Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Pulang Ke Rumah Kak Ahsan


__ADS_3

“Apa? Kenapa?,” tanya Annisa.


“Tidak apa-apa, aku akan mulai belajar mencintaimu asalkan kamu mau berhenti kuliah,” jawab Zain.


“Tapi kamu tahu, kalau aku sangat ingin kuliah,” Annisa memasang wajah cemas.


“Aku ingin kamu melayaniku, tanpa harus terganggu oleh kuliahmu,” ucap Zain.


“Kenapa kamu ingkar janji? Saat lamaran keluarga kalian mengizinkan aku kuliah!,” Annisa menatap tajam Zain.


“Keluargaku kan? Bukan aku!,” Zain membalas tatapan Annisa.


Annisa berdiri dari duduknya dan langsung pergi ke kamarnya.


Di kamar Annisa merasa bingung, kenapa Zain sampai meminta Annisa untuk berhenti kuliah. Padahal dari awal niat Annisa datang ke kota ini untuk berkuliah. Apakah harus membantah perintah suami? Tapi kuliah adalah impiannya sejak dulu.


Annisa berpikir untuk pergi ke rumah Kak Ahsan.


Dia membereskan pakaian secukupnya dan di masukkan ke dalam tas. Tidak lupa membawa buku-buku kuliahnya.


Annisa pergi ke lantai bawah, di lihat masih ada Zain yang duduk manis di kursi.


“Aku pamit, akan menginap di rumah Kak Ahsan,” ucap Annisa sambil membawa tas gendong.


Zain berdiri dari duduknya dan terkejut.


“Kenapa? Ini sudah malam Annisa,” ucap Zain


sambil menahan Annisa.


“Aku hanya ingin bertemu mereka, izinkan aku menginap beberapa hari,” ucap Annisa, dia berjalan menuju mobilnya dan pergi berlalu.


Zain merenung, apakah dia terlalu bersikap keras kepada Annisa, sebenarnya Annisa adalah gadis yang baik dan juga shalehah, tapi entah mengapa Zain masih belum tergerak hatinya untuk sepenuhnya mencintai Annisa. Terlebih lagi kekasih yang sangat ia cintai telah berkhianat. Kini Zain pasrah dengan keadaan, jika Annisa benar-benar jodohnya, mungkin dia akan kembali lagi padanya. Zain juga tidak bisa memaksakan cintanya kepada Annisa.


Di jalan Annisa menyetir dengan fokus, matanya mulai merah dan berair, kini tangisnya tidak bisa di bendung.


“Sepertinya Abah sudah salah memilihkan aku jodoh,” gumamnya sambil menghapus air mata.


“Salahku apa? Sampai aku harus berhenti kuliah? Kuliah adalah mimpiku, aku benar-benar tidak bisa berhenti kuliah hanya karena Zain,” Annisa terus menghampus air matanya.


Sesampainya di rumah Kak Ahsan, satpam membukakan pintu pagar untuk Annisa.


Annisa mengetuk pintu rumah Kak Ahsan.


“Assalamu’alaikum,” ucap Annisa.


“Wa’alaikumsalam,” Kak Aisyah membukakan pintu.


Dia terkejut mendapati Annisa malam-malam berada di depan rumahnya sambil membawa tas ransel.


“Annisa,”


Tanpa basa basi Annisa memeluk Kak Aisyah, dia menangis di pelukan Kak Aisyah.


Kak Aisyah membawa Annisa masuk dan menutup pintunya.


Kak Ahsan melihat Annisa sedang menangis di pelukan istrinya, dia menebak bahwa sudah terjadi sesuatu menimpa Annisa.


“Annisa, ada apa?,” tanya Kak Ahsan.


Annisa melepas pelukan Kak Aisyah.


“Tidak Kak, aku hanya merindukan kalian,” jawab Annisa sambil berusaha tersenyum.


“Kamu yakin tidak apa-apa? Suamimu bagaimana? Kenapa datang malam hari?,” tanya Kak Aisyah.


“Tidak apa, dia sudah mengizinkan,” jawab Annisa tersenyum.


“Aku merindukan kamarku,” ucap Annisa.


“Iya, tentu, kami tidak merubahnya sedikitpun,” ucap Kak Aisyah mengantar Annisa ke kamarnya.


Kak Ahsan seperti ingin menanyakan sesuatu namun di tahan oleh Kak Aisyah.


Annisa pergi ke kamarnya.


Kak Aisyah langsung menghampiri Kak


“Mas bingung, kenapa tiba-tiba dia datang malam-malam,” ucap Kak Ahsan.


“Biarkan saja, sepertinya sedang terjadi sesuatu, nanti kita lihat saja perkembangannya,” ucap Kak Aisyah.


