
Annisa dan Zain sekarang berada di kamar Ayah.
“Assalamu’alaikum,” Annisa mengucap sambil sambil membuka pintu kamarnya.
“Wa’alaikumsalam, menantuku akhirnya datang,” ucap Ayah.
Annisa tersenyum.
“Bagaimana keadaan Ayah sekarang?,” tanya Annisa.
“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, kata dokter hari ini Ayah bisa pulang,” jawab Ayah dengan raut wajah senang.
“Alhamdulillah kalau begitu, Ayah harus tetap jaga kesehatan ya, ngomong-ngomong Ibu kemana Yah?,” tanya Annisa melihat sekitar kamar tidak menemukan Ibu.
“Ibu sedang mengurus administrasi,” jawab Ayah.
Annisa mengangguk.
Annisa membantu membereskan barang-barang Ayah untuk di bawa pulang, sedangkan Zain duduk di kursi sambil memainkan handphonenya.
Sesekali Zain melihat ke arah Annisa yang sedang sibuk mengemas barang-barang Ayah.
Zain menghampiri Annisa.
“Sini biar aku bantu,” ucap Zain.
“Tidak, ini sudah beres, kamu pahlawan kesiangan,” ucap Annisa tersenyum kecil.
Zain hanya memasang wajah cemberut.
Melihat kelakuan anaknya, Ayah tersenyum, Ayah berharap Zain bisa mencintai Annisa setulus hati.
***
Annisa dan Zain berada di Kantin Rumah Sakit.
“Bagaimana dengan Nafrini?,” tanya Annisa tiba-tiba saat makan siang bersama Zain.
“Apanya? Kamu sudah tahu kan, aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa lagi,” jawab Zain.
“Bukan, maksudku ini belum satu minggu, tapi aku ingin dia pergi dari rumah hari ini juga.”
Zain berpikir sejenak.
“Baiklah, aku akan mengurus semuanya, kalau begitu setelah selesai makan aku izin pergi untuk mengurusi keberangkatannya ke Kairo, aku akan memesan tiket pesawat untuknya,” ucap Zain menatap tajam Annisa.
Annisa menunduk dan mengangguk.
Setelah selesai makan, Zain mengantarkan Annisa kembali ke kamar Ayah, di sana sudah ada Ibu.
Zain pamit kepada Ayah dan Ibu untuk mengurus keperluan Nafrini pulang.
Mendengar itu, Ayah sangat lega, karena Zain sudah memilih jalan yang benar, namun perihal Nafrini sedang mengandung, masih di rahasiakan oleh Zain. Sebaiknya Ayah tidak perlu tahu.
Sekitar pukul empat sore Zain sudah kembali lagi ke rumah sakit.
Dia sudah membawa barang-barang Nafrini dari rumah.
“Kenapa harus di bawa sekarang?,” tanya Annisa yang kini berada di parkiran mobil.
__ADS_1
“Aku tidak mau dia menginjakan kaki di rumahku lagi,” jawab Zain, menuruni tas dan koper milik Nafrini dari mobilnya.
“Zain,” tiba-tiba Nafrini berada di parkiran.
“Apa kamu sudah di perbolehkan pulang oleh dokter?,” tanya Annisa.
Nafrini mengangguk.
Dia menangis.
“Maafkan aku Zain, aku telah mengecewakanmu,” Nafrini bertekuk lutut di hadapan Zain.
“Sudahlah, aku sudah mempersiapkan tiket pesawat untukmu pulang,” ucap Zain yang sama sekali tidak melihat wajah Nafrini.
Annisa hanya memperhatikan mereka berdua.
“Aku minta maaf Zain, jangan benci kepadaku,” Nafrini masih menangis.
“Aku tidak akan benci kepadamu, tapi aku tidak akan melupakan pengkhianatanmu, aku sudah memaafkan dan melupakanmu, biarkan aku hidup tenang di sini bersama istriku,” ucap Zain melihat ke arah Annisa.
Annisa tersenyum kecil. Hatinya tidak tega melihat kondisi Nafrini.
“Zain, kamu melupakan semua kenangan dan janjimu?,” Nafrini berdiri sambil terus mengusap air matanya.
“Iya, aku terpaksa melakukannya, karena itu adalah permintaanmu sendiri,” Zain sekarang berani menatap Nafrini.
“Aku tidak memintanya,” ucap Nafrini.
“Iya, tapi bayi dalam kandunganmu yang memintanya, sudahlah aku tidak ingin ini semakin panjang, ini koper dan barang-barangmu, aku sudah memesankan taxi online untukmu, pergi dan berhati-hatilah,” ucap Zain.
