
Di dalam mobil.
Keduanya terdiam, tidak berkata-kata, Zain berniat untuk membuka percakapannya dengan Ibu Putri.
“Ibu sudah menikah?,” tanya Zain.
Namun tiba-tiba Zain merasa salah tingkah, dia tidak sadar mengapa pertanyaannya harus langsung pada pernikahan. Sekarang wajah Zain memerah menahan rasa malu. Semoga saja Ibu putri tidak ilfeel.
“Sudah Pak, saya seorang janda beranak satu, suami saya baru meninggal,” jawab Ibu putri dengan santai.
“Maaf Ibu, saya tidak tahu,” Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tidak apa-apa, ngomong-ngomong jangan panggil saya Ibu, panggi nama saja, nama saya Putri,” ucap Putri yang tidak berani melihat ke arah Zain.
“Oh iya baik, Putri,” Zain sesekali melihat ke arah Putri.
“Sepertinya kita seumuran, saya boleh tahu nama Bapak?.”
“Nama saya Zain, panggil nama saja,” Zain tersenyum.
“Saya baru melihat kamu di kampus, dosen baru ya?,” tanya Putri.
“Betul sekali,” jawab Zain.
“Saya lulusan Kairo, makannya jarang berada di kota ini,” lanjut Zain dengan sombong.
“MasyaAllah Kairo, kamu berarti seseorang yang sangat hebat,” ucap Putri.
Selama perjalanan mereka terus berbincang tentang pengalaman pribadinya. Namun Zain tidak menceritakan bahwa dirinya sudah menikah. Zain sengaja menyembunyikannya dari Putri. Padahal Putri sudah menceritakan bahwa dirinya sudah memiliki anak laki-laki yang masih berumur 4 tahun.
Setelah sampai di rumah Putri, dia di sambut dengan anaknya yang masih kecil itu di temani oleh pengasuhnya.
“Bunda, pulang sama siapa?,” ucap anaknya sebut saja Fauzan. Bicaranya sangat lucu layaknya anak kecil pada umumnya.
“Apakah itu Ayah?,” lanjut anaknya menunjuk Zain.
“Bukan sayang, ayo masuk dulu ya, nanti bunda menyusul,” ucap Putri.
Fauzan masuk ke dalam rumah di temani pengasuhnya.
“Maaf ya Zain, anakku memang begitu, dia sangat kehilangan sosok Ayah,” ucap Putri.
“Tidak apa-apa, anggap saja aku sebagai Ayahnya,” ucap Zain tersenyum.
Putri hanya tersenyum.
“Aku pamit ya, Assalamu’alaikum,” Zain pamit pulang.
***
Jam dinding menunjukan pukul tujuh malam, Annisa sudah menyiapkan makan malam untuk Zain saja, karena dirinya sudah makan duluan.
Tok … tok … tok …
Annisa mengetuk pintu kamar Zain.
“Mas, makannya sudah siap.”
“Iya, nanti sebentar lagi saya keluar.”
Zain keluar kamar.
“Kamu temenin saya makan,” ucap Zain.
Annisa hanya mengangguk.
Mereka berdua duduk di meja makan, Annisa mengambil air putih untuknya dan Zain.
“Kapan kamu akan memakai cadar?,” tiba-tiba Zain bertanya pada saat makan.
“Kenapa memangnya?,” Annisa mulai merasa tidak nyaman.
“Aku kan menyuruhmu memakai cadar, mengapa belum di laksanakan? Bukannya harus menuruti perintah suami?,” Zain masih meneruskan makannya.
__ADS_1
“Tidak baik berbicara saat makan, habiskan dulu,” ucap Annisa.
Zain tidak menjawab, dia segera menghabiskan makanannya.
“Sekarang sudah habis, apa jawabanmu?,” tanya Zain sambil meminum air putih.
“Aku belum siap Mas, biarkan aku benar-benar siap, aku tidak mau memakai cadar hanya karena terpaksa,” jawab Annisa.
“Aku akan menuruti perintahmu, asalkan bukan itu,” lanjut Annisa.
“Bohong, aku menyuruhmu berhenti kuliah, tapi kamu tetap saja melanjutkan,” Zain memalingkan wajahnya.
