
“Maaf, aku ke kamar dulu, sebentar lagi adzan magrib,” ucap Annisa pergi meninggalkan Zain.
Dia sedikit berlari menuju kamarnya.
Zain terus memandangi Annisa dan tersenyum.
Jam dinding menunjukan pukul setengah delapan malam, Zain berinisiatif untuk mengajak Annisa jalan keluar, sekedar jajan di suatu angkringan dengan maksud pendekatan dengan istrinya itu.
Tok … tok … tok …
Zain mengetuk pintu kamar Annisa. Tidak lama kemudian Annisa keluar dari kamarnya dengan menggunakan mukena dan cadar.
“Aku mau keluar dulu ya,” ucap Zain yang sudah bersiap dengan rapi.
“Oh iya.” Annisa mengangguk.
“Kamu mau ikut tidak? Aku ingin mencari angin,” ajak Zain.
“Tidak.”
“Tapi aku ingin kamu ikut,” ucap Zain.
Annisa berdiam sebentar, dia memikirkan untuk menolak atau menerima ajakan dari Zain.
“Ya sudah, sebentar ya?,” tanya Annisa.
Zain mengangguk senang.
Annisa kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap, sedangkan Zain menunggu di bawah duduk di ruang tamu.
Annisa menggunakan gamis hitam dan kerudung pink rose serta cadar hitam.
“Ayo, aku sudah siap,” ucap Annisa.
Zain memandangi istrinya yang sangat cantik, dia tidak berkedip sedikitpun.
“MasyaAllah, kamu sangat cantik,” ucap Zain.
“Terimakasih,” Annisa melangkah keluar rumah, di ikuti oleh Zain.
Mereka memasuki mobil bersama dan pergi mencari suatu angkringan.
Zain sudah menemukan angkringan, di sana banyak menjual berbagai makanan dan minuman, membuat perut Zain menjadi keroncongan.
“Sepertinya aku mau makan sate,” ucap Zain yang sudah turun dari mobilnya.
“Aku juga,” ucap Annisa yang berada di samping Zain.
Mereka duduk dan memesan sate. Suasana di sana sangat ramai, banyak keluarga, pasangan dan anak muda sedang berkumpul bersama. Beberapa pengamen juga hilir mudik menyanyikan beberapa lagu.
__ADS_1
Tiba-tiba Zain mempunyai sebuah ide. Dia menghampiri salah satu pengamen dan memberikan uang sebesar seratus ribu.
“Mas, tolong ya bisa bawakan lagu untuk istri saya, tapi kalau boleh saya yang nyanyinya mas, bisa ya?,” ucap Zain.
“Baik mas, mau lagu apa? Nanti saya iringi dengan musik.”
“Lagu jaman dulu aja mas, Andra and The Backbone,” ucap Zain.
Mas masnya mengangguk setuju. Zain dan pengamen musik itu menuju menghampiri istrinya.
Annisa mengerutkan keningnya dan kebingungan apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu.
“Annisa, aku akan menyanyikan sebuah lagu, khusus untukmu malam ini,” ucap Zain
Annisa menunduk malu, namun ada rasa senang tersembunyi di dalam hatinya.
Semua orang yang ada di tempat bersorak dan bertepuk tangan. Lalu ada salah satu pemilik angkringan yang menawarkan Zain untuk menggunakan sound system dan mic karena menurutnya aksi Zain akan membuat orang-orang ramai berdatangan.
Zain menerimanya.
Dengan jarak sekitar 7 meter dari Annisa, Zain memulai menyanyikan lagunya. Annisa terus melihat tingkah suaminya itu.
“Astagfirullah apa yang akan dia perbuat?,” gumam Annisa pelan.
“Lagu ini tepat sekali untuk istriku, untuk istriku tersayang, aku meminta maaf atas semua kesalahanku kepadamu, dan untuk kepada semua pengunjung selamat menikmati persembahan lagu dari kami,” ucap Zain bersiap memegangi mic.
...Kau begitu sempurna Dimataku kau begitu indah Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu...
...Janganlah kau tinggalkan diriku Takkan mampu menghadapi semuaa Hanya bersamamu ku akan bisa...
...Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupku Lengkapi diriku Oh sayangku, kau begitu Sempurna, Sempurna......
