Akhirnya Kau Kembali

Akhirnya Kau Kembali
Rehan mendobrak pintu


__ADS_3

"Ngarep ya" ucap Rehan meledek Dara sambil menunjuk hidungnya.


"Ngarep apaan?" tanya Dara cengar-cengir sambil memegangi hidungnya.


"Ya mengharap aku tidak memakai baju" ucapnya.


"Ya tidak lah" ucap Dara pipinya menjadi merah seketika.


"Aku mandi dulu" ucap Dara sambil berlalu menuju kamar dan hendak mandi.


"Yang bersih ya!" teriak Rehan dari luar kamar.


Kini Rehan membayangkan yang tidak-tidak.


Membayangkan tubuh Dara saat mandi.


"Ahhhh.... berpikir apa sih aku ini." ucap Rehan


Tanpa di sadari yang didalam sana sudah memberontak


"Kenapa celanaku terasa sesak ya" gerutu Rehan.


Tiba-tiba tanpa di sadari Rehan berjalan menuju kamar Dara, Rehan iseng membuka pintu kamar Dara.


Ceklek...


'Lah pintu kamarnya tidak di kunci' pikir Rehan.


pelan-pelan Rehan sengaja masuk dan menutup pintu kamar .


Menunggu Dara di depan pintu kamar mandi.


Ternyata tidak perlu menunggu lama Dara pun keluar


Rehan dengan sigap langsung memeluk Dara dari belakang.


Dara yang terkejut reflek menampar pipi Rehan sambil berteriak.


"Toolong...! tolong...!" Dara meronta sekuat tenaga dan menampar pipi Rehan lalu mengambil vas bunga yang terbuat dari kayu yang ada di meja rias dan memukulkanya tepat mengenai kepala Rehan.


"Au....... sakit" Rehan merintih sambil memegangi kepalanya.


"Lah Rehan.." ucap Dara ketika menyadari bahwa lelaki yang kurang ajar barusan adalah Rehan.


Dara menubruk Rehan mengelus kepala Rehan dan membawanya ke tempat tidur.


"Duduk Re" ucap Dara menyesal.


'Pasti sakit, tadi keras sekali' Pekik Dara dalam hati.


"Lain kali di lihat dulu dong Ra jangan main pukul-pukul saja, sakit tau" ucap Rehan sambil meringis kesakitan.


Namun Dara tiba- tiba menangis air matanya kembali terurai.


Rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan tiba-tiba terasa kembali, ketakutan yang membuat Dara tidak bisa tidur setiap malam saat setelah terjadi penculikan itu, meskipun rumahnya di jaga oleh bodiguard tapi tetap saja rasa takutnya tidak dapat hilang brgitu saja.


Melihat Dara menangis Rehan bingung.


"Ra... Dara yang sakit kan aku tapi kenapa kamu yang menangis?" tanya Rehan bingung.


Dara hanya menggeleng membuat Rehan semakin bingung.


"Ra maaf aku janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Rehan menyesal.


"Kenapa kamu diam Ra" Rehan semakin bingung karena Dara tetap saja menangis.


"Ra bilang sama aku ada apa?" Rehan tidak menyerah terus bertanya.

__ADS_1


"Aku takut Re" akhirnya Dara bersuara juga.


"Takut apa? kamu cerita sama aku ya" Rehan memeluk Dara agar Dara merasa tenang.


Dara hanya menggeleng air matanya semakin deras tangisnya semakin pecah membuat Rehan semakin bingung.


"Ra cerita sama aku, ada aku di sini" ucap Rehan.


apa yang kamu lakukan barusan mengingatkat aku akan kejadian waktu penculikan itu"


Huwaaaaa.... tangis Dara semakin menjadi.


Rehan pun ikut meneteskan air matanya.


'Ternyata sedalam itu luka yang kamu rasakan waktu itu Ra. dan kejadianya menyisakan luka yang belum sembuh di hatimu, hingga kamu merasakan ketakutan yang sangat luar biasa.


Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka hidup tenang, mereka harus membayar atas luka yang masih kau rasakan. mereka harus lebih menderita darimu' pekik Rehan dalam Hati sambil mengusap air matanya, Rehan juga ikut merasakan kepedihan yang Dara rasakan.


"Tenang lah sayang mulai saat ini aku akan menjagamu, tak kan kubiarkan orang-orang itu menyentuhmu apa lagi menyakitimu" ucap Rehan sambil memeluk Dara.


Saat Dara mulai tenang pelan-pelan Rehan mengangkat tubuh Dara ke tengah kasur. Rehan tetap memeluk Dara ia tidak tega meninggalkan Dara.


Rehan tidak mampu mengendalikan rasa kantuk yang menguasai dirinya.


Hingga akhirnya Rehan pun ikut terlelap.


Dara tidak bisa bergerak serasa tubuhnya merasa terhimpit, Dengan sekuat tenaga Dara mendorong tubuh yang setengah menindihnya, Dara tidak berani membangunkan hingga Rehan juga ikut terbangun


"Kamu sudah bangun Ra?" Rehan bertanya


"Iya"


"Kamu kenapa?" tanya Rehan karena Dara tetap mendorong-dorong tubuh Rehan.


"Tubuhmu berat" ucap Dara.


"Rehan aku tidak bisa bernafas" ucap Dara nafasnya tersenggal-senggal.


"Maaf" ucap Rehan memindah posisi tanganya.


"Kamu tidak marah aku tidur di sini?" Rehan bertanya


Sontak Dara langsung terbangun, namun karena masih setengah sadar ia merasa sangat pusing.


