Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Imam Shalat


__ADS_3

“Kenapa tiba-tiba ingin membatalkan?,” tanya Kak Aisyah.


Kak Ahsan menenangkan diri terlebih dulu dengan meminum air putih yang di sajikan oleh istrinya.


“Annisa sudah punya calon Kak,” jawabnya dengan sedikit bergetar.


“Calon? Coba bawa ke sini, kenalkan dengan Kakak, jika memang calonmu itu lebih baik dari Zain, Kakak akan segera memberitahu Abahmu tentang pembatalan perjodohannya, untuk saat ini kamu jangan memberitahu dulu Ambu dan Abahmu soal calonmu itu,” Kak Ahsan menatap tajam adiknya itu.


“Annisa minta maaf ya Kak sudah mengecewakan kalian semua,” mata Annisa berkaca-kaca.


Dengan sigap Kak Aisyah menghampiri Annisa dan merangkulnya.


“Tidak apa-apa Annisa, mungkin ini yang terbaik untukmu, kalau begitu, kenalkan calonmu itu sore ini ya, mas Ahsan bisa kan pulang sore untuk hari ini?,” tanya Kak Aisyah.


“Ya, bisa tentu saja, setelah selesai pekerjaan mas akan pulang, ajak dia makan malam di sini ya Nisa,” jawab Kak Ahsan menghampiri Annisa.


“Maafkan Kak Ahsan tadi membentakmu, Kakak hanya ingin yang terbaik untuk adik Kakak,” Kak Ahsan memeluk adiknya.


“Sudah ya jangan menangis, jika memang perjodohan ini tidak membuatmu merasa nyaman, kami akan membatalkannya, dengan syarat calon pilihanmu lebih baik dari Zain,” lanjut Kak Ahsan sambil membelai lembut kepala adiknya.


Annisa mengusap air matanya dan mengangguk.


“Annisa akan beritahu dia malam ini Kak,” Annisa tersenyum kepada Kak Ahsan.


Laila dan Lisa menghampiri Annisa dan memeluk Bibinya itu.


***


Di kamar.


Annisa kini mengambil handphonenya, dia membuka nomor Raihan dan memberanikan diri untuk meneleponnya.


Via telepon.


“Assalamu’alaikum, Kak Raihan, ini Annisa.”


“Wa’alaikumsalam, kenapa? Ada yang perlu saya bantu?,” tanya Raihan menjauh dari keramaian.


Annisa terdiam mendengar keramaian yang terdengar dari handphonenya.


“Maaf Kak Raihan sedang berada dimana? Jika ada acara, lebih baik saya menyampaikan pesan ini nanti besok saja.”


“Ah … tidak, Kakak sedang, umm … di rumah teman, sedang belajar bersama,” ucap Raihan.


“Oh begitu ya Kak, suara musiknya sangat berisik, aku tidak terlalu jelas mendengar suara Kak Raihan.”


Raihan berusaha menjauh dari tempat suara musik itu berasal.


“Sudah? Sekarang sudah tidak terdengar kan?,” tanya Raihan.


“Iya Kak, sebelumnya Annisa mau menanyakan perihal perkataan tadi siang Kak,” jawab Annisa.


“Iya kenapa Nisa? Kamu sudah memiliki jawabannya?.”


“Kakak di undang oleh Kakak saya besok untuk makan malam,” jelas Annisa.


“Dengan senang hati saya pasti datang, semoga ini menjadi awal Kakak kamu merestui niat baik saya, besok kira-kira saya harus datang jam berapa?,” tanya Raihan dengan senang.


“Kakak menyuruhku kamu datang sore hari dan kita akan melakukan makan malam bersama,” jawab Annisa.


Raihan menyetujuinya.


***


Di kampus, Annisa seperti biasa memasuki kelas. Dia duduk di sebuah bangku. Mengikuti pelajaran hingga selesai.


Saat dia akan berdiri, Annisa merasakan lengket dari baju bagian belakang yang dikenakannya, setelah di lihat ternyata ada permen karet yang menempel pada bajunya.


Sepertinya ada yang sengaja menaruh permet karet di bangku Annisa.


