Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Koper Siapa Itu?


__ADS_3

Dahi Annisa terluka hingga meneteskan darah.


Sepertinya terbentur oleh penyangga tangga.


“Aduh, sakit,” Annisa merintih kesakitan.


“Kamu ngapain bawa koper sekaligus dua, sudah tau berat, sini aku bantu,” Zain mengulurkan tangannya.


Annisa hanya melihat tangan Zain dan berusaha berdiri sendiri.


“Tidak usah, terimakasih,” Annisa berdiri sambil memegangi dahinya yang terluka.


Annisa membiarkan kopernya berantakan dia menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat.


Zain menggeleng.


“Ada-ada saja.”


Di dalam kamar, Annisa bergegas membersihkan lukanya, kebetulan kamar milik Annisa sudah menyatu dengan kamar mandi.


Dia membuka cadar, melihat ke cermin, baru beberapa hari menjadi istri Zain, wajahnya kini sudah banyak luka, belum lagi memar di pipinya yang masih terlihat.


Annisa membasuh luka di dahinya dengan air, membersihkan darah yang mengalir. Lalu mengambil plester untuk menutupi lukanya.


Dia terus memandangi wajahnya yang memar. Annisa tersadar sekarang hanya dia seorang diri, tidak ada bantuan dari Kakaknya apalagi Ambu dan Abahnya. Annisa harus kuat menghadapi perlakuan Zain, harus bisa melawan jika Zain memperlakukannya dengan tidak baik, ini semua demi keselamatannya.


“Iya! Kalau bukan aku, siapa lagi!,” gumam Annisa.


Annisa memakai kembali cadarnya dan keluar kamar untuk membawa kembali kopernya.


Ketika membuka pintu, dua koper milik Annisa sudah berada di depan kamarnya. Dia terkejut, sepertinya Zain yang sudah membantunya menaikkan koper.


Tanpa pikir panjang Annisa membawa kedua koper itu ke dalam kamarnya lalu bergegas turun ke dapur, melihat apakah ada sesuatu untuk bisa di masak, karena mereka berdua belum sarapan.


Annisa membuka kulkas di dapur, betapa terkejutnya melihat isi kulkas yang sangat lengkap, sebetulnya Annisa beruntung karena pindah rumah dengan keadaan sudah lengkap dengan isinya.


“Sengaja, itu di belikan ibuku, biar kamu tidak kesusahan menyiapkan makanan untuk suamimu, sekarang aku lapar, dalam 15 menit makanan harus sudah tersaji di meja makan!,” perintah Zain.


“15 menit? Kamu makan saja sendiri kalau begitu,” ucap Annisa.


“Inget, kamu harus menuruti apa kata suamimu,” ucap Zain lalu pergi meninggalkan Annisa.


Annisa benar-benar di buat kesal oleh Zain, dia harus menyediakan makanan dalam waktu 15 menit.


“15 menit untuk sarapan mie instan,” ucap Annisa.


Dia bergegas mendidihkan air untuk memasak mie instan.


Annisa memotong bawang, tomat dan cabe untuk di sajikan dengan mie instan.


Melihat kembali ke dalam kulkas, ternyata ada kornet yang masih mentah, Annisa mengeluarkannya lalu memasaknya.


Setelah kurang lebih 10 menit, mie instan sudah tersaji di dalam dua mangkuk besar, di atasnya di tambah toping kornet, telur, tomat dan bawang yang sangat segar dan harum. Dia meletakan dua mangkuk itu di atas nampan dan mengambil dua gelas untuk di isi air putih.


Annisa bergegas pergi ke ruang makan dan menyajikan di atas meja makan.


“Silakan Tuan,” ucap Annisa kepada Zain yang sudah duduk di meja makan.


“Awas kalau tidak enak, tapi dari harumnya sangat wangi, sepertinya kamu jago memasak,” ucap Zain sambil melihat mangkuk miliknya.


“Sudahlah makan saja,” Annisa sudah mulai membaca doa dan menyantap sarapannya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Zain yang lahap sekali memakan sarapannya walaupun hanya mie instan.


“Alhamdulillah, lumayan enak,” ucap Zain.


Annisa melihat mangkuk Zain yang benar-benar bersih, semuanya ludes di makan Zain.


Annisa tersenyum kecil lalu membereskan kembali meja makan, dia mencuci mangkuk dan gelas bekas mereka berdua.


“Harus hemat, kamu jangan buang-buang makanan yang ada di kulkas!,” tiba-tiba Zain menghampiri Annisa.


“Buang-buang? Maksudmu aku membuang makanan yang masih utuh? Aku bukan anak TK lagi Kak Zain,” ucap Annisa yang sudah selesai mencuci mangkuk.


“Kalau butuh apa-apa bilang saja! Jika persediaan makanan habis, bilang, nanti aku kasih uang untuk kamu membeli kebutuhan dapur,” ucap Zain.


“Baik Tuan.”


“Meskipun kamu istri bohonganku, tetap saja di luar sana kamu adalah istri dari Anak pemilik Pesantren, akan ku pastikan semua kebutuhan dapur dan rumah tercukupi,” ucap Zain.


Annisa tersenyum sinis.


“Siang ini aku ada kuliah, aku izin pulang sore,” ucap Annisa.


