Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Syarat Menjadi Istrinya


__ADS_3

“Ada apa Zain? Maksudku Kak Zain,” lanjut Annisa.


“Aku mau bicara, kita ke tempat makan sekarang juga,” Zain mempersilahkan Annisa untuk mengikutinya.


“Simpan saja motormu di sini, kita naik mobilku,” lanjutnya.


Annisa mengangguk dan mengikuti langkah Zain.


Annisa terlihat sangat canggung ketika berada berdua dengan Zain di dalam mobil.


Dia melihat ke arah kaca di sebelahnya tanpa melihat Zain sedikitpun. Berbeda dengan Zain yang sedari tadi memperhatikan Annisa.


Sampai di suatu tempat makan, Zain mengajak Annisa turun. Dia berjalan lebih dulu di ikuti oleh Annisa, sebelum pada pembicaraannya, mereka memesan makanan dan minuman.


“Sebetulnya apa yang harus kamu bicarakan?,” Annisa membuka percakapan.


“Ada beberapa syarat yang harus saya sampaikan,” Zain mengalihkan pandangannya kepada Annisa.


Annisa menunduk.


“Syarat apa?,”


“Syarat kamu menjadi calon istri,”


Annisa tidak menjawab, menunggu perkataan Zain selanjutnya.


“Kamu tau bahwa aku berasal dari keluarga pesantren? Sebelum kita menikah, kamu harus sudah memutuskan hubungan dengan laki-laki mana pun, aku tidak mau menikah dengan seorang perempuan yang akrab dengan laki-laki lain selain aku,” jelas Zain.


Annisa tetap diam, tidak sedikit pun melihat ke arah Zain.


“Lalu, aku ingin kamu hidup mandiri, tidak bergantung pada siapapun nanti setelah menikah,”


Annisa mengerutkan keningnya. Ada yang ambigu dari perkataan Zain.


“Selain itu, aku juga ingin kamu memakai cadar,”


Kali ini Annisa mengangkat wajahnya, melihat ke arah Zain.


“Kenapa?,” tanya Annisa serius.


Zain tersenyum sinis, dia tahu kalau Annisa tidak suka memakai cadar.


“Aku ingin wajahmu hanya terlihat olehku, suamimu,” jelasnya.


“Sepertinya kita tidak bisa menolak perjodohan ini, aku tidak ingin membuat orang tuaku kecewa, mau tidak mau kamu harus menuruti semua keinginanku, jika kamu tidak mau, kita akan batalkan perjodohan ini dengan alasan kamu membangkangku,” lanjutnya.


“Selanjutnya, kamu juga harus ikhlas dan menerima jika suatu saat aku melakukan poligami, karena poligami tidak di larang dalam ajaran agama kita,”

__ADS_1


Annisa terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Zain. Dia tidak menyangka bahwa perlakuan Zain sangat membuat dirinya tidak nyaman, sangat jauh berbeda dengan apa yang diceritakan Kak Ahsan.


“Sebelum janur kuning melengkung, aku ingin memperjuangkan pembatalan perjodohan ini,” ucap Annisa.


Zain tersenyum senang, ternyata Annisa yang akan mengurus semua pembatalannya, jadi dirinya tidak perlu merasa bersalah karena telah membatalkan perjodohannya.


“Bagus, aku senang, aku akan terus menunggu usahamu, kamu hanya mempunyai waktu 3 bulan karena ayahku akan melamarmu dalam waktu itu.”


Sebetulnya Annisa sendiri masih bingung bagaimana caranya untuk membatalkan perjodohannya. Karena kini dia tengah sibuk dengan perkuliahannya.


“Tentang poligami, dalam islam memang poligami boleh dilakukan namun bukan menjadi anjuran apalagi kewajiban untuk seorang suami melakukan poligami, aku tidak bisa menerima satu syarat itu, terlebih lagi aku sudah tau jika kamu akan lebih memilih kekasihmu yang di Kairo itu dan tidak akan berlaku adil antara istri pertamamu dan istri keduamu,” kali ini Annisa menolak syarat dari Zain.


“Kesampingkan masalah poligami, sekarang kamu hanya harus mengurus pembatalan perjodohan ini, aku akan terus menunggu,” ucap Zain.


***


Annisa sudah kembali berada di kampusnya, kini dia pergi menghampiri sepeda motornya untuk pulang.


Di depan sepeda motornya Annisa melamun, sampai tidak sadar kalau Raihan berada tepat di depannya sedang memperhatikan Annisa.


“Assalamu’alaikum, kenapa kamu pulang sesore ini?,” tanya Raihan.