“Kamu bukan menyuruhku, kamu hanya memberikan pilihan kepadaku, aku tidak akan membebani biaya kuliahku kepadamu, meskipun itu adalah kewajibanmu,” Annisa pun sama-sama memalingkan wajahnya.
“Kalau aku poligami, apa kamu akan menuruti kemauanku?,” tanya Zain lagi-lagi membahas poligami.
Annisa tidak menjawabnya.
“Sudah beres makannya? Aku akan kembali ke kamarku,” jawab Annisa berdiri dari duduknya.
“Kenapa tidak menjawab? Tidak mau? Aku heran kepadamu, sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak?,” tanya Zain.
Annisa menghentikan langkahnya.
“Kamu bertanya seperti itu kepadaku? Coba tanyakan pada hati kecilmu, apakah kamu mencintaiku sebagai istrimu?,” jawab Annisa melihat ke arah Zain.
“Aku … aku jelas akan mencintaimu, itupun jika kamu menuruti keinginanku,” Zain menjawabnya dengan gugup.
“Keinginanmu untuk poligami? Apakah itu di sebut cinta? Mana mungkin jika kamu mencintaiku kamu akan tega berpoligami,” mata Annisa mulai berkaca-kaca.
“Dari awal aku sudah berusaha akan menerimamu, aku akan berusaha mencintaimu, tapi entah mengapa kamu tidak pernah melihat ketulusan hatiku, aku hanya ingin membuat orang tuaku tidak kecewa kepadaku, tapi sekarang malah aku yang kecewa dengan pernikahan ini, selama aku menikah denganmu, aku hanya melihat ke egoisanmu saja, kamu hanya ingin semua permintaanmu aku turuti, tapi kamu tidak pernah bertanya apa keinginanku, kalau seperti ini terus aku tertekan, aku tidak bahagia Zain,” lanjut Annisa, kini dia mulai mengeluarkan air matanya.
“Istri mana yang kuat melihat suaminya masih memiliki kekasih? Sebenarnya hatiku hancur, aku berusaha menahannya, aku ikhlas dengan semua ketetapan Allah, mungkin ini memang takdirku,” Annisa berderai air mata.
“Sekarang aku lelah Zain, kembalikan saja aku kepada orang tuaku dan ceraikan aku, setelah itu, kamu bebas menikah dengan siapa saja,” Annisa menghapus air matanya.
Dia pergi naik ke kamarnya.
“Apa aku terlalu memaksanya? Tapi mengapa hati ini belum sepenuhnya menerima kalau dia adalah istriku? Aaarrrrggghhhh!!!,” Zain pergi ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya.
*BRUUKKK*
“Hiks … hiks … hiks …” Annisa menangis di kamarnya dengan posisi duduk dan wajah menunduk di tahan oleh tangannya.
“Ya Allah, aku sudah tidak kuat dengan pernikahan ini, hiks … hiks, sepertinya Zain bukanlah jodohku, aku ikhlas apapun yang akan terjadi ke depannya,” Air mata Annisa semakin deras.
“Aku rindu Ambu dan Abah, aku ingin memeluk Ambu huhuhuhu,” benar-benar sesak di dadanya selama ini baru tercurahkan sekarang.
Annisa menangis terus menerus, dia sudah tidak bisa menahan lagi, sesak di dadanya begitu terasa.
Sekarang posisi Annisa sudah berbaring, namun masih dengan isak tangisnya.
Sampai akhirnya dia tertidur, penuh dengan air mata di pipinya juga bantalnya.
*TRING*
Satu pesan di ponsel Annisa.
Annisa tidak membukanya karena dia masih terlelap tidur.
Hingga pukul delapan malam Annisa terbangun dari tidurnya, dia ingat belum melaksanakan shalat Isya, Annisa bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Isya.
Setelah shalat Isya, Annisa berdiri di cermin, melihat betapa kusut wajahnya.
Mata sembab karena habis menangis, wajah pucat dan pipi yang menjadi sedikit tirus.
“Ini bukan Annisa yang dulu, Annisa dulu sangat ceria tidak mudah menangis, sekarang sudah berbeda, Annisa yang ini lebih sensitif, dia mudah menangis, sabarnya juga mulai habis, Astagfirullah, kenapa ini? Cobaanmu begitu berat Ya Robb, hamba hanya bisa berpasrah atas takdirmu,” gumam Annisa pelan, matanya kembali berkaca-kaca.
