
Pagi sekali Zain sudah meninggalkan kasurnya dan pergi entah kemana.
Annisa kebingungan mencari suaminya itu, hingga dia bertanya kepada Kak Aisyah.
“Kak Aisyah, lihat Kak Zain?,” tanyanya baru saja bangun dari tidurnya.
“Suamimu tadi izin pulang kerumah orang tuanya, katanya ada barang yang tertinggal, nanti sore pulang lagi, kamu tidur pulas katanya tidak bisa di bangunkan,” ucap Kak Aisyah.
“Oh begitu ya Kak,” Annisa tersenyum malu.
Padahal nyatanya Annisa tau betul kalau Kak Zain itu tidak membangunkannya.
Hari ini Annisa memutuskan untuk izin kuliah karena dirinya merasa cape.
Dia lebih memilih bantu-bantu di rumah Kak Aisyah.
“Bagaimana Nisa, kamu bisa tidur malam tadi?,” tanya Kak Ahsan
Mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan.
“Alhamdulillah Annisa tidur pulas sekali,” jawab Annisa.
“Kamu tidak terganggu dengan kehadiran Zain? Ini pertama kalinya kamu tidur dengan lelaki? Terus semalam gimana aja sama Zain?,” tanya Kak Ahsan menggoda Annisa.
“Apa? Tidak Kak Ahsan, biasa saja kami tidur,” jawab Annisa sambil lanjut memakan makanannya.
Kak Ahsan tersenyum melihat adiknya salah tingkah, Kak Aisyah memberi kode untuk berhenti menggoda Annisa, karena sekarang wajah Annisa memerah.
Padahal yang terjadi Annisa tidak tidur satu ranjang dengan Zain melainkan dia tidur di sofa.
“Ya sudah, mas berangkat dulu ya bareng anak-anak,” ucap Kak Ahsan sambil bersalaman dan mencium kening istrinya.
Kak Aisyah mengangguk dan mengantarkan suami dan anak-anaknya ke depan.
Annisa merenung, bagaimana kalau mereka tahu bahwa semalam tidak terjadi apa-apa antara suami dan istri.
Sepertinya Annisa akan terus merahasiakannya.
Setelah semua orang pergi dari rumah, kini Annisa tinggal sendirian di kamar, namun tetap masih ada Kak Citra dan anaknya.
Annisa sedang belajar untuk menggantikan beberapa hari dia tidak pergi kuliah. Jam dinding menunjukan pukul sebelas siang.
Dia pergi keluar kamar untuk mengambil cemilan di dalam kulkas.
Tapi tiba-tiba dia melihat Kak Citra sedang berada di kamar Kak Aisyah. Pintunya terbuka sedikit, Annisa merasa curiga dan mengintip dari sela-sela pintu.
Terlihat Kak Citra sedang membuka kotak emas milik Kak Aisyah, dengan sigap Annisa mengeluarkan handphonennya dan merekam aksi Kak Citra. Setelah selesai memasukan emas kedalam saku celannya. Annisa mematikan video dan membuka pintu kamar Kak Aisyah.
Betapa terkejutnya Kak Citra melihat Annisa kini berada di hadapannya dengan tatapan tajam.
“A … Annisa, sedang apa di sini?,” tanya Kak Citra gugup.
“Annisa tadi sedang cari makanan, lalu lihat pintu kamar Kak Aisyah terbuka, tidak seperti biasanya,” jawab Annisa sambil terus memandangi Kak Citra.
“Sepertinya Kak Citra sedang beres-beres barang milik Kak Aisyah?,” sindir Annisa.
“Ah … iya betul, Kak Citra sedang beres-beres barang Kak Aisyah, siapa tau berantakan, jadi Kakak bereskan barangnya,” ucap Kak Citra masih dengan wajah gugup.
“Apakah ada barang yang Kakak inginkan?,” kali ini pertanyaan Annisa membuat Kak Citra sedikit kesal.
“Apa maksudmu?,” tanya Kak Citra dengan sinis.
“Tidak, maksudku apakah Kakak menginginkan salah satu barang dari Kak Aisyah? Jika menginginkannya aku akan membelikan barang tersebut untuk Kakak,” kali ini Annisa membuat Kak Citra pusing.
“Tidak ada Annisa! Aku di sini hanya membersihkan saja,” ucap Kak Citra kesal.
“Baguslah kalo begitu, nanti aku dan Kak Aisyah juga akan membersihkan kamar Kakak,” ucap Annisa tersenyum.
