
*Kelvin prov*
Ku buntuti dia dengan sangat hati-hati hingga memasuki suatu jalan yang menurutku sering terjadinya begal
Kenapa dia kesini? disinikan banyak terjadi begal? gumamku bingung
Tak jarang pula, dari awal aku menguntitnya aku melihat dia sering kecapekan dan duduk di pinggir jalan sembari mengelap keringatnya
Sepertinya dia benar-benar lelah? tapi dia kenapa masih mau keluar buat belanja? gumamku
Awas saja kau nona kalau sampai tak pergi ke rumah sakit biar aku nanti gendong kau kesana gumamku
Saat ku buntuti dia di jalan yang sering terjadi begal, aku baru tahu kalau di ujung jalan itu ada apotek, dan di situlah aku melihatnya masuk kesana
Kok dia malah ke apotek sih bukannya ke rumah sakit? apa dia tak punya uang kali yah maka cuman bisa beli obat? gumamku semakin bingung dan penasaran dengan wanita yang sudah dua kali ku temui
Aku pun memutuskan untuk menunggunya sampai ia keluar apotek, hingga beberapa menit sudah berlalu dan barulah wanita itu keluar dan melanjutkan perjalanannya
Mungkin dia mau pulang kali yah? biar aku buntuti aja terus sampai rumahnya, biar nanti kalau dia sakit aku yang lihat aku bisa bawa ke rumahnya gumamku
Aku pun masih membuntutinya sampai ia masuk ke dalam gang, aku melajukan sedikit mobilku tepat di depan gang
Dari balik kaca satu pandang, aku dapat melihat kalau ia masuk ke kos-an kecil paling ujung
Itu toh rumahnya, tapi kok dia ngekos sih? kok ada yah masih di kota jaman modern gini masih ada yang tahan tinggal di kos-an kecil, apalagi lebih besar kamar mandi ku daripada kos-an nya gumamku dan kembali lagi ke kantor
Selama di perjalanan menuju kantor, pikiran ku selalu terbayangkan wanita tadi apalagi aku baru kali ini melihatnya memakai make up hingga membuatnya yang tadinya imut sekarang menjadi cantik luar biasa
Mungkin sebaiknya jam istirahat nanti aku cek dia saja gumamku memastikan
Sesampainya di kantor, aku langsung berjalan masuk ke ruangan John paling atas gedung yang berlantaikan 32
Setelah berdiri tegap di dalam lift, pintunya terbuka dan akupun langsung keluar
*John prov*
Pandangan ku sibuk mengarah ke laptop hingga tak sadar kalau ada yang datang
"Udah beres John!" kata seseorang hingga membuatku sedikit terkejut dan menatapnya
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?" tanyaku kesal
"Tuh kan.... kambuh lagi penyakit tulinya, woy.... aku udah ku ketuk pintunya baru aku masuk, salah sendiri telinga enggak di pasang" katanya dengan nada mengejek, aku yang kesal kemudian menjitaknya
"Auwww..... sakit bungol!! jitak kek cubit kao!" katanya dengan bahasa kotornya itu
"Sudah, kalau tak ada yang mau dibicarakan lagi, pergi kau kutu anj*ng!" seruku juga dengan bahasa kotor
"Ye.... lu marah enggak tanggung-tanggung yah sampe sampe bilangin gue kutu anj*ng" katanya dengan kesal
Aku tak menggubris perkataannya dan aku masih fokus ke arah laptop
"John, makan siang ini aku permisi sebentar yah?" ijinnya hingga membuatku mengerutkan dahi
"Kenapa kau minta ijin, jam makan siang berarti istirahat 30 menit" kataku
"Oh iya yah, aku lupa hehehehe.... aku kerja dulu, by!" katanya hingga membuatku teringat sesuatu
