
Setelah menemukan yang ia cari Rehan menyerahkanya untuk Roy.
"Terimalah" ucap Rehan
"Apa ini pak Rehan?" membuka amplop coklat yang baru saja ia terima.
"Ambillah dan jangan menolak"
"Wah ini banyak sekali, lagi pula saya sudah di gaji sama pak Tino dan itu tentunya dari pak Rehan juga kan?" ucap Roy sambil mengembalikan amplopnya.
"Terimalah itu bonus untukmu karena kamu sudah menjaga Dara dengan baik" ucap Rehan.
"Tapi pak" Roy ragu-ragu antara menerima dan mengembalikan uang itu.
"Itu Rejeki tidak boleh di tolak" ucap Dara sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih pak, terimakasih mbak kalau begitu saya permisi pulang" ucap Roy batinya sumringah.
"Iya" ucap Dara dan Rehan bersamaan.
Setelah memasuki rumah tiba-tiba Dara memeluk Rehan membuat Rehan bingung.
"Re aku tidak menyangka ternyata kamu baik sekali" ucap Dara
"Itu imbalan karena dia sudah menjagamu dengan baik, dan itu rejeki untuk nya dan calon anaknya" ucap Rehan.
"Pak Roy sudah punya istri?" Dara bertanya sambil melepas pelukanya.
"Iya dan sekarang istrinya lagi di rumah sakit sedang menjalani pemulihan setelah operasi" Rehan menjelaskan.
"Kalau istrinya oprasi kenapa dia masih menjemput Dara Re harusnya dia menemani istrinya di rumah sakit" ucap Dara merasa iba.
"Dia tidak ingin meninggalkan pekerjaanya Ra alasanya karena kamu adalah amanat baginya" ucapan Rehan membuat Dara terharu.
"Re aku boleh menemui istri dan anaknya aku merasa bersalah" ucap Dara.
"Tentu sayang Roy sudah mengabaikan kepentingan pribadinya hanya untuk menjagamu itu adalah hal yang sangat luar biasa" ucap Rehan
Malam semakin larut tidak terasa rasa kantuk pun mulai menguasai Rehan dan Dara akhirnya mereka terlelap.
"Re kebetulan hari ini kan hari minggu kita menemui istri dan anaknya pak Roy" ucap Dara sambil sarapan.
"Boleh tapi kita langsung ke rumahnya saja karena kemarin ternyata sudah boleh pulang" ucap Rehan.
"Aku juga baru tahu setelah Tino memberi tahuku sore tadi" Rehan menambahkan lagi.
"Oke tapi kita pergi ke toko dulu aku ingin membelikan sesuatu untuk anaknya pak Roy" ucap Dara bersemangat
"Kalau begitu berangkat sekarang saja" ucap Rehan.
__ADS_1
Sesampainya di toko dengan cepat Dara memilih-milihkan sesuatu yang sekiranya di butuhkan untuk bayi Rehan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Dara dengan sigap memilih baju bayi mulai popok, selimut, topi, bahkan sampai kaos kaki dan tangan pun ia pilihkan.
Rehan sampai bingung melihat macam-macam bentuk peralatan bayi yang ada di depanya.
"Ra ini untuk apa kok bentuknya bulat-bulat begini?" Rehan bertanya sambil membolak-balikkan kaos tangan bayi merasa sangat heran.
"Ini kaos tangan Re fungsinya untuk melindungi agar jika kukunya panjang tidak menggores wajahnya maklum wajah bayi kan sensitif sekali" ucap Dara sambil tetap memilih-milih.
"Kalau yang ini?" Rehan bertanya lagi.
"Itu popok Re buat pengganti celana dipakainya hanya sementara" ucap Dara menjelaskan.
"Yang ini juga ya? tapi kok agak kecil sih? kain dan bahanya juga beda lo Ra kamu salah ambil ya?" Rehan bertanya sendiri sambil membolak-balikkanya
"Bukan Rehan yang ini kalau bayi belajar makan agar tidak belepotan" ucap Dara agak pusing menjawab semua pertanyaan Rehan.
"Sudah mbak semuanya berapa?" Dara bertanya kepada penjaga toko.
"Biar aku yang membayar Ra" ucap Rehan menahan tangan Dara yang ingin menyodorkan uang ke penjaga toko.
Setelah selesai membayar mereka beranjak pergi ke rumah Roy.
"Asalamualaikum" ucap Dara sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" jawab yang di dalam sambil membukakan pintu.
"Selamat ya pak kini pak Roy menjadi seorang bapak" ucap Dara sambil menyerahkanya kepada Roy.
