Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Ke Jenjang Lebih Serius


__ADS_3

“Apakah Ambu yakin dengan Zain?,” tanya Annisa.


“Ambu yakin, karena Abahmu memilih pasti untuk yang terbaik untukmu,” jawab Ambu.


“Meskipun Annisa tidak mencintainya?.”


“Memangnya Ambu dulu bagaimana? Ambu juga tidak mencintai Abahmu, namun setelah kami menikah, Abah memperlakukan Ambu dengan sangat baik dan sabar, sehingga hati Ambu luluh pada Abahmu,” jelas Ambu.


“Ohh begitu ya,” Annisa mengangguk pelan.


Sepertinya dia tidak akan bercerita dulu kepada Ambunya, dia harus memikirkan alasannya batal perjodohannya sendiri.


***


Jam dinding menunjukan pukul delapan malam.


Annisa membuka catatan kuliahnya hari ini, dia akan membaca dan mempelajari kembali hasil perkuliahannya.


Sudah hampir setengah jam Annisa membuka buku catatannya.


Dred … dred … dred …


Suara getar handphone Annisa.


Ternyata pesan dari nomor yang tidak diketahui.


Annisa membuka pesan itu.


“Assalamu’alaikum, Annisa sudah tidur? Ini Raihan.”


Ternyata Raihan yang menghubungi Annisa, dia segera membalas pesan itu.


“Wa’alaikumsalam, belum Kak.”


Terlintas di pikiran Annisa bahwa kini Raihan sedang berusaha mendekatinya, apakah Raihan adalah seseorang yang akan menyelamatkan perjodohannya?.


“Annisa sedang apa?,” balas Kak Raihan.


“Sedang belajar pelajaran kuliah Kak.”


“Maaf ya Kakak mengganggu, silahkan dilanjut.”


“Sudah selesai Kak, sudah dari tadi,”


Akhirnya Annisa saling bertukar pesan dengan Raihan, pada intinya Raihan mengajak Annisa besok untuk makan siang bersama.


***


“Kak, Nisa berangkat kuliah dulu ya,” Annisa bersalaman dengan Kak Ahsan dan Kak Aisyah.


“Pakai apa kesana?,” tanya Kak Ahsan.


“Sepeda motor Kak,” jawab Annisa.


“Kemarin kan sudah belajar mobil sama Mbak Mia, sekarang coba pakai saja, kata Mbak Mia kamu sudah lancar mengemudinya,” ucap Kak Ahsan.


“Umm … yasudah Kak, Nisa pakai ya, terimakasih sebelumnya,”


Kak Ahsan mengangguk dan memberikan kunci mobilnya.


“Hati-hati ya,” ucap Kak Aisyah.


Annisa mengangguk tersenyum.


Pertama kalinya dia menggunakan mobil sendirian. Sebenarnya kata Mbak Mia, Annisa sudah lancar dan siap untuk mengendara sendiri, berhubung mobilnya sangat kecil dan matic.

__ADS_1


Sebelum berangkat tidak lupa Annisa membaca doa meminta perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.


***


Di parkiran Annisa turun dari mobilnya. Tanpa disadari Raihan melihat Annisa saat dia memarkirkan mobilnya.


“Ternyata Annisa memang sangat kaya,” gumam Raihan dalam hati.


Raihan berjalan menghampiri Annisa.


“Assalamu’alaikum Annisa.”


“Wa’alaikumsalam Kak Raihan.”


“Baru datang ya?,” tanya Raihan sambil melihat ke arah mobil Annisa.


“Iya Kak,” jawab Annisa sedikit terheran.


“Nanti siang jadi ya, makan bareng Kakak?,” tanya Raihan.


Annisa mengangguk tersenyum.


***


Kelas perkuliahan Annisa sudah selesai, kini saatnya dia menepati janji kepada Raihan.


Annisa dan Raihan akan pergi ke sebuah tempat makan. Annisa menunggu Raihan di tempat parkir.


“Annisa, ayo kita berangkat,” Raihan sudah berada di samping mobil Annisa.


“Mau berangkat dengan mobilku? Aku pikir akan lebih menikmati suasana jalan jika berangkat dengan sepeda motormu,” Annisa mengerutkan keningnya.


“Ah … iya benar, tapi aku khawatir hujan akan turun, lihat? Awannya sudah mendung, aku tidak mau membuatmu sakit gara-gara kehujanan,” Raihan menunjuk ke arah langit.


Memang ada benarnya juga, mungkin Raihan tidak mau membuat Annisa kehujanan karena harus berangkat naik sepeda motornya. Jadi Annisa mengiyakan ajakn Raihan untuk berangkat menggunakan mobilnya.


Annisa mengangguk dan memberikan kunci mobilnya.


***


Diperjalanan Annisa merasa tidak nyaman karena harus duduk berdua di dalam mobil dengan laki-laki yang baru di kenalnya, tapi sepertinya Raihan adalah laki-laki yang baik, dari tutur kata dan perbuatannya selama ini tidak membuat Annisa merasa jengkel, beda dengan Zain, baru pertama bertemu saja sudah membuatnya kesal.


Setelah sampai di tempat makan, raihan membukakan pintu mobil untuk Annisa.


Annisa terkejut karena baru pertama kali dia diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki.