...Kau genggam tanganku Saat diriku lemah dan terjatuh Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku...
...Janganlah kau tinggalkan diriku Takkan mampu menghadapi semua Hanya bersamamu ku akan bisa...
...Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupku Lengkapi diriku Oh sayangku, kau begitu Sempurna, Sempurna......
...Janganlah kau tinggalkan diriku Takkan mampu menghadapi semua Hanya bersamamu ku akan bisa...
...Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupku Lengkapi diriku Oh sayangku, kau begitu...
...Kau adalah darahku (darahhku) Kau adalah jantungku (jantungku) Kau adalah hidupku (hidupku) Lengkapi diriku Oh sayangku, kau begitu Sayangku, kau begitu Sempurna, Sempurna......
Semua pengunjung menikmati suara indah dan merdu milik Zain, begitu juga Annisa yang hanyut oleh suasana yang berubah menjadi romantis. Malam itu semua pasangan sangat menikmatinya. Di balik cadarnya itu, Annisa tersenyum.
Setelah selesai bernyanyi, Zain banyak di banjiri dengan pengunjung yang memberikan uang, Zain kumpulkan uang tersebut ke dalam wadah dan di berikan kepada pemusik yang menemaninya. Lalu Zain menghampiri Annisa.
“Bagaimana? Kamu suka?,” tanya Zain.
__ADS_1
Annisa hanya mengangguk malu.
“Lagu itu sangat cocok untukmu, sekali lagi maafkan aku Annisa, ku harap kamu mau membuka lembaran baru denganku,” Zain memasang wajah berharap.
Annisa melihat ke arah suaminya itu, lagi-lagi di balik cadar Annisa tersenyum, namun dia akan menguji dahulu seberapa serius suaminya itu.
“Ayo makan, nanti dingin satenya,” ucap Annisa.
Zain mengangguk dan memakan sate.
Setelah selesai, mereka berdua memutuskan untuk pulang, saat akan memasuki mobil, Annisa terus melihat ke salah satu stand penjual di sana. Dia sangat ingin membelinya namun malu untuk memberitahu suaminya.
Dengan segala kepekaan yang di miliki, Zain langsung mengerti bahwa istrinya itu menginginkan permen kapas arum manis.
“Aku akan membelikan untukmu,” ucap Zain langsung berlari ke arah pedagang itu.
“Eh … tunggu,” Annisa akan menghentikan langkah Zain, namun Zain sudah terlanjur berlari.
Sekitar 5 menit Annisa menunggu suaminya. Zain datang dengan membawa permen kapas arum manis berbentuk love dan berwarna pink.
“Ini silakan,” ucap Zain memberikan permen itu kepada Annisa lalu tersenyum.
“Terimakasih,” ucap Annisa.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Annisa membuka permen itu dan memakannya. Zain melihat istrinya begitu senang mendapati permen arum manis itu.
“Apa kamu menyukainya?,” tanya Zain.
“Iya, sewaktu kecil aku selalu membeli ini di pasar malam bersama Abahku, aku jadi merindukannya” jawab Annisa yang terus memakan permen kapas itu tanpa membuka cadarnya.
“Oh ya? Boleh aku mencobanya?,” kali ini Zain ingin mencicipi.
“Tentu saja,” Annisa menyodorkan permen kapas itu.
“Umm… Annisa, dua tanganku menyetir, bolehkan kamu saja yang menyuapiku?,” tanya Zain.
Annisa terkejut, baru pertama kali dia di minta untuk menyuapi makanan.
Annisa mengangguk pelan.
Dia mencubit potongan permen kapas itu dan di luncurkan pada mulut Zain yang sudah terbuka.
“Enak sekali rasanya di suapi istri,” ucap Zain sambil mengunyah.
“Lebih enak makan sendiri,” ucap Annisa.
“Aku minta tolong di suapi lagi ya, tanganku hanya ada dua,” ucap Zain berlagak manja kepada Annisa.
__ADS_1
“Hihihi,” Annisa tersenyum senang. Namun tiba-tiba Annisa terdiam. Dia merasa aneh dengan perasaannya. Muncul rasa bahagia setelah memakan permen kapas ini. Apalagi setelah dinyanyikan dengan suara merdu milik Zain. Apa hati Annisa mulai terbuka untuk Zain?.