Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Izinkan Aku Melihat Wajahmu Malam Ini


__ADS_3

“Mereka membicarakan uang yang banyak, Ibu juga selalu meminta uang kepada lelaki muda itu, lelaki muda selalu memarahi Ibu kalau Ibu sedang bertemu dengan teman kerja Ayah, lelaki muda itu juga pernah mengangkatkan pisau pada leher Ibu,” jawab Adam.


Annisa merasa terkejut mendengar cerita dari Adam, dia merasa iba karena anak sekecil Adam sudah harus menyaksikan perbuatan keji yang di lakukan lelaki muda itu.


“Teman kerja Ayah?,” tanya Zain.


“Iya Kak, teman kerja Ayah juga suka memberikan uang banyak kepada Ibu,” jawab Adam.


“Lalu setelah itu, apa yang terjadi?,” tanya Zain.


“Aku suka dititipkan ke tempat bermain anak di hotel kak, Ibu dan teman kerja Ayah masuk ke dalam kamar, kata Ibu ada urusan soal pekerjaan, jadi Adam di suruh menunggunya,” jawab Adam polos.


Mendengar itu, tak henti-hentinya Annisa terus beristigfar dan mencoba berfikir positif. Zain melihat ke arah Annisa dan menenangkan istrinya itu.


“Sudah ya, jangan terlalu di pikirkan, nanti juga suatu saat akan ketahuan,” ucap Zain.


Annisa hanya mengangguk dan mematikan rekaman ponselnya.


Sesampainya di rumah.


Annisa dan Adam turun dari mobil, sedangkan Zain membersihkan terlebih dahulu bekas ice cream yang berserakan di dalam mobil.


“Assalamu’alaikum, Adam pulang Ibu,” Adam menghampiri Kak Citra yang sedang duduk di meja makan.


“Wa’alaikumsalam, bagaimana sekolahnya? Kamu senang?,” Kak Citra memeluk anaknya dengan hangat.


Annisa terus memperhatikan mereka berdua.


“Iya Ibu senang, Bibi Annisa membelikan aku ice cream di mall, ibu ingat tidak? Kita dulu sering beli ice cream itu waktu masih di Jakarta,” ucap Adam.


“Ice cream? Ibu lupa sayang dulu kita sering beli ice cream,” Kak Citra berusaha mengingatnya.


Adam cemberut.


“Ibu masa tidak ingat, waktu itu kita sering beli ice cream sama lelaki muda itu loh bu,” ucap Adam dengan polos.


Kak Citra terkejut mendengar Adam menyebut ‘lelaki muda’, dia teringat sesuatu.


“Ah, ahaha iya Adam sudah ya, sekarang kamu ganti baju dulu, kita makan siang ya, Ibu sudah masak untuk kita semua,” Kak Citra menjadi salah tingkah, dia melirik ke arah Annisa, namun Annisa sama sekali memasang wajah biasa saja, seperti tidak penasaran dengan lelaki muda yang di sebutkan oleh Adam.


Adam pergi bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


“Mana suami tampanmu? Kakak sudah masak spesial untuknya,” cetus Kak Citra.


Annisa menaikkan alisnya.


“Maksud kakak, sudah masak spesial untuk kita semua,” lanjut Kak Citra.


“Oh begitu Kak, suamiku yang tampan sedang membereskan bekas ice cream yang berserakan di mobil, Adam makannya sangat berantakan, sepertinya waktu dulu kalian membeli ice cream, Adam di suruh untuk segera menghabiskan ice creamnya, sehingga menjadi kebiasaan sekarang makannya sangat tergesa-gesa” ucap Annisa.


“Tergesa-gesa? Maksudnya?,” tanya Kak Citra.


“Iya, Adam makan ice creamnya tergesa-gesa karena takut di tinggal di sebuah tempat bermain anak di hotel,” jawab Annisa tersenyum.


Kak Citra mematung dan terdiam seribu bahasa.


“Aku pergi ke kamar dulu ya kak,” Annisa pergi menuju kamarnya.


“Kenapa Annisa bilang seperti itu? Apa Adam sudah menceritakan semuanya?,” ucap Kak Citra dalam hati


Tak lama kemudian, Zain datang menghampiri Kak Citra.


“Zain, sudah makan belum? Kakak siapkan makanan enak untukmu,” Kak Citra tersenyum centil.


Zain melirik ke arah meja makan, di sana terdapat banyak makanan, mulai dari opor ayam, kentang, sosis dan masih banyak lagi.

__ADS_1


“Nanti saya makan dengan istri, apakah Annisa sudah ke kamar?,” tanya Zain.


Kak Citra hanya mengangguk.


Zain paham, dan dia bergegas menuju kamarnya yang ada di bawah.


“Zain, kenapa masuk ke kamar itu?,” tanya Kak Citra.


“Astagfirullah,” gumam Zain dalam hati.


“Iya Kak, saya mau ambil barang dulu di sana,” Zain mencoba tersenyum.


Kak Citra mengangguk paham.


Zain bergegas masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah bantal, lalu kembali keluar kamar menuju ke kamar atas, dimana Annisa berada di kamar itu.


Tok…tok…tok…


Annisa membuka pintu kamarnya, dia terkejut mendapati Zain sedang berdiri diambang pintu kamarnya.


“Kak Citra, mencurigai…,” ucap Zain terpotong.


“Aku paham, silahkan masuk,” ucap Annisa membiarkan Zain masuk kamarnya.


Zain melangkahkan kakinya dengan gemetar, baru kali ini Annisa membiarkannya masuk ke kamar.