Sambil ia memegangi kepalanya.


"Ra kamu kenapa?" Tanya Rehan.


"Tidak tau Re kepalaku pusing sekali" ucap Dara sambil memijat-mijat kepalanya.


"Sini biar aku bantu" Rehan duduk memeluk Dara sambil memijat-mijat kepala Dara.


"Sudah Re sudah mendingan" ucap Dara ketika pusingnya sudah merasa berkurang


"Kamu kenapa kok tiba-tiba pusing, padahal tadi baik-baik saja.


"Tidak tau Re mungkin tadi kehujanan" jawab Dara.


"Sekarang sudah enakan" tanya Rehan sambil memeluk Dara


"Sudah" Dara mengangguk menatap Rehan, wajah mereka begitu dekat pandangan mereka saling beradu.


Tiba-tiba dengan lembut Rehan membelai rambut Dara mengecup kening nya dengan mesra tangan Rehan turun ke bawah meremas dada dara, Rehan ******* rakus bibirr Dara hingga ciumann itu beralih ke leheer jenjang milik Dara tangan Dara meremas rambut Rehan hingga biibir Rehan sampai ke daddaa Dara Rehan memainkannya di sana dengan lidah nya membuat Dara mendesah, lagi-lagi tangan Rehan sudah tidak terkontrol bergerilya semakin nakal kini bermain di pahhaa Dara mencoba memainkan nya di sana.


Dara yang segera sadar mencegah tangan Rehan, meski kekuatan Dara tidak sebanding dengan kekuatan Rehan, Rehan melepas ciuman bibirnya menatap lekat kedua bola mata milik Dara, sambil berbisik.


"Aku menginginkanmu" Rehan segera ******* kasar bibir Dara namun Dara berusaha keras untuk tetap mencegahnya, tapi di sisi lain Dara sangat menikmatinya.

__ADS_1


"Kenapa Ra?" Rehan bertanya karena merasa Dara mendorong tubuhnya berkali- kali.


"Jangan Re" ucap Dara lirih.


"Kamu tidak menginginkanya?" tanya Rehan.


" Bukan begitu" Dara bingung


"Lah kenapa menolak coba" Rehan semakin mendesak Dara.


"Tunggu sampai saatnya tiba" Dara berbisik di telinga Rehan membuat Rehan kelimpungan.


Rehan sangat kecewa karena juniornya sudah sangat siap untuk menerobos masuk ke mahkkoota Dara, namun apalah daya,Dara tidak menginginkanya.


"Tapi aku sudah tidak Tahan" ucap Rehan berbisik di telinga Dara juga dan tangannya meraba perut Dara.


"Tunggu Rehan, aku belum siap" ucap Dara lagi mencegat tanganya semakin nakal.


"Kamu nakal ya" ucap Dara.


"Aku nakal hanya kepadamu Ra, sungguh" Rehan meyakinkan Dara.


Kini Dara duduk agar Rehan tidak semakin menjadi namun Rehan memeluknya Dari belakang menciumi lehernya membuat Dara susah untuk melawan.


"Re aku mau ke toilet" ucap Dara


Dara segera berlari menuju toilet sedangkat Rehan kalah cepat ia bermaksut menangkap tangan Dara tapi gagal, karena Rehan merasa kalau itu hanya alasan Dara untuk menghindari dirinya.


Dara sengaja berlama-lama di toilet untuk menghindari Rehan.


"Ra sudah apa belum?" Tanya Rehan tapi yang di tanya tidak segera menjawab.


Keringatnya panas dingin ketika mendengar namanya di panggil, dia ke toilet sebenarnya hanya akal-akalanya agar terhindar dari Rehan


Dara hanya mondar mandir di toilet tanpa tau apa yang harus ia lakukan


"I...i..iya.... Re sebentar" jawab Dara


"Dara... Dara... Ra... Dara..." Rehan mengetuk pintu


berkali-kali tapi Dara tidak menjawab juga dan itu membuat Rehan sangat kawatir.


"Tidak ada pilihan lain" gerutu Rehan.


Bruuuuuaaaaakkkkk


Rehan mendobrak pintu kamar mandi Dara.


Dara begiti terkejut akan hal itu.


"Rehan!" Dara berteriak.


"Kamu tidak apa-apa Ra?" Rehan bertanya sambil memegangi pipi Dara membolak-baliknkan tubuh Dara mengecek siapa tahu ada apa-apa atau ada yang terluka.


"Apa-apaan sih Re?" Dara melotot.


"Kamu tadi tidak terkena pintu kan?" Rehan bertanya.


"Ya tidak lah" jawab Dara.


"Lah terus kamu ngapain di panggil-panggil tidak menjawab?" Rehan bertanya namun Dara segera memberikan pertanyaan untuk mengalihkan agar Dara tidK perlu menjawab.


"Seharusnya aku yang bertanya kamu ngapai mendobrak pintu kamar mandiku, jadi rusak kaan!" ucap Dara setengah berteriak.


"Aku kawatir sama kamu Ra, aku panggil-Panggil tidak menjawab, aku kan panik Tidak ada pilihan lain Ra selain mendobrak pintu nya" Rehan menjawab.


"Akhirnya pintunya rusak kan, aku juga tidak bisa benerin lagi" ucap Dara.

__ADS_1


"Kalau soal pintu kamu tenang Ra biar itu menjadi urusanku,sekarang aku mau bertanya kamu harus jujur" Rehan terus menekan Dara


__ADS_2