Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Poligami


__ADS_3

Di Pesantren Zain bekerja mengurusi administrasi dan mengajar anak-anak santri.


Sesekali Zain memikirkan Nafrini. Dia benar-benar sangat mencintainya, dia berniat akan memberitahu Ayahnya bahwa dirinya akan berpoligami. Tapi Ayah Zain tidak pernah berpoligami karena Ayahnya sangat mencintai Ibunya, sehingga tidak ingin menyakiti perasaan Ibunya.


Dia benar-benar tidak konsentrasi dan ingin segera pulang ke rumah.


Zain sedang melamun di ruangan khusus miliknya. Tanpa di sadari Ayahnya memperhatikan Zain dari luar melalui kaca jendela, lalu mengetuk pintu.


Tok … tok … tok …


Zain tersadarkan dari lamunannya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ayahnya.


“Wa’alaikumsalam, Ayah masuklah,” ucap Zain sambil berdiri dari duduknya.


“Kenapa kamu melamun?,” tanya Ayah.


“Tidak Ayah, aku hanya,” Jawab Zain terdiam sejenak.


“Ayah, apakah poligami di perbolehkan?,” tiba-tiba Zain menanyakan hal yang membuat Ayahnya terkejut.


“Poligami dalam islam di perbolehkan asalkan istri pertamamu mengikhlaskannya dan kamu bisa berlaku adil pada istri-istrimu,” jawab Ayah.


“Kenapa? Kamu akan berpoligami?,” lanjut Ayah.


“Tidak Ayah, hanya ingin bertanya saja.”


“Loh, kamu kan pandai soal agama, masa begitu saja bertanya pada Ayah,” ucap Ayah sambil menuangkan air putih.


“Tapi, Ayah kenapa tidak berpoligami?,” tanya Zain membuat Ayah tersedak.


“Uhuk … uhuk.”


“Maaf Ayah,” Zain mengambilkan tissu untuk Ayahnya.


“Tidak ada alasan Ayah harus melakukan poligami, lihatlah Ibumu, dia benar-benar cantik luar dan dalam, istri yang sangat shalehah dan penurut, tidak pernah Ayah di kecewakan oleh Ibumu, Ayah sangat menyayanginya, karena Ibumu benar-benar bidadari surga untuk Ayah, jadi Ayah tidak berniat ingin menyakiti perasaan Ibumu, berpoligami itu di perbolehkan tapi tidak di wajibkan Zain,” jelas Ayah.


“Apakah Annisa mengecewakanmu? Sehingga kamu ingin berpoligami? Apakah Annisa tidak bisa menjadi istri yang baik?,” lanjut Ayah bertanya pada Zain.


Zain tertegun. Dia menunduk.


“Tidak Ayah, aku mengakui Annisa sangat baik dan penyabar, dia wanita hebat,” jawab Zain.


“Ayah sudah tau sejak pertama bertemu dengannya, Ayah yakin Annisa bisa menjadi istri seperti Ibumu,” ucap Ayah.


“Ayah tapi apakah aku di izinkan berpoligami?,” lagi-lagi Zain menanyakan hal itu.


“Ayah tidak melarangmu, asalkan kamu mendapat persetujuan dari Annisa,” ucap Ayah berdiri.


“Sudah ya, Ayah mau kembali ke ruangan Ayah, Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Zain berdiri dari duduknya.


***


Sore hari Annisa pulang ke rumah.


Dia bersiap-siap untuk memasak makan malam.

__ADS_1


Annisa melihat Nafrini sedang asik menonton televisi di ruang keluarga.


Annisa menggelengkan kepalanya.


“Sudah seperti rumah sendiri saja,” gumamnya dalam hati.


“Nafrini, apakah bisa bantu saya untuk memasak?,” tanya Annisa.


“Ah .. tentu saja,” jawab Nafrini langsung menghampiri Annisa.


“Kali ini kita akan masak sup ayam, kamu bisa membantuku membersihkan ayam dan memotongnya,” ucap Annisa.


Nafrini langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Annisa.


Annisa memotong bawang dan sayuran serta menyiapkan bumbu yang di butuhkan.


Mereka memasak bersama, tidak ada perdebatan aman dan damai.


Lalu tiba-tiba Zain datang dan terkejut melihat pemandangan istri dan kekasihnya sedang memasak bersama.


“Sayang, sudah pulang?,” Nafrini tiba-tiba menyapa kekasihnya.


“Iya, sedang apa?,” tanya Zain menghampiri mereka berdua.


“Saya sedang memasak sup ayam,” jawab Nafrini dengan ceria.


Annisa hanya terdiam, sesekali melirik ke arah mereka.


Tidak ada rasa cemburu atau apapun di hati Annisa. Namun mengingat statusnya, Zain adalah suami sahnya, dia tidak bisa membiarkan suaminya berdekatan dengan perempuan lain.


“Kak Zain, aku akan menyiapkan air panas untukmu membersihkan diri,” ucap Annisa.


“Aku istrinya, sepertinya aku yang lebih berhak,” Annisa melihat ke arah Nafrini dengan tatapan dingin.


