
Pipi Dara tiba-tiba terasa sangat panas.
"Ra pipi kamu kenapa?" Rehan bertanya setelah membantu Dara meletakkan nampanya.
"Memangnya kenapa Re?" tanya Dara.
"merah kayak tomat" ucap Rehan.
"Masak sih Re?" ucap Dara sambil memegangi pipinya sambil berlari ke kamarnya.
'Ah masak pipiku merah' batin Dara
Dara langsung menuju cermin di kamarnya sambil tetap memegangi pipinya.
Ia melihat bayanganya di dalam cermin sambil berbicara sendiri.
"Eh iya lo pipiku merah, kenapa ya tiba-tiba kok jadi merah" Dara mengambil bedak di meja riasnya memoles wajahnya berharap merahnya tidak terlihat tapi apa daya merah tomat di pipinya sangat jelas terlihat.
"Sudah cantik kok non tidak perlu dandan" tiba-tiba suara Rehan di tengah pintu sudah mengagetkan Dara.
"Apaan sih Re.!" ucap Dara setengah berteriak.
"Di panggil itu lo, jangan dandan terus,sudah cantik kok" ucap Rehan sambil mendekat.
Dara melihat ke kaca lagi merah di pipinya tidak menghilang justru semakin parah.
"Aduhhh bagai mana ini" Ucap Dara setengah berbisik.
Dara terus memoleskan bedak ke wajahnya.
"kok jadi kaya udang rebus sih" Rehan mengejek.
"Apa-apaan sih Re" Dara memukul dada Rehan, tapi tangan dara di tangkap oleh Rehan menariknya hingga dada Dara menempel di dada bidang milik Rehan.
Seketika jantung mereka berdegup dengan kencang
"Aku menerimamu apa adanya Dara soedibyo" ucap Rehan sambil menatap lekat kedua mata Dara.
Dara hanya terpaku tubuhnya terasa kaku.
Rehan ******* lembut bibir Dara belum sempat Dara membalas Rehan telah melepaskan pagutanya.
"Kita keluar, sudah di tunggu" ucap Rehan
Dara hanya mengguk.
Sebelum mereka keluar Rehan sengaja memutar Dara menghadap ke cermin.
"Lah kok tiba-tiba hilang merahnya" Dara menggumam.
Dan Rehan haya tersenyum sambil menarik tangan Dara keluar dari kamar.
"Kenapa lama sekali, sudah ditungguin Dari tadi" kali ini nenek Fatimah yang berbicara.
Dara hanya cengengesan.
"Dara ngumpet nek" ucap Rehan sambil tertawa.
"Rehan...!" Dara memekik sambil memukul bahu Rehan
Yang lain hanya tertawa
"Papa dan mama serta jeng wulan sudah sepakat kalau pernikahan kalian akan di laksanakan secepat mungkin." ucap papanya Dara setelah Dara dan Rehan sudah duduk.
__ADS_1
Kini Dara dan Rehan saling menatap tanpa berkata apa-apa.
"Apa kalian tidak setuju?" Kali ini Wulan yang berbicara
Rehan dan Dara saling menatap lalu Rehan yang menjawab tanpa persetujuan dari Dara.
"Kita setuju" ucap Rehan lantang.
"Rehan" Dara memanggil Rehan kali ini Rehan menoleh kepada Dara
"Kenapa Ra kamu tidak setuju?" tanya Rehan sambil mengerutkan keningnya.
"Siapa bilang, aku setuju kok" Dara menjawab sambil tersenyum simpul.
Semua yang di sana tertawa mendengar ucapan Dara padahal tadi sudah sangat tegang
"wah sebentar lagi nenek punya cicit" ucap nek Fatimah sambil terkekeh yang lain pun ikut terpingkal-pingkal
"Nenek apa-apaan sih" Dara tersenyum malu-malu.
"Nenek tenang saja pasti Rehan usahakan segera" ucap Rehan sambil tertawa
"Papa juga sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menimang cucu" ucap papa feri sambil terkekeh.
Disambut gelak tawa dari yang lainya.
Suatu saat di kantor
"Ada pak Adnan!" seru salah seorang karyawan Samudra group
"Siapa pak Adnan?" tanya Dara kepada Tasya saat di kantin kantor
"Ah itu lho papanya Rehan masak tidak tau sih" ucap Tasya
"Jadi beneran kamu tidak tau" ucap Tasya sambil melotot
Dara menggeleng sambil cengengesan
"Apa Rehan tidak pernah cerita tentang papanya sampai-sampai kamu tidak tau" ucap Tasya lagi.
