Akhirnya Kau Kembali

Akhirnya Kau Kembali
Awal mula


__ADS_3

Sebuah mobil sport berwarna putih berhenti di depan sebuah kafe.


Seorang pria nampak menuruni mobil itu.


Dengan wajah tampan rupawan, kemeja putih yang digulung lengannya sampai siku. Terlihat kesan macho darinya yang sanggup membuat para wanita membelalakkan mata.


Rehan Samudera. Putra tunggal dari keluarga Samudera yang terkenal kaya raya.


Pria Playboy dengan pacar selusin itu mampu menaklukkan setiap Wanita yang ia inginkan. Siapa yang mampu menolaknya, meskipun tau hanya dijadikan pacar gelap. Mereka rela.


"Rehan" Seru beberapa temannya yang sudah duduk manis melingkari sebuah meja, melambaikan tangan ke arahnya.


Lalu seorang wanita seksi cepat menghampiri.


"Sayang" Melakukan cipika cipiki kepada Rehan. Pria itu hanya tersenyum tipis untuk menanggapi.


"Aku menunggumu dari tadi. Kupikir kau tidak jadi kemari!" Rengek si wanita segera melingkarkan tangannya pada pinggang Rehan dan membawanya melangkah ke dalam kafe.


"Hai bro" Satu teman pria melakukan TOS dengan Rehan diikuti yang lain.


Kemudian Rehan duduk di kursi yang ditarik si wanita yang tak lain pacar kesekiannya.


"Apa kau jadi mengajakku shoping?" Tanya wanita itu , sambil merebahkan kepalanya dengan manja di bahu Rehan.


"Killa sayang. Jadi donk." Sahut Rehan tersenyum.


"Ah, aku senang" Kila tersebut renyah.


Baru saja Rehan meneguk minuman, getaran ponselnya mengganggunya.


"Mama" Sedikit terkejut ketika melihat nama sang pemanggil.


Cepat menyisih dari sang pacar untuk mengangkat panggilan.


"Iya Ma, ada apa?"Rehan menjawab panggilan. Sedikit pelan takut ada yang mendengar mungkin.


"Kamu dimana Rehan! Pulang sekarang! Sudah dibilang jangan pergi, tunggu Paman kamu datang malah main pergi saja. Cepat pulang!" Bentak Mamanya dari ujung sana.


"Ckk, Mama. Sebentar saja Mam. Ini baru ngumpul sama teman teman." Rengek Rehan.


"Tidak bisa Pulang sekarang atau Mama akan menyusulmu dan menyeretmu dari sana hah!"


"Baiklah. Rehan pulang" Jawab Rehan dengan kesal. Menutup panggilan dan menghampiri Killa.


"Sayang ,maaf ya. Shopingnya di tunda dulu."


"Lho , kenapa Rehan?" Tanya Killa dengan raut kecewa.


"Aku ada urusan penting mendadak. Plis ya. Ini tidak bisa ditunda."


"Em, baiklah. Tapi besok harus jadi ya?" Rengek Killa.


"Tentu. Pasti. Aku janji." Rehan. Mencium tangan Killa dan kemudian melangkah keluar untuk kembali ke mobilnya.


Rehan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tiba tiba..


Brukk.. Rehan menghentikan mobilnya dia merasa sedang menabrak sesuatu.


Rehan keluar dengan tubuh bergetar.

__ADS_1


"Astagaa.....!"


Rehan menubruk gadis yang tergolek lemah di depan mobilnya.


Rehan mencoba menepuk-nepuk pipi gadis itu agar sadarkan diri.


Namun ternyata usahanya gagal.


Gadis itu tak juga membuka matanya.


Dengan rasa takut, Rehan berlari membuka pintu belakang mobilnya, dan segera mengangkat gadis itu, dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Rehan berlari sambil membopong gadis itu, ia berteriak-teriak memanggil sang perawat.


"sus!.....suster. Tolong sus!......


Dengan sigap beberapa perawat menghampiri Rehan menuju ruang UGD.


"Tolong dia dok "suara Rehan memelas ketika seorang dokter menghampirinya.


"Ia , Bapak tenang saja"jawab sang dokter sembari bergegas memeriksa Dara.


Saat Rehan hendak keluar tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Rehan


(Hallo)


Mama


(Hallo , di mana sih kamu?, mama nungguin dari tadi nih)


jawab yang di sana setengah berteriak.


