Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Lamaran


__ADS_3

“Bukan begitu Citra, kenapa kamu mau bawa mobil sendiri? Kan pake supir lebih nyaman?,” Kak Aisyah tersenyum kepada Kak Citra.


“Ya sudah, nanti aku berangkat bareng Annisa saja,” Kak Citra pergi meninggalkan Kak Aisyah


Kak Aisyah menggeleng-geleng melihat kelakuan Kak Citra.


Kak Citra dan Adam akan tinggal di sini kurang lebih selama 3 bulan, kecuali Kak Ahza menjemputnya dalam waktu kurang dari 3 bulan.


Pekerjaan Kak Ahza sedang sangat kacau, dia di incar oleh karyawan-karyawan yang membutuhkan gajinya, sedangkan gaji perusahaan di bawa kabur oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, kini karyawan itu menyerang Kak Ahza dan keluarganya. Setiap hari selalu ada karyawan yang meneror rumah mereka sampai berani melemparkan batu pada kaca rumah.


Kak Ahza berniat untuk melindungi keluarganya, sehingga Kak Ahza menitipkan istri tercinta dan anak tersayangnya.


***


Sore hari Annisa pulang dari kampusnya. Dia segera memasuki kamar dan melihat beberapa notifikasi pesan dari Zain.


Isi pesan :


“Annisa, bagaimana sudah bicara belum sama Abah kamu tentang pembatalan perjodohan?.”


“Annisa saya harap kamu menepati janjimu.”


“Annisa sore ini juga keluarga kamu harus membicarakannya.”


“Besok ayah saya akan datang ke rumah kamu untuk melamar.”


“Saya tidak mau itu terjadi!.”


Annisa tersenyum membaca pesan dari Zain.


“Maafkan saya Kak Zain, sepertinya perjodohan ini harus tetap di laksanakan,” kini Annisa sudah bisa menerima jika dirinya akan di jodohkan dengan Zain. Semua ketakutan dia tepiskan dan serahkan kepada Allah.


Annisa lebih santai menghadapinya.


Saat makan malam tiba.


Kak Ahsan memberitahu bahwa tadi sore Pak Guntoro meneleponnya. Besok beliau akan datang dengan keluarga untuk melamar Annisa. Kak Ahsan menyuruh Annisa untuk mempersiapkannya.


Kak Aisyah tersenyum mendengar itu.


“Masalah pakaian biar Kak Aisyah urus ya, di butik Kak Aisyah ada banyak pakaian yang mungkin Annisa suka,” Kak Aisyah melihat ke arah Annisa.


Annisa mengangguk dan tersenyum.


“Nanti pagi kita berangkat ke butik ya,” lanjut Kak Aisyah.


“Lebih baik beli di Mall saja sekarang Annisa,” Kak Citra memberi saran.

__ADS_1


“Banyak pilihan dan pasti harganya juga mahal-mahal, lebih modis di sana, kalau mau malam ini Kakak temenin,” Kak Citra menawarkan diri.


Kak Ahsan dan Kak Aisyah melihat satu sama lain.


“Ayolah, Kak Ahsan, bolehkan? Kamu uangnya kan banyak, masa untuk adikmu sendiri saja pelit,” kali ini Kak Citra benar-benar mengganggu suasana makan.


“Saya tergantung Annisa, dia mau apa tidak?,” Kak Ahsan melirik Annisa.


“Umm … sebetulnya Annisa pakai baju yang ada juga tidak apa-apa Kak, dari pada harus menghabiskan uang buat beli baju, lebih baik uangnya di pakai buat keperluan lain saja,” Annisa tersenyum.


“Ya sudah, berarti kamu hanya boleh memilih baju di butik Kakak saja ya, gratis kok,” Kak Aisyah tetap menawarkan butiknya.


“Ih gimana sih, ini acara lamaran, kok kalian,” perkataan Kak Citra terhenti.


“Sudahlah Citra, ini keputusan Annisa, biarkan dia memilih sendiri,” Kak Ahsan memotong pembicaraan Kak Citra.


Kak Citra terdiam.


“Kakak, akan menelepon Ambu dan Abah ya, memberitahukan acara yang mereka tunggu-tunggu, kita bisa video call bersama mereka nanti,” Kak Ahsan pergi ke kamar untuk menelepon Ambu.


***


Pagi hari udara sangat segar dan langit cerah, mendukung proses lamaran Annisa dan Zain.


“Ayo Annisa, kita ke butik,” ajak Kak Aisyah.


