
*Max prov*
Aku dan Tara masih berada di tempat yang sama yakni dibawah pohon sedari tadi sambil terus merenung memikirkan Aisha di pundaknya adikku Tara
"Kak, ini mau hujan, yuk pulang!" ajaknya
Aku kemudian berdiri dan kamipun memasuki mobil dan berjalan menuju rumahku
Selama di perjalanan aku sama sekali tak bicara dan terus merenung sampai-sampai aku tak tahu kalau ada pesan what'sapp masuk dari bunyi deringan
Sesampainya di rumah, aku yang masih lesu sedikit terkejut oleh kedatangan tuan Kelvin, yang dari mobilnya aku ketahui
"Itu tuan Kelvin kan kak? tumben dia kesini, ada apa yah?" ujar adikku namun tak ku gubris
Kami berdua yang masih ada di teras rumah dihampiri tuan Kelvin
"Selamat sore tuan, ada apa?" ujarku sopan dan beraut wajah datar
"Apa kau sudah lihat pesan what'sapp ku?"
Aku sedikit bingung lalu meraih ponselku di saku celanaku dan membuka aplikasi WhatsApp ku dan ternyata memang benar ada pesan what'sapp masuk dari tuan Kelvin
"Maafkan saya tuan, saya tidak mendengar kalau ada pesan what'sapp masuk tadi, sampai-sampai harus merepotkan tuan datang kesini" ujarku sedikit menundukkan kepala
"Engg.... kalau kalian ingin bicara panjang lebar, lebih baik kita masuk, biar aku buatkan tes panas" ucap Tara menengahi kami lalu membuka kunci pintu rumah
Ku persilahkan tuan Kelvin duduk di sofa ruang tamu dan adikku Tara langsung berlari kecil menuju dapur untuk membuatkan kami berdua teh
Sekarang yang tinggal di ruang tamu hanyalah kami berdua yakni aku dan juga tuan Kelvin
"Hmmmm.... apa kau tahu apa kegunaan obat itu?" tanya taun Kelvin tanpa basa-basi
Aku menatap ke arah photo yang menggambarkan seorang wanita hijab panjang membelakangi kamera dan berada di apotek kecil
Kenapa aku merasa bentuk tubuhnya seperti Aisha? gumamku
"Maaf tuan bukannya saya lancang tapi sepertinya tuan salah kirim photo, di photo ini hanya ada seorang wanita Islam yang terlihat dari belakang ada di apotek" ujarku
"Bukan itu, coba kau lihat sebotol obat yang diberikan pelayan apotek ke wanita itu" jawabnya
Akupun melihat photo nya kembali dan memang benar seperti ada sebotol obat yang diberikan pelayan apotek itu
__ADS_1
Akupun men-zoom di bagian obat tersebut dan memicingkan mataku
"Hmmmm.... tunggu sebentar tuan, gambar obatnya jadi kabur jika di zoom saya akan pakai laptop saya agar lebih jelas melihatnya" ujarku dan mengambil laptop ku yang ada di kamar kemudian balik lagi duduk di sofa ruang tamu dekat tuan Kelvin
"Silahkan tuan Kelvin, diluar agak gerimis jadi saya buatkan teh panas agar hangat" kata Tara sambil menyuguhkan dua teh di depan kami
"Terimakasih"
Setelah agak beberapa menit aku menekan sana-sini keyboard dan memperhatikan gambar botol obat itu dan kini lebih jelas akupun memperlihatkan gambarnya ke tuan Kelvin
"Ini tuan, sudah saya perjelas gambarnya" ucapku sambil mengarahkan laptop ke arah tuan Kelvin
*Kelvin prov*
Ku raih laptopnya Max dan ku perhatikan lebih jelas
"Aku tidak pernah sebelumnya melihat obat seperti ini, coba kau cari tahu" titahku dan memberikan kembali laptopnya
Agak lama aku menunggu hasil yang kuinginkan dari Max dan selama itu pula ku perhatian tangannya yang terlindung belakang laptop dan terdengar hentakan-hentakan keyboard yang ia tekan
Entah kenapa aku merasa khawatir dengan hasilnya nanti dan tanpa sadar ku gigit bibir bawahku
"Bagaimana apa sudah ketemu?" ujarku memecah keheningan diantara kami
Melihatnya seperti ekspresi datar saja membuatku bingung dan akupun melihat hasilnya yang ada di laptop
"A...apa maksudnya ini?" tanyaku panik ketika banyaknya gambar bermunculan di laptopnya
"Saya belum pasti tuan tapi setelah saya cari tahu apa kegunaan dan nama obat itu banyak kecocokan dengan obat kanker"
Aku terdiam kaku dengan sedikit membuka mulutku sangking terkejutnya
"Maksudnya?"
