Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Ibarat Nahkoda Kapal?


__ADS_3

Malam hari.


Semua orang sudah berkumpul di rumah, Ambu mengadakan acara tahlilan bersama untuk mendoakan Abah. Semua orang mengaji bersama-sama.


Annisa tak kuasa menahan air matanya, dia menangis ketika pengajian sedang berlangsung. Begitu juga Ambu yang mencoba menenangkan Annisa.


“Sudah ya jangan menangis, Abah sudah bahagia di sana,” ucap Ambu memegang tangan Annisa.


Annisa mengusap air matanya dan mengangguk.


***


Singkat cerita, Annisa sudah tinggal di kampung halamannya selama 3 hari, hari-hari yang di lewatinya sama saja seperti sebelumnya, dia membuat cupcake dan menghabiskan setiap waktunya bersama Ambu.


Cupcake yang dia buat semakin hari semakin laris, banyak orang yang menyukai cupcake Annisa karena rasanya yang enak dan harga yang terjangkau.


Dia melupakan masalah rumah tangganya selama di kampung halaman. Tidak mengingat Zain sama sekali.


Kuliah yang dia jalani tertinggal, banyak pelajaran yang Annisa lewati, dia bingung dengan kuliahnya, apakah harus tetap berlanjut atau berhenti dan meneruskan bisnis cupcakenya.


“Iya Nak, wanita itu setinggi apapun pendidikannya, tetap dapur tempat utamanya,” ucap Ambu.


Annisa tersenyum mendengar perkataan Ambu.


“Iya Ambu, pendidikan itu bekal untuk Annisa ke depannya, kelak Annisa akan memiliki anak dan Annisalah madrasah pertama anak Annisa nanti, maka Annisa harus di bekali oleh ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya,” ucap Annisa.


“Ambu ikut apa baiknya saja Nisa, asalkan kamu bahagia,” ucap Ambu.


Annisa tersenyum.


Di Pesantren.


Zain sedang beristirahat, dia membuka ponsel dan melihat instagramnya. Terlihat satu postingan baru dari Nafrini. Dia memposting sebuah foto yang mengejutkan Zain.


Terlihat Nafrini memakai gaun pengantin yang cantik dan seorang lelaki memakai jas hitam yang sangat tampan. Mereka berdua telah melangsungkan pernikahan. Ternyata Ayah dari anak di dalam kandungan Nafrini bertanggung jawab untuk menikahinya.


Zain tersenyum melihat foto itu.


“Aku senang jika pada akhirnya kamu bahagia dengan lelaki lain, maafkan aku telah membuatmu menunggu,” mata Zain berkaca-kaca.


Meskipun ada benci di dalam hati Zain kepada Nafrini, tetap saja Nafrini adalah cinta pertama Zain. Dia sangat menyayangi Nafrini. Walaupun hatinya sekarang tergores, setidaknya dia lega melihat mantan kekasihnya itu sudah bahagia meskipun bukan dia yang membuatnya bahagia.


Sekarang Zain merenungi pernikahannya, dia tidak tahu keputusan apa yang akan di ambil, Zain sudah melaksanakan shalat istikharah, tetapi belum juga mendapat jawaban. Dia hanya perlu bersabar.


***


5 hari sudah Annisa menjalani kehidupannya bersama Ambu. Setelah selesai berjualan Annisa beristirahat di kamarnya. Dia membuka tas baju miliknya dan meraih cadar.


“Apa aku harus memakai ini?,” Annisa beranjak dari duduknya dan menghampiri cermin.


Dia memakai cadar.


Annisa keluar dari kamarnya dengan menggunakan cadar.


“MasyaAllah Annisa, kamu cantik dengan cadar itu,” Ambu memuji Annisa.


“Ah Ambu ini bisa saja, InsyaAllah Annisa mulai hari ini akan belajar menggunakan cadar, doakan Annisa, mudah-mudahan Annisa bisa kuat menjalaninya.”