"Cerita kok" ucap Dara seperti orang ling lung.
"Ra dia itu calon mertua kamu lo sebentar lagi kamu dan Rehan menikah, masak tidak tau sih sama calon mertua sendiri" ucap Tasya tidak habis fikir.
"Tau kok, cuman kalau soal nama aku taunya om Dwi, bukan Adnan" Dara menjelaskan.
"Iya namanya memang Adnan dwi samudra hedeh" ucap Tasya sambil menepuk jidadnya.
"heeeheeeeheee" Dara hanya terkekeh.
"Bu Dara di tunggu pak Rehan di ruanganya" ucap Deni salah seorang karyawan.
"Iya saya kesana" ucap Dara sambil menyeruput es jeruk di depanya.
"Baik bu" ucap Deni sambil berlalu.
"Gi mana dong Sya" tangan Dara gemeteran sambil menguncang tangan Tasya.
"Gi mana apanya?" tanya Tasya.
"Pasti ada papanya Rehan" ucap Dara
"Udah temui saja" ucap Tasya.
__ADS_1
"Anterin dong Sya" Dara mengguncang-guncang tangan Tasya
"Hi ogah" ucap Tasya sok acuh.
"Plissss" ucap Dara sambil menangkupkan kedua tanganya.
"Makanan ini biar aku yang bayar deh" ucap Dara memohon.
"Tapi hanya sampai depan pintu ya, tidak mungkin dong aku ikut masuk" ucap Tasya.
"Iya, tidak apa- apa dari pada tidak sama sekali" ucap Dara sambil garuk kepala.
Setelah membayar makananya Dara dan Tasya bergegas menuju ruangan Rehan.
"Sya gi mana dong?" Dara semakin gugup saat tiba di depan ruangan Rehan.
"Tenang, tarik nafas pelan-pelan lalu buang lewat mulut, tarik nafas lagi, buang lagi" Tasya membimbing Dara sambil menaik turunkan tanganya.
"Huh..." Dara membuang nafas kasar.
"Doain ya" bisik Dara sambil mengetok pintu,Tasya hanya mengangguk lalu berlalu ke ruanganya.
"Semangat" ucap Tasya, Dara hanya mengagguk lemad
"Masuk" jawab Rehan dari dalam ruangan.
"Permisi pak Rehan,bapak memanggil saya" ucap Dara.
"Iya, masuklah" ucap Rehan sambil berdiri dari duduknya.
"O.. ini yang namanya Dara ya?" ucap pak Adnan ikut berdiri.
"Iya pak" ucap Dara gugup sambil menjabat tangan Adnan.
"Cantik, kamu pintar Re memilih calon istri" puji papanya Rehan sambil menepuk bahu Rehan.
"Ra ini papaku" ucap Rehan mengenalkan.
" I... iy" ucap Dara gugup.
"Ayo duduk" Adnan mengajak Dara duduk kali ini duduknya di sofa. maklum ruangan bos dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang sangat mendukung dan luar biasa mewah.
"Iya pak" jawab Dara.
"Loh.kok pak, panggil papa saja sebentar lagi kamu kan sudah jadi istrinya Rehan" ucap Adnan
"Tapi ini kan di kantor" ucap Dara tambah salah tingkah.
"Pa Dara hanya ingin membedakan urusan kantor dan urusan rumah, jangankan manggil papa manggil Rehan saja juga Pak kok" Rehan menyahut sambil terkekeh.
"Baik lah, kalau itu Yang membuat kamu nyaman" ucap Adnan.
Sebenarnya Dara sudah sangat gugup dan bingung mau memanggil apa, karena memang baru pertama kali bertemu dengan papanya Rehan.
"Sudah selesai pa proyek di sana?" ucap Rehan kepada papanya.
"Papa sengaja mempercepat supaya papa dapat segera bertemu dengan Dara, lagi pula waktu kalian bertunangan kan papa tidak bisa hadir" ucap Adnan papanya Rehan.
"Syukur kalau susah selesai" ucap Rehan.
Dara hanya menjadi pendengar karena memang rasa gugup membuatnya bingung.
"Oia Re tadi mama meminta kalian buat pulang cepat biar kita bisa makan malam bersama, mama sengaja masak banyak buat kita" ucap Adnan.
__ADS_1
"Siap pa kalau soal makan- makan Rehan jagonya" ucap Rehan sambil terkekeh.