Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Bermimpi


__ADS_3

“Tapi jika aku memakai cadar, otomatis Zain akan senang karena telah menerima persyaratannya,” Annisa membuka kembali cadar yang di pakainya.


“Aku tentu akan memakai cadar, tapi bukan karena Zain melainkan karena Allah SWT,” lanjut Annisa mengembalikan cadar ke tempatnya.


“Sebenarnya siapa yang harus menikah denganku, Zain atau Raihan, kedua laki-laki itu belum ada yang membuatku terpikat, apa aku harus tetap menuruti keinginan Abah?,” Annisa terus bergumam sendiri.


Untuk membuatnya kembali bersemangat, Annisa memutuskan untuk menelepon Ambunya.


Via Telepon.


“Assalamu’alaikum Ambu,” Annisa sangat merindukan Ambu.


“Wa’alaikumsalam, apa kabar sayang?,” tanya Ambu yang juga sangat merindukan puterinya.


“Baik, Ambu bagaimana? Sehat? Apakah Abah sudah sehat kembali?,” jawab Annisa mengkhawatirkan kondisi Abahnya.


“Umm … Abah, Abah baik-baik saja Nisa,” kali ini Ambu berbohong.


“Ambu tidak berbohong kepada Nisa?,” Annisa seperti mengetahui kalau Ambu sedang berbohong padanya.


“Iya, Ambu tidak berbohong.”


“Baiklah Ambu, Annisa mau bicara sama Abah sekarang.”


“Jangan sekarang ya nak, Abahmu sedang tidak ada di rumah.”


“Kemana?.”


“Dia sedang pergi ke ladang nak,” Ambu melihat Abah yang nyatanya sedang berbaring lemah di kasur.


“Baiklah, sampainya salam Nisa kepada Abah ya,” ucap Nisa.


“Iya Nak, bagaimana soal perjodohan kamu? Kapan akan dilaksanakan acara lamarannya?,” Ambu kembali duduk di samping Abah.


“Annisa belum tau, sejujurnya Annisa ragu dengan perjodohan ini Mbu,” Annisa duduk di tempat tidurnya.


“Kenapa? Apa yang membuatmu ragu?,” Ambu berbicara sangat lembut kepada anaknya itu.


“Nisa ingin bertanya, kalau misalkan Ambu menjadi Nisa, apa Ambu akan memilih untuk meneruskan perjodohannya meskipun Ambu tidak menyukai calon Ambu?.”


“Hihihi, Ambu memang tidak menyukai Abah saat Ambu dijodohkan dengannya, tapi Ambu tersadar pernikahan terjadi karena ingin mengejar Ridha Allah, karena menikah telah menyempurnakan separuh agama,” jelas Ambu.


“Jadi, kamu tidak harus mencintai dulu Zain, niatkan kamu menikah dengannya karena Allah, masalah cinta akan datang tepat waktu, Allah akan menggerakan hati kamu dan Zain jika memang kalian berjodoh,” lanjut Ambu.


Annisa menghela nafas.


“Baiklah Ambu, terimakasih sudah memberikan Annisa nasihat yang berharga, doakan yang terbaik untuk Annisa ya Ambu.”


Ambu dan Annisa mengakhiri teleponnya.

__ADS_1


Kini Annisa berjalan keluar kamar untuk mengambil sebuah cemilan di kulkas. Karena permasalahan ini sungguh sangat menguras tenaga Annisa.


“Iya, kamu yang sabar ya, kalau ada apa-apa kasih tau Kakak, nanti Kakak bantu,” Kak Ahsan menelepon seseorang dari ruang makan.


“Tidak apa-apa, jangan khawatir, uruskan saja dulu semuanya sampai selesai,” lanjut Kak Ahsan masih dalam panggilan telepon.


Annisa yang mendengar percakapan itu, berusaha biasa saja berjalan di belakang Kak Ahsan untuk mengambil cemilan.


“Yasudah, nanti besok kabari lagi ya, Assalamu’alaikum,” Kak Ahsan menutup teleponnya.


“Annisa, kamu masih lapar?,” tanya Kak Ahsan.


“Iya Kak, Annisa minta cemilan ini ya hehe,” Jawab Annisa sambil memperlihatkan cemilannya.


“Ambil saja tidak perlu izin, jika ada makanan yang kamu mau, ambil saja ya,” Kak Ahsan tersenyum namun tidak bisa di pungkiri rasa cemas masih menghiasi wajahnya.


