
Sore hari, Annisa dan Zain sudah sampai di rumah mereka, Zain membantu menurunkan koper dan barang-barang milik Annisa.
“Kamu boleh duluan ke kamar,” ucap Zain sambil mengangkat kopernya.
“Terimakasih,” Annisa pergi terlebih dahulu menuju kamarnya.
Zain mengangkat dan menyimpan kopernya tepat di depan pintu kamar Annisa yang terbuka.
“Apa aku boleh masuk?,” tanya Zain.
“Tidak, simpan di situ saja kopernya, terimakasih sekali lagi, aku mau bersih-bersih dulu,” jawab Annisa sambil menutup pintu kamarnya.
Zain melamun menatap pintu kamar Annisa. Dia menyesali perbuatannya, sehingga sekarang Zain akan lebih susah untuk menaklukan hati Annisa. Dia kembali ke kamarnya yang berada di bawah dan segera membersihkan diri.
Setelah selesai, Annisa turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam. Dia tetap menggunakan cadar walaupun sudah berada di rumah dengan suaminya.
Zain yang sedang duduk di ruang tamu terheran melihat Annisa yang tetap menggunakan cadar. Dia menghampiri Annisa.
“Kenapa kamu tetap menggunakan cadar? Ini di rumah berdua dengan suamimu?,” tanya Zain yang duduk di mini bar dapur.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin lebih menjaga diriku,” jawab Annisa sambil sibuk menyiapkan bahan yang akan dia masak.
“Menjaga diri? Dari siapa?,” Zain terus menatap Annisa.
“Darimu,” ucap Annisa.
Seketika Zain merasa terpatung dengan perkataan Annisa, Zain berpikir Annisa sekarang akan lebih membatasi percakapan maupun gerak-geriknya.
“Maafkan aku Annisa, aku akan berusaha menjadi suamimu yang lebih baik,” ucap Zain.
“Hmm,” Annisa mengangguk pelan.
“Apa ada yang perlu di bantu?,” Zain berdiri dari duduknya dan menawarkan bantuan.
“Ah … tidak perlu, kamu hanya perlu duduk saja di ruang tamu, itu akan sangat membantuku,” ucap Annisa.
Zain mengerti ucapan dari Annisa, bahwa Annisa sangat terganggu dengan kehadirannya di dapur. Zain menuruti keinginan istrinya itu, dia pergi menuju ruang tamu dan duduk sambil memainkan ponselnya.
“Padahal aku sangat merindukan Annisa,” gumam Zain pelan.
Di dapur Annisa sibuk memasak, sedangkan Zain sibuk memainkan ponselnya, dia mengecek setiap akun sosial media milik Annisa. Dia melihat beberapa postingan cupcake milik Annisa, banyak peminat yang berkomentar dan memuji cupcake buatan Annisa.
Zain tersenyum.
“Cupcake buatan istriku memang enak,” gumam Zain masih dengan suara pelan.
Sesekali Zain melihat ke arah dapur, dia melihat Annisa masih tetap sibuk memasak.
“Mengapa aku baru menyadarinya, aku sangat beruntung memiliki istri yang shalehah, bonusnya juga dia sangat cantik.”
Zain melihat akun instagram Annisa, dia tidak mendapati foto Annisa. Sebenarnya Zain sangat merindukan wajah Annisa.
Setelah selesai memasak dan menata meja makan, Annisa memberitahu Zain untuk segera memakan masakannya. Zain langsung menghampiri meja makan.
Dia duduk berhadapan dengan Annisa. Tanpa membuka cadarnya Annisa tetap akan memakan makanannya.
“Ini kan di rumah, mengapa tidak membuka cadar?,” tanya Zain.
“Tidak apa-apa, aku nyaman seperti ini,” jawab Annisa.
“Aku suamimu, mengapa tidak memperlihatkan wajahmu kepadaku?,” tanya Zain dia menyimpan sendok dan garpu yang di pegangnya dan fokus menatap Annisa.
__ADS_1
“Suami yang dzalim?”, jawaban Annisa membuat Zain kaget.
“Astagfirullah, tidak apa-apa, aku terima perkataanmu, itu belum cukup menebus dosaku kepadamu selama ini,” raut wajah Zain berubah menjadi sedih.
Annisa sesekali melihat ke arah Zain, dia sebetulnya tidak tega membuat Zain merasa sedih.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu,” ucap Annisa menunduk.
“Tidak apa-apa, aku tahu hatimu baik, parkataan itu sangat pantas untukku,” Zain tersenyum pada Annisa.
Annisa menaikkan pandangannya kepada Zain. Mereka melanjutkan makan.
Seperti biasa setelah selesai makan Annisa akan mengangkat piring kotor untuk segera di cuci. Namun kali ini Zain yang akan menggantikan tugas tersebut.
“Biar aku saja,” Zain segera mengambil piring kotor Annisa.
“Kalau kamu cape, kamu boleh istirahat di kamar,” ucap Zain tersenyum.
Annisa mengerutkan keningnya.
“Tidak apa, biarkan aku yang mengerjakannya, selama ini aku tidak pernah membantu pekerjaan rumah,” lanjut Zain membawa piring kotor mereka berdua ke tempat cuci piring.
