
Di tengah perjalanan menuju Rumah neneknya Dara.
Dara sengaja membuka kaca mobil untuk menikmati indahnya pemandangan dan merasakan sejuknya hawa pedesaan.
Terlihat beberapa orang pekerja sedang berkemas- kemas untuk pulang karena hari sudah sore.
"Non Dara!" seru salah seorang pekerja sembari melambaikan tanganya.
"Re kita berhenti sebentar ya" pinta Dara.
"Kamu kenal?" tanya Rehan sambil menghentikan laju mobil sportnya.
"Iya, aku ingin berbicara sebentar dengan beliau" ucap Dara sambil membuka pintu mobil, lalu turun ia ingin menyapa beberapa pekerja di kebun milik almarhum kakek.
"Bu Ijah," sapa Dara sumringah.
"Apa kabar non?" tanya bu Ijah menanyakan kabar Dara karena sudah lama tidak berjumpa.
"Baik buk, ibuk sendiri bagaimana?" tanya Dara.
"Alhamdulillah sehat non"
"Kapan datang ke sini?" bu Ijah kembali bertanya
"Tadi siang bu.
"O iya nenek sakit non" ucap bu Ijah lagi.
"Iya buk itu alasan Dara kemari" jawab Dara lirih
"Oiya buk, bagaimana kabarnya Andra?" tanya Dara Andra adalah sahabatnya sejak kecil
"Baik non mampir ke rumah non Andra pasti senang sekali bertemu dengan non Dara" ucap buk ijah.
"Iya buk kapan- kapan Dara pasti mampir, tapi tidak bisa hari ini karena setelah ini Dara mau ke rumah sakit lagi menggantikan mama dan papa untuk menjaga nenek, salam untuk Andra ya buk" ucap Dara
"Iya non nanti pasti ibuk sampaikan" ucap buk Ijah.
"Oia bu ini ada sedikit rejeki untuk ibuk" ucap Dara sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan kepada bu ijah yang Dara ambil dari tasnya .
"Tidak usah non" ucap bu Ijah sambil menyodorkan uang itu untuk di kembalikan ke pada Dara.
"Terimalah buk, Dara iklas, itu rejeki buat ibuk, tidak boleh di tolak." Dara menyerahkan uang itu kembali sambil memegang tangan bu Ijah
"Terimakasih non, terimakasih" ucap bu Ijah
"Sama- sama buk" ucap Dara tersenyum bahagia
"Kalau begitu Dara permisi" pamit Dara kepada bu Ijah.
"Iya non hati- hati ya" ucap bu Ijah
" Iya bu, ibu hati-hati juga ya" ucap Dara sambil masuk mobil.
"Kamu akrab sekali Ra dengan ibu itu" tanya Rehan sambil melajukan mobilnya lagi.
"Iya Re, dulu bu Ijah yang merawatku saat mama dan papa pergi ke Jakarta" jawab Dara
FLASHBACK
__ADS_1
tok...tok...tok...
"Asalamualaikum"
ceklek....
"Waalaikumsalam"
"mbak Tia, Mari silahkan masuk" mempersilahkan masuk tamunya
"Mau menitipkan Dara lagi ya mbak?" tanya buk Ijah melihat mamanya Dara mengendong Dara dan membawa susu serta satu tas baju ganti milik Dara.
"Iya buk, ibuk tidak keberatan kan kalau saya menitipkan Dara lagi" ucap Sintia mamanya Dara yang biasa di panggil Tia oleh buk Ijah.
"Tentu tidak, Dara itu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri, lagi pula ada Andra yang nanti bisa mengajak Dara bermain" ucap bu Ijah sembari mengambil Dara dari gendongan Sintia.
"Dara di sini dulu ya sama bu Ijah, nanti sore mama jemput Dara lagi" ucap mama Sintia berpamitan sebelum meninggalkan Dara.
" Iya ma ucap Dara" Saat itu Dara berumur sekitar tiga tahunan sedangkan Andra berumur satu tahun lebih tua dari Dara.
"Bu Ijah titip ya?" ucap Sintia.
"Iya mbak , hati-hati ya" ucap bu Ijah yang di balas anggukan oleh mamanya Dara sambil berlalu
FLASHBACK selesai
"Pantesan kamu akrab sekali" ucap Rehan
"Tidak cuma akrab Re, aku anggap dia sebagai ibukku sendiri" Dara menbahkan.