Annisa kembali duduk di atas kasur, mengacek handphonenya.
Ada satu pesan, ternyata itu pesan dari Ambu.
Annisa membuka isi pesan itu.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum, Annisa apa kabar? Ambu merindukanmu, kalau bisa besok kamu dan Kak Ahsan pulang ya, ada sesuatu yang harus Ambu sampaikan,” begitulah kira-kira isi pesan dari Ambu.
“Wa’alaikumsalam Ambu, Annisa baik-baik saja, Ambu bagaimana? Kenapa Ambu? Ada Apa?,” Annisa membalas pesan dari Ambu.
Annisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa mendadak Ambu menyuruhnya pulang.
Setelah menunggu, entah mengapa Ambu tidak membalas pesan dari Annisa.
Annisa segera menelepon Kak Ahsan.
“Assalamu’alaikum, Kak Ahsan apa sudah menerima pesan dari Ambu?,” tanya Annisa.
“Wa’alaikumsalam, iya sudah, ada apa ya? Ambu tidak menjawab telepon dari Kakak, sepertinya setelah subuh Kakak akan pulang, kamu bagaimana? Apa suamimu bisa mengantar?,” jawab Kak Ahsan.
“Tidak tahu, Annisa ikut saja dengan Kakak besok ya?.”
“Boleh, nanti Kakak jemput ke rumah ya.”
Annisa dan Kak Ahsan mengakhiri teleponnya.
***
Sekitar pukul empat Annisa sudah bangun dan pergi ke kamar mandi, dia bersiap membawa barang bawaannya untuk bekal di kampung.
Annisa menurunkan barang-barangnya ke lantai bawah.
Zain keluar dari kamarnya, dia terkejut melihat Annisa membawa tas berisi baju-bajunya.
“Kamu mau kemana?,” Zain menghampiri Annisa.
“Ambu menyuruhku pulang, aku akan pulang dengan Kak Ahsan hari ini,” Annisa tidak sedikitpun melihat Zain.
“Pulang? Ada apa? Kenapa tiba-tiba?,” tanya Zain.
“Tidak tahu,” jawab Annisa singkat.
“Aku antar ya,” Zain menawarkan diri.
“Tidak usah, aku tidak mau berhutang budi padamu.”
“Kenapa? Aku ingin ikut pokoknya, kita pakai mobil aku saja, biarkan Kak Ahsan pergi dengan keluarganya, kamu jangan menolak!,” pinta Zain.
Annisa hanya mengangguk, dia segera menelepon Kak Ahsan untuk memberitahu bahwa dia akan pergi bersama suaminya.
Setelah selesai shalat subuh, Annisa dan Zain bersiap untuk berangkat ke kampung halaman.
Entah mengapa Zain tiba-tiba ingin mengantar Annisa.
Di sepanjang perjalanan mereka berdua membisu dan membeku. Tidak ada keduanya berniat untuk membuka percakapan.
Zain tidak ingin membuat Annisa menangis lagi, begitu juga Annisa tidak ingin di buat menangis lagi oleh Zain.
Sekitar pukul setengah tiga sore mereka baru sampai.
Kak Ahsan sudah lebih awal berada di rumah Ambu. Mata Kak Ahsan merah seperti sudah menangis. Begitu juga Kak Aisyah.
Annisa melihat karpet di gelar di tengah rumah, banyak air minum berserakan. Orang-orang sudah mengumpul di depan dan di dalam rumah.
Annisa masih bingung sebenarnya apa yang terjadi di rumahnya.
Zain memegang bahu Annisa. Seperti sedang menguatkan Annisa.
Annisa melirik ke arah Zain, tidak mengerti apa maksudnya.
Annisa menghampiri Ambu.
“Ambu, sebenarnya ada apa? Kenapa banyak orang?,” Annisa melihat sekitar.
“Kemana Abah?,” lanjut Annisa.
Ambu menangis tersedu-sedu.
“Annisa, kamu harus kuat ya,” Ambu memeluk Annisa dengan erat.
__ADS_1