
Dara hanya diam Saja sambil menarik nafasnya dalam-dalam seakan sudah tau apa yang akan Rehan tanyakan.
Rehan memegang kedua pundak Dara mengangkat dagunya kini tatapan mereka saling beradu.
"Dara, apa kamu sengaja menghindar dariku dengan berlama-lama di toilet?" tanya Rehan yang sangat menuntut jawaban dari Dara, Rehan pun sebenarnya sudah tahu alasan Dara.
Dara tidak berani menjawab hanya mampu mengangguk lemah.
"Kamu bisa bilang kan Ra tidak perlu seperti ini caranya." Rehan menjelaskan dengan nada sangat lembut.
"Aku takut kamu kecewa Re" jawabnya lirih.
Rehan hanya tersenyum lalu memeluk Dara.
"Lain kali kamu harus bilang, aku juga tidak akan memaksa kalau kamu belum siap" ucap Rehan sambil mengelus rambut Dara meskipun ada rasa sedikit kecewa menyelimuti hati Rehan.
Dara merasa lega ternyata Rehan bisa mengerti tentang dirinya
"Iya Re terimakasih ya, kamu sudah mau mengerti" ucap Dara sambil mendongakkan kepalanya, Rehan hanya tersenyum lalu mengecup kening Dara sambil mengeratkan pelukanya, Dara merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Rehan.
"Rehan" Dara memanggil sambil mendongakkan kepalanya.
"Iya sayang" Rehan menjawab sambil menatap lekat kedua bola mata milik Dara.
"Besok kan hari minggu, boleh tidak kalau aku pulang ke bandung?" Tanya Dara.
"Boleh dong sayang, besok saya antar ya, sekalian ajak mama ya" ucap Rehan.
"Ide bagus itu Re" ucap Dara girang.
Keesokan paginya
Mereka bertiga pergi ke bandung bersama Wulan mamanya Rehan.
kedatangan mereka ke bandung untuk menemui keluarga Dara membicarakan soal pernikahan Rehan dan Dara nantinya, sekaligus ingin menjenguk nenek Fatimah neneknya Dara.
Kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga Dara karena Dara sudah menelfon dan memberitahukan kalau Rehan dan mamanya akan Datang.
Mereka pun sudah mengetahui tentang pertunangan Dara dan Rehan di ulangtahunya Wulan.
Dalam perjalanan menuju Rumah Dara.
"Rehan sebaiknya kita mampir dulu ke toko kue langganan mama" ucap Wulan meminta Rehan agar nanti berhenti dulu ke toko kue.
"Iya ma, nanti kalau sudah sampai di toko kue langganan mama Rehan berhenti" jawab Rehan.
"Tidak usah repot-repot tan, tante mau datang saja itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buat keluarga saya" ucap Dara.
"Tidak apa-apa Ra toh cuma kue lagi pula nanti searah kok tidak jauh dari sini, kamu harus coba kue bronis nya enaaakk... sekali lho.." ucap wulan sambil mengangkat jari jempolnya.
__ADS_1
"Tante suka kue bronis juga" tanya Dara sambil menoleh ke belakang karena Wulan labih memilih duduk di jok belakang sedangkan Rehan duduk di kursi kemudi
"Iya, tante sangat suka kue bronis Dara suka juga?" Tanya Wulan.
"Iya tan dari kecil mama suka buatin kue bronis untuk Dara." Dara menjawab.
"Lha berarti kue bronis yang pernah kamu bawa itu buatan tante Sintia?" Rehan bertanya.
"Bukan Re, itu aku sendiri yang buat" Dara menjawab setengah berbisik tapi Wulan tetap bisa mendengar
"O iya, pantes enak sekali manis..... kaya yang buat" puji Rehan sambil mrncubit pipi kanan Dara
"Au..... sakit tau Re" ucap Dara sambil memegangi pipinya.
"Ah masak begitu saja sakit?" tanya Rehan sambil mengelus-elus pipi Dara.
"Lo berarti Dara jago bikin kue juga ya?" tanya Wulan.
"Iya mam, asli kuenya uenak..sekali tidak kalah deh pokoknya sama kue bronis langganan mama" Rehan yang menjawab.
"Tidak tan itu bohong kok, kue nya biasa saja Rehan nya saja yang lebay" ucap Dara malu-malu.
"Beneran mam enak banget, kalau mama tidak percaya nanti deh biar di buatin sama Dara, kamu mau kan buatin kue bronis itu lagi buat mama?" tanya Rehan.
"Tentu dong Re, kapan-kapan Dara buatin ya tan, untuk hari ini tante cobain kue bronis buatan mama dulu mama sudah bikin kuenya kusus buat tante dan Rehan" ucap Dara.
