
Annisa kini hanya bisa berdiam diri berada di ruang tamu. Mengingat kata-kata Zain yang dilontarkan kepadanya. Kenapa Kak Ahsan bilang semua anak Pak Guntoro berhati baik, nyatanya tidak dengan anak bungsunya ini.
Semua orang yang berada di ruang tamu mulai mencicipi hidangan dari tuan rumah, begitu juga Annisa yang mencicipi gudeg buatan istrinya Pak Guntoro.
“Jadi kapan akan diberlangsungkan?,” tiba-tiba Pak Guntoro mengagetkan Annisa.
“Secepatnya Pak, saya dari pihak perempuan hanya menunggu kedatangan anda sekeluarga,” Kak Ahsan sangat mendukung perjodohan ini.
Berbeda dengan Annisa kini hanya lesu mendengarkan dirinya akan menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki kekasih.
Bagaimana jika rumah tangganya tidak bahagia? Bukankah jika salah memilih suami maka akan terasa seperti dineraka untuk istrinya? Karena kebahagiaan rumah tangga terletak pada kebahagiaan seorang istri.
***
Diperjalanan pulang Annisa merenungkan nasibnya, dia sangat kebingungan karena tidak mau perjodohan ini terjadi, namun di sisi lain Annisa tidak mau membuat Abah dan Ambunya kecewa, jika dia menolak perjodohan ini, otomatis dia harus membawa ke hadapan Abah calon suami yang lebih baik dari Zain.
Annisa hanya memandangi suasana pemandangan melalui kaca mobil di sebelahnya, sebetulnya dia tidak menikmati pemandang itu, Annisa menatap dengan mata kosong karena sebenarnya dia sedang memikirkan perjodohannya.
“Annisa, kamu tidak apa-apa?,” Kak Ahsan menyadari bahwa adiknya sedang tidak baik-baik saja.
“Tidak Kak, Annisa ingin bertanya sesuatu,” terpaksa Annisa memberanikan diri.
Kak Ahsan yang duduk di depan dengan supir kini berbalik badan melihat ke belakang tepat ke arah Annisa duduk.
“Kalau Annisa menolak perjodohan ini, apa Abah akan disebut orang munafik? Karena telah mengingkar perjanjiannya dengan sahabatnya?,” tanya Annisa.
Sontak Kak Ahsan dan Kak Aisyah terkejut mendengar perkataan Annisa. Mereka saling pandang.
“Memangnya Annisa mengapa ingin menolak perjodohan ini?,” tanya Kak Aisyah dengan lembut.
“Annisa merasa kalau Zain tidak menyukai perjodohan ini, bagaimana kalau dia sudah memiliki kekasih? Bagaimana kalau dia terpaksa melakukan perjodohan ini?,” Annisa mulai mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya merasa khawatir.
“Tapi Kakak lihat sepertinya dia menyetujui perjodohan ini, buktinya dia ingin lebih dekat mengenalmu kan?,” tanya Kak Ahsan.
Kak Ahsan salah, justru tadi Zain memperingatiku tentang perjodohan ini.
“Abah akan sangat kecewa jika kamu menolak perjodohan ini tanpa alasan,” lanjut Kak Ahsan.
Mendengar itu, Annisa mengurungkan niatnya untuk bercerita sejujurnya tentang apa yang dikatakan Zain tadi kepadanya.
Annisa sangat menyayangi Abah dan Ambunya, sehingga dia tidak ingin membuat mereka merasa kecewa.
***
Hari demi hari telah Annisa lewati, kini tiba saatnya untuk hari pertama Annisa kuliah.
“Kak, Annisa berangkat dulu ya,” Annisa bersalaman dengan tergesa-gesa karena dia tahu akan mengalami keterlambatan karena harus naik angkutan umum.
__ADS_1
“Tunggu Nisa, sekarang masih satu jam lagi kan kelasmu dimulai?,” tanya Kak Ahsan.
“Ah … iya betul kak, Nisa kan naik kendaraan umum jadi Nisa takut telat, Nisa pamit ya,” jawab Annisa sambil bersalaman dengan Kakaknya.
Tangan Annisa ditahan oleh Kak Ahsan.
“Tunggu, kami kemarin membelikan sesuatu untukmu,” Kak Ahsan menarik tangan Annisa pergi ke garasi.
“Kemarin Kak Ahsan dan Kak Aisyah membelikanmu mobil, meskipun ini mobil bekas, tapi ini mobil masih layak pakai,” ucap Kak Ahsan sambil menunjukan sebuah mobil.
Mobil kecil 2 pintu dibelikan khusus untuk Annisa, mobil ini sangat terlihat bagus meskipun bekas.
Mata Annisa terbelalak melihat mobil itu, dia terkejut dan tidak menyangka Kakaknya membelikan mobil untuknya. Mobil itu berwarna putih.
“Ta … tapi Kak, tidak usah repot-repot, Nisa bisa pergi sendiri dengan angkutan umum.”
