
Dara segera bergegas menemui Rani takut kalau ia murka lagi.
"Iya, ibu memanggil saya" ucap nya setelah mendekat.
"Buatkan kopi yang enak" ucap nya sambil melotot.
"Baik bu" jawab Dara sambil berlalu dan membuatkan kopi pesananya bu Rani.
"Ini kopinya bu" ucap Dara menyerahkan secangkir kopi"
"Bukan buat saya" ucap nya sambil berlalu.
Dara menjadi bingung hanya bisa diam dan mematung.
"Ayo, kenapa diam di situ!" ucap Rani melihat Dara yang terdiam di tempat.
Tok.. tok...tokk...Rani mengetuk ruangan Rehan.
"Masuk!" teriak yang di dalam.
"Permisi pak, kopi pesanan bapak sudah siap" ucap nya.
"Suruh dia masuk membawakan kopi buat saya dan kamu segera keluar dari ruangan ini" usir Rehan.
"Baik pak" Rani hanya menurut sambil manyun.
"Kamu masuk sana berikan kopi itu untuk nya" ucap Rani jengkel lalu berlalu.
Dara merasa bingung dengan sikap Rani, tanpa berpikir panjang Dara mengetuk ruangan itu.
Tok...tok...tok....
"Masuk!" sahut yang di dalam.
Dara segera memasuki ruangan itu melihat dengan heran karena Rehan membalikkan badanya dan Dara merasa tidak asing dengan sosok di hadapanya.
"Kopinya pak" ucap nya lembut dan hanya di jawab anggukan oleh Rehan.
Saat Dara hendak berlalu Rehan berdiri dan buru-buru menangkap tangan Dara membuat Dara terkejut dan memukulkan nampan yang di bawanya.
buukkk.
"Arg !... sakit!" Rehan memekik.
"Astaga" Dara terkejut sambil menutup mulutnya.
"Sakit sayang" ucap Rehan sambil merintih kesakitan .
"Maaf kamu juga sih main pegang-pegang aku reflek jadinya" ucap Dara sambil mengelus-elus pergelangan tangan Rehan.
"Dari situ aku juga tahu kamu wanita istimewa" ucap Rehan tersenyum sangat manis membuat Dara sersipu malu.
"Lain kali jangan di ulangi lagi, sudah dua kali kamu kayak gini dan dua kali juga kamu kena pukul Re" ucap Dara merasa tidak tega.
__ADS_1
"Tidak apa-apa ini aku juga yang salah" ucap Rehan sambil menarik tangan Dara dan memeluknya.
Belum berselang lama Dara meronta.
"Kenapa? apa kamu tidak mau aku peluk lagi ?" Rehan bertanya sambil melepaskan pelukanya
"Bukan begitu kalau ada yang melihat kan bahaya" ucap Dara menjelaskan kepada Rehan tentang kecerobohanya.
"Maafkan aku Sayang aku terlalu ceroboh" ucap Rehan.
"Jaga sikap dan bicara nya juga pak Rehan agar tidak ada yang curiga" ucap Dara kini menjaga jarak dari Rehan.
"Siap bu Wanda" ucap Rehan
"Kopinya pak Rehan mumpung masih panas" ucap Dara sambil mengambil kopi di meja dan menyerahkanya kepada Rehan.
Rehan menyeruput kopinya lalu berkata.
"Achhh... ini kopi paling mantap yang pernah saya minum" ucap nya.
"Kamu ada-ada saja Re, eh pak Rehan maksutnya" Dara menutup mulutnya sendiri.
"Beneran ini enak sekali tidak akan aku biarkan orang yang memaki-makimu kemarin bisa duduk dengan tenang di kantor ini" ucap Rehan sambil mengepalkan tinjuanya.
"Sudahlah pak Rehan aku baik- baik saja" ucap Dara.
"Tapi kamu jangan tinggal diam Ra agar mereka tidak memperlakukanmu seenaknya" ucap Rehan.
"Sudah aku keluar nanti kalau kelamaan di sini ada yang curiga" ucap Dara sambil keluar ruangan.
"Wanda!" sang punya nama menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Iya pak Novan ada apa?" tanya Dara sambil menunduk.