Kak Citra mengerutkan keningnya, tidak paham apa yang di bicarakan Annisa.
Kak Citra pergi meninggalkan Annisa.
__ADS_1
Annisa tersenyum dan mengunci pintu kamar Kak Aisyah.
***
Sore hari, Kak Aisyah pulang sendirian, dia terkejut mendapati kamarnya terkunci.
Di sana sudah ada Kak Citra yang akan membela diri bila ada apa-apa terjadi padanya.
“Tadi Annisa tiba-tiba mengunci pintunya, entah kenapa, kayaknya dia mau mengambil barang kamu deh Kak,” ucap Kak Citra yang malah menuduh Annisa.
Kak Aisyah tersenyum tidak percaya.
“Oh iya? Padahal tidak perlu mengambil, cukup katakan apa yang Annisa mau, pasti Kakak akan belikan,” lagi-lagi perkataan Kak Aisyah membuat Kak Citra kesal.
“Iyalah, secara kan suami kamu tajir melintir,” ucap Kak Citra.
“Alhamdulillah, itu semua titipan Allah Citra, kita harus mensyukuri setiap pemberian-Nya.”
“Iya, kamu beruntung banget punya suami kayak Kak Ahsan. Dia pasti selalu memberikan apa yang istrinya mau,” Kak Citra memasang wajah iri.
“Kamu juga beruntung punya suami seperti Ahza, dia sangat pekerja keras dan bertanggung jawab kepada keluarganya,” Kak Aisyah tersenyum.
Mendengar keributan, Annisa bergegas keluar kamar dan menyerahkan kunci pintu kamar Kak Aisyah.
“Annisa, kenapa pintunya di kunci?,” tanya Kak Aisyah sambil menerima kunci dari Annisa.
“Iya Kak, tadi ada kucing, mau ambil makanan di dalam kamar,” ucap Annisa sambil melirik ke arah Kak Citra.
Kak Citra yang menyadari itu langsung terlihat salah tingkah lalu pergi meninggalkan Annisa dan Kak Aisyah.
Entah mengapa sekarang Annisa lebih berani soal sindir menyindir, biasanya Annisa akan memilih diam dan langsung menuju pada inti permasalahan. Setelah menikah dengan Zain, kini Annisa lebih berani.
“Kak, aku ikut ke dalam ya, ada yang harus di bicarakan,” ucap Annisa pelan.
Kak Aisyah mengangguk dan masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.
“Langsung saja Kak, aku mau kasih tau rekaman video ini,” Annisa langsung menyerahkan handphonenya.
Kak Aisyah tersenyum setelah melihat video dari Annisa.
“Jadi, Kak Citra juga sempat mengambil uang? Annisa kira ini baru pertama kalinya Kak Citra mengambil emas milik Kak Aisyah,” ucap Annisa.
“Tidak, terimakasih ya Annisa, kamu sudah sangat berani mengambil rekaman videonya, sekarang Kakak sudah ada bukti,” Kak Aisyah tersenyum.
Annisa mengangguk mengerti.
Tok … tok … tok …
Mbak Mia mengetuk pintu kamar Kak Aisyah.
“Ibu maaf, Ibu Citra memaksa saya untuk menyerahkan kunci mobil, katanya dia mau memakainya,” ucap Mbak Mia dengan nafas masih ngos-ngosan.
“Jangan di kasih ya, jaga Ibu Citra supaya tidak keluar rumah selama Mas Ahsan belum pulang,” ucap Kak Aisyah.
Mbak Mia mengangguk.
“Mbak Mia tidak usah takut ya, Mbak Mia di sini bekerja untuk saya, jadi lebih baik turuti saja perkataan saya,” ucap Kak Aisyah sambil tersenyum.
“Siap Bu,” Mbak Mia kembali pergi meninggalkan mereka berdua.
***
Malam hari suasana di rumah Kak Ahsan sangat sepi.
Kak Aisyah sedari tadi masih berada di kamarnya dengan Kak Ahsan.
Begitu juga Annisa yang terus berada di kamar tanpa tau keberadaan suaminya.
Dia ingin sekali mengetahui keberadaan suaminya lewat telepon, tapi Annisa rasa itu akan sia-sia. Suaminya tidak akan mengangkat telepon darinya.
*BRUK*
__ADS_1
Pintu kamar Kak Aisyah di tutup dengan sangat kencang.
Ternyata Kak Ahsan keluar kamar dengan sangat marah, di susul oleh Kak Aisyah yang mencoba menenangkan Kak Ahsan.