Ia menghela nafasnya dan berpindah tempat duduk dan kini di sampingku
"Begini tuan, coba anda perhatikan baik-baik, antara photo yang tuan berikan tadi yang sudah saya zoom dengan hasil pencaharian ini jika dilihat-lihat lebih jelas memiliki kesamaan" ujarnya menjelaskan
Aku semakin terkejut mendengar penuturannya dan lebih bungkam mendengar penuturannya lagi
"Kemungkinan obat yang ada di photo itu adalah obat kanker tuan apalagi ukuran botolnya, warnanya, serta isi lainnya hampir sama persis dengan yang ada di pencaharian saya, tapi....." jelasnya terputus
__ADS_1
"Tapi apa?" tanyaku dan merasakan nafasku sedikit sesak seperti takut mendengar jawabannya Max
"Kemungkinan pula obat itu ilegal tuan"
*Duarrrr* petir menyambar di luar rumah saat aku mendengar jawabannya Max
"Ilegal? darimana kau tahu ilegal?" tanyaku mulai panik
"Coba tuan kembali perhatian botol tadi, botol itu sama sekali tak ada label perusahaan pembuatnya juga tidak ada logo BPOM nya dan sangat jelas kalau botol itu transparan sehingga dapat terlihat sangat jelas ada banyak pil-pil obat di dalamnya" jawabnya menjelaskan
"Dan dugaan saya main kuat tuan karena sangat tidak mungkin obat kanker di jual di sembarang apotek apalagi apotek kecil dan setahu saya obat kanker ini hanya ada di apotek-apotek ternama itupun juga harus ada resep dokter sama juga ada di rumah sakit khusus kanker" lanjutnya lagi
Dadaku semakin sesak mendengar semua penjelasannya hingga membuat mataku berkaca-kaca
"Tuan apa anda baik-baik saja?"
Aku mengalihkan pandanganku dan menghapus air mataku
"Jika menurutmu ini memang benar obat kanker, kanker apa?"
"Saya kurang tahu juga tuan, karena yang seperti kita lihat tadi tak ada sama sekali label ataupun kertas informasi di botol tersebut"
Aku menghela nafasku dan mengusap beberapa kali wajahku
Aisha jika benar kau punya riwayat kanker kenapa kau tidak pernah memberitahu ku sebelumnya kenapa merahasiakannya? gumamku sedih
"Tuan sepertinya anda tidak baik-baik saja?"
Aku kembali menggelengkan kepalaku pelan dan bangkit berdiri
"Terimakasih atas informasinya, aku harus pergi" ujarku dan hendak pergi
"Tapi tuan, diluar masih hujan"
Aku kini berhenti tepat di depan pintu dan ku tolehkan kepalaku ke samping kiri
"Jangan mengurusi ku!"
Aku membuka pintu mobil ku dan kulajukan mobil dengan sangat cepat menuju kedai Aisha
"Aisha, jika benar kau punya riwayat kanker maka aku tak akan membiarkan mu bebas!" tekadku
__ADS_1
Selama di perjalanan berbagai penjelasan Max tadi selalu terngiang di telingaku hingga aku memejamkan mataku berkali-kali
Kini aku tengah ada di sebrang kedai Aisha, aku membuka pintu mobil ku sangat kasar dan kubanting pula