Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Hubungan Kita Berakhir


__ADS_3

Nafrini tidak menjawab pertanyaan Annisa.


Annisa menangis dia lari ke kamarnya.


Annisa menangis di atas sajadah.


“Apa salahku? Kenapa hidupku seperti ini? Aku tidak sanggup jika harus memiliki suami yang sudah menyentuh wanita lain, hiks … hiks,” Annisa menangis di kegelapan dan sunyinya malam.


Hingga ia tertidur di atas sajadah.


Allahuakbar Allahuakbar, Adzan subuh berkumandang.


Annisa terbangun dari tidurnya dengan mata sembab.


Dia bergegas mengambil wudhu dan menunaikan shalat subuh. Di lanjutkan dengan tadarus dan dzikir.


Sekitar pukul enam pagi Annisa keluar kamar, kali ini dia tidak memasak untuk suaminya.


Annisa melihat ke arah kamar Nafrini, lalu dia memalingkan wajahnya dan menuruni tangga.


Di bawah belum ada siapa-siapa.


Annisa mengetuk pintu kamar Zain.


Tok … tok … tok …


Zain keluar kamar.


Annisa kembali berlinang air mata.


“Kenapa Annisa?,” Zain terkejut mendapati istrinya menangis.


“Pulangkan aku kerumah orang tuaku,” ucap Annisa sambil terus berderai air mata.


“Maksudnya? Apa yang membuatmu menyerah?,” tanya Zain mengajak Annisa duduk di sofa ruang tamu.


“Kamu masih bertanya? Pokoknya aku ingin pulang ke rumah orang tua!,” jawab Annisa menghapus air matanya.


“Apa kamu menyerah karena aku belum mencintaimu?,” tanya Zain menatap Annisa.


“Tidak!,” jawab Annisa kembali berlinang air mata.


Zain mengerutkan keningnya.


“Aku tidak pernah mau memiliki suami yang sudah menyentuh wanita lain hingga hamil,” lanjut Annisa.


Mendengar perkataan Annisa, Zain merasa kebingungan.


“Maksudmu apa? Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun,” ucap Zain.


“Nafrini! Dia sedang mengandung anakmu kan?,” Annisa menunjuk ke arah kamar Nafrini.


“Tidak, aku tidak mungkin berbuat seperti itu! Kamu sudah gila ya menuduhku seperti itu!,” Zain merasa dirinya di tuduh oleh Annisa.


“Menuduh? Sudah jelas buktinya Zain, semalam Nafrini mengaku padaku, bahwa dia sedang mengandung!,” Annisa berdiri dari duduknya.


Zain melotot mendengar perkataan Annisa. Dia segera menghampiri kamar Nafrini, di ikuti oleh Annisa.


Tok … tok … tok …


Zain mengetuk pintu kamar Nafrini dengan kasar.


Nafrini keluar dengan keadaan wajah pucat.


“Apa betul kamu sedang mengandung?,” tanya Zain sedikit marah.


Mendengar itu Nafrini terkejut, ternyata Annisa sudah memberitahukannya kepada Zain.

__ADS_1


“Kamu bertanya seperti itu?,” jawab Nafrini dengan lemas.


“Ini anak kamu Zain,” lanjut Nafrini.


Annisa terus mengeluarkan air matanya. Sesekali Zain melihat ke arah Annisa.


“Anakku? Aku belum pernah melakukan hal itu kepadamu,” ucap Zain marah.


“Katakan kepadaku, itu anak siapa?!,” lanjut Zain.


“Ini anakmu Zain!,” ucap Nafrini sambil mengelus perutnya.


“Tidak! Itu bukan anakku, sekarang kamu keluar dari rumah ini!,” ucap Zain menunjuk ke arah luar.


Annisa terkejut mendengar Zain mengusir Nafrini.


“Tidak, jangan usir aku, ini anak kamu Zain.”


Nafrini memegang kepalanya, dia terlihat sangat lemas.


*BRUK*


Nafrini jatuh pingsan.


Annisa dan Zain panik, mereka segera membawa Nafrini kerumah sakit yang sama dengan Ayahnya Zain.


“Selamat ya, Ibu ini sedang hamil,” ucap dokter.


“Terimakasih dok,” ucap Annisa.


Zain hanya terdiam.


Nafrini tersadar dari pingsannya.


“Zain.”


Zain hanya melihat ke arah Nafrini tanpa menjawab.


Annisa mengerutkan keningnya, dia heran mengapa Zain bertanya seperti itu.


“Ini anak kamu Zain,” jawab Nafrini.


“Sudahlah, kamu berbohong! Aku tidak pernah melakukan hal itu kepadamu!,” ucap Zain kali ini dia benar-benar kecewa.