Zain mencuci piring satu persatu dan alat-alat dapur lainnya. Annisa tidak memasuki kamar, dia menunggu Zain mencuci piring di sebelahnya.
Zain mencuci sambil melihat ke arah istrinya.
Annisa di buat salah tingkah oleh Zain.
“Hati-hati pecah, lihatlah pada piring yang kamu cuci,” ucap Annisa menunjuk piring yang ada di tangan Zain.
“Tidak akan, aku lebih betah memandangimu sekarang,” rayuan Zain belum membuat hati Annisa goyah.
Annisa memalingkan wajahnya ke arah lain.
Piring yang di cuci oleh Zain pecah karena Zain terus memandangi wajah Annisa.
“Astagfirullah,” lirih Annisa.
Dia segera mengambil sapu dan pengki untuk membereskan pecahan piring yang berserakan di bawah.
“Tidak usah, biar aku saja,” ucap Zain menahan Annisa untuk membereskannya.
“Tolong ambilkan kresek saja untuk pecahannya,” lanjut Zain.
Annisa segera mengambil kresek yang di perintahkan oleh Zain.
Zain berjongkok untuk memunguti pecahan piringnya, Annisa ikut berjongkok walaupun tidak membantu mengambil pecahan tersebut.
“Aduh …” tangan Zain terkena pecahan piring.
Annisa melihat darah yang segar keluar dari telunjuk Zain.
“Simpan kreseknya, kemari biar aku obati,” ucap Annisa berdiri dan langsung membuka kotak obat.
Zain membersihkan darahnya dengan menggunakan air mengalir.
Annisa membawa obat merah dan plester luka. Dia menyuruh Zain untuk duduk di kursi bar, Annisa melihat luka Zain yang cukup dalam.
“Apakah itu perih?,” tanya Annisa sedikit khawatir.
“Ssss ... perih,” jawab Zain menyipitkan matanya.
__ADS_1
“Bolehkah aku memegang tanganmu? Aku akan melihat dulu takutnya masih ada sisa pecahan piringnya di tangamu, setelah itu aku akan memberikan obat merah,” Annisa bertanya sebelum menyentuh tangan suaminya.
“Tentu saja,” Zain tersenyum.
Annisa memegang tangan Zain dan melihat dengan senter, dia melihat tangan Zain dengan teliti, ternyata ada pecahan piring yang kecil masih menancap di tangan Zain, dengan cekatan Annisa membuka jarum yang berada di hijab sebelah kanan. Lalu Annisa menyiapkan lilin dan mengarahkan ujung jarum pada api di lilinnya.
“Eh, mau di apakan?,” tanya Zain.
Annisa mengalihkan pandangannya kepada Zain.
“Ini untuk mengambil pecahannya di dalam tanganmu, Ambu selalu berbuat seperti ini ketika aku terkena duri di kaki,” jawab Annisa.
Zain memejamkan matanya, sepertinya dia ketakutan.
Melihat ekspresi Zain seperti takut, Annisa menghentikan langkahnya untuk mengeluarkan pecahan piring itu.
“Kamu percaya padaku?,” tanya Annisa.
Zain kembali membuka mata dan mengangguk tersenyum.
“Bismillah,” Annisa mulai mencongkel pecahan yang kecil itu di tangan Zain.
Zain memejamkan matanya.
“Aw.”
“Alhamdulillah, sudah keluar, aku buang dulu ya,” Annisa membuang pecahan kecil itu ke dalam kresek.
Annisa menuangkan obat merah di atas luka. Tangan Zain bergetar, sepertinya dia menahan sakit. Annisa langsung cekatan menempelkan plester luka pada tangan Zain.
“Sudah, tidak perlu cemas,” ucap Annisa.
“Terimakasih istriku,” Zain tersenyum kepada Annisa.
Annisa memalingkan wajahnya, lalu melanjutkan membereskan pecahan piring.
“Kamu tahu, aku sangat merindukanmu,” ucap Zain yang kembali berjongkok menemani istrinya.
“Sampai-sampai aku terkejut melihatmu sudah memakai cadar,” lanjut Zain.
Annisa tidak menjawab.
“Kalau boleh, aku ingin melihat wajahmu,” ucap Zain menatap Annisa.
“Untuk apa?,” tanya Annisa.
“Sebetulnya semenjak seminggu yang lalu aku lupa wajah aslimu, aku berharap saat menjemputmu dapat melihat wajah cantikmu, tapi ternyata kamu sudah memakai cadar, bahkan sampai detik ini kamu tidak melepas cadarmu,” ucap Zain.
Annisa menatap Zain lalu berdiri, membuang kresek yang berisi pecahan piring.
Annisa menghela nafas.
“Aku belum bisa membuka cadar ini untukmu,” ucap Annisa.
“Aku butuh waktu, sampai aku percaya bahwa kamu adalah suamiku yang bertanggung jawab dan mencintaiku dengan tulus,” lanjut Annisa.
Zain memasang wajah kecewa.
“Baiklah, aku ikhlas menunggumu Annisa, kita mulai kembali rumah tangga ini dari awal,” Zain tersenyum.
Annisa masih dengan tatapan dinginnya. Zain mulai meraih tangan Annisa.
__ADS_1
Belum sampai 5 detik, Annisa sudah melepaskan tangannya dari genggaman Zain..