Ambu memeluk dan membelai anak kesayangannya itu.

__ADS_1


***


Hari demi hari, Zain merasakan kerinduannya terhadap Annisa. Dia merasa gelisah sudah lama berjauhan dengan Annisa. Zain merasa heran mengapa dia merasa rindu terhadap istrinya itu. Apakah ini jawaban dari shalat istikharahnya?.


Saat itu Zain berada di ruangan Ayahnya.


“Ayah, apakah Annisa akan mau jika Zain mengajaknya kembali ke rumah?,” tanya Zain.


Ayah yang sedang menghadap laptop langsung mengalihkan pandangannya kepada Zain.


“Apa jawaban atas shalatmu?,” Ayah bertanya balik kepada Zain.


“Belum ada, tapi Zain merasakan kerinduan terhadap Annisa,” Zain menatap Ayah.


Ayah tersenyum mendengarnya.


“Itu adalah jawabannya, Allah maha membolak balikkan hati, ingat itu,” Ayah kembali menatap layar laptop.


“Tapi Zain takut dengan Kakaknya,” Zain menatap Ayah.


“Kamu sudah besar, walaupun kamu anak terakhir Ayah, hadapi masalahmu sendiri, bicaralah baik-baik kepada Kakaknya, datang ke rumah Kakaknya untuk meminta maaf, apapun nanti perkataan dari Kakaknya kepadamu harus kamu terima, karena ini kesalahanmu sendiri,” jelas Ayah.


“Tapi, apakah kamu sudah yakin? Kamu tidak akan menceraikan Annisa?,” lanjut Ayah kembali menatap anak bungsunya.


“Tidak Ayah, Zain akan mempertahankan rumah tangga ini, entah mengapa rasa rindu ini semakin menggebu-gebu kepada Annisa,” Zain mengalihkan pandangannya karena sejujurnya dia malu mengatakan itu kepada Ayah.


“MasyaAllah, lihatlah kuasa Allah, betapa mudahnya membolak balikkan hati hambanya, sekarang lebih baik kamu bersiap untuk mengunjungi rumah Kakaknya, meminta maaflah dengan bersungguh-sungguh,” ucap Ayah.


Zain mengangguk dan berpamitan kepada Ayah. Dia bersiap-siap akan mengunjungi rumah Kak Ahsan.


Sesampainya di rumah Kak Ahsan, satpam membukakan pagar untuk mobil Zain. Dia keluar dan menyapa satpam lalu mengetuk pintu rumah Kak Ahsan. Panas terik yang menyengat membuat Zain semakin gugup untuk berhadapan dengan Kakak iparnya itu.


“Assalamu’alaikum,” Zain mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam,” Kak Aisyah membuka pintu dan terkejut dengan kedatangan Zain.


“Silakan masuk, tunggu sebentar ya,” Kak Aisyah mempersilakan Zain masuk dan menyuruhnya duduk di ruang tamu.


Kebetulan Kak Ahsan sedang pulang ke rumah dari kantornya untuk sekedar makan siang bersama istrinya.


Kak Ahsan menarik nafas panjang ketika bertemu dengan Zain, kali ini pembawaan Kak Ahsan lebih santai dan sabar menghadapi Zain.


Zain berdiri begitu tau kedatangan Kak Ahsan.


“Silakan duduk, jangan sungkan,” Kak Ahsan duduk di dampingi Kak Aisyah tepat di depan Zain terhalangi oleh meja yang di atasnya banyak cemilan dan minuman.


Zain kembali duduk.


“Maaf Kak apabila kedatangan saya mengganggu Kakak,” ucap Zain dengan sangat sopan.


“Tidak, saya menunggu kedatanganmu sejak kemarin,” Kak Ahsan menatap Zain.


“Apa sudah ada perintah dari Ayahmu tentang rumah tangga kalian?,” lanjut Kak Ahsan.


“Ayah tidak memerintahkan apapun,” ucap Zain.


Kak Ahsan dan Kak Aisyah menunggu jawaban selanjutnya dari Zain.


