
Hari sudah gelap. Sesampainya di kampung halaman yaitu rumah Abah. Banyak orang yang sudah berkumpul di rumah Abah dan mendapati Ambu sedang menangis tersedu-sedu.
Kak Ahsan turun dari mobil lari ke dalam rumah di ikuti oleh Annisa dan Kak Aisyah juga Pak Guntoro, Zain dan ibunya Zain.
Semua orang menyingkir dan memberi jalan kepada mereka yang baru datang.
“Ahsan,” Ambu menangis dan memeluk anak sulungnya.
“Ambu, maafkan Ahsan,” Kak Ahsan memeluk erat Ambu.
Begitu juga Kak Aisyah dan Annisa ikut bergabung memeluk mereka berdua.
“Abahmu, dia tadi tidak sadarkan diri, sekarang Alhamdulillah sudah tidur di kamar,” ucap Ambu.
Pak Guntoro dan keluarga di sambut oleh Ambu dan di persilakan untuk beristirahat di kamar tamu. Mereka dengan kondisi lelah menuju ke kamar tamu.
“Ahsan, Annisa” terdengar suara pelan dan lemah memanggil Kak Ahsan dan Annisa.
“Abah,” Kak Ahsan dan Annisa bergegas pergi menghampiri Abah di kamar.
Kak Ahsan mencium tangan Abah.
“Maafkan Abah, titip adik-adikmu ya, kamu yang akan menggantikan Abah,” ucap Abah sangat lemah.
Semua orang menangis, begitu juga Kak Aisyah dan Ambu.
“Abah jangan bicara seperti itu,” ucap Annisa dengan isak tangisnya.
“Annisa, Abah tau perjodohan ini membuat kamu tersiksa, tapi percayalah, Abah menginginkan yang terbaik untukmu,” ucap Abah memegang tangan Annisa.
Annisa menggeleng menangis sejadi-jadinya.
“Oh iya Abah, Pak Guntoro ikut ke sini, katanya ingin menjenguk Abah, sekalian sore tadi Annisa sudah melaksanakan lamaran dengan Zain anaknya Pak Guntoro,” Kak Ahsan menjelaskan kepada Abah.
“Iya Nak, terimakasih Annisa sudah menuruti keinginan Abah dan janji dengan sahabat Abah,” Abah melihat ke arah Annisa.
Annisa hanya tersenyum dengan masih bercucuran air mata.
***
Keesokan harinya.
Cuaca sangat segar masih bersih dari polusi, burung berkicau merdu, Annisa, Kak Aisyah dan Ambu sedang memasak di luar untuk sarapan pagi di susul oleh istrinya Pak Guntoro yang ikut membantu.
Abah sedang mengobrol dengan Pak Guntoro dan Zain di kamar.
Sedangkan Kak Ahsan sedang menelepon satpam rumah menanyakan kondisi rumah dan Kak Citra.
Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Hingga sarapan sudah siap semua orang berkumpul di ruang makan, terkecuali Abah.
Semua menyantap makanan bersama-sama. Annisa sangat rindu sekali masakan Ambunya itu begitu juga Kak Ahsan yang sudah 1 tahun tidak memakan masakan Ambu.
__ADS_1
Setelah selesai makan Ambu pamit ke kamar Abah untuk menyuapi Abah makan.
“Astagfirullah, Abah,” Ambu berteriak.
Semua orang terkejut dan menghampiri Ambu.
Terlihat Abah mengeluarkan darah dari mulutnya. Sontak semua orang kaget.
“Abah, ti … dak akan la … ma lagi, Annisa dan Zain ha … rus menikah sekarang,” dengan susah payah Abah menyampaikan keinginan terakhirnya.
Annisa menangis dan memeluk Abah.
“Iya Abah, Annisa siap,” ucap Annisa.
Zain mendengar itu langsung melotot terkejut.
“Iya, lebih baik kita laksanakan pernikahan ini di sini sekarang juga,” ucap Pak Guntoro menyetujuinya.
Kak Ahsan pergi memanggil penghulu terdekat.
Sambil menunggu kedatangan Kak Ahsan dan penghulu, Ambu membersihkan darah yang ada di mulut Abah dan mempersiapkan Abah.
“Maafkan suami saya Pak Guntoro, sehingga harus melaksanakan pernikahan seadanya,” ucap Ambu.
Pak Guntoro yang sedang memijat kaki Abah langsung menoleh ke arah Ambu.
