Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Kembali Ceria


__ADS_3

“Wa’alaikumsalam Pak Guntoro, mohon maaf mengganggu waktunya, sepertinya ada yang perlu di bicarakan,” ucap Kak Ahsan.


Zain wajahnya pucat.


“Iya, saya sudah tau, tadi mendengar sedikit di telepon, apakah benar anak saya selingkuh?,” tanya Pak Guntoro.


“Betul, saya melihat sendiri videonya bahwa Zain mengantarkan seorang wanita bercadar yang bukan istrinya!,” jawab Kak Ahsan


“Astagfirullah, kalau begitu kita bicarakan secara kekeluargaan saja,” ucap Pak Guntoro.


“Iya saya setuju, tapi tidak untuk waktu dekat ini, saya masih berduka atas kehilangan Abah,” Kak Ahsan melihat ke arah Zain.


“Iya tidak apa-apa, saya turut berduka cita ya.”


Setelah selesai Kak Ahsan berbicara dengan Pak Guntoro, Kak Ahsan menyuruh Zain untuk pulang terlebih dahulu.


“Biarkan Annisa tinggal di sini, dia masih berduka, jangan menambah lukanya lagi,” ucap Kak Ahsan.


“Baiklah kalau begitu, tetapi saya tidak akan menceraikan Annisa,” ucap Zain berdiri dari duduknya.


“Terserah, bicarakan saja itu dengan Ayahmu,” Kak Ahsan pergi.


Zain berpamitan kepada Ambu dan Kakak-kakak Annisa, juga berpamitan kepada Annisa.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk berselingkuh, aku hanya kamu ingin memakai cadar dan menuruti keinginanku, itu saja Annisa,” ucap Zain.


Annisa terdiam tidak menjawab.


Zain pergi berlalu meninggalkan kediaman mertuanya.


“Annisa, tinggalah seminggu di sini, jangan pikirkan apapun terutama Zain, lakukan hal yang membuatmu senang ya,” ucap Kak Ahsan menghampiri adiknya.


Annisa mengangguk.


***


Keesokan harinya, Keluarga Kak Ahsan pamit pulang bersama keluarga Kak Ahza. Kali ini Adam ikut dengan ibunya yaitu Kak Citra. Karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan mereka memutuskan untuk pulang.


Kini hanya tinggal Annisa berdua dengan Ambu. Jam dinding menunjukan pukul sepuluh siang. Annisa merasa bosan, dia mengajak Ambu untuk memasak di dapur.


Annisa juga menceritakan bahwa dirinya sempat berjualan cupcake di kampus. Kali ini Annisa akan membuat cupcake khusus untuk Ambu.


Ambu merasa senang dengan bakat yang di miliki Annisa. Tapi di sisi lain Ambu sedih karena anaknya harus berjualan di kampus, padahal dia adalah seorang istri dari suami yang cukup kaya raya. Bagaimana bisa seorang suami yang paham agama, membiarkan istrinya berjualan, padahal suaminya terbilang mampu untuk menafkahi istrinya.

__ADS_1


“Apakah kamu tersiksa dengan pernikahan ini?,” tanya Ambu sembari membantu menyiapkan peralatan memasak.


“Sebenarnya Annisa hidup enak di sana, semua bahan untuk keperluan dapur sudah di sediakan oleh Ibu mertua, tetapi Annisa tersiksa saja dengan tuntutan dari Zain, dia seorang suami yang egois Ambu, apalagi kalau sudah membahas poligami, Annisa tidak bisa Ambu, walaupun Annisa belum mencintainya,” jawab Annisa yang sudah memulai menuangkan bahan-bahan.


“Maafkan Ambu ya, Ambu tidak tahu kalau selama ini kamu tersiksa, jangan menutupi lagi kebohongan ya, bicarakan saja pada Ambu atau Kakakmu jika itu adalah hal yang salah,” Ambu memeluk Annisa.


Annisa membalas pelukan Ambu.


“Iya Ambu, terimakasih sudah selalu ada untuk Annisa.”


Setelah sekitar satu jam, Annisa sudah beres membuat cupcake.


Annisa memberikan cupcakenya kepada Ambu. Satu cupcake mendarat di mulut Ambu, betapa enaknya cupcake yang di buat Annisa.


“Enak sekali, kamu pintar memasak Annisa,” ucap Ambu yang masih memakan cupcakenya.


“Terimakasih Ambu, Annisa terpikir untuk menjual cupcake ini secara online, hanya selama Annisa tinggal di sini saja, bagaimana menurut Ambu?”, tanya Annisa memandangi wajah orang tersayangnya.


“Bagus, Ambu setuju Nak,” jawab Ambu tersenyum.


Annisa pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel.