Kata by itu sering diucapkan Aisha, jadi mikirin dia, lagi apa yah dia sekarang? mungkin lagi siap-siap buat jualan, walaupun aku temannya aku tak bisa terus selalu bersamanya seperti Sarah itu, apalagi aku banyak pekerjaan di sini gumamku lalu melihat ke arah paperbag ponsel Aisha
Keknya nanti sore aja kali yah aku kesana abis meeting sekalian kasih ponselnya gumamku
"Sha! ini semua sudah beres, aku pamit dulu yah mau cari kesayangan ku" kata Sarah padaku
Aku tersenyum tipis dan mengangguk pelan kemudian ia membalas senyumanku dan pergi begitu saja
"Hadeuhhhh.... kok hari ini aku sering capek sih? padahal biasanya jam segini aku semangat empat lima, mungkin gara-gara penyakit ku kali yah udah semakin ganas" kataku dengan pelan dan duduk di kursi sembari bersandar di dinding
Baru juga nak tertidur, ada aja yang datang, tapi kalau tak ada yang datang akunya yang enggak dapat duit
Tak terasa sepeeti biasanya, para pelanggan sudah mulai mendesak gegara penuh tempatnya dan akupun sudah hampir tak tahan dan serasa ingin pingsan mendengar mereka semua berbicara dan tertawa keras
"Kau tidak apa-apa nona?" kata seseorang dan memegang bahuku yang di bungkus jilbab
Aku menoleh dan terkejut siapa yang berkata tadi
*Kelvin prov*
Kulihat jam tangan ku dan tersenyum tipis
__ADS_1
"Nanggung, 12 menit lagi jam makan siang, mending sekarang aja kesana" kataku dan pergi melihat wanita itu
Sesampainya di gang sana, aku langsung berlari masuk ke dalam gang, entah apa yang membuatku begitu bersemangat ingin melihatnya
*Tok tok tok* pintu kuketuk beberapa kali tapi tak ada jawaban atau terbukanya pintu
Kemana dia? masa pergi lagi sih? lagi sakit begitu gumamku bertanya-tanya
Mungkin keadaannya bertambah parah sampai-sampai dia ke rumah sakit, yah!! pasti dia ke rumah sakit, aku harus kesana! gumamku berlari keluar gang menuju mobilku
Saat aku hendak membuka pintu mobil, ujung mataku menangkap sesosok wanita familiar di mataku
Ku nolehkan kepala ku ke arah sebrang gang yang tampak ada kedai mie ayam, sesaat kemudian aku terkejut melihat wanita yang pintu rumahnya aku ketuk tadi ternyata berjualan mie ayam
Astaga!! ternyata dia lagi jualan, masih sakit kok udah jualan sih! gumamku kesal dan menghampirinya
Saat aku berada di hadapannya tapi arah dan pandangan tubuhnya ke mangkuk-mangkuk mie ayam yang mau ia hidangkan, aku melihat wajahnya pucat pasi
Niat ingin memarahinya tapi setelah melihat wajahnya yang tambah pucat membuatku tak tega dan akupun menepuk pundaknya
"Kau tidak apa-apa nona?" tanyaku hingga membuatnya menolehku
Dapat kulihat dari sorot matanya kalau ia terkejut
"Tuan, kau disini?" katanya terkejut dan gagap
Aku tersenyum dan mengangguk pelan
"Kau berjualan saat kau masih sakit, apa kau tidak lelah?" tanyaku lembut
"Ya sebenarnya iya tuan, saya lelah tapi mau bagaimana lagi teman kerja saya ada urusan makanya saya sendiri yang bekerja" jawabnya
Aku menghela napas dan kuambil mangkuk-mangkuk tadi dan ku taruh di nampan
"Biar aku bantu yah! kau yang buat mie ayam nya aku yang mengantarkan nya" kataku lembut dan kuberikan mangkuk-mangkuk mie ayam tadi ke para pelanggan
"Tuan, anda tidak usah repot-repot" katanya
"Tidak apa-apa, jarang-jarang lho aku mau bantu orang" kataku dengan nada menggoda hingga membuatnya tertawa pelan
__ADS_1
Aku semakin kasihan melihatnya seperti itu, apalagi saat ia tertawa dengan wajahnya yang masih pucat