Mereka akhirnya memesan makanan dan minuman, sambil menunggu pesanan datang, Raihan mengajak Annisa mengobrol semua hal tentang keluarga mereka masing-masing.


“Annisa sudah punya calon?,” tiba-tiba Raihan bertanya seperti itu.


“Calon apa Kak?,” Annisa pura-pura tidak mengerti, sebab dia bingung harus menjawab apa.


“Calon suami,” jawab Raihan.


“Ohh …” Annisa tidak menjawabnya.


“Kalau belum kenapa? Kalau sudah kenapa Kak?,” lanjut Annisa.


“Kalau belum, Kakak punya niat baik untuk mengajakmu ke jenjang yang lebih serius, kalau sudah, Kakak akan tetap mengajakmu untuk serius, sebelum janur kuning melengkung,” perkataan Raihan membuat Annisa tercengang.


Annisa tidak menjawab, dia kebingungan harus berkata apa.


“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan terus menunggu sampai kamu siap, jika sudah siap beritahu aku akan datang ke rumahmu bersama keluargaku,” lanjut Raihan.


Kali ini Annisa melihat kesungguhan dari Raihan.

__ADS_1


“Baik Kak, aku akan memikirkan dan mempertimbangkan perkataan Kakak, maaf saya belum bisa menjawabnya sekarang,” Annisa masih ragu.


***


Annisa memarkirkan mobilnya di garasi, dia keluar mobil dengan wajah yang sangat kebingungan, sehingga mengundang pertanyaan dari Mbak Mia.


“Assalamu’alaikum, Annisa kenapa mukanya di tekuk seperti itu?,” tanya Mbak Mia.


“Wa’alaikumsalam, eh Mbak Mia, tidak apa-apa kok,” jawab Annisa sambil tersenyum.


“Annisa ke dalam dulu ya Mbak,” lanjut Annisa meninggalkan Mbak Mia.


Di dalam kamar Annisa termenung, memikirkan perkataan dari Raihan.


Apakah benar Raihan akan mengajaknya serius? Kalau memang benar, Raihan akan menjadi alasannya menolak perjodohan ini.


Annisa keluar kamar, dia menuju ke kamar Laila untuk menyapanya.


Tok … tok … tok …


Annisa mengetuk pintu kamar Laila.


Laila membukakan pintu untuknya.


“Eh bibi Nisa, ayo masuk,” Laila membiarkan Annisa masuk kamarnya.


Betapa terkejutnya Annisa melihat kamar Laila, semua pernak pernik di kamarnya berwarna pink perpaduan putih, mulai dari meja belajarnya, lemari pakaian, rak buku, hingga tempat tidurnya berwarna kombinasi putih dan pink.


Di dalam tempat tidurnya terdapat sebuah sofa berwarna pink, mungkin di sediakan untuk Laila bersantai menikmati pemandangan di luar jendelanya.


Annisa duduk di atas sofa tersebut, Laila juga duduk di sampingnya.


“Bagaimana kuliahnya Bi?,” tanya Laila.


“Alhamdulillah lancar, kamu sekolahnya bagaimana? Baru masuk SMP kan?,” jawab Annisa.


“Iya betul Bi, sekolah Laila bagus, anak-anaknya juga seru mereka semua di jemput dengan mobil,” Laila menceritakan suasana di sekolahnya.


Annisa melamun, Laila adalah anak yang beruntung, dia sudah memiliki semuanya sejak kecil, orang tua yang menyayanginya, teman-teman yang baik padanya, juga semua kebutuhannya sudah pasti orang tuanya penuhi. Apalagi kebutuhan untuk pendidikannya.


***


Jam dinding menunjukan pukul setengah delepan malam.


Annisa di panggil oleh Kak Aisyah untuk makan malam bersama.


Semua keluarga Kak Ahsan berkumpul di meja makan besarnya itu, banyak sekali hidangan lauk pauk yang di sajikan oleh Kak Aisyah, terlebih lagi minuman dengan berbagai rasa.


Annisa berpikir bahwa dirinya akan berbicara sekarang setelah selesai makan kepada Kak Ahsan soal perjodohannya dengan Zain.


“Kak Ahsan, ada yang harus Annisa bicarakan,” Annisa menatap Kakaknya itu.


“Oh iya tentu saja, mau di sini atau di kamarmu?,” tanya Kak Ahsan sambil meletakan gelas yang sudah di minumnya.


“Di sini saja biar Kak Aisyah juga tahu,” jawab Annisa.


“Ada apa Nisa? Kamu butuh sesuatu? Atau uang di ATM kamu habis?,” tanya Kak Aisyah.


“Bukan itu Kak, ini tentang perjodohan Annisa dengan Zain,” jawab Annisa, sebetulnya dia sangat ragu-ragu untuk mengatakannya.


“Kenapa Annisa?,” kali ini Kak Ahsan menatap serius adiknya, begitu juga Kak Aisyah, Laila dan Lisa.


“Annisa ma … mau perjodohannya dibatalkan saja Kak, Annisa umm … sudah punya calon sendiri,” dengan gugup Annisa terpaksa menyampaikan keinginannya.


“APA!?,” Kak Ahsan sedikit berteriak.

__ADS_1


Matanya terbelalak seperti akan melompat dari tempatnya.


__ADS_2