Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Pertemuan Raihan Dengan Zain


__ADS_3

“Kenapa semua teman-temanmu pergi?”, tanya Annisa masih dengan wajah penuh tanda tanya.


“Emm … entahlah, saya pikir mereka tahu kalau kamu adalah orang yang paling berharga di hidup saya, sehingga mereka membiarkan kita berdua di sini, hanya berdua,” ucap Raihan dengan wajah sedikit panik.


“Kamu melebih-lebihkan saja, memangnya kalian sedang apa? Kenapa uang tadi berserakan di meja?,” tanya Annisa lagi.


“Tadi … itu … emm … uang buat beli buku, mereka mau beli buku yang sama jadi uangnya patungan, iya betul begitu,” jawab Raihan terbata-bata.


“Oh begitu, tadinya aku mau menawarkan kamu minuman, tapi sepertinya kamu sudah makan dan minum,” Annisa melihat minuman dan makanan yang berserakan di meja.


“Ahh … iya tadi saya sudah makan bersama teman-teman,” Raihan kini sudah dengan kondisi tenang.


“Yasudah saya kembali lagi ke kelas ya, Assalamu’alaikum,” ucap Annisa.


“Wa’alaikumsalam.”


Annisa pergi meninggalkan Raihan.


Raihan memanggil kembali teman-temannya yang bersembunyi di balik dinding kamar mandi.


***


Sambil menghabiskan minumannya Annisa melamun, kenapa sikap Raihan tadi sangat berbeda, terlebih lagi saat tertawa terbahak-bahak. Apa karena dia sedang berkumpul bersama teman sehingga membuat Raihan tertawa lepas?.


Sehabis selesai kuliah, Annisa kembali ke parkiran untuk segera pulang.


Namun lagi-lagi Zain sudah berada di parkiran tepat di sebelah mobil Annisa.


“Assalamu’alaikum,” Zain mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam,” Annisa menjawab salamnya, kali ini dia tidak merasa canggung dan ketakutan.


“Bagaimana perkembangannya? Apa kamu sudah memiliki alasan untuk membatalkan perjodohannya?,” tanya Zain.


“Sudah, semuanya sedang di pertimbangkan oleh Kak Ahsan,” jawab Annisa.


“Baguslah, kalau boleh tahu, apa alasannya?”, tanya Zain lagi.


Annisa diam tidak menjawab.


Ternyata Raihan memperhatikan Annisa dan Zain, dia amat sangat kesal melihat Annisa berbicara dengan laki-laki lain. Sehingga membuat Raihan harus segera menghampiri keduanya.


“Maaf Annisa, ini siapa?,” tanya Raihan yang tiba-tiba tanpa mengucap salam.


“Raihan,” jawab Annisa terkejut.

__ADS_1


“Oh saya mengerti, kamu pacarnya Annisa? Jadi dia alasan untuk membatalkan perjodohan kita, bagus kalau begitu, saya senang melihatnya, saya tunggu abah kamu segera berbicara kepada ayah saya untuk membatalkan perjodohannya,” Zain memamerkan wajah senangnya.


“Perjodohan?,” Raihan terkejut mendengar perkataan dari Zain.


“Emangnya dia tidak cerita? Kalau dia dijodohkan dengan saya?,” tanya Zain.


Kini Raihan hanya memandang wajah Annisa yang sedari tadi menunduk.


“Terserah ya, itu bukan urusan saya, Annisa taruh nomor kamu di sini, biar saya tidak harus cape-cape ke kampus kamu buat sekedar menanyakan perkembangan masalah ini,” Zain memberikan handphonenya kepada Annisa.


Annisa mengambil handphonennya dan memberikan nomornya.


Raihan masih tidak berkutik sedikitpun, dia masih tetap melihat Annisa dan Zain.


“Saya pamit dulu, Assalamu’alaikum,” Zain pergi meninggalkan keduanya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Annisa dan Raihan.


“Annisa, saya tidak marah, coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Annisa mengangguk dan duduk di bangku parkiran bersama Raihan, Annisa menceritakan dari awal bagaimana dirinya bisa dijodohkan dengan Zain, menceritakan juga syarat yang di berikan oleh Zain kepadanya. Hingga membuat Raihan tak percaya. Dia semakin yakin akan memperjuangkan Annisa demi kebahagiaan mereka berdua.


“Tapi saya tidak terpaksa memilih kamu,” ucap Annisa.


“Iya saya mengerti, semoga Kakak kamu merestui hubungan kita ya,” ucap Raihan.


Annisa mengangguk.