Dia memfoto beberapa cupcake untuk di promosikan di kampung halamannya.


Dia memposting di whatsapp dan di instagramnya.


“Wah, cupcakenya pasti enak, ini buatan Annisa?,” tanya tetangga itu.


“Iya betul, semoga suka ya,” jawab Annisa tersenyum ramah.


Pada hari itu Annisa sibuk dengan orderan yang sangat banyak, dia terus menerus membuat dan mengantarkan pesanan cupcake hingga sore hari cupcake yang di buatnya habis terjual.


Annisa merasa senang karena penjualannya laris manis, dia mendapatkan banyak uang.


Dengan kegiatan seperti itu, Annisa bisa sedikit melupakan rasa sedihnya atas kepergian Abah. Begitu juga dengan permasalahan rumah tangganya, dia sudah tidak peduli lagi dengan itu.


Dia mendapatkan ide untuk memulai bisnis di depan rumahnya, selama seminggu Annisa akan berjualan cupcake di depan rumahnya, sehingga Annisa tidak perlu cape mengantar cupcake tersebut, dia hanya perlu menunggu di depan rumahnya saja.


“Ambu, apakah boleh Annisa menjual cupcake di depan rumah? Hanya satu minggu saja,” Annisa menyandarkan kepalanya di bahu Ambu.


“Boleh sayang, apapun yang kamu mau,” Ambu membelai punggung Annisa.


Malam hari, Annisa mulai mencari inspirasi untuk stand cupcakenya agar di depan rumahnya lebih menarik.

__ADS_1


“Sepertinya aku butuh meja besar dan sebuah nama agar cupcake nya terlihat bagus, aku juga butuh tempat untuk menyimpan cupcake, agar pembeli ketika mengambil cupcake masih dengan keadaan bagus,” gumamnya pelan.


Ambu hanya tersenyum melihat Annisa kembali ceria seperti sedia kala.


***


Di Pesantren Pak Guntoro.


“Mengapa kamu melakukan itu? Ayah sudah bilang padamu! Annisa adalah istri yang shalehah, jangan sia-siakan dia!,” Ayah memarahi Zain.


Zain hanya tertunduk.


“Ayah, Zain hanya mengantarkan salah seorang dosen, lagi pula kita harus saling tolong menolong,” Zain membela.


“Tidak, kamu harus lebih tau batasan berinteraksi antara perempuan dan laki-laki, apalagi kamu sudah menikah!,” ucap Ayah.


“Sekarang pilihan ada di tanganmu, Ayah tidak bisa memaksakan cinta kalian,” ucap Ayah.


“Kamu akan bercerai darinya?,” lanjut Ayah.


Zain menggelengkan kepalanya.


“Tidak tahu.”


“Lebih baik laksanakan shalat istikharah, nanti Allah akan memberimu petunjuk,” ucap Ayah.


“Tapi Allah tidak menyukai perceraian,” lanjut Ayah.


Ayah memikirkan sesuatu.


“Jika kamu bercerai dengan Annisa, Ayah tidak akan mewarisi kamu Pondok Pesantren ini,” Ayah menatap Zain.


Zain terkejut. Begitu juga Ibu yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan mereka.


“Lebih baik Zain shalat istikharah dulu Ayah, biarkan Allah yang memberikan petunjuk,” ucap Ibu menghampiri Ayah.


Ayah terdiam sejenak.


“Ayah tidak habis pikir Zain, Putra Ayah yang satu ini berbeda dengan Kakak-kakaknya, mengapa dari awal kamu mau di jodohkan dengan Annisa? Kamu hanya merusak kebahagiaan Annisa, kamu tahu kan kalau Annisa adalah anak dari sahabat Ayah, kamu hanya mempermalukan keluarga kita! Annisa adalah istri yang shalehah, kenapa kamu menyia-nyiakannya? Kurang sabar apa Annisa selama ini menghadapi ke egoisanmu? Ayah pikir kamu akan sama seperti Kakak-kakakmu itu, mereka bahagia dengan pasangan yang di pilihkan oleh Ayah, orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, karena Ayah yakin Annisa adalah wanita baik,” Ayah menahan air matanya dengan tangan.


“Maafkan Zain Ayah, Zain hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh Ayah, Zain ingin berbakti kepada kedua orang tua,” Zain memohon di hadapan Ayah.


“Bukan begitu caranya! Kamu telah mempermaikan pernikahan, Astagfirullah,” Ayah kembali menenangkan dirinya dengan beristigfar.

__ADS_1


“Ayah telah gagal mendidikmu menjadi suami yang bertanggung jawab,” lanjut Ayah menunduk sambil mengusap Air matanya.


Zain hanya tertunduk menyesal.


__ADS_2