“Mas khawatir rumah tangganya tidak akan lama,” tiba-tiba Kak Ahsan membuat Kak Aisyah melotot.


“Huusshh, jangan bilang begitu, kita doakan saja semoga tidak ada apa-apa,” ucap Kak Aisyah.


***


Pagi hari Annisa sudah bersiap untuk pergi ke kampus.


Kak Ahsan dan Kak Aisyah beserta anak-anaknya sedang sarapan di meja makan, begitu juga Adam yang masih berada di rumah Kak Ahsan.


Annisa menghampiri mereka.

__ADS_1


“Kak, Annisa boleh menginap lagi di sini?,” tanya Annisa.


“Ya boleh, rumah ini selalu terbuka untukmu,” jawab Kak Ahsan.


Annisa tersenyum dan berpamitan kepada Kak Ahsan dan Kak Aisyah.


Annisa berangkat menggunakan mobilnya. Hatinya sangat berat, di sisi lain dia adalah seorang istri yang harus patuh pada suami, tapi di sisi lain dia memiliki cita-cita yang harus dia gapai.


Sesampainya di kampus, Annisa melihat suasananya sangat ramai, banyak orang yang sedang beraktivitas.


Dia memasuki kelasnya.


Hari ini di kabarkan dosen baru akan masuk ke kelas. Annisa sudah bisa menebaknya bahwa dosen itu adalah suaminya.


Annisa duduk besebelahan dengan Yunita salah satu temannya.


“Hari ini suami kamu akan mulai mengajar ya?,” tanya Yunita.


“Iya,” jawab Annisa tersenyum.


“Bagaimana rasanya punya suami seorang dosen dan juga pemilik pesantren?,” tanya Yunita menatap Annisa dengan penasaran.


“Tidak ada yang spesial,” jawab Annisa melirik ke arah Yunita.


“Kenapa?,” Yunita menahan dagunya dengan kedua tangan sambil menghadap Annisa.


“Umm,” Annisa berpikir, tidak mungkin dia menceritakan masalah rumah tangganya kepada Yunita.


“Karena yang spesial hanya martabak dan nasi goreng hehe,” lanjut Annisa.


“Yah, aku sudah serius,” Yunita kembali memperbaiki posisi duduknya.


Annisa hanya tersenyum.


“Assalamu’alaikum,” Zain datang ke kelas Annisa.


Semua mahasiswa duduk dengan rapih, banyak mahasiswa perempuan yang terus memuji ketampanan Zain dan menyebut bahwa Annisa beruntung mendapatkan suami seperti Zain.


Mereka hanya tidak tahu saja permasalahan yang sedang dialami Annisa.


Mereka hanya melihat dari sisi ketampanan dan kesuksesan Zain saja.


Kelas telah di mulai, Zain selalu menatap Annisa sesekali saat sedang mengajar.


Berbeda dengan Annisa yang selalu memalingkan wajah dari Zain.


Setelah selesai kelas, semua mahasiswa di persilakan untuk keluar kelas terkecuali Annisa.


“Kenapa?,” tanya Annisa.


“Annisa, kembalilah ke rumah,” jawab Zain sambil membereskan barang-barangnya.


“Tentu, jika kamu mengizinkan aku tetap berkuliah,” Annisa tidak berani menatap suaminya itu.


“Aku akan mengizinkanmu berkuliah, dengan syarat kamu harus membayar uang kuliah sendiri, tanpa meminta kepadaku,” ucap Zain.


“Aku pikir kamu paham agama, paham bagaimana hukum seorang suami yang tidak menafkahi istrinya,” Annisa menatap Zain.


“Aku akan tetap menafkahimu, tapi tidak dengan uang kuliah,” Zain menyangga badannya dengan kedua tangan di atas meja, mendekatkan wajahnya pada Annisa.


Annisa menjauh.


“Kupikir kamu juga seorang wanita shalehah yang akan menuruti perintah suami! Ternyata tidak, kamu tahu kan hukum seorang istri yang tidak patuh pada suami?,” tanya Zain tersenyum sinis.


“Aku akan tetap berkuliah dengan uangku sendiri, terimakasih Bapak dosen Zain terhormat,” Annisa keluar kelas.


Zain tersenyum sinis.


Annisa pergi ke kamar mandi.


Dia menangis di dalam kamar mandi, bingung dengan tanggungan biaya kuliah yang cukup besar. Apa yang harus dia perbuat agar dapat memperoleh uang. Dia tidak mungkin terus menerus meminta bantuan Kak Ahsan.


Annisa berulang kali menghapus air matanya yang tidak bisa di bendung.


Annisa melihat isi dompetnya.


Sekarang, uang tersisa di dompetnya ada dua juta, itupun untuk keperluan sehari-harinya, sedangkan uang kuliah yang harus di bayarkan sebesar tujuh juta.