***


Kak Ahsan merasa ada yang tidak beres dengan adiknya, dia bergegas pergi ke kamar Annisa untuk mengecek keadaannya.


Tok … tok … tok …


“Annisa kamu sudah tidur?,” tanya Kak Ahsan dari luar kamar.


“Belum Kak,” jawab Annisa membukakan pintu untuk Kakaknya.


“Kamu sakit?,” dengan sigap Kak Ahsan menempelkan tangannya pada dahi Annisa.


“Astagfirullah, kamu panas Nisa, kenapa tidak bilang, ayo kita ke dokter sekarang,” Kak Ahsan menarik tangan Annisa.


“Tunggu Kak, Annisa tidak apa-apa, mungkin ini hanya kecapean saja, setelah istirahat besok juga sembuh,” Annisa menolaknya.


“Beneran? Tapi kalo ada apa-apa kamu harusnya bilang, ya sudah kamu tidur lagi nanti Kakak akan panggil Kak Aisyah buat kompres kamu ya,” Kak Ahsan membantu Annisa untuk tidur kembali di kasurnya.

__ADS_1


Annisa mengangguk.


Kak Ahsan kembali lagi ke ruang makan dan memberitahu istrinya untuk meminta tolong memberikan kompres air hangat untuk adiknya serta obat penurun panas.


Kak Aisyah menyarankan tidak memakai kompres air hangat melainkan memakai plester kompres dengan gel dingin yang tersedia di apotek, agar lebih efektif untuk menyerap panas.


Setelah memberikan plester kompres dan obat kepada Annisa. Kak Aisyah kembali ke kamarnya menghampiri Kak Ahsan.


“Mas, apa Annisa sakit gara-gara memikirkan perjodohannya?,” tanya Kak Aisyah yang sedang membuka jilbabnya di meja rias.


“Mas juga berpikir seperti itu, kasihan sepertinya perjodohan ini sangat berat untuknya,” jawab Kak Ahsan.


“Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Annisa, kenapa dia sampai tidak mau di jodohkan dengan Zain,” Kak Aisyah kini duduk disamping Kak Ahsan.


“Mas tidak tahu, mas juga bingung harus seperti apa, di sisi lain abah pasti kecewa jika perjodohannya di tolak, di sisi lain juga mas belum percaya seratus persen kepada Raihan,” Kak Ahsan kini menggosok-gosokkan kedua tangan pada wajahnya.


“Tapi aku curiga sama Raihan mas, dari gerak-geriknya,” Kak Aisyah kini berjalan menuju kasur, di ikuti Kak Ahsan.


“Curiga kenapa?.”


“Kemarin gerak geriknya memperhatikan barang milik kita mas, dari perkataannya juga dia tidak malu menyebut kata mewah dihadapanku, apa mungkin Raihan mencintai Annisa karena harta?,” Kak Aisyah memandang wajah suaminya dengan lembut.


“Oh ya? Dia bilang begitu? Sebetulnya mas juga punya firasat tapi mas tidak mau menyakiti Annisa makannya mas menyuruh dia shalat istikharah.”


***


Malam hari panas Annisa semakin tinggi. Dia kedinginan menggigil.


Annisa bermimpi lagi.


“Annisa sekarang sudah jelas bahwa kamu harus menikah denganku, aku akan membuatmu bahagia meskipun dilakukan secara terlambat,” Zain menggunakan baju pengantin putih.


“Tidak, aku akan membahagiakanmu dari awal kita menikah, jangan dengarkan dia,” Raihan menggunakan baju pengantin hitam.


“Aku akan membahagiakanmu meskipun terlambat, dia tidak akan membuatmu bahagia di akhir walaupun membuatmu bahagia di awal,” Zain menunjuk Raihan.


“Pilihan orang tuamu sudah betul Annisa, ikuti kata hatimu,” lanjut Zain, keduanya lenyap meninggalkan Annisa.


Annisa terbangun dari tidurnya dengan penuh keringat, suhu badannya tidak sepanas tadi.


“Astagfirullah,” Annisa terus melakukan istigfar.


Annisa melihat ke arah cadar yang dia letakkan di atas meja belajar.


“Apa pilihan Abah sudah benar?,” Annisa bergumam dalam hati.

__ADS_1


Annisa bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan solat tahajud.


“Ya Allah jika pilihan Abah sudah benar, hamba memohon kepadaMu tunjukan bahwa Raihan bukan yang terbaik untuk hamba, hamba ingin melihat langsung, Aamiin” Annisa berdoa terus menerus kepada Allah SWT.


__ADS_2