
Annisa bergegas pergi ke kamar Zain.
tok ... tok ... tok
Zain keluar kamar dengan menggunakan pakaian koko putih dan peci hitam.
"Kenapa Annisa?" Zain menatap mata cemas istrinya.
"Kak Ahsan menyuruh kita pergi ke rumahnya sekarang, Mas bisa antar aku?" tanya Annisa.
"Tentu saja, pakai mobilku saja", Zain bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi keluar bersama Annisa.
Di perjalanan Annisa hanya diam memikirkan apa yang terjadi sebenarnya, hingga akhirnya mereka sampai di rumah Kak Ahsan.
Terlihat di garasi sudah ada mobil milik Kak Ahza, bahkan Annisa tidak tahu ternyata Kak Ahza juga berada di sini. Tanpa pikir panjang Annisa dan Zain masuk ke rumah Kak Ahsan.
Di ruang tamu sudah ada Kak Ahsan, Kak Aisyah, Kak Citra dan Kak Ahza. terlihat kondisi Kak Aisyah menangis tersedu-sedu, Kak Ahsan juga setengah menangis, sedangkan Kak Ahza seperti marah.
"Ada apa ini?," Annisa duduk di samping Kak Aisyah dan memeluknya yang sedang menangis.
"Salah paham," ucap Kak Ahsan dengan mata berkaca-kaca.
Zain duduk di samping Kak Ahsan, dia terus memperhatikan situasi.
"Salah paham?! Sudah sangat jelas sekali kalian berdua telah mengkhianati saya," ucap Kak Ahza setengah marah.
Annisa semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Coba Kak Ahsan sekarang perlahan jelaskan kepada Nisa dan Zain yang baru datang," pinta Annisa karena tidak mungkin meminta Kak Aisyah menjelaskan dengan kondisi masih menangis.
Kak Ahza membuang muka kepada Annisa, mungkin dia kesal karena seharusnya Kak Ahza yang menceritakannya, namun Annisa sudah memilih orang yang tepat untuk bercerita, karena posisi Kak Ahza di sini sedang marah, biasanya orang marah kalau bercerita akan mengikuti egonya yang nantinya akan terjadi kemarahan yang lebih besar.
"Jadi gini, sudah sekitar 3 hari yang lalu, Kak Ahza dan Kak Citra tinggal di rumah ini," ucap Kak Ahsan.
Annisa mengerutkan keningnya, dia bahkan tidak mengetahui kalau Kakak ke duanya itu berada di sini.
"Karena Ahza di PHK oleh perusahaannya, jadi Kakak menawarkan pekerjaan di kantor Kakak, jadi mereka tinggal sementara di sini, maaf ya Annisa belum sempat memberitahukanmu," lanjut Kak Ahsan.
Annisa mengangguk paham.
__ADS_1
"Hari ini Kakak pulang dari kantor dengan kondisi sangat lelah, Kakak masuk kamar untuk mengganti pakaian di kamar mandi, saat itu Kak Aisyah dan Citra sedang menyiapkan makanan untuk kami makan malam," Kak Ahsan menghapus air matanya yang menetes.
"Entah mengapa waktu Kakak keluar dari kamar mandi, di sana sudah ada Kak Citra dengan kondisi pintu kamar tertutup dan terkunci, Kakak sangat terkejut melihat keberadaannya," ucap Kak Ahsan sembari melihat ke arah istrinya yang masih menangis.
"Halah terkejut, paling Kakak senangkan?," Kak Ahza menyela pembicaraan.
Kak Ahsan melirik ke arah Kak Ahza, dia tidak membalas perkataan dari Kak Ahza.
"Kakak mencoba membuka pintu tapi Citra menghalangi Kakak seolah tidak boleh membukanya, sampai pada Aisyah mengetuk pintu kamar Kakak, tetap saja Citra menghalangi Kakak, dia malah berteriak meminta tolong," jelas Kak Ahsan.
"Aku tidak menghalanginya," ucap Kak Citra membela diri.
Kak Ahsan tidak memperdulikan perkataan Kak Citra.
"Akhirnya Kak Aisyah memanggil Ahza untuk mendobrak pintu kamar dengan kondisi Aisyah menangis, sebetulnya Kakak ingin mendorong Citra, tapi Kakak ingat janji kepada Aisyah untuk tidak bersentuhan dengan perempuan manapun termasuk Citra, jadi Kakak hanya bisa berdiam menunggu Ahza mendobrak pintu, namun setelah pintu berhasil di buka, dengan segala drama yang di miliki Citra, dia mengadu kalau Kakak yang menyeretnya ke kamar dan mengunci pintu," jelas Kak Ahsan.
Mata Annisa dan Zain langsung tertuju pada Citra.
"Nisa lebih percaya pada Kak Ahsan," ucap Annisa melihat sinis ke arah Citra.
