Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Apa Harus Memakai Cadar?


__ADS_3

Iqomah sudah dikumandangkan, kini semuanya menunggu Raihan memulai shalat.


Namun Raihan belum saja memulai shalatnya.


Kak Ahsan melirik Kak Aisyah dan Annisa.


Annisa hanya menunduk.


“Allahuakbar,” Raihan mengangkat kedua tangannya, dalam shalat di sebut takbiratul ihram.


Semuanya mengikuti Raihan.


Raihan membacakan surat Al-Fatihah dengan lantang.


Begitu juga dengan surat-surat pendek, Raihan membacanya dengan fasih.


“Assalaamu’alaikum wa rahmatullah,” Raihan membalikan kepalanya ke arah kanan, di ikuti oleh makmum.


“Assalaamu’alaikum wa rahmatullah,” Raihan membalikkan kepalanya ke arah kiri.


Shalat magrib telah selesai dilaksanakan.


Kini semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam.


Kak Ahsan sedikit terkesima melihat Raihan dengan lancar memimpin shalat magrib, sepertinya Raihan adalah laki-laki yang baik dan shaleh.


“Silakan, di makan sajiannya, ini semua khusus untuk malam ini,” ucap Kak Ahsan.


Raihan hanya tersenyum.


Kak Aisyah membawakan nasi dan lauk pauk untuk suami dan anak-anaknya. Kini Kak Aisyah memberi kode untuk Annisa mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Raihan.


Annisa sadar dengan kode itu langsung mengambilkan piring dan menyajikan nasi serta lauk pauknya, lalu di berikan kepada Raihan.


Setelah semuanya siap, Kak Ahsan menyuruh Raihan memimpin untuk berdoa sebelum makan.


Raihan mengangguk.


“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar,” Raihan lagi lagi dengan fasih memimpin doa sebelum makan.


Kak Ahsan semakin terkesima melihat Raihan.


Setelah selesai makan. Kini saatnya Kak Ahsan menanyakan perihal keseriusan Raihan kepada adik tersayangnya.


Mereka kembali duduk di ruang tamu.


“Langsung saja Raihan, apa benar kamu mengajak adik saja ke jenjang yang lebih serius?,” tanya Kak Ahsan dengan mantap.


“Betul Kak,” jawab Raihan kini dia lebih santai.


“Kapan rencanamu akan mengenalkan Annisa ke keluargamu?,” tanya Kak Ahsan lagi dengan terus menatap Raihan.


“Secepatnya jika memang Kakak mengizinkan saya untuk membawa Annisa ke rumah orang tua saya,” jawab Raihan.


Annisa hanya diam memperhatikan percakapan Raihan dan Kakaknya.

__ADS_1


“Tapi kamu tahu, Annisa masih kuliah kan? Kamu siap? Maaf maksud saya bukan merendahkan, tugas seorang suami adalah menafkahi istrinya, jadi apakah kamu siap menanggung biaya kuliah Annisa?,” Kali ini Kak Ahsan menyinggung tentang biaya kuliah.


Raihan mengerutkan keningnya, dia berfikir sejenak. Lalu mengangguk.


“InsyaAllah saya siap Kak, saya akan lebih giat lagi bekerja, karena Allah menjanjikan rezeki seseorang akan terjamin setelah ia menikah,” Raihan seperti sangat bersungguh-sungguh.


“Baiklah, saya harap kamu bersabar menunggu jawaban dari Annisa, tidak lebih dari satu minggu, dia akan memberikan jawabannya,” ucap Kak Ahsan melihat Annisa.


Annisa mengerutkan keningnya, Kak Ahsan memberi kode untuk mengangguk.


“I … iya, satu minggu,” ucap Annisa terbata-bata.


“Alhamdulillah, saya berharap bisa melanjutkan ke jenjang serius dengan Annisa, karena saya benar-benar ingin menikahi dia,” ucap Raihan.


Kak Ahsan dan Kak Aisyah tersenyum.


***


Annisa sudah masuk kamarnya, begitu juga Kak Ahsan dan Kak Aisyah.


“Menurut Mas, apakah Raihan baik untuk Annisa?,” tanya Kak Aisyah yang sedang duduk di meja riasnya sambil membuka jilbab beserta cadarnya.


“Mas tidak tahu, tapi dia sudah bisa memimpin shalat dan memimpin doa sebelum makan dengan baik dan santai, sudah dipastikan hal tersebut sering dia lakukan,” jawab Kak Ahsan menyimpan handphonenya karena istri tercintanya mengajak bicara.


“Jadi, Mas akan menyetujui Raihan? Lalu membatalkan perjodohan dengan Zain?,” kini Kak Aisyah membalikan badan ke hadapan suaminya.