Tapi Annisa ingat sesuatu, dia masih menyimpan uang mahar dari Zain, belum sepeserpun dia sentuh.


Annisa membuka buku tabungannya. Terlihat saldonya masih 1M.


Annisa berniat untuk memakainya, tapi jika terus menerus di pakai tanpa mengisi kembali saldonya, uang tersebut akan habis.


“Tidak, aku tidak akan memakainya,” gumamnya dalam hati.


Annisa sekarang hanya bisa berpasrah kepada Allah.


Setelah tenang, Annisa keluar kamar mandi dengan wajah tanpa beban.


Annisa menelusuri koridor kampus, dia akan menuju ke kantin karena menangis membuatnya menjadi lapar.


Dia memesan bakso dan es teh manis.

__ADS_1


Tiba-tiba Raihan datang menghampiri Annisa.


“Assalamu’alaikum,” ucap Raihan.


Annisa terkejut.


“Wa’alaikumsalam,” Annisa melihat sekitar, takut menjadi fitnah berduaan dengan seorang yang bukan suaminya.


“Annisa, kenapa matamu sembab?,” tanya Zain.


“Tidak.”


“Aku tahu, mata cantikmu bukan seperti ini, siapa yang berani menyakitimu?,” tanya Raihan yang masih berdiri.


“Tidak ada.”


“Annisa, aku sudah putus dengan kekasihku, jika kamu tidak bahagia, datanglah kepadaku,” ucap Raihan yang mengejutkan Annisa.


“Maksudmu apa!,” tiba-tiba Zain ada di belakang Raihan.


“Santai dong, tidak lihat Annisa matanya sembab? Itu pasti ulah kamu kan?,” Raihan menatap tajam Zain.


“Kamu? Tahu tidak sekarang sedang berhadapan dengan siapa?,” Zain marah kepada Raihan.


“Kamu telah menggoda istri saya,” lanjut Zain.


“Kamu juga telah melukai hati istrimu sendiri,” ucap Raihan.


“Yang sopan kalau bicara sama dosen!,” Zain maju selangkah lebih dekat dengan Raihan.


“Dosen?,” Raihan tidak mengetahui kalau suami Annisa sekarang adalah dosen di kampusnya.


“Mau saya laporkan kamu? Mahasiswa tingkat akhir, yang tidak sopan pada dosennya juga menggoda istri dosen, bisa di keluarkan kamu dari kampus ini,” ucap Zain.


Raihan tertunduk.


“Sudah Raihan, sekarang kamu pergi,” ucap Annisa.


Raihan pergi begitu saja.


“Sudah ya Kak Zain jangan marah di sini, lihat semua orang memperhatikan kita,” ucap Annisa menenangkan Zain.


“Saya tidak suka ya, kalau kamu masih berhubungan dengan dia,” Zain marah.


Annisa hanya mengangguk.


***


Sore hari Annisa sedang bermain di taman belakang bersama Adam.


Tiba-tiba Kak Aisyah memanggil Annisa.


Annisa menghampiri Kak Aisyah yang berada di ruang tamu.


Annisa terkejut dengan kedatangan Zain.


“Annisa, ada Zain mau jemput kamu,” ucap Kak Aisyah tersenyum.


“Tapi, Annisa masih ingin tinggal di sini Kak,” Annisa memasang wajah sedih.


“Kapan-kapan bisa kamu menginap lagi di sini, kasihan Zain sudah jauh-jauh menjemputmu, lagi pula tidak baik meninggalkan suami sendiri,” Kak Aisyah mengelus kepala Annisa.


Annisa mengangguk dan izin membereskan barang-barang miliknya.


Setelah siap Annisa berpamitan kepada Laila, Lisa dan Adam.


Juga bersalaman kepada Kak Aisyah.


“Titip salam buat Kak Ahsan ya Kak,” ucap Annisa.


“Iya, hati-hati ya Nisa,” Kak Aisyah memeluk Annisa.


Annisa tersenyum membalas pelukannya.


Zain dan Annisa pergi dengan menggunakan mobil Annisa, karena Zain berangkat ke rumah Kak Ahsan menggunakan taxi online.


“Kenapa kamu menjemputku?,” tanya Annisa.


Zain yang sedang fokus menyetir, melirik sebentar ke arah Annisa.


“Di rumah tidak ada yang beres-beres dan memasak untukku,” jawab Zain.


“Kamu bisa bayar ART,” Annisa kesal dengan perkataan Zain.


“Tidak, aku ingin kamu yang mengurus rumah, lagi pula itu rumah kamu,” ucap Zain.


Annisa tidak menjawab.


“Sudah memilih?,” tanya Zain.


“Mau tetap kuliah dengan uang sendiri?,” lanjut Zain.


Annisa tidak menjawabnya, dia sangat kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2