“Sayang, biarkan aku yang menyiapkannya,” rengek Nafrini.


Zain kebingungan, dia mengingat syarat dari Annisa bahwa harus menghargai dia seperti layaknya seorang istri.


“Kamu tetaplah memasak Nafrini, biarkan istriku yang menyiapkan air hangat untukku,” ucap Zain.


Annisa tersenyum, dia senang karena Zain menepati perkataannya. Annisa lalu pergi menyiapkan air hangat untuk suaminya.


“Kenapa kamu membiarkan dia Zain? Kamu tidak mencintaiku lagi? Apa kamu sudah tergoda oleh dia?,” Nafrini marah kepada Zain.


“Tidak, aku tidak tergoda olehnya,” Zain membela diri.


“Lalu? Kenapa kamu membiarkan dia menyiapkan air hangat untuk kamu mandi?,” tanya Nafrini.


“Ayolah, aku tidak ingin ribut masalah sepele ini,” jawab Zain duduk di hadapan Nafrini.


“Sepele? Katamu sepele? Aku tanya, kamu masih mencintaiku?,” tanya Nafrini sambil mengaduk sup ayam yang sebentar lagi matang.


“Iya,” jawab Zain singkat.


“Tidak baik seorang suami mencintai perempuan lain selain istrinya,” tiba-tiba Annisa datang dengan membawa handuk milik suaminya, pertanda air hangat sudah siap.


Zain melotot mendengar perkataan dari Annisa.


“Zain!,” Nafrini marah.

__ADS_1


“Sudah ya, aku mau mandi dulu,” ucap Zain.


Annisa hanya tersenyum, dia geli sendiri dengan perkataan dan tingkah lakunya, sebelum ada Nafrini, Annisa tidak pernah bersikap manis kepada Zain.


Annisa hanya ingin menguji kesabaran Nafrini hingga akhirnya melepaskan Zain.


“Zaaiinnn!! Aku akan pergi kerumah orang tuamu dan berbicara kepada mereka bahwa aku adalah kekasihmu!,” Nafrini membanting sendok yang ada di tangannya. Dia bergegas pergi membawa tas. Namun di tahan oleh Annisa.


Zain memasang wajah panik.


“Sudah ya, kalau kamu mau berbicara kepada mereka, lebih baik besok saja, sekarang hari sudah mulai gelap, tidak baik seorang perempuan berkeliaran malam hari, apa kata orang tua mereka jika melihat kamu malam hari keluar rumah? Tentu mereka tidak akan menyukai perempuan seperti itu,” jelas Annisa sambil menahan tangan Nafrini.


Nafrini berdiam sejenak, memikirkan perkataan Annisa memang ada benarnya.


“Baiklah, besok aku akan pergi ke rumah orang tuamu Zain!,” ucap Nafrini pergi ke kamarnya.


Annisa hanya tersenyum melihat kelakuan Nafrini, dia mematikan kompor dan menghidangkan sup ayam.


Zain yang mulai pusing dengan keadaan bergegas masuk kamar mandi dan membanting pintu dengan sangat keras.


Setelah hampir 15 menit, akhirnya Zain sudah siap untuk menyantap sup ayam hangat buatan istri dan kekasihnya. Annisa memanggil Nafrini untuk makan bersama.


Nafrini dengan mata sembab keluar dari kamar, Annisa mengetahui bahwa Nafrini sudah menangis. Dia mengusap pundak Nafrini dengan lembut.


“Sabar ya, Allah sudah menentukan jodohnya masing-masing, bisa saja kamu tidak berjodoh dengan Zain dan Allah gantikan dengan yang lebih baik,” ucap Annisa tersenyum.


“Tidak, aku akan berjodoh dengan Zain, dia akan menceraikanmu dan menikahiku,” ucap Nafrini.


Annisa hanya tersenyum mendengar perkataan Nafrini.


Mereka berdua menuju ke ruang makan, di sana sudah ada Zain menunggu.


Mereka tak saling menyapa. Annisa mengambilkan nasi dan sup ayam untuk suaminya.


Zain melihat ke arah Annisa.


Annisa hanya tersenyum.


Nafrini memasang wajah cemburu.


Mereka bertiga akhirnya makan malam dengan tenang. Sampai akhirnya Annisa merasa pusing dan mual.


“Aku permisi ke belakang, uo … uo …” Annisa tak sanggup menahan mualnya, dia begegas pergi ke kamar mandi.


Nafrini mengerutkan keningnya lalu menatap tajam Zain.


“Apa Annisa hamil?,” tanya Nafrini.


“Aku, aku, tidak tahu,” jawab Zain dengan gugup.


“Apa kamu sudah menyentuhnya?!,” Nafrini berdiri dari duduknya.


“Tidak, aku,” Zain berhenti berbicara.


Nafrini meninggalkan Zain mengambil tasnya dan pergi keluar.


“Aku akan memberitahu orang tuamu sekarang!,” Nafrini dengan nekat keluar rumah.


“Tunggu!,” Zain mengejar Nafrini.

__ADS_1


__ADS_2