Di perjalanan Kak Aisyah berpesan kepada Annisa untuk tidak mendengarkan Kak Citra jika menurut Annisa itu tidak baik. Kak Aisyah sudah mengetahui sifat asli Kak Citra, orangnya arogan dan tidak mau mengalah.


Setelah selesai memilih pakaian, mereka bergegas kembali untuk pulang. Annisa memilih pakaian berwarna biru muda. Long Dress yang sangat cantik dan cocok digunakan oleh Annisa.


Semua orang di rumah Kak Ahsan sedang bersiap-siap mendekor rumah dengan bunga-bunga, karena acara berlangsung pada pukul empat sore.


Begitu juga Annisa sedang mempersiapkan diri dan mental. Dia berdoa semoga keputusannya ini sudah benar.


Dia memakai Long Dress yang di bawa dari butik Kak Aisyah, sangat cantik dan elegan. Dibaluti jilbab yang senada dengan pakaiannya. Kini Annisa berdiri di depan cermin untuk merapihkan penampilannya.


“Bismillah, semoga Zain memang jodoh terbaik untukku,” gumamnya sendiri.


Tak lama Kak Aisyah masuk ke dalam kamar Annisa.


“Masya Allah sangat cocok, kamu terlihat cantik Annisa,” Kak Aisyah memperhatikan Annisa.


“Apa tidak mau pakai make up?,” tanyanya.


“Tidak perlu Kak, Annisa tidak nyaman bila harus pakai make up,” jawab Annisa tersenyum.


“Baiklah kalau begitu, kita tunggu kedatangan calonmu di luar yuk,” ajak Kak Aisyah.

__ADS_1


Annisa mengangguk.


Jam dinding menunjukan pukul empat lebih sepuluh sore hari.


Keluarga dari Pak Guntoro telah datang dan kini duduk di ruang tamu yang sudah di gelar karpet dan di dekor oleh bunga-bunga.


Semuanya memperhatikan MC yang sedang membuka acara lamaran tersebut.


Annisa sesekali melihat ke arah Zain, terlihat Zain memasang wajah cemberut. Sepertinya dia memang sangat tidak ingin perjodohan ini terjadi.


Setelah MC selesai membuka acara lamaran, selanjutnya keluarga calon mempelai pria menyampaikan maksud dan tujuan.


“Dengan izin Allah, apakah Annisa menerima lamaran dari Zain?,” kini Pak Guntoro dan seisi rumah melihat ke arah Annisa.


Annisa berdiri dan meraih mic untuk berbicara.


“Bismillahirahmanirahim, sebelum Annisa menerima lamaran dari Zain, Annisa memiliki satu keinginan yang harus di kabulkan oleh Kak Zain maupun keluarga Kak Zain,” Annisa dengan percaya diri berbicara di atas mic.


Semua orang terheran dan berbisik-bisik tentang keinginan Annisa.


Zain mengerutkan keningnya.


Berbeda halnya dengan Pak Guntoro yang malah tersenyum dan merespon.


“Lanjutkan, kami dengarkan.”


“Annisa ingin tetap melanjutkan kuliah meskipun nanti Annisa sudah menjadi istrinya Kak Zain, karena kuliah adalah keinginan terbesar Annisa,” Annisa tersenyum kepada Pak Guntoro.


“Insya Allah kami tidak keberatan, biaya kuliah kamu nanti akan di tanggung oleh keluarga Zain,” ucap Pak Guntoro mengangguk.


Annisa tersenyum mendengar dia masih di perbolehkan kuliah.


“Lalu, apa jawabannya dik Annisa?,” tanya MC.


“Iya, Annisa menerima lamaran dari Kak Zain,” Annisa menyerahkan kembali mic yang dia pegang dan duduk kembali ke tempatnya.


Semua orang mengucapkan hamdallah.


Saat ibunda Zain akan memasangkan cincin di jari manis Annisa, tiba-tiba Kak Ahsan memberitahu, kalau Abah sedang sakit keras.


Annisa terlihat panik begitu juga dengan Kak Aisyah dan Pak Guntoro.


“Bagaimana kalau kita semua sekarang pergi ke rumah Abahmu?,” tanya Pak Guntoro.


Awalnya Kak Ahsan menolak, tapi melihat Annisa menangis tersedu-sedu akhirnya Kak Ahsan setuju.


Sehingga keluarga Kak Ahsan dan keluarga Pak Guntoro pergi ke kampung halaman Annisa.

__ADS_1


Terkecuali Kak Citra, dia memutuskan untuk tidak ikut dan lebih memilih tinggal di rumah Kak Ahsan dengan anaknya itu.


__ADS_2