
Ambu membawa Annisa tepat ke kamar Abah.
Annisa melihat Abah sudah di baluti oleh kain kafan.
Pecah sudah tangis Annisa.
Annisa menghampiri Abah dan memeluk untuk yang terakhir kalinya.
“Abaaaahh, mengapa begitu cepat? Abah Annisa sangat merindukan Abah, tapi mengapa Abah tega meninggalkan Annisa,” isak tangis Annisa membuat semua orang yang berada di kamar menangis, begitu juga dengan Zain yang matanya mulai berkaca-kaca.
Annisa terus memeluk Abah dan menangis sesegukan seperti anak kecil.
“Abaaahh, Annisa mengadu pada siapa lagi tentang rumah tangga Annisa,” Annisa terus menangis di pelukan Abahnya.
Kak Ahsan mencoba menenangkan Annisa.
Namun Annisa tidak mau beranjak dari pelukan Abahnya.
“Annisa, Abah harus segera di makamkan,” ucap Kak Ahsan sambil mengusap air matanya.
“Tidaaakk, Annisa masih merindukan Abah, hiks … hiks … hiks,” Annisa melihat wajah Abah.
Wajahnya pucat, tapi bersinar dan sedikit tersenyum mengarah ke kanan.
“Abah, pasti Abah sudah melihat surga, Annisa bahagia jika memang benar begitu,” Annisa mencoba menghapus air matanya.
“Abah adalah cinta pertama Annisa, tak akan ada yang menggantikan, siapapun itu,” Annisa kembali berderai air mata.
“Annisa ikhlas dengan kepergian Abah, semoga Abah selalu berada di sisi-Nya,” Annisa kembali menghapus air matanya.
“Annisa akan terus mendoakan Abah, Annisa sangat sayang Abah,” sekali lagi Annisa memeluk Abah untuk yang terakhir kalinya.
“Annisa sudah ya,” Ambu menahan tangisannya, dia menarik tubuh Annisa agar segera melepaskan pelukan dari Abahnya.
“Ambuuu, kenapa Abah tega meninggalkan kita,” Annisa memeluk Ambu.
Ambu membelai lembut kepala Annisa. Ambu merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Tak lama kemudian Kak Ahza datang dengan Kak Citra. Kak Ahza menangis tersedu-sedu melihat Abah terbaring dengan kain kafan.
Kak Citra hanya diam melihat sekitar.
Kak Ahsan memeluk Kak Ahza. Menenangkan Kak Ahza.
Setelah semuanya mulai tenang, Abah di urus oleh pengurus untuk segera di makamkan.
Semua berbaris mengantar Abah untuk yang terakhir kalinya.
Annisa sangat lemas, badannya bergetar, air matanya deras mengalir tidak henti. Ambu selalu berusaha menguatkan Annisa walaupun Ambu sendiri perlu di kuatkan.
Annisa berjalan perlahan, mengikuti orang-orang yang mengangkat keranda Abah.
“laa ilaha illallah, laa ilaha illallah, laa ilaha illallah,” semua orang mengucap kalimat tahlil.
__ADS_1
Annisa berjalan perlahan di belakang Kak Ahsan, Kak Ahza dan Zain yang sedang menggotong Keranda.
Pada hari itu semua orang bersedih, terutama Annisa yang sangat terpukul dengan kepergian Abah.
Setelah Abah selesai di makamkan, Annisa dan keluarga kembali lagi ke rumah.
Kak Ahsan dan Kak Aisyah dan juga anak-anaknya pergi ke kamar untuk beristirahat.
Begitu juga Kak Ahza, Kak Citra dan Adam mereka masuk kamar di sebelah kamar Kak Ahsan.
Annisa dan Zain masuk di kamar Abah.
Annisa terus menangisi kepergian Abah. Sedangkan Zain sibuk dengan ponsenya, dia mengabari Ayahnya bahwa besannya telah berpulang.
Zain dan Ayah video call.
“Annisa yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya, Ayah dan keluarga turut berduka cita” ucap Ayah kepada Annisa.
Sambil mengusap air matanya, Annisa hanya mengangguk.
“Iya Ayah, Annisa masih bersedih, dia tidak bisa di ajak bicara,” ucap Zain.
“Iya, Ayah mengerti Zain.”
Zain sibuk mengobrol dengan Ayahnya.
*TRING*
Ponsel Annisa berbunyi, dia mendapati 1 pesan dari Raihan.
Annisa yang masih menangis, kini semakin keras isak tangisnya.