"Kenapa? Hanya karena dia Kakakmu dan Citra Kakak Iparmu?," tanya Kak Ahza.
"Sekarang Nisa tanya kepada Kak Aisyah, apakah Kakak percaya dengan perkataan Kak Citra?," tanya Annisa.
Kak Aisyah menghapus air matanya, cadarnya sudah setengah basah karena terkena air mata.
Kak Aisyah hanya menggeleng.
"Tentu saja jangan mudah percaya, selama ini Kakak berumah tangga dengan Kak Ahsan tidak pernah mendapati Kak Ahsan selingkuh kan? Nisa sangat yakin Kak Ahsan ataupun Kak Ahza tidak akan pernah menyakiti hati istrinya," ucap Annisa.
"Tapi Nisa, Kak Ahsan juga laki-laki normal, bagaimana kalau saat itu dia tergoda oleh Citra?," Kak Ahza semakin emosi.
"Tidak mungkin!," Annisa membela Kak Ahsan.
"Untuk mengambil jalan tengah, sekarang Nisa bertanya kepada Kak Ahza, apa yang ingin Kakak lakukan kepada Kak Ahsan?," Annisa memancing Kak Citra lewat pertanyaan untuk Kak Ahza.
"Tidak ada, hanya ingin Kak Ahsan mengakui kesalahannya, jangan karena dia sekarang bosku bisa seenaknya, bagaimanapun juga aku adalah adiknya," ucap Kak Ahza.
"Apa yang harus di akui? Aku sudah mengaku, dia yang melakukan semuanya, bahkan aku tidak sedikitpun menyentuh istrimu," Kak Ahsan berdiri dari duduknya dan menunjuk Citra.
__ADS_1
"Mana ada maling ngaku?," Kak Ahza memalingkan mukanya.
Suasana semakin memanas, terlebih lagi melihat gerak-gerik Kak Citra yang sangat santai dan tidak merasa ketakutan, ini sangat menimbulkan sebuah kecurigaan besar, apalagi Zain sedari tadi memperhatikan Kak Citra, karena dia memang pandai membaca bahasa tubuh seseorang.
Kak Ahsan kembali duduk, namun kali ini dia duduk di samping istrinya, membujuk agar Kak Aisyah percaya kepada Kak Ahsan.
"Sekarang bagaimana Kak Ahza? Kalau ternyata memang benar Kak Ahsan telah melakukan sesuatu tehadap Kak Citra, apa yang akan Kak Ahza lakukan?," tanya Annisa.
Kak Ahsan melirik ke arah Annisa, seperti tidak percaya bahwa adiknya berbicara seperti itu.
"Ta ... tapi Nis," Kak Ahsan tidak meneruskan pembicarannya, Annisa memberikan isyarat dengan tangannya agar Kak Ahsan diam terlebih dahulu.
Kak Ahza tidak menjawab, sepertinya dia memikirkan sesuatu.
"Aku akan pergi jauh dari sini, meskipun hidup dengan sengsara, asalkan bersama istri, anak-anak dan jauh dari Kak Ahsan, aku siap!," Kak Ahza melihat ke arah Citra.
Terlihat Kak Citra sangat gelisah dan tidak nyaman.
"Jangan begitu Mas, kita tidak boleh memutuskan tali persaudaraan, apalagi dia adalah Kakakmu," tiba-tiba Kak Citra berbicara seperti itu.
"Sayang? Apa kamu tidak merasa risih atas perlakuan Kak Ahsan kepadamu?," tanya Kak Ahza.
"Aku ... Aku sangat risih dan terhina, tapi mau bagaimana lagi," Kak Citra seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Jadi, sebagai permintaan maaf Kak Ahsan, Kak Citra ingin Kak Ahsan melakukan apa?," tanya Annisa melihat ke arah Kak Citra.
"Aku ... Ingin dia bertanggung jawab atas perbuatannya," jawab Kak Citra.
Kak Ahsan mengerutkan kening, begitu juga Kak Aisyah matanya kembali berkaca-kaca.
"Pertanggung jawaban seperti apa yang Kakak inginkan?," Annisa sekali lagi bertanya, karena kini Kak Citra sudah masuk perangkap Annisa.
"Sebuah saham dari kantor Kak Ahsan," dengan sangat percaya diri Kak Citra menyebutkan keinginannya.
Kak Ahsan terkejut mendengarnya begitu juga suaminya.
"Sayang? Maksudnya?," Kak Ahza tidak mengerti.
"Iya, sebuah saham untuk mempertanggung jawabkan kelakuannya, kalau sampai aku kenapa-napa setidaknya aku bisa berobat dengan uang dari saham itu," ucap Kak Citra.
__ADS_1
Sungguh permintaan yang tidak masuk akal, Annisa tersenyum dan merasa puas dengan jawaban dari Kak Citra.