"Sudah dong tan untuk menyambut tamu spesialnya mama katanya" ucap Dara sambil menutup mulutnya.
"Kalau begitu tidak jadi mampir Re kita beli yang lain saja" ucap Wulan kepada Rehan.
"Siap mam" jawab Rehan sambil mengangkat tanganya
"Tante sudah tidak sabar dengan kue bronisnya jeng Sintia" ucap Wulan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tanganya.
"Sama tan Dara juga sudah kangen banget sama kue bronis buatan mama" ucap Dara
"Ra Siapa tu tamu sepesialnya tante Sintia?" Rehan memancing.
"Tidak tau Re tadi mama cuma bilang mau bikin kue bronis untuk menyambut tamu spesialnya , setelah itu tidak bilang apa-apa" Dara mencoba mengoda juga karena Dara yakin bahwa Rehan sudah tahu kalau yang di maksut itu adalah Rehan dan Wulan mamanya.
"Ah masak tidak tahu sih" ucap Rehan sambil menusuk pinggang Dara dengan jari telunjuknya.
"Re.. beneran tidak Tau" ucap Dara sambil mengeliat menahan geli
"Jangan -jangan kita tamu spesialnya" ucap Rehan.
"Wu...uu kepedaan kamu" ucap Dara.
Wulan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Dara dan Rehan.
__ADS_1
Padahal memang benar merekalah tamu spesialnya
Sesampainya di bandung mereka disambut dengan hangat oleh keluarganya Dara termasuk nenek Fatimah neneknya Dara, nenek memang baru saja keluar dari rumah sakit tapi kondisinya sudah sangat membaik. bahkan berjalan pun sudah tidak perlu di dampingi lagi hanya membutuhkan tongkat kayu saja, maklum sudah tua jadi daya tahan tubuhnya pun tidak stabil sebentar-Sebentar sakit.
"Asalamualaikum" ucap Wulan, Dara dan ,Rehan hampir bersamaan.
"Waalaikum salam" ucap Nenek yang sedari tadi sengaja menunggu di ruang tamu tidak sabar menunggu kedatangan Dara,Rehan dan Wulan.
"Tia....Sintia..!" nenek Fatimah memanggil mamanya Dara, yang di panggil segera bergegas ke ruang tamu
"Ayo pa, mereka sudah datang" ajak Sintia kepada Feri Papanya Dara.
mereka sedang berganti pakaian karena sudah selesai beres-beres.
"Mama temui dulu, nanti papa menyusul" ucap Feri karena belum selesai
"Cepetan ya pa" ucap Sintia sambil berlalu.
"Iya ma" ucap pak Feri sambil menyisir rambutnya di depat cermin.
"Waalaikumsalam" ucap Sintia sambil menyalami Wulan dan Rehan lalu memeluk Dara
Bertepatan saat itu Wulan dan Rehan menyerahkan buah tangan yang tadi di belinya sewaktu perjalanan ke bandung.
"Aduh jeng kok repot- tepot, terimskasih" ucap Sintia sambil menerima bingkisan itu.
"Papa mana ma?" Dara bertanya karena tidak melihat papanya.
"Ada apa sayang rindu ya?" ucap Feri papanya Dara yang tiba-tiba sudah berada di belakan Sintia.
"Iya dong pa" jawab Dara sambil memeluk papanya.
"Bagaimana nak Rehan perjalananya?" Tanya Feri sambil menyalami Wulan dan Rehan.
"Tidak kok om, Ramai lancar, om Feri sendiri bagaimana urusan perkebunan?" tanya Rehan
"Baik, baik kok nak Rehan" ucap Feri papanya Dara.
Sedangkan Dara dan Sintia membuatkan minuman dan menyiapkan kue-kue untuk untuk Wulan dan Dara.
"Alhamdulillah kalau begitu om" Rehan sekedar basa-basi padahal merasa sangat grogi ntah kenapa pertemuan kali ini tidak seperti biasanya padahal ini bukan yang pertama kalinya Rehan bertemu dengan keluarganya Dara bahkan waktu di jakarta juga sempat bertemu.
"Jeng tidak usah Repot-Repot" ucap Wulan kepada Sintia ketika melihat Sintia membawa nampan besar berisi kue dan cemilan lainya.
"Tamu spesial ya harus spesial" Papanya Dara menambahkan.
"Oh.... jadi kita tamu spesialnya" ucap Rehan sambil melirik kepada Dara yang sedang membawa nampan berisi lima gelas minuman seketika Dara menjadi grogi hampir saja gelas-gelas yang berada di nampanya terjatuh melihat itu Rehan segera menahan nampanya hingga tatapan mereka saling bertemu.
"Makanya hati-hati" Rehan berbisik di dekat telinga Dara sambil tersenyum mengejek
__ADS_1