“Kenapaaaa? Kenapa setelah kepergian Abah, sekarang datang masalah baru? Zain kenapa kamu tega berselingkuh?,” Isak tangis Annisa terdengar di video call Ayah.
“Apa!?,” Ayah melotot.
“Tidak Ayah, Zain matikan dulu video callnya ya,” Zain mematikan video callnya.
“Apa maksudmu?,” tanya Zain.
“Lihat!,” Annisa memberikan ponselnya.
“Itu … itu aku cuma mengantar Ibu Putri,” ucap Zain gugup.
“Mengantar? Tanpa seorang istri mengetahuinya? Kalian berduaan di mobil? Kalian bukan muhrim Zain!,” Annisa menghapus air matanya.
“Tapi … itu kan hal wajar,” Zain membela diri.
“Sudah! Aku sudah pusing dengan rumah tangga ini, lebih baik ceraikan aku sekarang!,” Annisa menangis lagi.
“Jangan terlalu keras, nanti orang rumah bisa tahu!,” Zain menutup mulut Annisa.
Annisa menghempaskan tangan Zain dari mulutnya, nafasnya tidak beraturan, wajahnya merah penuh dengan air mata.
__ADS_1
“Biarkan! Mereka harus tahu ini,” Annisa kali ini akan memberitahu keluarganya.
Tok … tok … tok …
“Annisa? Kamu kenapa? Baik-baik saja?,” tanya Kak Ahsan dari luar.
Annisa setengah menangis langsung berlari membuka pintu dan memeluk Kak Ahsan.
“Kakak, aku ingin bercerai darinya,” tiba-tiba Annisa membuat kaget semua orang.
“Astagfirullah, kenapa? Kamu istigfar Nisa,” Kak Ahsan membalas pelukan Annisa.
“Kakak, aku selama ini tidak bahagia dengannya, selalu di caci maki, bahkan dia menyinggung tentang poligami,” Annisa menangis di pelukan Kak Ahsan.
Zain hanya menunduk. Benar-benar tidak berkutik.
Kak Ahsan menatap ke arah Zain.
“Sekarang Kakak lihat video ini, dia mengantarkan dosenku,” Annisa melepas pelukannya dan memberikan ponselnya.
Semua orang melihat ponsel Annisa termasuk Ambu.
“Astagfirullah,” Kak Aisyah menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kak Ahsan terlihat marah kepada Zain.
“Apa maksudmu? Kenapa kamu melakukan itu? Apa Ayahmu sudah tahu?,” Kak Ahsan mendekati Zain.
“Tidak, Annisa salah paham Kak,” ucap Zain membela diri.
“Tidak mungkin, adikku sangat penyabar, dia tidak akan mengeluarkan kata-kata yang di larang oleh Allah kecuali dia benar-benar sudah tidak tahan! Selama ini kalian berpura-pura bahagia?,” Kak Ahsan melotot kepada Zain.
Zain hanya menunduk.
“Jangan-jangan selama ini, Zain tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami?,” lanjut Kak Ahsan.
“Coba jujur, kalian selama ini apa sudah saling bersentuhan layaknya suami istri?,” tiba-tiba Kak Citra menanyakan hal tersebut.
Kak Ahsan menunggu jawaban dari Zain.
“Belum, karena dia tidak pantas mendapatkannya,” kali ini Annisa menjawab dengan sedikit isak tangisnya.
“Astagfirullah,” Kak Aisyah tidak menyangka.
“Kakak setuju, lebih baik Zain beritahu Ayahmu, pilih saja kau akan bercerai atau melanjutkan pernikahan dengan syarat yang akan kuberikan nanti!,” Kak Ahsan mengepalkan tangannya.
“Tidak, jangan, jangan beritahu Ayah,” Zain memohon seperti anak kecil.
“Tidak, ini sudah keterlaluan! Aku akan memberitahu Ayahmu,” ucap Kak Ahsan.
Kali ini Kak Ahsan sangat marah, belum lagi rasa sedihnya karena kehilangan Abah, sekarang rasa sakit karena adik iparnya selama ini telah menyakiti adiknya. Kak Ahsan tidak menyangka bahwa Zain akan melakukan itu kepada Annisa.
Kak Ahsan mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Pak Guntoro. Zain bersujud di hadapan Kak Ahsan, dia memohon untuk tidak memberitahukan kepada Ayahnya. Namun Kak Ahsan tetap akan menelepon Pak Guntoro.
__ADS_1
Annisa menangis di pelukan Ambu, begitu juga Ambu terus menerus membelai Annisa.
“Assalamu’alaikum,” Pak Guntoro mengangkat telepon Kak Ahsan.