“Allah yang memerintahkan,” lanjut Zain.

__ADS_1


“Allah memerintahkan apa?,” tanya Kak Ahsan.


“Allah memerintahkan Zain untuk menjaga rumah tangga ini,” jawab Zain.


Kak Aisyah tersenyum mendengar jawaban Zain.


“Apa kamu yakin? Apa kamu siap mencintai Annisa dan bertanggung jawab sebagai suami?,” tanya Kak Ahsan serius.


“Yakin Kak, InsyaAllah saya akan memperbaiki sikap dan perilaku saya,” jawab Zain menunduk.


“Kamu tahu kan? Seorang suami adalah ibarat seorang nahkoda. Nahkoda akan sangat berpengaruh besar pada keselamatan penumpang. Penumpang itu adalah istri dan anak-anakmu kelak, nahkoda yang handal akan mengantarkan penumpangnya sampai tujuan dengan selamat dan tanpa hambatan apapun, meskipun derasnya ombak akan mudah dia lewati dengan keterampilan mengendalikan kapal. Apakah kamu sudah siap?,” tanya Kak Ahsan dengan serius.


“InsyaAllah saya siap Kak, saya sudah memikirkannya,” jawab Zain masih dengan menunduk.


“Apa yang membuatmu siap?,” tanya Kak Ahsan.


“Sudah beberapa hari ini Allah menunjukan jawabannya lewat perasaan saya Kak, beberapa hari kemarin saya sangat merindukan Annisa, saya yakin ini adalah petunjuk dari Allah, saya yakin juga Allah telah membolak balikkan hati saya,” jawab Zain.


“MasyaAllah,” gumam Kak Aisyah pelan.


Mendengar perkataan itu Kak Ahsan sebetulnya sangat lega, namun tetap dia harus waspada.


“Saya tahu kamu itu orang baik Zain, saya mengenal betul Ayahmu, karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, semua Kakak-kakakmu baik, tentunya kamu juga tidak kalah baik dari mereka. Mungkin ini hanyalah godaan dalam rumah tanggamu, Kakak harap kamu berjanji tidak akan menyakiti Annisa lagi,” ucap Kak Ahsan.


Zain mengangguk siap.


“Kapan kamu rencana akan menjemput istrimu?,” lanjut Kak Ahsan.


“Sesegera mungkin, mudah-mudahan Annisa mau memaafkan kesalahan saya,” ucap Zain kembali melihat Kak Ahsan.


“Baiklah, Kakak telepon Annisa sekarang,” Kak Ahsan mengambil ponselnya.


“Assalamu’alaikum Annisa,” ucap Kak Ahsan dalam panggilan telepon, Kak Ahsan mengaktifkan fitur loudspeaker.


“Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Annisa sangat senang.


“Bagaimana kabarmu di sana?,” tanya Kak Ahsan.


“Alhamdulillah baik Kak, Annisa berjualan di sini, banyak tetangga berdatangan untuk membeli cupcake Annisa,” jawab Annisa senang.


“MasyaAllah, Annisa ada yang harus Kakak bicarakan.”


“Iya, bicara saja Kak.”


“Kakak kedatangan Zain, dia sudah meminta maaf dan menyesali akan perbuatannya,” Kak Ahsan melirik Zain, mata Zain penuh harap.


“Oh,” Annisa menjawab dengan cuek.


“Katanya, dia akan menjemputmu kembali,” Kak Ahsan meneruskan pembicaraannya.


Annisa terdiam tidak menjawab.


“Annisa, bagaimana? Apakah kamu siap kembali memulai rumah tangga dengan Zain?,” tanya Kak Ahsan.


Zain menunggu jawaban Annisa dengan cemas, keringat keluar dari dahinya meskipun ruangan ini sudah di pasang AC.


“Tidak tahu,” jawab Annisa.


Zain terkejut mendengar jawaban Annisa, dia takut kalau Annisa tidak akan memaafkan kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2