapain juga bohong?" jawabku
"Kakak biasanya tak suka makan mie, kok kenapa tiba-tiba makan mie, mie buatan pacar kakak yah?" tanyanya lagi
__ADS_1
"Kamu ini! jangan panggil dia pacar kakak! kan udah kakak bilang dia bukan pacar kakak!" ketusku
"Iya deh, aku minta maaf, bagi donk mie nya kek nya enak!" katanya sambil merebut mi ku
"Rasanya benar-benar enak Tara, kalau kau coba pasti mau lagi!" kataku memuji mie ayam buatannya Aisha
Kulihat Tara mencoba mie ayam buatannya Aisha
"Wah..... udah dingin aja nih mienya masih enak banget kak, apalagi kalau hangat-hangat makannya, pasti enaknya luar biasa" pujinya sambil memakan lagi mie ayam
"Eh... jangan diabisin donk, kakak belum makan tahu! kita makan sama-sama aja, yang lambat makan harus harus cuci baju besok, gimana?" tanyaku
"Ok siapa takut, besok abis sekolah kita ke kedainya yah kak, aku mau beli mie ayamnya!" jawabnya
Aku tersenyum tipis dan mengangguk, kami berdua pun makan mie ayam di satu tempat
*Sarah prov*
Ku tapaki jalan di gang menuju kos-an Aisha dengan lesu
"Kau dimana sih, kesayangan ku? kenapa tak pernah muncul lagi di hadapanku?" kataku pada diri sendiri hingga pada akhirnya aku sampai di kos-an Aisha
Aku terkejut melihatnya terbaring dengan masih memakai jilbabnya dengan wajah pucat bahkan lebih pucat dari sebelumnya
Dia membuka matanya dan menggeleng
Aku kemudian mengambil obatnya yang ada di atas meja lalu segelas air dan kuberikan padanya
"Nah, minum dulu" kataku
Ia mencoba duduk dan meminum obatnya lalu diakhiri dengan segelas air habis diteguknya
"Kau lagi sakit, aku tak tega buat omelin kan, tapi kalau besok udah sembuh aku marahin kau Aisha abis abisan!" kataku kesel
"Jangan marah dunk neng, nanti cantiknya ilang lagi" katanya dengan terkekeh kecil
Dalam hatiku, aku merasa sedih melihatnya dalam keadaan seperti ini, hanya demi mencari uang, dia rela sakit-sakitan buat ngumpulin uang
"Sha! emang lu buat apaan sih ngumpulin uang?" tanyaku penasaran
"Setahuku udah 200X kau tanya kek gitu semenjak kita mulai temenan" katanya
__ADS_1
"Ck.... itu bukan jawaban atas pertanyaan ku! kau sampai sekarang enggak pernah jawab pertanyaan ku itu!" kataku lagi
Dia terdiam dan mengalihkan pandangannya, dapat kulihat ada raut wajah sedih terpampang jelas di wajahnya apalagi baru kali ini aku melihatnya sedih
"Sha! ada apa? kok sedih sih? karena pertanyaan ku tadi kah?" kataku mulai panik
Dia menggelengkan kepalanya
"Terus kenapa?" tanyaku
"Kepalaku sakit lagi" jawabnya pelan
"Oh gitu toh, ya sudah aku pamit dulu yah, nanti telpon aja kalau ada apa-apa" kataku dan meninggalkan Aisha sendirian di kos-an nya
Di luar, aku sedih melihatnya seperti itu, mungkin bagi orang luar yang mengenalnya dia itu orang yang lucu, imut, dan periang, tapi hanya aku sendiri yang tahu kalau setiap ia sendirian ia selalu sedih apalagi kalau aku tanyakan tentang uang yang selalu ia kumpulkan
Pada waktu itu, saat aku baru belanja, aku hendak masuk melihat Aisha di kos-an nya, tapi pada saat aku masuk aku melihatnya sedang membuka sarung bantal dan betapa terkejutnya aku melihat banyaknya gumpalan uang yang tertumpuk banyak
Melihat itu aku langsung mengejutkannya
"Astaga Aisha! itu uang apa bank sih? lho nyuri yah?" kataku
"Sembarang! ini hasil jualan mie ayam jauh sebelum kau ada" katanya dengan geram
"Widiih banyak bener duitnya, mau lho buat apaan?" tanyaku pada saat itu untuk pertama kali tapi tak ia jawab
"Uang sebanyak ini pasti udah cukup buat kau beli rumah sama mobil Aisha" kataku lagi
"Itu bukan kebutuhan ku saat ini" katanya dan mulai menghitung gepokan uang
"Ya kalau tak kau belikan itu masa uang sebanyak ini kau simpan aja, apalagi kau tinggal di kos-an kecil mu ini, masa kau tak merasa gerah tinggal disini" kataku lagi
Ia menghela nafasnya dan menatapku
"Sarah, yang namanya tempat tinggal itu tidak harus melihat dari besar kecilnya tempat itu tapi melainkan adakah kenyamanan saat tinggal di tempat itu, dan aku merasa nyaman tinggal disini" jawabnya
"Ya terus tuh banyak gepokan duit mau lu buat apaan?" tanyaku lagi kedua kalinya
"Nanti suatu saat kau pasti tahu apa yang mau aku pakai dengan uang ini" katanya dan memasukkan kembali semua gepokan uang itu kedalam sarung bantal
Tersadar dari lamunan, karena aku dikejutkan oleh suara klakson motor di belakangku dan akupun menyingkir dari jalannya
__ADS_1
"Aku masih penasaran untuk apa dia dan mau beli apa dia dengan uang sebanyak itu, kalau dihitung-hitung mungkin jumlahnya lebih dari 200 juta" kataku dan berjalan masuk ke dalam rumahku yang tak jauh dari kos-an Aisha