Rehan


Mama


(Apa....?)


Setengah berteriak, karena kaget beecampur kawatir.


Rehan


(Rehan menabrak orang ma, mama bisa menyusul ke sini?) jawab Rehan dengan suara yang masih bergetar.


Mama


(Oke mama ke sana , kamu di mana?)


Rehan


(Di rumah sakit pinggiran kota) jawab Rehan segera.


Mama


(Oke tunggu mama ,mama segera kesana).


Rehan


(Ia ma, cepat ya ma) jawab Rehan sambil mematikan panggilan telefonya.

__ADS_1


Rehan tak bisa duduk dengan tenang, ia mondar-mandir ke sana ke sini bak setrikaan.


"Kenapa lama banget sih" gerutu Rehan.


Rehan menoleh saat mendengar derapan kaki yang begitu cepat menuju kearahnya.


Karena memang jarak rumah sakit dan rumah Rehan tidak begitu jauh.


"Mama!" Rehan sumringah.


Dengan kehadiran sang mama membuat hati Rehan sedikit lebih tenang.


"kamu tidak papa kan!, mana yang luka?," mama Rehan mencecar dengan pertantaan-pertanyaan dengan sedikit kawatir.


"Rehan tidak papa ma, Rehan baik-baik saja kok".


Bertepatan saat itu juga sang dokter yang sedari tadi memeriksa dara sudah keluar.


Tanpa pikir panjang Rehan langsung menghampiri sang dokter diikuti oleh Wulan panggilan untuk mamanya Rehan.


"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Rehan, sambil mengusap keringat dingin yang mengalir di keningnya. Rehan sangat kawatir dengan keadaan gadis itu.


"Tenang Pak pasien tidak apa-apa, hanya pingsan saja mungkin karena syok bahkan sekarang sudah sadarkan diri" jawab sang dokter sembari tersenyum ramah seakan-akan sang dokter sudah bisa melihat tentang kekawatiran yang di rasakan oleh Rehan.


"Apa kami boleh menemuinya?"mama Wulan menimpali.


"Silahkan" jawab sang dokter di sertai anggukan dan senyum ramah nya.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Buk." ucap sang dokter sembari berlalu.


Rehan segera bergegas masuk diikuti sang mama terlihat Dara sudah sadarkan diri sambil memijat-mijat kepalanya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rehan dengan rasa bersalahnya.


"Aku di mana? kalian siapa?" yang di tanya tidak menjawab justru malah balik bertanya.


"Kamu di rumah sakit",


"Kamu tadi tidak sengaja tertabrak!"ucap Rehan dengan rasa bersalahnya.


Dan sekarang Dara tidak menjawab justru sedang mengingat-ingat kejadian tadi pagi, di mana ia di putusin oleh Yuda secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas.


Dara menangis sesegukan membuat Rehan dan mama Wulan menjadi bingung dan kawatir.


"Mana yang sakit?, biar q panggilkan dokter ya!" seru Rehan panik dan ketakutan.


Yang di tanya tidak menjawab justru malah menangis sejadi-jadinya. Dengan cepat Rehan lari keluar dan hendak memanggil dokter, namun di cegah oleh Dara.


"Tunggu" suara lemah Dara menghentikan langgkah Rehan.


"Ada apa?,mana yang sakit? " kini mama Wulan yang ganti bertanya dengan tak kalah paniknya.


"Tidak tante"di jawab oleh dara sambil menggeleng di tengah isak tangis nya.


"Terus kenapa?"suara lembut mama Wulan sembari menenangkan Dara, mengelus rambut Dara.


"kamu kenapa?"kini Rehan yang bertanya sambil melangkah ke sebelah tempat tidur Dara.


Kini Dara mulai tenang di pelukan mama nya Rehan tiba-tiba suster datang dan menyarankan agar dara di rawat jalan karena kondisinya yang memang baik-baik saja. dan tidak perlu menjalani rawat inap.


"Selamat sore mbak Dara sekarang mbak sudah boleh pulang, dan tidak perlu rawat inap. Tapi jangan lupa obatnya di minum "senyum ramah sang dokter sembari mengecek kondisi Dara sebelum di izinkan pulang.

__ADS_1


"Baik dok, terimakasih"senyum dara mengembng.


__ADS_2