Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Cadar Penutup Luka


__ADS_3

Pagi hari Kak Citra sudah siap untuk pulang, dia menunggu mobil travel di luar, Adam yang sedari tadi menangis karena tidak ingin Ibunya pergi.


Annisa menenangkan Adam, dengan terpaksa Kak Citra pergi tanpa anaknya Adam.


Adam terus merengek menangis hingga tertidur.


Kak Ahsan sudah pergi ke kantor sangat pagi, sengaja agar tidak melihat kepergian Kak Citra.


Annisa kini berada di kamar dengan suaminya.


“Kita besok pindah,” ucap Zain tiba-tiba.


“Kemana?,” tanya Annisa yang masih melihat laptopnya.


“Ke perumahan dekat kampusmu,” jawab Zain merapihkan pakaiannya.


“Baiklah, aku mengikuti saja apa kata suami,” Annisa masih fokus pada laptopnya.


“Suami? Kita bukan suami istri asli, ingat!,” tiba-tiba suara Zain mengagetkan Annisa.


“Iya, aku ngerti kok,” ucap Annisa.


“Oh iya, kenapa kamu belum memakai cadarmu?,” tanya Zain.


“Cadar? Aku hanya akan memakai cadar karena Allah,” jawab Annisa melihat ke arah suaminya.


“Tidak bisa, kamu harus memakai cadar sekarang, itu persyaratan dari suamimu, kamu harus menurutinya!,” Zain mengambil cadar yang tersimpan di atas meja belajar.


“Suami? Katamu kita palsu,” ucap Annisa.


Zain tidak berkata-kata lagi.


Dia memberikan cadarnya kepada Annisa.


“Pakai sekarang juga!,” ucap Zain.


“Tidak!,” Annisa berdiri dari kursinya.


*PLAK*


Zain memukul pipi Annisa pelan, namun berbekas di pipi Annisa.


Annisa berlinang air mata.


Dia merasa kesakitan.


“Silakan pilih, keluar dengan keadaan pipimu memar, atau pakai cadar sekarang untuk menutupi luka itu,” Zain tersenyum jahat.


Annisa terus memegangi pipinya.


Terpaksa dia mencoba menutupi pipinya dengan cadar.


Zain merasa puas melihat Annisa kesakitan.


“Cepat pakai cadarnya,” lanjut Zain.


Dengan terpaksa Annisa menggunakan cadar yang ada di tangan Zain.


Dia menghampiri cermin dan melihat dirinya sekarang sudah memakai cadar hitam. Dengan masih berlinang air mata.


“Sudah jangan menangis! Istri shalehah itu harus menuruti keinginan suaminya, sekarang aku akan memberitahu Kakakmu bahwa besok kita akan pindah,” ucap Zain.


Zain keluar dari kamar Annisa.


Annisa kini menangis.


“Ambu, Annisa kangen, doakan agar Annisa kuat menjalani rumah tangga ini, hiks … hiks … hiks,” Annisa berbicara pelan.


Dia menghapus air matanya. Berusaha tegar dengan keadaan. Menerima kenyataan bahwa suaminya tidak mencintainya. Annisa hanya bisa berdoa agar di luluhkan hati suaminya.


Annisa keluar kamar dengan memakai cadar.


“Annisa, kamu yakin akan pindah besok?,” tanya Kak Aisyah.

__ADS_1


“Iya Kak, Annisa mengikuti apa kata Kak Zain saja,” jawab Annisa.


“Alhamdulillah, kamu sekarang sudah pakai cadar?,” tanya Kak Aisyah lagi.


Annisa hanya mengangguk.


“Berkat saya Kak, dia mau pakai cadar,” tiba-tiba Zain membanggakan dirinya.


Kak Aisyah hanya tersenyum.


“Jika kalian sudah siap pindah, Kakak tidak bisa menolaknya, walaupun Kakak akan merasa kehilangan kalian berdua, terutama Annisa, jaga dia baik-baik ya Zain,” Kak Aisyah memeluk Annisa.


Annisa tidak tahan lagi, dia menangis di pelukan Kak Aisyah.


Kak Aisyah mengusap pundak adik iparnya dengan lembut.


“Sudah jangan menangis, nanti kamu bisa berkunjung ke sini setiap hari,” ucap Kak Aisyah melihat ke arah Annisa.


Annisa mengangguk. Padahal sebenarnya dia menangis bukan karena hal itu.


Jam menunjukan pukul satu siang, Annisa bergegas pergi ke kampus karena ada kelas siang. Annisa ke kampus menggunakan cadarnya.


Di jalan Annisa terus mengeluarkan air mata, hatinya terasa hancur, baru pertama kali dia di perlakukan kasar oleh seorang lelaki.


Saat sampai di kampus, Annisa melihat Raihan sedang duduk dengan seorang perempuan.


Raihan melihat ke arah Annisa, dia mengenali mata Annisa walaupun memakai cadar.


Raihan ingin menyapa Annisa namun Annisa bergegas pergi ke kelasnya.


***


Malam harinya Annisa berkemas membereskan barang-barangnya dia masukan ke dalam koper.


Zain seperti biasa dia sudah berada di atas kasur Annisa, memainkan handphonennya.


Annisa membuka cadarnya, melihat ke cermin ternyata wajahnya masih memar.


“Jangan di lihat terus, itu bukan aku kasar padamu, tapi supaya kamu mau memakai cadar,” celetuk Zain.


“Kalau aku tidak takut akan dosa terhadap suami, aku akan membalas tamparanmu, tapi mengingat bahwa di hadapan Allah kita adalah suami istri sah, aku tidak akan membalas perbuatan jahatmu,” jelas Annisa.