Annisa melihat kejadian itu ikut menenangkan Kak Ahsan.
Tok … tok … tok …
Kak Ahsan mengetuk pintu kamar Kak Citra dengan kasar.
“Keluar!,” Kak Ahsan sedikit berteriak.
Kak Citra tiba-tiba keluar dengan ketakutan, dia menggunakan Adam anaknya sebagai alat peredam kemarahan Kak Ahsan.
Kak Ahsan melihat Adam dia sepertinya sedang sakit karena ada plester kompres menempel di dahi nya.
Kak Ahsan memanggil Mbak Ayu, dia menyuruh membawa Adam ke dapur, agar tidak melihat sesuatu yang tidak sepantasnya di lihat anak kecil.
“Citra, kenapa kamu lakukan itu!?,” Kak Ahsan kini sudah berada di dalam kamar Kak Citra begitu juga dengan Kak Aisyah dan Annisa.
“Apa Kak? Citra tidak mengerti.”
“Kamu sudah mencuri emas milik istri saya! Kembalikan! Kamu tidak tau di untung, sudah sangat baik keluarga saya mau menampung kamu!,” kali ini Kak Ahsan benar-benar marah.
“Mana buktinya? Kakak nuduh saya? Hanya karena suami saya sedang bangkrut, jadi kamu menuduh saya mencuri?,” Kak Citra bicara dengan menggunakan nada tinggi.
“Annisa, perlihatkan videonya,” Kak Ahsan melirik Annisa.
Annisa mengangguk dan mengeluarkan handphonennya lalu memperlihatkan video.
“Ini fitnah, saya di jebak oleh Annisa, dia yang sebenarnya mencuri emas,” tiba-tiba Kak Citra menuduh Annisa.
“Saya tidak percaya! Adik saya sudah bekecukupan! Mana mungkin dia mencuri emas!,” Kak Ahsan marah.
Kak Aisyah mencoba menenangkan suaminya itu.
Lalu Kak Ahsan menyuruh Kak Aisyah dan Annisa untuk menggeledah kamarnya. Mencari emas yang di sembunyikan.
Kak Citra sangat ketakutan, dia menyimpan emas di dalam brangkas miliknya.
“Sudah saya katakan, saya tidak mencuri emas Kak Aisyah,” masih saja membela dirinya, padahal bukti sudah sangat jelas.
Semua tempat sudah di periksa namun tidak menemukan emas yang di maksud. Hanya tinggal satu tempat yaitu brangkas.
“Kak, maaf kunci brangkasnya?,” Annisa meminta kunci brangkas.
“Apa? Berani kamu mau membuka brangkas saya?,” Kak Citra tidak memberikan kuncinya.
“Buka! Cepat, kalo memang kamu tidak mencuri, buktikan!,” Kak Ahsan memaksa.
Akhirnya Kak Citra membuka brangkasnya. Dia benar-benar pasrah sekarang.
Betapa terkejut Kak Aisyah melihat emas miliknya berada di brangkas milik Kak Citra.
“Sudah jelas! Kamu pencurinya, besok pagi kamu harus pergi sekarang juga dari sini, aku akan memberitahu suamimu! Tinggalkan saja Adam di sini, kami akan merawatnya!,” Kak Ahsan pergi meninggalkan kamar Kak Citra.
Di ikuti oleh Kak Aisyah.
Kini hanya tinggal Kak Citra dengan Annisa.
“Sudah saya bilang Kak, saya akan membersihkan kamar Kakak dengan Kak Aisyah,” ucap Annisa.
“Besok kamar ini akan bersih dari barang-barang Kakak, kita sebagai seorang muslim, dilarang untuk mencuri, apalagi barang yang bukan milik kita, Kakak kalau memang butuh uang seharusnya berbicara kepada kita, kita pasti akan membantu,” ucap Annisa.
“Anak kecil tau apa hah? Kamu belum merasakan pedihnya tidak punya uang! Kamu akan merasakan sulitnya tidak punya uang, lihat saja! Suamimu akan mencampakkanmu!,” tiba-tiba Kak Citra mendoakan Annisa dengan doa buruk.
Annisa terkejut mendengarnya.
“Annisa, tinggalkan dia!,” Kak Ahsan berteriak dari luar.
Annisa menurutinya dan pergi meninggalkan Kak Citra.
__ADS_1
Kini Kak Citra menangis dengan suara yang keras. Tidak ada yang memperdulikannya.
“Lihat saja Aisyah, suatu saat kamu akan menyesal!,” gumam Kak Citra.