“Tidak apa-apa, memang sebaiknya harus di segerakan,” ucap Pak Guntoro tersenyum.
Di sisi lain Annisa sedang menangis di kamarnya. Dia berpasrah dan berserah diri kepada Allah, semoga pilihan Abahnya adalah memang jodoh yang terbaik untuk dirinya.
Jika sampai mereka melangsungkan pernikahan maka pacar Zain akan datang ke Indonesia dan merusak rumah tangga mereka.
“Aaaarrrgggghh!!!,” zain membanting handphonenya ke kasur.
Tak lama kemudian Kak Ahsan datang dengan seorang penghulu.
Mereka sudah berkumpul di kamar Abah, hanya tinggal menunggu Zain.
Pak Guntoro menghampiri Zain dan membawanya ke kamar Abah.
Dengan wajah masih merah karena marah Zain terpaksa harus menuruti keinginan ayahnya itu.
Zain sudah duduk di depan Abah dan penghulu. Begitu juga saksi sudah siap untuk mendengarkan ijab qobul.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Zain Abidzar bin Guntoro Abdul Rozak dengan anak saya yang bernama Annisa Nurhaliza dengan maskawinnya berupa uang sebesar 1M, tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Annisa Nurhaliza binti Ahmad Sobari dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”
“Bagaimana para saksi?,”
“SAH!”
“Alhamdulillahirobilalamin,” semua orang berucap syukur karena acara pernikahannya berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Annisa menangis, entah tangis bahagia atau tangis kesedihan.
Begitu juga Abah sangat senang karena telah lepas beban menikahkan anak terakhirnya.
Annisa bersalaman kepada Zain, dengan wajah jijik Zain terpaksa menerima tangan yang di ulurkan oleh Annisa. Tak lupa juga bersalaman kepada kedua orang tua masing-masing.
***
Siang hari cuaca sangat panas. Abah sedang tidur dengan nyenyak.
Pak Guntoro sekeluarga berpamitan untuk pulang, Zain sangat sumringah karena akhirnya dia bisa terbebas di rumah ini.
“Zain, kamu temani istri kamu di sini ya,” tiba-tiba wajah Zain berubah setelah Pak Guntoro menyuruhnya tetap tinggal di sini.
“Ta … tapi Yah.”
Pak Guntoro menggeleng, seakan Zain tidak boleh melawannya.
Dengan terpaksa Zain mengiyakan suruhan ayahnya itu.
“Tidak apa-apa Nak, anggap saja rumah sendiri,” ucap Ambu.
Zain hanya tersenyum dan kembali ke kamarnya.
Annisa pergi ke warung untuk sekedar membeli minuman, dia memesan dua minuman, yang satu untuk dirinya dan suaminya.
Setelah sampai rumah Annisa tidak menemukan keberadaan Zain.
Hingga akhirnya diberitahu oleh Ambu, Zain pergi ke kamarnya.
Annisa mengurungkan niat untuk memberikan minumannya.
“Ketuk saja pintunya, kalian sudah suami istri, tidak apa-apa,” Kak Aisyah menggoda Annisa.
Annisa menurutinya dan mengetuk pintu kamar Zain.
“Ap …” Zain melihat ke arah ruang tamu, di sana ada Kak Aisyah dan Kak Ahsan.
Tidak mungkin harus menjawab ketus kepada istrinya itu.
“Masuk,” ucap Zain menyuruh Annisa masuk kamar dan menutup pintunya.
“Nih Kak Zain, aku bawakan minuman,” ucap Annisa sambil menyodorkan minuman.
Zain menggeleng dan menumpahkan minuman yang ada di tangan Annisa.
“Inget ya! Kita itu bukan suami istri sungguhan, aku terpaksa menikahi kamu demi Ayahku! Nanti malam kamu tidur saja di luar, jangan pernah tidur satu kasur denganku!,” Zain menunjuk Annisa.
Annisa menundukan kepalanya.
Dia berpikir, inilah kehidupan barunya di mulai.
“Dan jangan pernah beritahu siapapun bahwa rumah tangga kita tidak baik-baik saja, bersikap sewajarnya ketika di hadapan mereka! Mengerti?,” tanya Zain dengan nada marah.
__ADS_1
Annisa mengangguk, dia meneteskan air mata.
“Bersihkan minuman yang tumpah ini, hapus air matamu, aku tidak mau melihat itu!,” Zain memalingkan wajahnya.