Mendengar perkataan Zain, Annisa tampak lega, ternyata bukan anak Zain yang ada di dalam perut Nafrini.


“Zain kumohon, nikahi aku!,” ucap Nafrini memegang tangan Zain.


Zain menepis tangan Nafrini.


“Aku tidak sudi! Lebih baik mempertahankan pernikahan ini dengan Annisa daripada aku harus menikah lagi dengan wanita sepertimu!.”


“Mulai detik ini hubungan kita berakhir! Jangan pernah temui aku lagi dan jangan pernah hubungi aku lagi!,” lanjut Zain.


“Zaaiinnn,” Nafrini berusaha meraih tangan Zain namun tidak berhasil.


“Annisa, jaga dia, aku akan ke kamar ayahku,” ucap Zain.


Annisa hanya mengangguk.


“Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja Zain tidak menikah denganmu! Dasar wanita pelakor,” ucap Nafrini mengubah posisinya menjadi duduk.


“Bukan, ini adalah takdir Allah, kalau saja kamu tidak sedang mengandung, Zain akan terus memperjuangkanmu,” Annisa menatap Nafrini yang kini sedang menangis.


“Aaarrggghhh!! Dasar wanita pelakor!!,” Nafrini menghampiri Annisa dan menjambak jilbab Annisa.


“Astagfirullah,” Annisa mencoba menahan jilbabnya agar tidak lepas.

__ADS_1


Nafrini terus menjambak hijab Annisa sambil berteriak-teriak.


“Hentikan Nafrini, istigfar,” ucap Annisa yang masih menahan hijabnya.


Nafrini terus berusaha membuka hijab Annisa.


“Percuma kamu pakai hijab tapi masih merebut kekasih orang!,” Ucap Nafrini.


Mendengar keributan di dalam kamar, dua perawat langsung menghampiri, memisahkan Annisa dan Nafrini.


“Tenang bu, tenang,” ucap salah satu perawat kepada Nafrini.


Annisa terus beristigfar sambil merapihkan kembali hijabnya.


“Ibu tidak apa-apa?,” tanya perawat itu kepada Annisa.


Annisa menggelengkan kepala.


“Ibu lebih baik keluar dulu,” ucap perawat sambil memegangi bahu Annisa.


Wajah Annisa pucat karena baru pertama kalinya dia di perlakukan seperti itu.


Annisa duduk di kursi depan kamar, masih di tenangkan oleh perawat.


Nafrini memberontak kepada perawat yang sedang menenangkannya, dia keluar kamar dengan tangannya yang akan meraih hijab Annisa, dengan sigap perawat menahan tangan Nafrini. Kedua perawat itu masuk ke kamar untuk menenangkan Nafrini.


Annisa duduk di kursi sendirian sambil terus beristigfar. Matanya mulai berlinang.


Tak lama Zain datang menghampiri Annisa, dia terkejut mendapati Annisa dengan kondisi syok.


“Kamu kenapa?,” Zain duduk di samping Annisa.


Annisa tidak menjawab, dia terus menghapus air matanya yang keluar.


Zain melihat ke arah kamar Nafrini, ada dua perawat yang masih menenangkan Nafrini.


Zain mencoba masuk kamar, namun pintunya ternyata di kunci dari dalam.


Zain melihat dari kaca jendela, terlihat Nafrini menangis namun sekarang sudah kembali berbaring di kasurnya. Zain kembali duduk dan terus menanyakan apa yang terjadi, namun Annisa tidak menjawabnya.


Salah satu perawat keluar dari kamar, Zain berdiri dan menghampirinya.


“Sus, sebenarnya apa yang terjadi?,” tanya Zain.


“Tadi Ibu ini mengamuk, menjambak dan hampir melepas jilbab Ibu itu,” jawab perawat menunjuk Annisa.


Zain melihat ke arah Annisa.


“Saya permisi dulu,” lanjut perawat itu.


Zain menghampiri Annisa.


“Kamu tidak apa-apa?,” tanya Zain panik.


Annisa menggeleng sambil terus menghapus air matanya.


“Maafkan aku,” Zain tiba-tiba memeluk Annisa.


Annisa terkejut dengan perlakuan Zain.


Annisa segera melepaskan pelukan Zain.


“Kenapa kamu memelukku?,” tanya Annisa dengan wajah sedikit melotot.


“Aku kan suamimu,” jawab Zain.


“Suami pura-pura?,” tanya Annisa.

__ADS_1


“Tidak, sekarang benar-benar suamimu,” jawab Zain.


Annisa tidak menjawab, dia benar-benar heran dengan kelakuan Zain.


__ADS_2