Dia ditertawakan oleh satu kelas karena kecerobohannya.

__ADS_1


Annisa sangat malu sekali, dia lari keluar dari kelas dan menuju toilet.


Dia membersihkan bekas bekas permen karetnya dengan mata berkaca-kaca. Dengan segala usaha membersihkannya, tetap saja bekas permen karetnya tidak hilang dengan sempurna, Annisa merasa ragu-ragu untuk keluar dari toilet.


*TRING*.


Satu pesan dari Raihan.


“Kenapa di toiletnya lama? Sini keluar aku tutupi bekas permen karetnya menggunakan jaketku.”


Annisa terkejut, kenapa Raihan sampai tahu kalau dirinya sedang berada di toilet.


Annisa memutuskan untuk keluar perlahan-lahan.


Ternyata sudah ada Raihan menunggu Annisa.


Dia memberikan jaket miliknya kepada Annisa.


“Ini lingkarkan jaketku di pinggangmu untuk menutupi permen karetnya,” ucap Raihan sambil memberikan jaketnya.


“Terimakasih banyak Raihan,” Annisa menerima jaket dari Raihan.


“Ayo aku antar sampai mobilmu,” ajak Raihan.


Annisa mengangguk.


Jadi sebenarnya Raihan melihat Annisa keluar dari kelas dengan menutupi noda permen karet di bajunya. Raihan bertanya pada teman sekelas Annisa, sehingga Raihan mengetahui kejadian yang menimpa Annisa.


***


Jam dinding menunjukan pukul empat sore.


Annisa sudah bersiap dengan Kak Aisyah menunggu Raihan di rumah, sedangkan Kak Ahsan masih di perjalanan menuju pulang.


Annisa terlihat mondar-mandir.


“Annisa, ayo duduk, dari tadi kamu terlihat tegang,” Kak Aisyah mengisyaratkan Annisa untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Benarkan? Aku hanya,” Annisa menghela nafas.


Kak Aisyah tersenyum.


“Sesuai atau tidak, kita serahkan saja kepada Allah SWT, karena pasti Allah sudah mempersiapkan jalan yang terbaik untuk hambanya,” Kak Aisyah tersenyum kepada adiknya.


*tingnong … tingnong*.


Suara bel berbunyi, sepertinya itu adalah Raihan.


Annisa malah semakin panik, dia gelisah terus-terusan merapihkan bajunya.


Kak Aisyah tersenyum dan mengelus pundak Annisa. Lalu berjalan membuka pintu.


“Assalamu’alaikum, maaf Kak, Annisanya ada?,” tanya Raihan dengan sopan.


“Wa’alaikumsalam, ada, sudah menunggu dari tadi, silahkan masuk,” jawab Kak Aisyah mempersilakan Raihan masuk.


Begitu masuk Raihan terkesima melihat isi rumah Kak Ahsan, sangat tertata rapi dan di penuhi dengan barang-barang mewah, Raihan melihat ada Annisa sudah duduk di sofa, dia menghampirinya.


“Silakan, duduk dulu, saya ambilkan minum untukmu,” ucap Kak Aisyah pergi ke dapur.


Raihan hanya tersenyum.


“Annisa, ini rumahmu?,” tanya Raihan duduk di depan Annisa.


“Bukan, ini rumah Kakakku,” jawab Annisa.


“Oh begitu,” Raihan masih melihat sekeliling ruang tamu.


Tak lama kemudian Kak Aisyah datang menghampiri dan membawakan air minum.


“Maaf ya di sini sangat berantakan,” Kak Aisyah merendah.

__ADS_1


“Tidak Kak, ini rumahnya sangat bagus, barang-barangnya juga mewah, saya malu karena bukan berasal dari keluarga berada,” Raihan berbicara dengan sopan.


“Tidak apa-apa, karena tipe calon suami Annisa bukan masalah dari keluarga berada atau tidak, yang terpenting memiliki akhlak yang mulia,” Kak Aisyah menjawab sambil memperhatikan gerak-gerik Raihan.


Raihan hanya tersenyum mendengar perkataan Kak Aisyah.