Zain melihat sekeliling kamarnya, sangat rapi dan juga wangi.


“Malam ini apakah aku boleh tidur di sini?,” tanya Zain yang duduk di kursi kamar.


Annisa mengangguk.


“Dengan syarat,” jawab Annisa.


“Apa?,” tanya Zain bahagia.


Zain mengangguk paham, baginya itu tidak masalah, asalkan bisa tidur satu kasur dengan istri tersayangnya.


“Tapi aku ada satu permintaan,” ucap Zain tiba-tiba.


Annisa berdiam menunggu perkataan selanjutnya dari Zain.


“Ini sebuah perintah dari suami untuk istrinya, bukankah dosa jika membantah perintah suami?,” tanya Zain dengan wajah serius.


“Iya, sebuah perintah yang masuk akal dan tidak membahayakan istrinya,” jawab Annisa.


“Aku akan menuruti syaratmu untuk tidak menyentuhmu, tetapi izinkan aku melihat wajahmu malam ini,” ucap Zain dengan penuh harap.


Annisa tidak menjawabnya, dia terdiam sambil memikirkan sesuatu.


“Baiklah,” ucap Annisa sambil menghela nafas.


Zain tersenyum senang, “Terimakasih istriku,”.


Annisa dan Zain bersiap untuk menuju meja makan, menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh Kak Citra.


***


Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam, Annisa dan Zain sudah berada di kamarnya, terlihat Zain sedang duduk di sebuah kursi sedangkan Annisa bergegas membersihkan kasur untuk di tempatinya dan Zain.


Zain memperhatikan tingkah istrinya, dia bingung memulai untuk menanyakan janjinya tadi siang.


“Kamu belum mengantuk?,” tanya Zain.


“Belum, aku masih ingin membaca buku,” jawab Annisa sambil menarik salah satu buku yang ada di meja dan duduk di atas kasur.

__ADS_1


“Baiklah,” Zain kembali duduk dan memainkan ponselnya.


Tiba-tiba Zain menghampiri Annisa, membuat Annisa beranjak dan terkejut.


“Lihat, kamu suka yang mana?,” tanya Zain sambil memberikan ponselnya.


Annisa melihat ponsel Zain, ternyata Zain sedang memilihkan tas untuk istrinya.


“Tidak mas, terimakasih,” tolak Annisa.


Zain memasang wajah kecewa.


“Ayolah, aku hanya ingin memberimu sebuah tas, apa salahnya seorang suami membelikan istrinya sebuah tas? Kali ini jangan menolak,” ucap Zain.


Annisa melihat kembali ponsel milik Zain, dia memilih dengan seksama beberapa model dan warna tas.


“Mas, apakah ada yang lebih murah?,” tanya Annisa.


“Tidak ada, pilih saja yang ada di situ,” jawab Zain.


“Tapi, harganya…,”


“Tidak usah memikirkan harga, lagi pula memiliki satu tas mahal bukanlah sebuah kesalahan, selagi kita tidak melupakan untuk bersedekah,” ucap Zain.


Annisa mengangguk paham, dia menjatuhkan pilihan pada sebuah tas berwarna lilac, dengan model elegan dan simpel. Dengan harga sekitar Rp. 20.000.000,-


Zain tersenyum.


“Aku tau kamu akan memilih tas itu, ya sudah mas pesankan ya, besok kita bisa ambil barangnya,” ucap Zain.


Annisa mengangguk dan berterimakasih.


Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam, namun Annisa masih belum juga tidur.


“Hoaaam, Annisa aku akan bergegas tidur, sudah larut malam,” ucap Zain menyimpan ponselnya dan duduk menghampiri Annisa.


“Duluan mas, aku masih ingin membaca,” jawab Annisa singkat.


Zain segera merebahkan dirinya di samping Annisa dengan sebuah guling sebagai jarak mereka.


Zain mulai memejamkan matanya.


Annisa melihat Zain sudah terlelap, sekarang giliran Annisa untuk menyimpan bukunya dan membuka cadarnya, agar jika suaminya terbangun dari tidur, dia bisa melihat wajah Annisa dengan jelas.


“Bismika Allaahumma ahya wa bismika amuut” Annisa membaca do’a sebelum tidur.


***


“Hooaaammmm,” Zain terbangun dari tidurnya.


Melirik ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul dua malam.


Membalikan badan ke arah Annisa, Zain terkejut melihat Annisa tidur tanpa menggunakan cadar, namun masih menggunakan hijabnya.


“MasyaAllah” Zain memuji kecantikan istrinya itu, sungguh memiliki paras cantik dan juga lembut, pantas saja dia selalu menutupi wajahnya. Meskipun Zain pernah melihat wajah Annisa sebelum bercadar, tetapi Zain merasakan perbedaan dari wajah istrinya itu.


“Cantik sekali istriku, dia menepati janjinya untuk membuka cadar dihadapanku,” perlahan Zain ingin mengusap wajah cantik Annisa.


“Astagfirullah” Zain tersadar.


“Annisa sudah menepati janjinya, harusnya aku juga menepati janjiku untuk tidak menyentuhnya, baiklah Zain sabar sebentar lagi,” Zain mengelus dadanya.


Dia kembali membaringkan badannya, kali ini berhadapan dengan istrinya, bukannya mengantuk, justru Zain terus memandangi wajah istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


“Haaaciiiimm,” tiba-tiba Annisa bersin langsung tanpa sengaja di depan wajah Zain.

__ADS_1


Zain terkejut dan reflek mengusap wajahnya, Annisa terbangun dan juga terkejut mendapati Zain berjarak dekat dengan wajahnya.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2