Nafrini menangis sesegukan. Annisa menghampiri Nafrini dan memeluknya.
Nafrini membalas pelukan Annisa.
“Kamu beruntung Annisa, aku akui kamu wanita istimewa, bertahan dengan suami yang masih memiliki kekasih, sabarmu sangat banyak, maafmu sangat luas,” Nafrini melepskan pelukan Annisa.
“Aku minta maaf kepadamu, selama di sini sering membuat keributan, aku tau hatimu hancur, tapi sekarang tidak akan lagi, Zain pantas memiliki istri shalehah seperti kamu, aku pamit ya Annisa, berbahagialah dengan Zain,” ucap Nafrini mengambil koper dan tasnya.
Tak lama kemudian, taxi online datang menjemput Nafrini. Zain membantu menaikkan koper dan tas pada bagasi mobil. Nafrini melambaikan tangan perpisahan.
Annisa membalas lambaian tangan Nafrini.
Zain hanya terdiam melihat Nafrini pergi dari hadapannya.
Annisa melihat ke arah Zain.
Dia berusaha menahan air matanya.
“Tidak apa, kalau ingin menangis, menangislah, aku tahu rasanya perpisahan,” ucap Annisa.
Zain berkaca-kaca, lalu mengusap kembali air matanya. Zain menarik nafas panjang.
“Memangnya kamu pernah berpisah juga dengan kekasihmu?,” tanya Zain.
“Tidak, aku tidak berpisah dengan kekasih,” jawab Annisa.
“Dengan Ambu dan Abah, berpisah karena sekarang aku sudah berada di sini,” lanjut Annisa.
“Tapikan bisa sesekali bertemu dengan Ambu dan Abah,” ucap Zain sambil berjalan mengajak Annisa kembali ke kamar Ayah.
__ADS_1
Annisa tersenyum.
“Apa kamu pernah di tinggal kekasih?,” tanya Zain.
“Tidak,” jawab Annisa.
“Aku tahu, tipe seperti kamu ini pasti meninggalkan bukan di tinggal,” ucap Zain tersenyum kecil.
“Tidak juga, aku belum pernah memiliki kekasih, kamu adalah kekasih pertama dan terakhirku,” ucap Annisa yang membuat Zain terkejut.
“Lalu bagaimana dengan Raihan? Laki-laki yang waktu itu di jadikan alasan membatalkan perjodohan kita?,” tanya Zain.
“Aku tidak pernah mencintainya,” jawab Annisa.
“Waktu itu aku hanya memilih orang yang mencintaiku walaupun aku tidak mencintainya,” lanjut Annisa.
Zain mengangguk.
“Katamu, aku kekasih pertama dan terakhir, berarti kamu mencintaiku?,” tanya Zain
“Umm … belum, aku belum mencintaimu,” jawab Annisa.
“Aku akan membuatmu mencintaiku,” ucap Zain.
Annisa tertunduk.
Sudah sampai di kamar Ayah.
“Ayah sudah boleh pulang,” ucap Ibu.
“Baiklah, aku akan antar,” Zain membawa koper.
“Tidak usah Nak, supir Ayah sekarang sudah berada di parkiran,” ucap Ibu.
Zain mengangguk, dia hanya membawakan koper dan barang-barang Ayah ke parkiran.
Di sana sudah ada supir Ayah menunggu. Ayah dan Ibu berpamitan pulang kepada Annisa dan Zain.
Annisa bersalaman kepada kedua mertuanya, begitu juga dengan Zain.
***
Makan malam telah tiba, Zain membelikan sate ayam untuk istrinya.
Annisa dan Zain makan malam bersama.
Setelah makan malam Zain akan membicarakan sesuatu kepada Annisa.
“Annisa, kamu tahu kalau aku akan menjadi dosen di kampusmu?,” tanya Zain.
“Iya, aku sudah tahu,” jawab Annisa yang akan meneguk air putih.
“Aku ingin kamu memakai cadar, aku tidak ingin wajah istriku terlihat oleh lelaki lain,” pinta Zain.
“Aku belum bisa,” Annisa mengalihkan pandangannya.
“Kenapa? Apa susahnya memakai cadar? Lagi pula ini demi kebaikanmu,” Zain menatap Annisa.
“Biarkan aku memakainya hanya karena Allah, aku butuh waktu,” ucap Annisa yang kembali menatap Zain.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku ingin kamu berhenti kuliah,” ucap Zain yang mengejutkan Annisa.