
Selamat Annisa Khalisah dinyatakan Lulus.
“Alhamdulillah,” Kak Aisyah dan Annisa berpelukan, mereka sangat bahagia.
Mata Annisa berkaca-kaca menahan tangis kebahagiaan.
Akhirnya Annisa sekarang sudah resmi menjadi salah satu mahasiswa di Universitas impiannya, berkat doa dari semuanya dengan dorongan ikhtiar, tidak luput juga atas kehendak Allah SWT.
Annisa langsung mengabari Abah dan Ambunya di kampung melalui telepon.
“Assalamu’alaikum Abah, Ambu, Nisa keterima di kampus impian Nisa,” Annisa sangat bersemangat.
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah Nisa, Ambu dan Abah ikut senang dengan kabar gembiranya, maafkan Ambu ya tidak bisa menyusulmu kesana, Ambu doakan semoga semuanya berjalan lancar, jangan lupakan shalat 5 waktu ya sayang, meskipun kamu sedang sibuk, luangkan waktu untuk Shalat, bersyukur atas karunia-Nya sekarang kamu bisa kuliah di tempat impianmu,” Ambu menasihati anak perempuannya itu.
“Iya Ambu InsyaAllah Nisa tidak akan pernah meninggalkan shalat, Nisa akan selalu ingat kata-kata dan nasihat dari Ambu juga Abah,”.
***
Malam harinya.
Annisa selesai melaksanakan shalat isya. Dia membuka laptopnya untuk sekedar melihat-lihat situs web tentang beberapa tulisan motivasi.
Tok … tok … tok …
Suara ketukan pintu dari luar kamar Annisa.
Ternyata itu adalah Kak Ahsan.
“Annisa sudah tidur?,” tanya Kak Ahsan dari luar.
“Belum Kak,” jawab Annisa sambil membukakan pintu kamarnya.
Kak Ahsan memeluk adik tersayangnya itu.
“Selamat ya, kamu akhirnya bisa kuliah di sini,” ucap Kak Ahsan melepaskan pelukannya.
“Terimakasih ya Kak, itu semua berkat doa Kakak,” Annisa tersenyum kepada Kakaknya.
“Oh iya, besok kamu ada acara?,” tanya Kak Ahsan sambil duduk di kursi yang ada di kamar Annisa.
“Tidak Kak, kenapa?,” jawab Annisa mengikuti Kak Ahsan, kini mereka duduk berhadapan.
__ADS_1
“Tadi Pak Guntoro menelpon Kakak, kita diundang makan siang ke Pesantrennya,” jelas Kak Ahsan sambil menatap adiknya.
“Iya Kak, Nisa ikut saja,” Annisa terlihat tidak semangat.
“Kamu tidak apa-apa?,” tanya Kak Ahsan melihat adiknya dengan raut wajah lemas.
“Tidak, Nisa sudah tau maksud dan tujuan kita kesana, kemarin Abah menelepon, Nisa akan dijodohkan dengan anak Pak Guntoro kan Kak?.”
“Oh, rupanya Abah sudah bilang sama kamu, iya betul Nisa, mereka itu bersahabat sudah sangat lama, mereka memiliki janji akan menjodohkan salah satu anaknya.”
“Tapi kenapa harus Nisa yang dijodohkan Kak?,” Nisa bertanya dengan sangat serius.
“Nisa, anak Pak Guntoro itu laki-laki semua, beliau memiliki 4 anak laki-laki, sedangkan Abah juga memiliki 2 anak laki-laki dan 1 orang perempuan yaitu kamu, jadi mau tidak mau kamu yang akan dijodohkan dengan anaknya, lagi pula, anak Pak Guntoro semuanya adalah anak yang shaleh, pekerja keras dan bertanggung jawab pada keluarganya,” jelas Kak Ahsan.
“Pilihan Abah pasti yang terbaik untukmu, Kakak juga setuju, karena Kakak kenal betul anak-anak Pak Guntoro, anak pertamanya kini tengah mendirikan pesantren di Kota besar, anak keduanya sekarang menjadi dosen di Kairo, anak ketiganya sekarang sudah mendirikan pesantren di kota terpencil, sekarang anak terakhir akan meneruskan pesantren yang ada di Kota ini yaitu calon kamu Nisa,” lanjut Kak Ahsan.
Mendengar itu, Nisa hanya mengangguk tanda setuju. Sebelum Kak Ahsan pergi dari kamarnya, dia berpesan untuk tetap tersenyum dan semangat apapun yang terjadi, meskipun harus menikah dengan orang yang tidak dia cintai, karena sesungguhnya pernikahan itu untuk mengejar Ridha Allah.