Sesampainya di rumah nenek.
Namun tiba- tiba Dara terpeleset dan hampir jatuh, dengan sigap Rehan menagkap tubuh Dara, kini wajah mereka begitu dekat, jantung Dara bergetar hebat begitu juga Rehan.
"Re, lepaskan" ucap Dara karena dari tadi Rehan belum juga melepaskan tanganya.
"Kalau tidak mau, bagaimana Rehan cuek justru malah melingkarkan tangan satunya ke pinggang Dara.
Dara semakin gugup
"Re lepas" Rengek Dara lagi
Rehan tidak melepaskan justru mencium bibir Dara,
Dara ingin melepaskan ciuman serta pelukan Rehan namun dekapan rehan begitu kuat, Dara sangat menikmati ciuman dari Rehan.
"Kenapa kamu tidak membalas Ra?" Rehan bertanya setelah melepaskan ciumnya.
"Tidak apa-apa" jelas Dara singkat sambil melepaskan diri Dari pelukan Rehan.
Dara berlari ke kamar sambil berteriak.
"Aku siapin baju nenek dulu!" seru Dara dari kamar.
Rehan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dara tersenyum-senyum sendiri di kamar sambil memegangi bibirnya
'Ihhhh apa-apaan sih' gumam Dara sambil membuyarkan lamunannya dan segera mengambil koper kecil di atas lemari karena lemarinya terlalu tinggi dara menumpuk dua kursi kayu yang ada di kamar neneknya. namun tiba-tiba kursinya goyang- goyang.
__ADS_1
"Re..... Rehan tolong....!" Dara berteriak
Rehan berlari ke kamar melihat kursi Dara goyang- goyang dia segera menangkap tubuh Dara
bruk......
Dara terjatuh, tepat di atas tubuh Rehan.
Mereka terdiam untuk beberapa saat mengendalikan detak janting yang tidak beraturan.
Namun Dara segera tersadar dari lamunan dan bangun.
"Kalau memang tidak bisa kenapa tidak memanggil sih" ucap Rehan setelah berdiri sambil mengambil koper di atas lemari.
"Ini kopernya, kalau ada apa- apa segera panggil" ucap Rehan menyerahkan.koper kepada Dara sambil berlalu keluar kamar
Dara segera mengemasi apa- apa saja yang akan di perlukan nenek di rumah sakit nanti .
"Sudah Ra?" tanya Rehan melihat Dara keluar dari kamar sambil membawa koper.
"Sudah" jawabnya
" Kita ke rumah sakit sekarang?" Dara bertanya.
"Ayo" Rehan meminta koper yang di bawa Dara. mereka segera masuk mobil.
"Ra..." Wajah Rehan sangat dekat dengan wajah Dara, Dara segera memundurkan kepalanya.
Namun dengan sigap Rehan mencium bibir Dara, ********** dengan lembut, Dara membalas ciuman Rehan mereka saling menikmati, tiba-tiba Dara mendorong tubuh Rehan karena sudah hampir kehabisan nafas.
"Maafkan aku Ra, aku terlalu menikmatinya" ucap Rehan sambil mengusap bibirnya yang basah.
Dara hanya menggangguk sambil mengatur nafasnya yang tersenggal- senggal.
"Kita ke rumah sakit sekarang Re, nanti kemalaman" ajak Dara kepada Rehan.
Namun yang diajak berbiicara tidak menjawab justru malah mendekatkan tubuh dan wajahnya ke wajah Dara.
Seketika Dara memejamkan matanya.
Satu detik,
dua detik,
tiga detik,
bahkan hampir satu menit Dara tidak merasakan apa- apa, akhirnya ia memutuskan untuk membuka matanya.
"Kenapa Ra?" Tanya Rehan sambil tersenyum.
Membuat Dara tersipu malu.
"Kenapa kamu dekat-dekat" ucap Dara lirih hampir tidak terdengar.
"Lah memangnya kenapa, kan kita mau pergi aku hanya akan memasangkan sabuk pengaman untukmu" ucap Rehan sambil menarik sabuk pengaman dan memasangkanya untuk Dara.
Tiba- tiba pipi Dara merah seketika ia sangat malu.
"Atau jangan- jangan" Rehan tidak meneruskan kalimatnya.
__ADS_1