Annisa tidak menjawab, dia tetap melamun dengan satu tangan memegangi sepeda motornya.


Raihan mendorong sedikit sepeda motor Annisa hingga dia tersadar dari lamunannya.


“Kamu kenapa? Sedang ada masalah? Coba cerita sama saya.”


Annisa melihat ke arah Raihan, dengan perlakuan baik Raihan kepadanya, terlintas di benaknya jika dia akan mengenalkan Raihan kepada Abahnya untuk menolak perjodohannya dengan Zain.


Namun tiba-tiba dia tersadar lagi.


“Astagfirullah, tidak, itu tidak mungkin,” Annisa berbicara sendiri.


Karena menurutnya Raihan tidak mungkin menyukainya. Hal paling tidak mungkin baginya jika harus mengenalkan Raihan kepada Abah dalam waktu singkat, karena Annisa juga belum jelas mengetahui asal muasal keluarga Raihan.


“Apa yang tidak mungkin?,” tanya Raihan.


“Enggak Kak, aku pamit pulang dulu ya,” jawab Annisa.


“Eh … tunggu, aku antar pulang ya? Sudah sore nanti kamu kenapa-napa di jalan,” Raihan menaiki sepeda motornya yang berada tepat di samping Annisa.


Annisa mengerutkan keningnya, dia berpikir kenapa Kak Raihan sampai mau mengantarnya pulang? Padahal mungkin rumahnya dengan rumah Annisa berjauhan.


“Tapi Kak, rumah saya jauh dari sini.”


“Tidak apa-apa, Kakak sekalian aja jalan-jalan sore, yuk.”

__ADS_1


Annisa mengiyakan ajakan Raihan untuk mengantarnya pulang, dia mengira Raihan ini memang sangat baik kepadanya.


***


Malam hari.


Annisa melamunkan perkataan Zain, terlebih lagi soal memakai cadar dan poligami. Dia tidak bisa menerima jika calon suaminya harus berpoligami, meskipun kini Annisa tidak menyukai Zain, tetapi tetap saja perempuan mana yang rela berbagi cinta suaminya.


Sepertinya untuk kembali mengembalikan suasana hati Annisa, dia harus menelepon Ambu dan Abahnya.


Via telepon.


“Assalamu’alaikum Ambu,” Annisa senang mendengar suara Ambu.


“Wa’alaikumsalam, bagaimana kuliah hari ini?,” tanya Ambu.


“Alhamdulillah Ambu, lancar,” Annisa tersenyum.


“Alhamdulillah, Ambu dan Abah di sini senang mendengarnya jika kamu baik-baik saja di sana.”


“Oh iya, Abah kemana Mbu?.”


“Abahmu sedang tidur, dia sedikit tidak enak badan,” Ambu melirik Abah yang sedang tertidur di kamar.


“Tapi Abah tidak apa-apa kan Ambu?,” tanya Annisa mengkhawatirkan Abah.


“Tidak, dia baik-baik saja, besok juga pasti sembuh,” jawab Ambu menenangkan Annisa.


“Sebetulnya ada yang ingin Nisa tanyakan Ambu,” Annisa memberanikan diri.


Ambu mendengarkan Annisa.


“Kalau Nisa menolak perjodohan ini, Ambu kecewa?,” tanya Annisa dengan hati-hati.


Ambu menarik napasnya.


“Ambu tidak kecewa, apapun pilihan kamu, yang terpenting kamu bahagia dengan pilihanmu,” jawab Ambu.


Mendengar perkataan Ambu, Annisa merasa sedikit lega.


“Tapi tidak tau Abahmu, dia sudah berjanji dengan sahabatnya itu, memangnya Nisa kenapa mau menolak perjodohannya? Kemarin kamu bertemu dengan calonmu? Suka tidak? Pasti dia tampan kan?,” Ambu sedikit menggoda Annisa.


“Ambu, sudah jangan bicarakan dia, Nisa tidak suka padanya Ambu,” Annisa cemberut di goda oleh Ambu.


“Nanti lambat laun juga kamu akan menyukainya, asalkan dia memperlakukanmu dengan baik, bertanggung jawab kepadamu, tidak kasar terhadapmu, lagi pula keturunan Pak Guntoro semuanya adalah anak-anak Shaleh.”


Ambu tidak tau saja, apa yang sebenarnya sudah dia katakan kepada Annisa.

__ADS_1


Annisa sekarang merasa kebingungan, apakah harus berterus terang sekarang kepada Ambunya tentang Zain? Dia takut akan mengecewakan Abahnya, tetapi jika ini terus berlanjut, dia khawatir rumah tangganya tidak akan menemukan ketenangan.


__ADS_2