“Mana mungkin Kakak membiarkan adik kesayangan Kakak berdesak-desakan dengan orang lain, jangan menolak, ambilah, pakai untukmu berpergian,” Kak Ahsan memberikan kunci mobilnya.
Kak Aisyah tersenyum melihat Kakak dan Adik ini.
“Tapi Kak,” Annisa belum selesai bicara sudah didahului oleh Kak Ahsan.
“Sssstt … pakai ya,”
“Kakak biarkan Nisa bicara dulu,”
“Annisa belum bisa bawa mobil, Nisa belum belajar Kak,” ucap Nisa.
“Astagfirullah mas, gimana sih,” Kak Aisyah tertawa mendengar perkataan adik iparnya.
“Aduh mas lupa, yaudah Nisa diantar aja ya sama Mbak Mia, nanti kamu telat,” ucap Kak Ahsan.
Annisa melihat sepeda motor yang terbengkalai di garasi Kakaknya itu, masih dengan kondisi sangat bagus, hanya penuh debu saja mungkin karena jarang sekali di pakai.
Annisa meminta izin untuk pergi ke Kampus naik sepeda motor milik Kakaknya itu, akhirnya Kak Ahsan mengizinkannya, karena tau kalau Annisa sangat pandai menaiki sepeda motor.
***
Sampai di kampus, Annisa melihat-lihat sekitar, mencari fakultas dan jurusan yang dia ambil, Annisa mengambil jurusan manajemen, karena dia ingin bekerja di kantoran.
Dengan berjalan kaki Annisa menikmati pemandangan yang ada di kampusnya itu, hingga matanya tertuju pada seseorang yang pernah dia temui. Annisa menghampirinya.
“Maaf, Kak Raihan ya?,” tanya Annisa.
“Ah … iya, kamu Annisa kan yang waktu itu kita ketemu di Mall?,” jawabnya.
Annisa mengangguk.
__ADS_1
“Wah kebetulan sekali bertemu di sini, kamu kuliah di sini? Jurusan apa?,” tanya Raihan.
“Manajemen, Kakak sendiri?,” jawab Annisa dengan malu-malu.
“Sama Kakak juga Manajemen, tapi kok belum pernah lihat kamu?,” tanya Raihan sambil berjalan di ikuti oleh Annisa.
“Saya baru masuk Kak,” Annisa tersenyum.
“Ohh berarti kamu adik tingkat saya, saya sudah semester akhir, InsyaAllah tahun ini lulus, doakan ya.”
“Iya Kak, semoga semua urusan Kakak di permudah oleh Allah SWT.”
“Aamiin, oh iya, sepertinya kita akan sering bertemu, boleh saya meminta nomor handphone kamu?,” Kak Raihan kali ini meminta nomor Annisa.
Jelas membuat Annisa sangat terkejut, perlakuan ketika di Mall sungguh sangat jauh dengan perlakuannya sekarang.
“Umm … boleh Kak, tapi untuk apa ya?,” Annisa ragu memberikan nomor handphonenya kepada orang yang baru dia kenal.
“Nanti kita bisa share pengalaman kuliah dan pelajaran selama kuliah, kalau kamu mau tanya sesuatu tentang perkuliahan, bisa kamu hubungi saya, itu pun jika kamu tidak keberatan,” Raihan tersenyum manis kepada Annisa.
Annisa yang tadinya memperhatikan Raihan kini mengalihkan pandangannya karena dibuat malu dengan senyumannya.
“Nih, catat ya nomor kamu,” Raihan memberikan handphonennya.
Annisa mencatat nomor handphonenya.
“Baiklah, nanti saya hubungi kamu ya,” lagi-lagi Raihan tersenyum kepada Annisa
Annisa mengangguk dan membalas senyumannya.
***
Annisa kini telah selesai melaksanakan kuliahnya hari ini, dia berniat ingin mencari makan di suatu tempat. Dia berjalan menuju parkiran.
Banyak sekali mahasiswa yang melihat ke arahnya, dia merasa risih dengan perlakuan mahasiswa lain.
Memang, sekian banyak mahasiswa sepertinya Annisa adalah wanita yang sangat tertutup dalam segi pakaian. Dia melihat ke arah mahasiswa perempuan yang memakai baju modis, celana kulot dengan atasan kaos lengan panjang, dibaluti oleh kerudung yang di ikat di bagian leher serta tote bag yang digunakan membuat penampilannya sangat simple dan modis.
Annisa berpikir ingin mengikuti gaya mahasiswa tersebut. Tapi dia urungkan niatnya karena Ambu berpesan ‘jadilah diri sendiri meskipun itu terlihat buruk dimata orang, namun jika hal itu menurutmu baik, maka teruskanlah menjadi diri sendiri’.
“Annisa.”
Seseorang memanggilnya dari arah depan tepat di samping sepeda motor milik Annisa.
“Zain?.”
Annisa terkejut dengan kedatangan Zain.
__ADS_1