Akhirnya Kau Kembali

Akhirnya Kau Kembali
Otak cerdas Dara


__ADS_3

Dara merasa kesal hari ini Rani sengaja mengerjai Dara lantai yang basah karena belum kering sengaja diinjak-injak oleh Rani.


"Kalau ngepel yang bersih dong!" Rani memekik.


"Tapi bu lantainya memamg masih basah" ucap Dara membela diri.


"lah itu masih kotor" ucap Rani sambil mondar-mandir sengaja mengotori lantai yang masih basah.


Dara merasa jengkel dan kesal tapi apalah daya dia harus mengerjakan semua pekerjaan itu.


'Sabar, sabar' rintihnya dalam hati.


Sambil terus mengepel lantai yamg terus di injak- injak oleh Rani.


'Aha.... aku punya ide' otak Dara mulai berfikir nakal.


'Kalau tidak begini dia tetap seenaknya saja terhadapku' ucap Dara dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


"Auuuu.....! Rani berteriak keras membuat semua orang menghampiri.


"Upss.." ucap Dara sambil menutup mulutnya dengan jari-jarinya yang lentik.


"Kamu sengaja ya!" gertaknya.


"Sini bu, Wanda bantu" ucap Dara sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Ada apa ini kok ribut-ribut?" Miko datang dan di susul yang lainya.


"Ini si wanda sengaja bersihin lantainya ngak benar kepleset kan jadinya" ucap Rani mengadu sama Miko sambil bangkit.


Yang lain hanya tertawa cekikikan melihat Rani terlentang di lantai.


"Apa kalian tertawa-tawa,ada yang lucu?" Rani melotot seakan bola matanya hendak terpisah dari kepalanya membuat yang lain bungkam.


'Sukurin, emangnya enak' batin Dara.


"Bubar" ucap Rani melotot lagi.


"Ada apa ini, kok ribut-ribut?" Novan bertanya saat mendengar keributan.


"Ini pak Wanda bikin ulah masak ngepel lantainya tidak benar kan saya jatuh jadinya" ucap Rani seakan-akan menjadi korban.


"Apa benar seperti itu?" Novan bertanya kepada Dara.


"Tadi sudah saya peringatkan pak kalau lantainya licin tapi bu Rani nya masih nyelonong saja" ucap Dara santai.


"Bohong Wanda memang sengaja menambah cairan pembersihnya lebih banyak agar lantainya licin" ucap Rani dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Loh bukanya ibu sendiri yang bilang kalau memang lantainya tidak bersih jadi saya memang sengaja menambahkan cairanya agar bisa lebih bersih" ucap Dara masih dengan santainya membela diri.


"Ini pasti hanya akal-akalan kamu saja" kini Miko membela Rani.


"Baiklah untuk memgetahui mana yang salah dan mana yamg benar kalian ikut saya" ucap Novan melangkah ke suatu ruangan yang lain hanya mengikuti.


'Mampus aku' Rani menepuk jidatnya mengetahui ke mana arah Novan melangkah.


Dara yang memperhatikan kepanikan Rani tersenyum.


"Sesampainya di ruangan itu Novan meminta penjaga ruangan CCTV untuk memutar ulang kejadian tadi.


Novan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keterlaluan Rani, sedangkan Rani hanya bisa menahan kepanikan yang saat ini menguasai dirinya.


"Keterlaluan" ucap Novan saat vidio selesai di putar.


"Ampun pak, maafkan kekilafan saya" ucap Rani mengiba.


"Saya tidak menyangka kamu bisa berbuat seperti anak kecil" ucap Novan.


"Maaf pak, ampun" ucap Rani lagi Dara tersenyum geli melihat kelakuan Rani.


"Minta maafnya sama Wanda bukan sama saya" ucap Novan lagi.


Miko yang sedari tadi menyalahkan Dara dan membela Rani kini hanya terdiam sambil mematung kakinya seakan kaku dan sulit untuk di gerakkan.


"Minta maaf sekarang atau" Novan belum menyelesaikan ucapanya langsung di potong oleh Rani.


"Iya pak saya minta maaf sekarang" jawab Rani tegas takut di pecat oleh Novan padahal Novan tadi hanya menggertak saja karena urusan pemecatan karyawan yang berhak adalah pak Hengki.