Novan mengangkat dagu Dara sambil berkata
"Jangan selalu menunduk" ucapnya
Dara hanya tersenyum melihat senyuman Dara Novan rasanya ingin selalu berlama-lama dengan Dara.
"Makan siang yuk" aku yakin kamu belum makan.
"A...a..anu" Dara bingung untuk membuat alasan.
"Ah lama" ucap Novan sambil menarik tangan Dara menuju kantin kantor.
Sepanjang perjalana ke kantin Dara bingung bagaimana kalau Rehan sampai tahu tentang kejadian ini tapi Dara juga bingung untuk membuat alasan ke pada Novan.
"Kamu kenapa? sepertinya kamu punya beban yang sangat besar" tanya Novan kepada Dara setelah mereka saling duduk dan menunggu pesanan yang tadi sudah di pesan Novan tanpa persetujuan Dara.
"mmm..tidak kok pak" ucapnya bingung.
'Kalau Rehan sampai tahu bisa gawat ini' gumam Dara dalam hari.
__ADS_1
Ternyata dugaan Dara memang sangat benar Rehan celingukan ke sana kemari untuk mencari Dara namun tidak berani bertanya kepada siapapun.
Kakinya Rehan menuntun ke arah kantin karena ini jam istirahat makan siang dan kemungkinan besar sebagian karyawan memang berada di sana untuk makan siang atau sekedar ngopi dan ngobrol-ngobrol.
Ketika makananya Datang Dara tidak juga menyentuh piring ataupun minumanya.
"Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" tanya Novan bingung melihat Dara tidak menyentuh makananya.
"Sssuka kok pak" ucap Dara lalu menarik piring nya.
Belum sempat menyentuh nasi di piringnya tiba-tiba ada yang mengejutkan Dara dari belakang.
"Boleh saya gabung" ucap seseorang.
DDDDEEEEEEGGGGG membuat Wajah Dara seketika pucat
Dara sangat panik, namun berusaha untuk tetap tenang.
"Boleh pak mari silahkan" ucap Novan sambil menarik kursi.
'Mati aku!' Dara memekik dalam hati merasa sangat hafal dengan pemilik suara tersebut.
"Ayo dong di makan" ucap Rehan memecah kebekuan suasana sambil meletakkan piring berisi makanan yang sempat di pesanya sebelum menghampiri Dara dan Novan.
"Iya pak" ucap Novan sambil menyuap makananya.
Dara tetap saja tidak berani menoleh ia hanya mengaduk-aduk makananya.
"Cobain punya saya pasti enak" ucap Rehan menukar piringnya dengan piring Dara membuat Dara menoleh dan tersenyum getir kepada Rehan.
"Makan lah" ucap Rehan lembut membuat Dara merasa sedikit lega.
"Ttttapi pak" ucap Dara terbata-bata.
"Sudah makan saja aku tidak apa-apa kok" ucap Rehan seakan sudah mengerti tentang kegelisahan yang dipikirkan Dara.
Novan yang menyaksikan itu tidak menyadari hanya berfikir kalau Dara tidak menyukai menu yang dipilihkan olehnya dan merasa menyesal tidak menanyakanya terlebih dahulu.
Dara menyuap makananya dengan lahap membuat Rehan sangat senang.
'Makanlah yang banyak sayang' ucapnya dalam hati tanpa bersuara sambil tersenyum ia pun memakan makanan yang tadi sudah di aduk-aduk tak karuan oleh Dara.
"Tumben pak Rehan ke kantor cabang biasanya hanya mampir dan itupun sangat sebentar" ucap Novan sambil menyeruput es teh nya.
"Iya, pak Hengki berada di luar kota dan mau tidak mau saya harus membereskan sesuatu di sini" ucap Rehan kepada Novan.
Tanpa membuat Novan curiga sedikitpun.
"Iya pak memang pak Hengki lebih sering ke luar kota" imbuhnya lagi sambil mengambil dompet di sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Simpan uangmu karena makananya sudah saya bayar" ucap Rehan.
"Terimakasih pak Rehan jadi merepotkan bapak" ucap Novan merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa santai saja" ucap Rehan tersenyum Ramah.