Annisa ingin sekali bertanya, namun sepertinya itu bukan urusannya.


Rasa penasarannya muncul ketika Kak Ahsan menyebut ‘Kakak’ dalam telepon, dia menduga bahwa yang meneleponnya itu adalah Kakak keduanya yaitu Kak Ahza.


Namun Kak Ahsan tidak berbicara apapun kepada Annisa, dia lantas pergi kembali ke kamarnya.


Annisa terdiam sejenak, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


***


Malam harinya Annisa merasa resah dalam tidur.


“Annisa, aku sangat ingin menikah denganmu, aku akan sangat mencintaimu,” ucap Raihan menghampiri Annisa dengan memakai baju putih.


“Annisa, meskipun aku belum mencintaimu, tetaplah menikah denganku, karena kamu akan menemukan cinta di dalamnya,” ucap Zain yang juga menghampiri Annisa dengan memakai baju putih.


“Aku bingung, harus memilih siapa, Raihan yang mencintaiku atau Zain pilihan Abah,” Annisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Jika kamu memilihku, aku akan mencintaimu dan kamu akan merasa beruntung karena menikah denganku,” Raihan kini berlutut di hadapan Annisa.


Zain tersenyum.


“Annisa, menikah bukan tentang beruntung atau tidak, tapi menikah tentang menyempurnakan separuh agama, kamu harus menikah denganku karena Allah, cinta akan tumbuh dengan sendirinya atas ridha dari Allah,” Zain memberikan senyum terbaiknya di hadapan Annisa.


“Annisa harus menikah denganku!,” Raihan membalikan badan kepada Zain.


“Keputusannya ada di tangan Annisa,” Zain membalas Raihan dengan tersenyum.


Raihan mendekatkan tubuhnya pada Zain, Raihan memukul Zain dengan sangat kencang di bagian perutnya, Zain tidak hanya diam, dia membalas pukulan Raihan berkali-kali. Hingga membuat Annisa terkena pukulan dari mereka berdua.


“Tidaaaakkkk,” Annisa terbangun dari mimpinya.


Annisa terus beristigfar, dia menyadari dan mengingat dengan jelas mimpinya.

__ADS_1


Dia masih bingung, apakah itu mimpi pertanda dari Allah?.


Tapi dia tetap masih ragu dalam hal memilih.


Annisa melangkahkan kakinya menghampiri meja di mana dia meletakan air putih. Dia meneguk air putih sampai habis, dengan keringan yang masih bercucuran dia kembali ke kasurnya dan menyalakan AC.


Dia melihat jam dinding menunjukan pukul dua dini hari.


Setelah merasa tenang, Annisa bergegas pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.


***


Keesokan harinya.


Annisa keluar dari kamar dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya.


Dia berjalan menuju meja makan sambil melamun dan hampir menabrak kursi yang di depannya.


Kak Ahsan yang menyadari hal itu, langsung dengan sigap menarik kursinya.


“Astagfirullah,” Annisa terkejut.


“Hati-hati Nisa, kenapa melamun?,” tanya Kak Ahsan.


“Apa sudah menemukan jawaban dari shalat istikharahmu?” Lanjutnya.


Annisa menggeleng.


“Belum Kak, jawabannya masih samar,” jawab Annisa kini duduk di kursi.


***


Siang hari Annisa merasa sangat kehausan, cuaca hari ini memang sangat panas, ditambah lagi suasana hati dan pikiran Annisa yang masih berantakan.


Dia memutuskan pergi ke kantin kampus hanya sekedar membeli minuman dingin untuk melepas dahaganya.


Di sana terlihat Raihan dengan teman-teman lelakinya, sedang berkumpul di meja kantin dengan beberapa uang di atas meja. Mereka tertawa lepas begitu juga Raihan.


“Memangnya kamu yakin?,” tanya salah satu temannya kepada Raihan.


“Yakinlah, tunggu saja tanggal mainnya,” jawab Raihan dengan tertawa.


Setelah membeli minuman, Annisa berjalan perlahan menuju meja di mana Raihan berada.


Raihan yang menyadari kehadiran Annisa langsung berdiri dari duduknya, begitu juga teman-teman Raihan langsung menutup mulutnya menjadi hening.


Annisa menatap Raihan dalam. Begitu juga Raihan terlihat salah tingkah.


Semua teman-teman Raihan pergi dan membereskan uang yang berserakan di atas meja.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Annisa dan Raihan.


Annisa mengerutkan keningnya merasa heran.


__ADS_2