
1 minggu telah berlalu.
Annisa kini tengah sibuk dengan perkuliahannya, masalah perjodohannya dia tepiskan jauh-jauh dari pikirannya.
Banyak yang menghubungi mulai dari Raihan sampai dengan Zain dia mengabaikannya. Karena kini Annisa hanya berpasrah kepada takdirnya. Membuat dirinya tetap baik-baik saja adalah tujuannya sekarang.
Annisa terlihat lebih ceria dari biasanya, karena dia tidak terlalu memikirkan yang akan membuat dirinya sakit seperti waktu itu. Terus memikirkan tentang perjodohannya hanya akan membuang-buang waktunya saja.
“Annisa nanti sore aku kerumahmu ya, kita mengerjakan tugas,” ucap teman perempuan Annisa sebut saja Yunita.
“Oke, aku tunggu ya,” Annisa kini pergi keluar kelas karena perkuliahan telah selesai.
***
Kak Aisyah sedang berada di suatu Mall bersama Mbak Mia supir pribadinya yang setia menemani.
“Bu, maaf tadi saya lihat Raihan, orang yang waktu itu ke rumah ibu, temennya Annisa,” ucap Mbak Mia.
“Biarkan saja Mbak Mia, mungkin dia sedang jalan-jalan,” ucap Kak Aisyah sambil terus melihat-lihat baju gamis.
“Tapi, dia bersama perempuan bu,” kali ini Mbak Mia menyuruh Kak Aisyah untuk mengintipnya.
Kak Aisyah tertegun, dia meminta untuk menunjukan dimana Raihan berada.
Raihan sedang duduk di kursi tempat dia makan bersama seorang perempuan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Kak Aisyah memilih baju.
Dengan cekatan Kak Aisyah mengambil handphonennya dan mengambil video ke arah Raihan dan perempuan itu.
Lama sekali Kak Aisyah mengarahkan kamera ke arah Raihan namun belum ada tanda-tanda mereka melakukan apapun. Hampir saja Kak Aisyah menyerah dan akan mengembalikan handphonennya ke dalam tas, namun dia mendengar Raihan akan berbicara pada perempuan itu.
“Sayang, aku janji, setelah 2 tahun menikah dengan dia, aku akan langsung menikahimu menjadikan istri keduaku,” ucap Raihan sambil memegang tangan perempuan itu.
Kak Aisyah terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Raihan.
“Apa istri kedua? Kupikir kamu akan menceraikan dia setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan!,” perempuan itu melepaskan genggaman tangan Raihan.
“Sayang, kamu memang istri keduaku, tapi dihatiku itu tetap kamu yang pertama, aku tidak mencintai dia sama sekali, lagi pula jika aku menceraikan dia, bagaimana kita dapat uang nanti?,” Raihan kembali meraih tangan perempuan itu.
Kak Aisyah semakin geram melihat perkataan Raihan, tapi dia harus tetap sabar menunggu sampai selesai.
Perempuan itu terdiam sejenak.
“Kamu janji hanya dua tahun saja? Tidak lebih?,” tanya perempuan itu.
“Aku janji, tidak lebih,” jawab Raihan sambil tersenyum.
__ADS_1
Mereka kembali meminum minuman yang ada di atas meja.
“Dua tahun? Tidak! Kamu selesai hari ini Raihan!,” ucap Kak Aisyah mematikan handphonennya dan bergegas pergi bersama Mbak Mia.
“Aku tidak sabar ingin menyampaikan ini kepada Mas Ahsan,” lanjut Kak Aisyah.
Mbak Mia hanya mengangguk yang sedari tadi juga kesal mendengar perkataan dari Raihan.
***
Sore ini Mas Ahsan sudah pulang lebih cepat dari biasanya. Kini Kak Aisyah sudah sangat siap memberitahu suaminya itu.
“Mas, coba lihat rekaman video ini,” tiba-tiba Kak Aisyah datang dengan membawa handphonennya.
Kak Ahsan mengerutkan keningnya melihat ke arah istrinya dengan sangat heran.
“Bisa-bisanya kita di tipu dengan tampang sok alimnya!,” ucap Kak Ahsan marah.
“Tenang Mas, ayo duduk minum dulu,” Kak Aisyah memberikan segelas air putih.
“Ayo kita beritahu Annisa,” Kak Ahsan menuju kamar Annisa di ikuti oleh Kak Aisyah.
Tok … tok … tok …
*Ceklek*.
Annisa sangat terkejut dengan kedatangan Kakaknya tiba-tiba.