Mereka bertiga mengobrol tentang masalah perkuliahan Raihan sambil menunggu Kak Ahsan pulang. Karena menurut Kak Aisyah yang berhak menanyakan tentang keseriusannya hanyalah Kak Ahsan.


Tak lama kemudian, suara gerbang di buka, ternyata Kak Ahsan sudah pulang. Dia memarkirkan mobilnya di garasi.


Memasuki ruang tamu.


“Assalamu’alaikum,” Kak Ahsan mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam,” di jawab oleh semua orang yang ada di sana.


Kak Ahsan memandangi keberadaan Raihan.


Raihan hanya mengangguk tersenyum. Lalu menghampiri Kak Ahsan dan bersalaman.


“Siapa namanya?,” tanya Kak Ahsan.


“Raihan Kak,” jawabnya.


“Maaf ya menunggu lama, silakan duduk dulu saya akan berganti pakaian,” Kak Ahsan pergi ke kamarnya.


Raihan hanya tersenyum.


Seketika suasana menjadi hening, begitu juga dengan Annisa yang semakin salah tingkah, keringatnya bercucuran hingga Kak Aisyah menyadari hal itu.


“Ya Ampun, saya lupa menyalakan AC, sebentar saya nyalakan dulu,” Kak Aisyah bermaksud supaya keringat Annisa berkurang.


Setelah hampir setengah jam menunggu Kak Ahsan, akhirnya keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapi dan wangi.


“Maaf ya tadi saya mandi terlebih dulu,” Kak Ahsan duduk di samping Annisa.


“Silakan, ceritakan pengalaman hidup kamu,” tiba-tiba Kak Ahsan membuat Raihan gerogi.


“Maaf Kak sebelumnya saya bingung harus menceritakan dari mana,” Raihan kini terlihat salah tingkah.


“Berarti sebelumnya kamu belum pernah mengunjungi rumah seorang perempuan?,” tanya Kak Ahsan membuat Raihan dan Annisa semakin tegang.


Raihan menggelengkan kepalanya.


“Ceritakan saja di mulai dari keluargamu,” Kak Ahsan meminum minuman yang di sediakan istrinya.


“Keluarga saya tinggal di kota ini, rumahnya tidak jauh dari kampus hanya sekitar 20 menit saja, Ibu saya seorang janda karena di tinggal pergi oleh Ayah saya, beliau meninggal saat saya baru menginjak bangku kuliah, saya sendiri memiliki 1 adik perempuan yang masih sekolah SMA dan kini saya berada di semester akhir, InsyaAllah saya lulus tahun ini,” jelas Raihan dengan kondisi sudah tenang.


“MasyaAllah, kamu sudah kerja?,” tanya Kak Ahsan to the poin.


“Sudah Kak, Alhamdulillah saya kerja di Bank swasta,” jawab Raihan.


Kak Ahsan mengangguk.


Adzan magrib berkumandang.


“Ayo kita laksanakan shalat berjamaah, kamu memimpin sebagai imam ya,” ucap Kak Ahsan membuat Raihan terkejut.


Raihan hanya mengangguk pelan.


Keringat Raihan bercucuran ketika di minta Kak Ahsan sebagai imam shalat keluarganya.


Begitu juga Annisa yang tegang sedari tadi dengan pertanyaan yang dilontarkan Kak Ahsan kepada Raihan.


Semua orang telah berjajar sesuai shaf shalatnya masing-masing.


Raihan takjub melihat kondisi mushola yang sangat luas, lengkap dengan pigura kaligrafi yang begitu mewah, rak-rak besar yang di isi dengan Al-Quran, sajadah, sarung serta mukena.


Di depan sebagai Imam adalah Raihan, di belakangnya ada Kak Ahsan dan tukang kebun rumahnya serta ada penjaga rumahnya.


Di shaf perempuan, ada Kak Aisyah, Annisa, Lisa, Laila, Mbak Mia dan Mbak yang mengurus keperluan rumah, sebut saja Mbak Ayu.

__ADS_1


Kali ini Kak Ahsan sengaja melaksanakan shalat berjamaah dengan semua orang yang ada di rumahnya.


Raihan semakin tegang, ketika Kak Ahsan sudah mengumandangkan Iqomah.


__ADS_2