“Tidak, Mas sudah menyuruh Annisa melakukan shalat istikharah, semoga Allah memberikan jawaban yang terbaik untuk Annisa,” ucap Kak Ahsan, dia menghempaskan tubuhnya di kasur.


Kak Aisyah menyetujuinya.


***


Annisa berdoa agar diberikan petunjuk tentang perjodohannya, siapa yang harus menikah dengannya, Raihan atau Zain, Annisa meminta jodoh yang terbaik untuknya.


Dia meneteskan air mata, sebetulnya tujuan dia ke kota ini untuk menuntut ilmu, sekarang dia dihadapkan dengan masalah perjodohannya, terlebih lagi Zain memberikan syarat untuk Annisa, itu yang membuat Annisa menjadi takut menikah dengan Zain.


Annisa menyerahkan semua permasalahannya kepada Allah SWT. Karena dia yakin Allah sudah mempersiapkan yang terbaik untuknya, dimana ada kesulitan disitu pula pertolongan Allah pasti datang.


Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya.


***


Hari ini Annisa sangat bersemangat untuk pergi ke kampus.


Dia seperti biasa mengendarai mobil untuk pergi ke kampusnya.


Setelah sampai di tempat parkir, Annisa melihat Raihan dengan beberapa temannya sedang bergurau canda. Raihan terlihat sangat ceria.


Annisa memperhatikan Raihan dari kejauhan.


Salah satu temannya menyadari bahwa Annisa memperhatikannya.


Teman Raihan menyikut Raihan memberitahu bahwa Annisa memperhatikannya dari jauh.


Raihan pamit kepada teman-temannya dan menghampiri Annisa.

__ADS_1


“Aku harap kamu dan keluargamu menerimaku sebagai calon suamimu,” ucap Raihan dengan tersenyum.


“Aamiin, aku berharap juga kamu bersabar menungguku ya, aku telah melaksanakan shalat istikharah, meminta jawaban terbaik dari Allah SWT,” Annisa menundukan pandangannya.


Raihan terkejut mendengar Annisa melaksanakan shalat istikharah.


***


Jam tangan Annisa menunjukan pukul empat sore, dia baru saja keluar dari kelasnya. Menyadari sudah sore Annisa bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat asar terlebih dulu sebelum pulang, mengingat jaraknya menempuh 40 menit.


Dia melaksanakan shalat asar dengan sangat khusyu, setelah selesai shalat Annisa bergegas pergi keluar masjid.


Annisa melihat Raihan sedang berbicara dengan seorang perempuan.


Annisa penasaran dengan sosok perempuan itu, tanpa mengganggunya Annisa mulai mendekati Raihan. Namun belum juga Annisa bisa mendengar percakapan mereka, perempuan tersebut sudah pergi meninggalkan Annisa.


“Tenang, dia cuma teman sekelas saya,” ucap Raihan tiba-tiba dari arah belakang.


Sontak Annisa sangat terkejut mendengarnya.


Annisa hanya bisa tersenyum malu.


“Kamu tidak usah cemburu, saya serius denganmu Annisa, aku tetap sabar menunggu jawabanmu, saya pulang dulu ya, mari saya antar sampai parkiran,” ucap Raihan


Annisa mengiyakan dan mengikuti Raihan dari belakang.


***


Annisa menghempaskan tubuhnya di kasur, dia merasa sangat cape sekali.


Sebetulnya ingin sekali Annisa memberi kabar kepada Raihan, namun dia tersadar, bahwa harus membatasi percakapan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.


Dia memutuskan untuk memejamkan matanya.


*tok … tok … tok*.


“Ini Kak Aisyah, kamu sudah tidur?,” tanya Kak Aisyah yang ada dibalik pintu kamar Annisa.


“Belum Kak,” jawab Annisa bergegas membukakan pintu untuk Kakak iparnya.


“Ini Kakak membawakan beberapa baju gamis untuk kamu pakai ke kampus ya,” Kak Aisyah memberikan 6 baju gamis baru lengkap dengan jilbabnya.


“Ya Ampun Kak, ini banyak sekali” ucap Annisa membantu Kakaknya membawakan baju.


Lalu dia simpan di atas kasur.


“Tidak Apa-apa, ini untuk kamu pakai, jangan lupa ya,” Kak Aisyah tersenyum dan kembali keluar dari kamar Annisa.


Annisa kini melihat satu per satu pakaian yang ada di atas kasurnya. Warna gamisnya bagus, apalagi jilbabnya senada, namun Annisa melihat beberapa cadar yang juga Kak Aisyah berikan untuknya.


Annisa termenung, mengingat syarat dari Zain, bahwa dirinya harus memakai cadar.


Annisa membawa cadar itu di depan cerminnya, dia mencoba memakainya dengan menutupi wajahnya.


“Apa aku harus memakai cadar?,” gumam Annisa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2