Annisa sedang belajar sambil mendengarkan murottal di speaker kecilnya.
Menyadari Annisa tidak memakai jilbab, Kak Ahsan segera menutup kembali pintu kamarnya. Agar tidak ada siapapun yang melihat aurat Annisa.
Annisa lalu mematikan murottalnya.
“Annisa, Kakak tau ini pasti sangat sulit untukmu, tapi kamu harus mengetahuinya,” Kak Ahsan mengajak Annisa duduk di kursi sedangkan Kak Aisyah duduk di kasur.
Kak Ahsan memperlihatkan rekaman video tadi.
Setelah selesai di putar, Kak Ahsan tidak sedikitpun melihat rasa kecewa di wajah Annisa.
Justru Annisa malah terlihat santai dan tenang.
“Apa kamu tidak marah?,” tanya Kak Ahsan heran.
“Tidak, untuk apa? Annisa sekarang lega, karena Allah telah menunjukan bukti nyata kalau Raihan bukan yang terbaik untuk Annisa,” Annisa tersenyum kepada Kak Ahsan.
__ADS_1
“Kak Ahsan dan Kak Aisyah, Annisa berterimakasih karena telah menunjukan siapa Raihan sebenarnya,” Annisa tersenyum dan memeluk kedua Kakaknya itu.
Mereka membalas pelukan Annisa. Kak Ahsan dan Kak Aisyah saling menatap satu sama lain.
“Tunggu! Tapi Kakak tetap ingin Raihan menjelaskan apa maksudnya ini, panggil Raihan ke sini sekarang juga!,” Kak Ahsan melepas pelukannya.
Annisa mengangguk.
Dia membuka handphonennya dan mengirim pesan kepada Raihan untuk segera datang kerumahnya.
Raihan menyetujuinya.
Jam dinding menunjukan pukul empat sore. Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Raihan sampai di rumah Kak Ahsan.
Dengan wajah sumringan dan percaya diri, Raihan datang ke rumah dengan bersalaman kepada Kak Ahsan.
Namun Kak Ahsan menepis tangan Raihan.
Raihan sangat terkejut. Dia sudah menyadari ada yang salah.
Dia langsung menunduk.
“Jangan duduk, saya tidak ingin kamu menduduki sofa yang mahal milik saya, sekarang kamu hanya perlu melihat video ini!,” Kak Ahsan memberikan handphone istrinya.
Raihan mengulurkan tangan untuk mengambil handphone dari tangan Kak Ahsan.
Namun lagi-lagi Kak Ahsan mengeluarkan kata-kata yang membuat semua orang terbelalak.
“Tunggu dulu, handphone ini terlalu mahal untuk kamu sentuh, biar saya yang pegang,” Kak Ahsan menatap Raihan dengan dingin.
Kak Aisyah dan Annisa terkejut dengan perkataan Kak Ahsan.
Kak Aisyah memegang bahu Kak Ahsan mencoba untuk menenangkan emosinya.
Raihan sangat terkejut mendapati video dirinya bersama kekasih di Mall tadi siang.
Kini tubuh Raihan bergetar, keringat bercucuran. Tak sanggup lagi menatap Kak Ahsan. Hanya bisa menatap ke arah Annisa seperti memberi isyarat untuk menyelamatkannya, namun Annisa tidak peduli dia lantas memalingkan mukanya.
“Sudah jelaskan? Apa yang sebenarnya kamu incar? Kekayaan Annisa? Kekayaan tidak akan selamanya ada, kamu hanya di butakan oleh keindahan dunia saja, sehingga melupakan keindahan yang akan membawamu ke surga yaitu istri shalihah,” Kak Ahsan kini lebih tenang menghadapi Raihan.
Raihan hanya tertunduk malu. Rasanya di ingin lenyap dari muka bumi ini.
“Untungnya Allah memberitahu kami niat dan tujuan kamu menikahi Annisa, jika tidak? Bagaimana? Adik saya akan tersiksa karena telah menikah denganmu,” lanjut Kak Ahsan sedikit menaikan nada bicaranya.
“Ada yang ingin kamu sampaikan sebelum pintu rumah ini tidak akan pernah kembali terbuka untukmu?,” Kak Ahsan memberi kesempatan pada Raihan untuk berbicara.
__ADS_1
“Saya meminta maaf kepada keluarga Kak Ahsan terutama Annisa, sebetulnya dalam video itu saya hanya membujuk kekasih saya agar dia mau melepaskan saya, setelah saya menikah dengan Annisa, saya tidak akan pernah melepaskannya,” Raihan lagi-lagi masih membela diri.