"Terimakasih mba oh iya masuk.. masuk.." ucap Roy mempersilahlan masuk tamunya.
"Siapa pak?" teriak istrinya Roy dari dalam kamar.
"Mbak Dara dan pak Rehan buk" ucap Roy sambil menggiring Rehan dan Dara ke kamar tempat istrinya beristirahat.
"Wah ada tamu penting rupanya" ucap istrinya Roy yang meringis kesakitan hendak duduk.
"Sudah ibu berbaring Saja" ucap Dara buru-buru membantu isrinya Roy agar tiduran saja.
"Tapi" ucap Istrinya pak Roy merasa sungkan.
"Sudah tidak apa-apa" ucap Rehan mengetahui isi hati istrinya Roy.
"Boleh saya mengendong bayinya?" Dara bertanya ketika melihat bayi perempuan yang sangat manis dan lucu.
"Boleh silahkan" ucap Roy ramah sambil membantu Dara mengendong bayinya.
"Ya Allah Rehan ini manis sekali, cantik, imut" Dara mendecak kagum.
"Nanti kita bikin ya yang lucu-luccu dan manis" ucap Rehan sambil mengelus pipi sang bayi.
__ADS_1
"Gemeeezzzz" ucap Rehan sambil mengelus pipinya membuat sang bayi menjerit.
"Re kok di cubit sih" ucap Dara melotot kepada Rehan.
"Siapa yang mencubit aku hanya ingin mengelus pipinya saja" ucap Rehan panik
"Iya tapi pelan-pelan" ucap Dara mengelus-elus sang bayi membuatnya tenang dan sudah terdiam.
Melihat debatan Rehan dan Dara membuat Roy dan sang istri tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ternyata calon istriku sudah pandai menjadi seorang ibu ya" puji Rehan.
"Setiap wanita memang harus bisa mengurus bayi Re" ucap Dara
"Berarti kamu sudah sangat siap dong menjadi istriku" seketika ucapan Rehan membuat Dara menoleh.
"Tu mba di ajak pak Rehan menikah" ucap Roy sambil tertawa.
"Lebih cepat lebih baik mbak" istrinya pak Roy menambahkan.
"Tunggu misi kita selesai dulu pak baru memikirkan pernikahan" ucap Dara membuat Rehan tertunduk
"Sebisa mungkin saya akan bantu mbak Dara dan pak Rehan karena mau bagaimanapun pak Rehan sudah membantu saya di tengah-tengah kesulitan yang kemarin saya hadapi" ucap Roy sedangkan istrinya hanya nenyimak karena sebagian sudah mendengar sedikit cerita dari sang suami.
Karena hari sudah petang Rehan dan Dara pamit pulang agar istrinya pak Roy bisa istirahat.
"Mulai besok tidak usah mengantar jemput Dara lagi" ucap Rehan kini duduk di ruang tamu.
"Pak Rehan memecat saya? apa salah saya pak?' Roy bingung.
"Bukan, bukan jaga istrimu sampai benar-benar pulih dulu kamu tidak saya pecat hanya cutilah seminggu atau sebulan sampai istimu benar-benar sehat" Rehan menjelaskan
"Saya kira mau di pecat pak" ucap Roy lega
"Ya tidak mungkin saya memecat seenaknya"
"Kalau begitu kita permisi" ucap Rehan sambil menyerahkan amplop ke tangan Roy. Seakan sudah mengetahui isinya Roy pun menolak karena merasa tidak enak.
"Maaf pak Rehan saya tidak bisa menerima ini pak Rehan sudah banyak membantu keluarga saya" ucap nya lurih sambil menunduk
"Terimalah ini Rezaki dari Allah bukan dari saya" ucap Rehan.
"Tidak baik menolak rezaki pak" tambah Dara membuat air mata Roy terhatuh juga
Rehan menepuk punggung Roy sambil berkata.
"Pengorbananmu dan kesetiaanmu sudah sangat basar dan kamu pantas mendapatkan ini, kamu ingat waktu Dara di culik kamu juga membantu saya menyelamatkan orang yang paling saya cintai dan kemarin adalah hari dimana nyawa istrimu di pertaruhkan tapi kamu meninggalkanya hanya demi untuk menjemput Dara dan uang ini tidak seberapa di banding dengan pengorbananmu"seketika tangis Roy pecah dam memeluk Rehan sambil terus berterimakasih.
"Terimakasih pak Rehan terimakasih" ucap Roy dengan sesekali terisaak.
__ADS_1