Zain tertegun, memang benar jika di hadapan Allah Zain dan Annisa sudah sah menjadi suami istri.


***


Pagi hari Annisa sudah siap untuk pindah, Annisa memakai cadarnya dan menggusur dua koper yang berat.


“Sini! Berikan kopernya, aku mau terlihat seperti seorang suami baik di hadapan Kakakmu,” Zain merebut kedua koper Annisa.


Annisa hanya menggeleng sambil pergi keluar kamar.


Di meja makan sudah ada Kak Aisyah dan Kak Ahsan beserta Laila, Lisa dan Adam.


“Sini makan terlebih dahulu,” ajak Kak Ahsan.


“Tidak Kak, nanti kami akan makan di rumah baru kami,” ucap Zain menolak ajakan Kak Ahsan.


“Oh begitu,” Kak Ahsan melihat ke arah adik tersayangnya dengan tatapan sedih.


“Kamu jaga diri baik-baik ya, nurut sama suamimu,” Kak Ahsan menghampiri Annisa dan memeluk adiknya.


Annisa meneteskan air matanya.


“Jangan menangis ya,” Kak Ahsan menghapus air matanya, namun tangannya mengenai luka di pipi.


“Aww,” Annisa merintih kesakitan.


“Kenapa?,” tanya Kak Ahsan khawatir.


Zain panik melihat Kak Ahsan mengkhawatirkan Adiknya.


“Tidak Kak, hanya sedikit sakit saja,” jawab Annisa.

__ADS_1


“Buka saja cadarnya, lagi pula aku ini Kakakmu,” Kak Ahsan menarik cadar Annisa.


Terpangpang jelas di depan mata Kak Ahsan, wajah Annisa memar.


“Kenapa ini?,” Kak Ahsan memegang wajah Adiknya.


“Itu, Kak kena itu loh,” Zain gugup menjawab pertanyaan Kak Ahsan.


“Kena lemari Kak,” jawab Annisa berbohong.


“Astagfirullah kok bisa?,” tanya Kak Ahsan sambil terus memperhatikan luka Annisa.


“Annisa tidurnya terlalu ke samping Kak, makannya pipinya kena lemari,” jawab Zain.


Annisa hanya mengangguk dan tersenyum.


“Ya sudah, setelah sampai rumah, kompres pakai es batu ya Nisa,” ucap Kak Ahsan.


Annisa tersenyum.


Annisa dan Zain berpamitan kepada Kak Ahsan dan Kak Aisyah.


Di depan sudah ada mobil jemputan dari Ayahnya Zain. Zain mengangkat kopernya dan memasukannya ke dalam mobil, Annisa memeluk kembali Kak Aisyah dan Kak Ahsan, Kak Aisyah berpesan untuk selalu datang ke sini jika ada waktu. Annisa mengangguk.


Kini Annisa dan Zain menaiki mobil dan pergi berlalu dari rumah mewah milik Kak Ahsan.


Di perjalanan seperti biasa keduanya tidak saling berbicara.


Sesampainya di rumah baru mereka, Annisa takjub melihat rumahnya yang sangat bagus, halaman depan sudah dipenuhi dengan rumput dan taman serta air mancur sebagai pelengkap, di sampingnya ada garasi yang muat untuk dua mobil. Pagar yang kokoh membuat rumah itu terlihat sangat mewah. Rumahnya bertingkat.


“Pak, tolong ambilkan koper istri saya ya,” perintah Zain kepada supir pribadinya.


“Baik tuan,” supir itu membawakan koper Annisa masuk ke dalam rumah.


Zain masuk duluan di ikuti Annisa di belakang.


“Pak, untuk hari ini Bapak bisa tinggalkan mobilnya di sini dan Bapak pulang ke Pesantren, saya ingin berdua dulu di rumah ini dengan istri saya,” perintah Zain.


Pak supir itu mengangguk, seakan dia mengerti bahwa pengantin baru hanya ingin berdua saja di rumah.


Lalu Pak supir pergi menggunakan taxi yang di pesankan oleh Zain.


“Sengaja aku menyuruh Pak supir pulang, agar aku leluasa menyuruh dan memaki kamu, hahahah,” ucap Zain yang membuat Annisa semakin takut.


Annisa menjauhkan badannya dari Zain.


“Tenang saja aku hanya bercanda, sini aku tunjukan kamar untukmu,” ucap Zain menunjuk kamar besar yang ada di lantai atas.


Annisa mengikuti Zain dari belakang.


“Ini kamar kamu, sekarang kamu bebas melakukan apapun di kamar ini,” lanjut Zain.


“Kalau kamu?,” tanya Annisa.


“Kamu pikir kita akan sekamar? Tidak! Aku memilih kamar yang ada di bawah, kamu tidak boleh masuk kedalam kamarku kecuali dalam keadaan darurat!,” jawab Zain.


Annisa mengangguk mengerti.


“Kita pisah kamar, jangan pernah katakan ini kepada siapapun!,” Zain menunjuk Annisa.


Annisa mengangguk.


Zain pergi meninggalkan Annisa, dia beristirahat di kamarnya yang berada di bawah.


Kini Annisa harus mengangkat kedua kopernya naik ke atas kamar barunya.


Tanpa bantuan dari Zain, Annisa sekuat tenaga mengangkat kopernya.


*BRUUUKKK*


Koper kembali terlempar ke bawah dan Annisa jatuh dari tangga.


Zain terkejut mendengar suara Annisa menjerit.

__ADS_1


“Astagfirullah, Annisa,” Zain bergegas lari menuju Annisa.


__ADS_2