“Hmm, ya,” Zain pergi meninggalkan Annisa.


Tiba-tiba suara handphone Annisa berbunyi, ternyata panggilan masuk dari Kak Aisyah.


“Assalamu,alaikum, Annisa bagaimana rumah barumu?,” Kak Aisyah menelepon dengan suara bahagia.


“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah Kak rumahnya bagus sekali, di sini juga sudah lengkap, semuanya tersedia,” ucap Annisa sembali memperlihatkan isi dapur dan ruang makan.


“Alhamdulillah, nanti sore menuju malam, Kakak dan Mas Ahsan akan pergi ke sana, sekalian membawa mobilmu, kamu pasti perlu kendaraan meskipun jarak kampus dan rumahmu berdekatan,” ucap Kak Aisyah.


“Iya Kak, kutunggu kedatangan Kakak ya, nanti aku masak untuk kalian,” ucap Annisa.


“Tidak usah, Kakak akan membawa makanan untuk kita nanti makan malam,” Kak Aisyah tersenyum.


Lalu mereka mengakhiri percakapan di teleponnya.


Zain membereskan baju-baju miliknya memasukkan kembali ke koper lalu menyembunyikannya di dalam lemari.


“Annisa, nanti kalau Kakakmu tanya kamar kita dimana, tunjuk saja kamar milikmu,” ucap Zain.


Annisa mengangguk.


***


Jam dinding menunjukan pukul satu siang.


Annisa sudah bersiap untuk pergi ke kampus.


“Kak Zain, aku pergi dulu ke kampus,” ucap Annisa bergegas keluar.


Zain hanya mengangguk.


Annisa pergi dengan angkutan umum.


Sesampainya di kampus, tiba-tiba Raihan menghampiri Annisa yang baru saja turun dari angkutan umum.


“Assalamu’alaikum, kenapa naik angkutan umum? Suami kamu tidak mengantar?,” tanya Raihan.


Annisa terkejut, kenapa dia bisa tau bahwa Annisa sudah menikah.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, suami saya sedang sibuk bekerja,” ucap Annisa dan lantas pergi meninggalkan Raihan.


“Kalau kamu menjadi istriku, aku akan mengantar kamu kemanapun walaupun aku sibuk,” ucap Raihan tiba-tiba.


“Terimakasih,” Annisa langsung pergi meninggalkan Raihan.


Dia memasuki kelas dan semua orang langsung berkumpul di hadapannya.


“Annisa, kenapa kamu tidak bilang kalau menikah dengan Kak Zain,” ucap Yunita teman Annisa.


“Kak Zain itu populer, dia anak yang punya Pesantren ternama, cewek-cewek di sini pada tertarik sama Kak Zain, katanya dia akan mengajar di kampus ini,” lanjut Yunita.


Annisa terkejut mendengar itu, bahkan dia sendiri tidak mengetahuinya.


“Iya, maaf ya temen-temen aku tidak mengundang kalian,” ucap Annisa.


“Di jodohkan ya?,” celetuk salah satu teman Annisa.


Annisa hanya terdiam.


***


Tingnong … tingnong … tingnong …


“Assalamu’alaikum,” Kak Ahsan dan keluarga sudah berada di depan rumah Annisa dan Zain.


“Wa’alaikumsalam,” dengan cekatan Zain membuka pintu.


Zain menyambut kedatangan keluarga Kakak iparnya. Zain sangat ramah dan bersikap sopan kepada Kak Ahsan.


Hingga akhirnya Annisa pulang dari kampus dan melihat kondisi rumahnya yang sudah ramai kedatangan Kak Ahsan.


“Ya ampun, kalian sudah datang,” ucap Annisa.


“Annisa, kamu baru pulang dari kampus?, naik apa?,” tanya Kak Ahsan menghampiri Adiknya.


“Jangan bilang kamu naik angkutan umum,” lanjut Kak Ahsan sambil melirik ke arah Zain.


Zain sekarang salah tingkah.


“Enggak Kak, tadi berangkat ke kampus Annisa diantar oleh Kak Zain, pulangnya Annisa naik taxi,” ucap Annisa berbohong.


“Baguslah kalau begitu, seharusnya Kakak tidak mengkhawatirkan hal itu, karena sekarang ada suami kamu yang siaga menjagamu,” Kak Ahsan kembali duduk di kursi tamu.


Annisa tersenyum.


Kak Ahsan dan Kak Aisyah berkeliling melihat rumah baru Annisa. Dia bertanya kamar utamanya. Annisa menunjuk kamar yang ada di atas.


Lalu Kak Ahsan melihat kamar yang ada di bawah, yaitu kamar Zain.


“Wah, ini kamar untuk anakmu nanti ya,” Kak Ahsan masuk ke dalam kamar itu.


Zain sudah salah tingkah, takut ketahuan kalau koper bajunya masih berada di dalam lemari.


“Hehehe, iya Kak niatnya begitu,” ucap Zain yang terus mengikuti langkah Kak Ahsan.


Kak Ahsan membuka lemari, dia terheran melihat koper besar berada di lemari tersebut. Kak Ahsan menyentuh kopernya, dia merasa koper tersebut berat.


“Koper siapa ini?,” tanya Kak Ahsan.


“Emm … itu, koper.”

__ADS_1


__ADS_2