"Sekarang!" Gertak Novan


"Ma ma afin saya" ucap Rani kepada Dara yang sebenarnya egan untuk melakukanya karena merasa harga dirinya sudah jatuh di hadapan Dara.


"Iya bu Rani Wanda sudah memaafkan bu Rani sebelum bu Rani meminta maaf" ucap Dara sambil tersenyum mengece.


"Terimakasih Wanda kamu memang baik" ucap Rani sambil tersenyum sadis kepada Dara.


'Awas kamu' pekiknya dalam hati.


Saat jam istirahat berlangsung Rani sengaja menyusul Dara ke kantin Rani merasa bahwa Dara sudah menginjak- injak harga dirinya.


"Minggir ini tempat saya" Rani mengusir Dara sambil membawa makanan dan segelas jus di tanganya.


"Tempat lain kan banyak buk kenapa harus di sini dih sih" ucap Dara merasa Rani masih menaruh dendam terhadapnya.


"Tapi saya maunya di sini" ucapnya.

__ADS_1


Tidak ingin membuat keributan akhirnya Dara mengalah dan berpindah tempat.


"Pengumuman- pengumuman!" teriak Rani sambil berdiri membuat seisi kantin menoleh dan mendengarkan ucapan Rani.


"Eh ternyata di sini ada yang pacaran sama tukang ojek lo!" Tetiaknya lagi mrmbuat yang mendengar saling menoleh dan mengangkat bahu.


"Ah masak sih" sahut seseorang teman Rani sambil menutup mulutnya.


"Iya masak tidak percaya, itu lo yang biasanya di antar jemput sama ojol ternyata itu bukan ojol biasa lo tapi kekasihnya" ucap Rani


"Saya pernah melihat lo mereka mesra banget, ya cocok sih yang satu office girl dan yang satunya lagi ojol jadi selefel lah ya" Rani menambahkan sambil tersenyum sinis kepada Dara membuat Dara menghentiksn makanya.


yang lain pun sedang memperhatikan Dara karena mereka paham betul siapa yang biasanya pulang dan pergi di jemput ojol.


Tidak marah apalagi merespon Dara tetap melanjutkan makanya.


'hahaha Rani tidak tahu saja siapa sebenarnya calon suami saya' batin Dara sambil tersenyum-senyum terus menyuap nadi di piring nya.


Merasa ucapanya tidak berpengaruh Rani geram.


"Heh office girl kamu tidak dengar saya ngomong apa" Dara tetap pura-pura tidak mendengar malah asik meminum es teh yang begitu dingin di hadapanya.


"He!" teriaknya sambil menghampiri Dara.


"Ada apa bu, apa bu Rani ada perlu dengan saya?" ucapnya enteng membuat Rani murka.


"Kamu ya" ucap Rani sambil melayangkan tanganya hendak menampar Dara tapi kebetulan di tangkap oleh Rehan.


"Berani kamu menyentuhnya akan ku buat kamu pulang tinggal nama, sampai keujung duniapun akan ke kejar" Gertak Rehan kini melotot ke arah Rani membuat seisi kantin tegang melihat kemurkaan Rehan.


"Ammm ammmpun pak" ucapnya terbata-bata. Rani langung berlalu hatinya di liputi ketakutan ia merasa heran kenapa Pak Rehan pemilik perusahaan bisa segitunya membela si office girl itu.


"Ada apa sebenarnya dengan pak Rehan" ucapnya sambil tetap berjalan menyusuri lorong.


"Saya harus menyilidiki" ucap nya lagi.


"Ran" Miko menarik Rani ke ruangannya.


"Ada apa sih, tidak tahu apa kalau aku lagi pusing" ucapnya kesal.


"Pusing kenapa sih? kalau melihat ini pasti tidak pusing lagi" ucap Miko menyerahkan segebok uang lembaran seratus ribuan di hadapanya membuat Rani menganga dan tidak percaya karena seumur-umur baru kali ini ia melihat uang sebanyak itu.


"Ini hasil kerja keras kamu" ucap Miko.


"Ini jatah saya pak?" ucapnya merasa tidak percaya sambil mencium uang itu.


"Tapi jangan berisik" Miko membungkam mulut Rani dengan tanganya.

__ADS_1


__ADS_2