Annisa menyetujuinya dengan syarat dirinya harus tetap berkuliah jika diminta untuk menikah saat masih kuliah, Kak Ahsan mengangguk setuju, karena mengetahui cita-cita adiknya itu sangat tinggi.
“Oh iya jangan lupa, pakai baju yang kemarin Kakak pilih ya,” pinta Kak Ahsan.
Annisa mengangguk, lalu Kak Ahsan keluar dari kamar Annisa.
***
Annisa menuju ke cerminnya, dia merapikan kerudung yang akan dia kenakan sekarang. Annisa merapihkan baju dan kerudung serta membawa tas kecil yang sudah dia beli saat pertama kali pergi ke Mall bersama Kakaknya.
Annisa pergi keluar kamarnya, di sana sudah ada Kak Ahsan yang menunggu di ruang tamu.
“Sudah siap?,” tanya Kak Ahsan.
Annisa hanya mengangguk.
“Sayaaang, ayo kita berangkat,” Kak Ahsan memanggil Kak Aisyah dan anak-anaknya.
***
Kurang lebih selama 1 jam perjalanan, Annisa dan kelurga Kak Ahsan kini tengah sampai di pesantren Pak Guntoro.
Annisa dan keluarga disambut dengan baik oleh keluarga Pak Guntoro, kini mereka berkumpul di ruang tengah yang begitu besar dan megah.
__ADS_1
Pak Guntoro bercakap-cakap dengan Kak Ahsan sedangkan Annisa memperhatikan suasana yang ada di sana, dia melihat banyak makanan dan minuman yang disediakan, melihat juga banyak foto para wali islam yang berada di dinding ruang tengah tersebut.
Annisa merasa dirinya tidak pantas jika harus menikah dengan anak Pak Guntoro, karena Annisa sangat minim ilmu agama, sedangkan keluarga Pak Guntoro sangat terpandang, orang yang paham akan agama.
“Ibu, coba panggilkan dia, kenapa dari tadi belum keluar kamarnya,” pinta Pak Guntoro kepada istrinya dengan sangat pelan.
Kami semua sudah hampir setengah jam berada di sini, namun memang belum keluar anak dari Pak Guntoro tersebut.
Tak lama kemudian, anak Pak Guntoro keluar dari kamarnya.
Semua mata tertuju pada anak Pak Guntoro tersebut. Termasuk Annisa.
Anak Pak Guntoro memberikan salamnya dengan membungkukkan badan.
“Perkenalkan nama saya Zain,” ucapnya sambil tersenyum ramah, dia melirik pada Annisa.
“Wahhh Zain pangling sekali saya melihat kamu,” ucap Kak Ahsan.
“Mari … kita mengobrol di sini,” ucap Kak Ahsan menyuruh Zain duduk disebelahnya.
Tidak terasa waktu shalat dzhuhur telah tiba.
Kami sekeluarga pergi ke masjid di sebelah rumah Pak Guntoro, karena ini memang lingkungan pesantren, banyak sekali santri yang shalat berjamaah di mesjid itu.
Setelah selesai shalat, Annisa melihat Zain melambaikan tangan kepadanya, mengisyaratkan untuk mengikutinya.
Akhirnya Annisa berada pada sebuah gazebo, sepertinya ada yang ingin Zain sampaikan kepada Annisa.
“Kamu sebelumnya sudah mengetahui kita akan dijodohkan?,” tanya Zain.
Annisa hanya mengangguk.
“Dengar ya, sebelumnya saya meminta maaf kepada kamu, sebenarnya saya sudah mempunyai kekasih di Kairo dan waktu dekat ini saya akan mengenalkan kekasih saya kepada Ayah, jadi saya harap kamu jangan terlalu bahagia dulu dengan perjodohan ini,” perkataan Zain sungguh membuat Annisa merasa terhina.
“Sebenarnya saya tidak bahagia atas perjodohan ini, karena saya hanya menuruti apa kata Abah dan jika memang anda merasa saya menginginkan perjodohan ini, anda salah, saya juga tidak mengharapkan perjodohan ini terjadi,” Annisa dibuat kesal kali ini.
“Bagus, karena perjodohan kita tidak akan berlangsung dan,” belum sempat Zain meneruskan pembicaraannya, Kak Ahsan datang menghampiri mereka.
“Sedang membicarakan apa?,” tanya Kak Ahsan.
Annisa melihat ke arah Kak Ahsan dengan tatapan sedih karena telah diperlakukan buruk oleh perkataan Zain.
__ADS_1
“Tidak Kak, kami hanya ingin lebih mengenal saja satu sama lain,” jawab Zain berbohong.
Mendengar perkataan Zain, Annisa mengerutkan keningnya, dia bertanya-tanya kenapa tidak berbicara jujur saja kalau dirinya tidak mau dijodohkan dengan Annisa.